1: Perangai yang Menawan

Agustus, 2019

TW: body shamming

Udara siang begitu kering, tiap semilir angin pun menerbangkan debu yang dengan rela hati hinggap pada kulit-kulit yang lengket karena keringat. Hembusan angin yang ditumpangi debu pun tak segan untuk menyentuh wajah seorang lelaki dengan tanda pengenal berukuran besar yang menggantung bebas di lehernya.

Gabriel Eknath, sekiranya begitulah susunan aksara pada tanda pengenal yang terlihat ala kadarnya.

Gabriel, sapa akrab teruna yang kini tengah mengetukkan jari telunjuknya pada pundak seorang lelaki yang tengah berdiri di depannya dengan ketukan yang konstan. “Rumi, ini yakin aman?”

Alih-alih mendapatkan jawaban verbal, membuat Gabriel mendengus tatkala lelaki yang berdiri tepat di depannya hanya mengedikkan bahu sebagai jawab.

“Rumi.” panggil lirih Gabriel dengan badannya yang sedikit ia condongkan ke depan.

“Sena, bukan Rumi.” ucap seorang lelaki dengan wajah pula netranya yang lurus ke depan, tak mengindahkan Gabriel yang tengah terkekeh pelan di pundak kanannya.

“Yang namanya Sena di sini enggak cuma lo doang, kali! Biar beda!” timpal Gabriel bersamaan dengan tubuhnya yang kembali ia tegapkan.

Enggan menjawab, Arsena memilih untuk tetap melemparkan pandang lurus ke depan dengan tiap inci wajahnya yang terlihat tegas. Memperhatikan untaian kalimat yang dilontarkan oleh salah seorang panitia orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) fakultas.

“Sumpah, tangan gue linu banget karena maba yang pingsan tadi! Gak mikir kali ya dia, kalau jadi gendut bener-bener nyusahin.” celetuk salah seorang lelaki dengan tanda pengenal panitia yang tersemat pada jas almamaternya yang baru saja menyambangi barisan di mana Gabriel dan Arsena berpijak.

“Asli, gue juga. Angkat tandu sampai butuh enam orang kayak lagi megangin sapi kurban.”

Arsena memicingkan matanya, kepalanya ia tolehkan ke sumber suara dan netranya membidik tepat pada dua orang lelaki yang tengah menahan kekehannya.

“Lo berdua yang letoy kali?” ucap Arsena dengan remeh. Gabriel yang turut mendengar ucapan Arsena pun mengangkat kedua alisnya, netranya sempat berkedip memastikan sebelum akhirnya membulat.

“Apa? Ulangin sekali lagi!” ujar salah seorang lelaki yang kini tengah menarik lengan kemeja Arsena dengan kasar, terlihat guratan amarah dan rasa tak suka tengah bersemayam pada telapak tangannya yang mengepal erat untuk meremas lengan kemeja Arsena.

“Udah letoy, budek lagi.” cibir Arsena dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya, semakin melesakkan dirinya ke dalam suasana tegang yang ia bangun. Para peserta OSPEK yang berdiri di sekitar mereka pun hanya berani diam tak bergeming, termasuk Gabriel yang hanya melempar pandang ke arah Arsena dan salah seorang panitia yang semakin mencengkeram lengan Arsena.

“Apa? Masih enggak denger?” tanya Arsena.

“Barisan pojok kiri, ada ribut-ribut apa? Kalau mau ngomong sini maju ke depan gantiin gue, jangan malah bikin acara di dalam acara!” suara keras dari megafon pun menengahi keributan yang baru saja tercipta di antara Arsena dan dua orang panitia yang tengah menelisik Arsena dari tiap sentimeternya.

Seluruh pasang mata pada yang ada di lapangan pun dilemparkan ke arah mereka, membuat gaduh dengan bisikan-bisikan yang kini tengah mengudara.

“Lo, maju!” ucap seorang lelaki yang membawa megafon pada tangan kanannya, telunjuknya pun menunjuk ke arah Arsena yang kini melepaskan dirinya dengan gusar dari cengkeraman panitia yang membuat gurat kusut pada lengan kemejanya.

“Belakang lo juga suruh maju!” sambung seorang lelaki tersebut dengan matanya yang memicing, menelisik papan identitas yang menggantung pada leher Gabriel.

“Lah gue ngapain?” tanya Gabriel dan mengerjapkan kedua matanya, telunjuknya pun ia arahkan ke tubuhnya sendiri. Kaki jenjangnya turut berjalan membuntuti Arsena dengan benaknya yang terus dikepuli pertanyaan-pertanyaan.

“Heh, Rumi, kata lo name tag gue aman!” ucap Gabriel saat sesampainya keluar dari barisan dan menyambangi langkah Arsena.

Arsena mengedikkan bahunya. “Gue gak bilang gitu.”

Baik Arsena dan Gabriel kini telah menghentikan langkahnya tatkala presensi mereka berhasil menyambangi panggung kecil yang terbuat dari susunan balok kayu. Arsena dengan tampang tak acuhnya hanya berdiri tak bergeming, sedangkan Gabriel terus menampilkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi dan menyapa satu persatu panitia yang tengah melempar pandang ke arahnya.

“Halo, Kak Janu!” sapa Gabriel dengan ramah, siku kirinya pun menyinggung perut Arsena. “Bilang halo ke kakaknya, Rumi.” bisik Gabriel ke arah Arsena yang lebih memilih diam dan tak menghiraukan Gabriel.

“Gabriel Eknath? Siapa yang suruh name tag lo beda dari temen-temen lo?” tanya seorang lelaki dengan asma Janu yang terukir pada sebuah kertas kecil yang disemat pada jas almamaternya.

“Beda di mananya?” tanya Gabriel, ia pun melepas papan identitas yang menggantung di lehernya. Tangan kanannya memegang papan tersebut dan mengarahkan ke hadapan Janu, ketua pelaksana OSPEK fakultas yang tengah menginterogasinya. “Sama aja kan?”

“Temen-temen lo buat dari kardus Indomie?”

Gabriel terkekeh. “Kak, enggak ada tuh di ketentuan kemarin harus pakai karton. Kan katanya yang penting kuat dan enggak gampang sobek? Ini nih kardus Indomie lo pakai kipas-kipas juga enggak langsung lemes.”

Janu mendecih, tangannya merebut papan nama yang masih Gabriel genggam. “Ini baru lo bikin di sini? Lo lupa bawa name tag?”

“Gue yang bikin.” ucap Arsena, netranya menatap Janu yang kini tengah melempar pandang tepat ke arahnya. “Name tag dia ketumpahan soto, tadi bantuin ibu kantin yang hampir jatuh waktu mau nganterin makan siang buat temen-temen panitia lo.”

“Gue nanya ke dia.” ucap Janu, telunjuknya menunjuk Gabriel.

“Maaf ya, Kak. Dia emang suka tiba-tiba jadi juru bicara, belum aja jadi juru kunci.”

Enggan menjawab ucapan Gabriel yang terdengar melantur, Janu kini berkacak pinggang dan menatap Arsena tajam. “Maherrumi Arsena? Lo tadi ngapain ribut-ribut sama panitia?”

“Lo kalau mau tau ceritanya, jangan cuma dengerin dari satu sisi aja.” ucap Arsena dan melesakkan kedua tangannya pada saku celana bahannya. “Suruh lah temen lo ke sini juga, gue belum selesai ributnya.”

“Lo bisa lebih sopan?” tanya Janu, ia menuding tubuh Arsena dengan menggunakan papan nama Gabriel.

Arsena berdecih. “Lo kalau mau orang lain sopan ke lo, harusnya lo jadi sopan juga untuk orang lain. Main nunjuk pakai telunjuk, main teriak di depan muka, main nuding-nuding pakai name tag kayak sekarang gini. Sopan?”

“Lain kali coba untuk lebih bener dalam memilih panitia. Temen lo tadi, yang ribut sama gue, dengan entengnya dia ngatain salah satu temen angkatan gue. Coba lo pertanyakan ini ke diri lo sendiri, apakah sopan dan pantas untuk seseorang yang berilmu ngatain orang gendut itu menyusahkan dan kayak sapi kurban?”

Arsena memberi jeda pada ucapannya.

“Bahkan gue aja enggak yakin mereka bener-bener berilmu. Karena orang yang berilmu itu yang bisa menjaga ucapannya.” ucap Arsena, rahangnya sedikit mengeras membuat profil wajahnya terlihat lebih tajam.

“Lo paham? Masih banyak di lingkungan kita ini akan orang-orang yang berjuang mati-matian ngehadapin mereka dengan perkataan sampahnya akan orang lain.” sambung Arsena dengan menekankan kata sampah, kedua tangannya mengepal erat di dalam sakunya. Menyalurkan seluruh rasa amarahnya dengan menancapkan kuku-kukunya pada telapak tangan.

Baik seluruh peserta OSPEK dan juga panitia yang tengah bertugas enggan ada yang bersuara. Penuh dengan rasa malu juga dibalut api emosi yang terus berkobar, kini Janu dengan langkahnya yang terkesan terburu pun berlalu melewati Arsena dan Gabriel, kedua tangannya menyeret dua orang lelaki yang menjadi penyebab akan kericuhan yang sempat terjadi.

Dengan ekor matanya, Gabriel menatap Arsena yang kini telah berjalan kembali ke barisan. Dalam diamnya, Gabriel memilih untuk terus menyematkan pandangannya pada punggung Arsena. Pada punggung kuat seorang lelaki yang baru beberapa hari ia kenal, pada punggung kuat seorang lelaki yang berani menjadi tameng untuk melawan ketidak adilan serta terjalnya jalanan yang dipersembahkan oleh semesta.

Gabriel dengan kesadaran penuhnya kini mulai memasuki permulaan-permulaan.

Akan kesangsian dan keyakinan, akan warna yang mulai dipendarkan, akan harapan dan keputusasaan yang nantinya akan turut serta sebagai pintu dengan engselnya yang bertautan.