olasphere

Banyak kali pertama dalam hidup. Kali pertama seorang manusia dilahirkan, kali pertama menangis, kali pertama menginjakkan kaki di atas tanah, kali pertama melesakkan diri pada suatu hubungan penuh romansa. Ini kali pertama bagi Arsena merajut cinta juga asa, ada sejumput pemikiran bahwa ia tak cukup dalam menyalurkan rasa. Pada dasarnya memang musuh terbesar manusia adalah insekuritas, kan? Dan perasaan kalut berbalut cemburu menyergap memenuhi belukar benak Arsena lah salah satu bukti nyata.

“Ya Tuhan,” Arsena memejamkan matanya rapat-rapat bersamaan dengan kepalanya yang terlempar ke belakang. “Gab…”

Gabriel mendengus bersamaan dengan tawanya yang terdengar meremehkan, kedua alisnya menukik ke atas menampilkan wajah penuh sarat akan kebingungan. “You’re allowed to curse, sayang.” Gabriel memasukkan penis Arsena ke dalam rongga mulutnya hingga menegang dengan sempurna, memainkan lidahnya tepat di ujung kepala sebelum memasukkan seluruhnya.

Fuck.” Arsena memberanikan diri memegang belakang kepala Gabriel dan mendorong pinggangnya maju supaya dirinya masuk lebih dalam. “I wanna feel mine down your throat.” He commanded, can you sense some authority over his voice?

Gabriel menitikkan air matanya, terlampau senang akan jemari Arsena yang menjambak ribuan helai surainya ketika kenikmatan tak mampu lagi diubah dalam bentuk literasi nyata.

“Maaf,” Arsena memperlambat gerakan pinggulnya dan menarik tubuhnya untuk menjauh, kedua telapak tangannya yang sedari tadi menjambak surai Gabriel pun hengkang sebab kini jemarinya sudah mengusap pipi Gabriel yang basah akibat air matanya yang lolos tanpa permisi. “Maaf, Gab.”

Gabriel menggeleng, membantah rapalan kata maaf yang tak luput dari bibir Arsena. “Just do anything.” Arsena menggerakkan ibu jarinya dengan perlahan untuk membelai belah bibir Gabriel, netra keduanya masih saling fokus dan terikat.

Arsena perlahan menuntun Gabriel untuk berbaring di bawah kungkungannya, tangan kirinya ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya supaya tak ambruk di atas Gabriel yang tengah memindai ujung kepala hingga ujung kakinya yang sudah tak berbalut selembar benangpun. “Kenapa?”

“Gak apa-apa.” Gabriel sekilas menggigit bibir bawahnya, tangan kirinya ia gunakan untuk menyentuh dan mengusap dada bidang Arsena. Sesekali jemarinya bergerak menggambar pola tak beraturan. “You have a beautiful body.

Am I?” Gabriel mengangguk, tangan kirinya sudah merapikan beberapa helai surai Arsena yang mulai memanjang dan mampu menyambangi penglihatannya. Arsena terkekeh, tangan kanannya menangkap jemari Gabriel dan mengecupnya. “Credits to all those gym equipment.

“Kenapa?”

Arsena mengernyit. “Kenapa apa lagi?”

“Kenapa cuma diem aja?” Gabriel menarik tangan kanan Arsena ke arah selatan, menaruhnya tepat di depan lubang Gabriel. “Aku denger-denger guitarists finger faster.”

Arsena terkekeh akan penuturan Gabriel. “Boleh?” Gabriel mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengangguk dengan penuh yakin yang sengaja ia salurkan dan berharap mampu ditangkap oleh Arsena.

“Kenapa cuma satu?” Gabriel merengek, kedua kakinya yang sedari tadi menjuntai lurus pun sedikit ia tekuk dengan jemari kakinya yang turut menekuk ke dalam seiringan dengan satu jari Arsena yang sudah masuk ke dalamnya.

Arsena memilih untuk bungkam dengan satu jarinya yang terus ia gerakkan dengan tempo yang semakin lama kian cepat hingga mampu keluar dan masuk begitu lancar hingga terasa lowong dan memiliki ruang lebih untuk dimasuki jari lainnya.

Gabriel terus mengeluh, merasa ingin terus diisi hingga penuh. Arsena menuruti kemauan Gabriel, ia lesakkan dua jari dengan penuh kehati-hatian.

“Gabriel,” Arsena memperhatikan tiap sentimeter wajah Gabriel, membidik netranya tepat pada kedua mata Gabriel yang sesekali memutar dan memejam erat. “Aku juga bisa main bass.”

“Iya, aku tau.” Gabriel menggerakkan pinggulnya, membantu Arsena untuk terus melesakkan jemarinya lebih dalam dan mempersiapkan lubangnya untuk tamu yang mampu memenuhinya lebih dari tiga jari Arsena yang sedari tadi sudah mengoyak bebas.

Bassist do it deeper.” Gabriel memekik kencang dengan tubuhnya yang bergerak tak karuan ketika ujung jemari Arsena berhasil menyambangi titik nikmat di ujungnya. Seluruh tubuh Gabriel terasa malfungsi, ia hanya mampu mendesah dengan gelisah dan mulut yang terus terbuka.

Arsena menegakkan badannya lantas bergerak untuk berlutut di tengah-tengah kaki Gabriel yang kini semakin ia buka lebar. Tangan kiri Arsena segera menepis tangan Gabriel yang melingkupi kepunyaannya sendiri, menggantikannya dengan gerakan naik dan turun yang membuat Gabriel bergerak semakin tak beraturan dan menjepit tubuh Arsena menggunakan kedua kakinya. Gabriel melemparkan kepalanya ke belakang, semakin melesakkannya ke dalam bantal. Dadanya naik turun tak beraturan, dipenuhi oleh rasa yang membuncah dan siap untuk meledak sewaktu-waktu.

Arsena merasakan denyutan dalam genggaman tangan kirinya, dengan segera ia melepaskan genggamannya. “Jangan keluarin.” Arsena menitah dengan dua kata yang dibalut intonasi menuntut serta suara beratnya, membuat Gabriel sekuat tenaga mengumpulkan segala tenaganya yang tersisa untuk menahan ejakulasinya.

Arsena meraih pengaman yang sudah disiapkan dan tergeletak bebas di atas nakas, memberikan gigitan dari sudut bungkusnya untuk merobek dan mengeluarkan isinya. “Gabby.”

“Apa?” Gabriel yang masih terengah menjawab dengan lirih, netranya sibuk membidik Arsena yang malam ini terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda dari Arsena yang ia kenal.

“Aku udah bisa kan saingan sama mantan kamu?” Arsena yang telah selesai memasang pengaman pun menaruh kedua tangannya pada paha dalam Gabriel, mengusapnya dengan seduktif. “Aku juga bisa, sayang.”

Gabriel mengangguk menyetujui. “Iya, kamu jangan kemakan omongan teman-teman aku tadi.”

“Aku mau buktiin ke kamu.”

“Gak perlu pembuktian. Lagian foreplay tadi,” Gabriel menggantungkan kalimatnya, membuat Arsena yang tengah menggesekkan kepunyaannya tepat di depan lubang Gabriel pun terhenti dan melempar pandang ke arahnya. “That was really fucking hot. Gak kebayang gimana enaknya kalau diewe.”

“Ewa ewe, bahasa lu!” Gabriel terkekeh dan menjulurkan lidahnya sekilas, sedang Arsena turut terkekeh sembari menyisir surainya yang sedikit basah akibat keringat. “Gabby, boleh?”

Gabriel memutar bola matanya dengan skeptis, tangannya meraih pelumas yang tergeletak di atas nakas dan mengoleskannya pada lubangnya serta kepunyaan Arsena. Sesekali tangannya mengurut sebelum kembali menggesekkannya ke bibir lubangnya, hingga akhirnya ia berusaha untuk memasukkannya perlahan.

Arsena sesekali memejamkan kedua matanya, merasakan pergesekkan dan remasan yang sensasinya baru kali ini ia rasakan. Bibirnya tak mampu membendung desisan serta erangan rendah seirama dengan pinggulnya yang bergerak semakin maju untuk melesakkan penisnya lebih dalam.

“Rumi, tunggu dulu. Please stop pushing for a moment.” Arsena dengan cepat menghentikan pergerakannya, suara dalam dadanya yang sebelumnya terus berteriak seolah ingin menuntut lebih pun lekas berganti menjadi penuh rasa sesal di dalamnya.

“Sayang, maaf. Maaf ya, maaf banget. Maaf, maaf, maaf.” Arsena terus merapalkan kata maaf, jemarinya mengusap pipi Gabriel penuh kehati-hatian.

Gabriel pun terkekeh dan menggeleng kecil. “Enggak, gak apa-apa. Aku gak kesakitan, cuma butuh adaptasi aja karena sudah lama enggak.” Gabriel sedikit terengah dengan benak yang terus-terusan merutuki kalimatnya barusan.

“Terakhir kapan?”

“Ya waktu sebelum jadi pacar lu lah! Masa gua waktu pacaran sama lu masih ngewe sana sini.”

Hening pun menyergap, entah Gabriel yang takut untuk salah dalam berucap juga Arsena yang enggan bertanya serta mencari tahu lebih jauh. Dalam jeda waktu yang tercipta untuk menunggu kesiapan Gabriel di bawah sana, Arsena menolehkan kepalanya untuk menyambangi kaki Gabriel yang kini telah disampirkan pada pundaknya. Memberikan kecupan-kecupan serta jilatan pelan.

Gabriel mulai menggerakkan pinggangnya di bawah sana, perlahan mulai ia beri kecepatan dalam tiap gerakannya sehingga membuat Arsena tersenyum simpul dan turut menggerakkan pinggulnya. Keduanya kini bergerak berlawanan dengan tempo yang tak terlalu cepat, seolah-olah enggan untuk mengakhiri segalanya dengan segera.

Arsena tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Gabriel, menelisik tiap ekspresi Gabriel supaya ia tahu bahwa sensasi nikmat serta memabukkan yang dirasakannya tak hanya terjadi dalam satu arah. Arsena ingin Gabriel nya mendapatkan porsi yang sama besar seperti dirinya.

“Enak?” Gabriel mengangguk, jemarinya memainkan kedua putingnya yang sedari tadi belum tersentuh. “Jawab pakai mulut, Gabriel.”

“Iya, enak banget.” Gabriel menggigit bibirnya dengan ragu. “Rumi, mau cepetin.”

Arsena pun mengerti lantas mempercepat ritmenya, semakin lama kesadarannya pun kian terkikis hingga ia tak sadar kini tangan kirinya sudah mengunci kedua tangan Gabriel di atas bantal. Kepalanya merunduk, bibirnya mulai meninggalkan kecupan hingga jilatan dan hisapan pada kedua puting Gabriel secara bergantian.

“Gabby, this feels so good and I don’t want it to end.” Arsena menjilat dan memberikan gigitan kecil pada daun telinga Gabriel setelah membisikkan kalimatnya.

“Mmmh, Rumi, ngghh… Don’t stop, don’t stop, please.” Arsena yang mendengarnya lantas menumbukkan pinggulnya dan menghasilkan suara yang memenuhi seluruh kamar Gabriel, melalui kecepatan yang tak dapat dijelaskan lewat sebuah deskripsi.

“Gab, God really created the best creature since you look perfect without any flaws.” Arsena semakin cepat menghentakkan pinggulnya tatkala ia merasa lubang Gabriel semakin meremas miliknya dengan erat, menghasilkan sensasi pijatan yang membuatnya mabuk kepayang. Tangan kanan Arsena ia letakkan pada bagian bawah perut Gabriel yang kini mencetak jelas kepunyaannya di dalam Gabriel, membuat Arsena tersenyum dan memejamkan netranya sebagai penyaluran akan rasa gembira serta nikmat yang terus membara.

Keduanya terus bergerak bagai tengah mengejar putih yang sebentar lagi akan mereka sambangi. Mengejar sensasi memabukkan dan akan menjadi suatu hal yang berpotensi besar kecanduan bagi keduanya, mengejar gemuruh serta ombak riuh ricuh dalam rongga dada.

Tangan kiri Arsena kini telah membebaskan kedua tangan Gabriel dari genggamannya, dengan cepat Gabriel meraup sprei ke dalam genggamannya sebagai penyaluran perasaan yang membuncah di dalam dadanya. Tubuh Gabriel sengaja ia lengkungkan, pahanya bergetar hebat sebab stimulus nikmat hingga akhirnya keduanya mencapai pelepasannya.

Tak lama dari itu Arsena ambruk di atas tubuh Gabriel, masih dengan penyatuan keduanya yang sama-sama enggan untuk melepaskan. Arsena menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Gabriel, menghembuskan tiap napasnya yang terasa berat.

“Gab, thank you. Maaf ya kalau aku kelewatan.”

Gabriel mengernyitkan dahinya sembari jemarinya terus bermain di atas punggung Arsena. “Enggak, you treated me well including all the roughness. We both enjoyed it, did we?

Arsena mengangguk pelan dan melayangkan kecupan-kecupan pada pundak Gabriel. “I love you.

I’m loving you as well, sayang.”

Oktober, 2019

Mungkin kata sempurna bagi sebagian orang amat sukar untuk ditafsirkan. Namun bagi Arsena, kata sempurna mampu ia definiskan dengan rentang waktu di mana segalanya berjalan dengan lancar dan masih bersama dengan orang-orang terkasih.

Malam ini dapat menjadi salah satu contoh konkret akan definisi sempurna bagi Arsena. Mendudukkan dirinya di atas karpet pada ruang keluarga, memeluk gitar akustik dengan jemarinya yang terus memetik. Sejak setengah jam yang lalu, Bunda sibuk memeriksa pekerjaan sekolah milik murid-muridnya. Sedangkan Akbel—adik perempuan Arsena satu-satunya kini tengah bermain bersama pemegang takhta tertinggi di rumah, Clara si cemong.

“Beneran enggak perlu Kakak bantuin, Bunda?” Arsena menolehkan wajahnya, melihat tumpukan buku tulis yang masih belum tersentuh di atas sofa tempat Bunda nya terduduk. Banyak yang mengira Arsena adalah seorang laki-laki yang dingin dan datar, tidak banyak yang tahu akan hangat serta lembutnya.

Bunda tersenyum dengan tangan kanannya yang tergerak untuk menyambangi kepala Arsena dan mengusaknya surainya lembut. “Enggak perlu, Kakak. Cepet kok ini. Terima kasih ya, ganteng.”

Arsena mengangguk, gitarnya kembali digelungi akan intensi. “Bun, Kakak mau ikut himpunan boleh?”

“Boleh,” Arsena meletakkan gitarnya dan disandarkan pada sofa tatkala Clara berlari kecil ke pangkuannya. “Asal jangan sampai keteteran kuliahnya. Kan niat utama Kakak untuk kuliah.”

“Kakak mah pasti gak akan lupa sama kuliahnya, tapi bakal lupa sama dirinya sendiri.” Akbel menimpali, turut memasukkan dirinya ke dalam konversasi keduanya yang sedari tadi ia dengarkan. Tubuhnya merangkak untuk menyambangi Bunda di atas sofa.

“Nah, itu paling penting.” Bunda menutup pulpennya dan meletakkan di atas tumpukan buku tulis yang telah selesai dikoreksi.

Arsena terkekeh, kedua kakinya yang sedari tadi berselonjor pun telah ia tekuk untuk mendudukkan Clara di atas lututnya. “Kakak juga ikut teater.”

“Yah, bahaya tuh Bun. Nanti pasti Kakak ngalah-ngalahin sibuknya Ayah.” Akbel membaringkan tubuhnya pada sofa empuk yang masih memiliki banyak spasial, menjatuhkan kepalanya di atas paha Bunda untuk diusap-usap surainya.

“Kata Ayah harus banyak-banyak mengeksplorasi kehidupan di kampus.” Arsena membela diri, hidungnya berkerut sebelum mengusal pada perut Clara.

Bunda menggeleng penuh keheranan, kedua tangannya memberi usapan pada surai panjang berwarna hitam legam milik putrinya. “Iya, tapi jangan sampai lupa sama diri sendiri ya Kak?”

Terbentang beberapa kilometer dari rumah Arsena, tempat tidur itu tampak menjorok ke bawah saat menopang berat badan seorang laki-laki dewasa yang merebahkan dirinya di atasnya. Sembari menghembuskan napasnya dengan berat, lelaki itu mengubah posisinya menjadi menyamping dan menatap nanar pada seorang perempuan paruh baya yang duduk termangu di atas sofa.

“Mami,” Gabriel menggertakkan giginya, tenggorokannya tercekat dan kini terasa kian sukar bagi paru-parunya disaluri oksigen. “Iel gak apa-apa kalau Mami mau nikah lagi.”

Netra Gabriel tergerak, menghindari tatapan Mami yang terasa mengunci. Memindai tiap sudut apartemen, berhenti pada sorot lampu yang menyilaukan. “Mami janji, rasa sayang Mami buat Iel enggak akan berkurang.”

“Iya,” Gabriel memainkan kuku-kuku jemarinya yang mulai memanjang dan lama tak dipotong. “Selama ini Mami udah buktiin itu. Mami seneng?”

“Lebih dari seneng.”

Gabriel mengangkat kedua sudut bibirnya dengan rasa getir yang terus berkelakar pada benaknya, kepalanya mengangguk dengan lirih. “Itu yang paling penting, Iel mau lihat Mami seneng.”

“Kalau bicara soal seneng, sekarang punya Iel yang sedewasa ini udah cukup bikin Mami seneng.” Gabriel lagi-lagi menggertakkan giginya, mencari distraksi untuk menahan kelopaknya yang membentuk bendungan. “Mami tanya sekali lagi. Mami boleh nikah lagi, sayang?”

Gabriel menyugar surainya yang mulai panjang. “Boleh. Iel enggak mau Mami kesepian, Iel mau Mami punya temen untuk ngelewatin hari-hari Mami dan ngejaga Mami.”

When someone’s getting older, we didn’t even care anymore about our wholebeing. Awalnya Mami cuma mau fokus sama kerjaan dan ke Iel, tapi…Mami gak bisa.” Mami melangkahkan tungkainya dengan lambat laun, mengikis jarak antar sofa dan kasur yang memuat Gabriel di atasnya.

Gabriel duduk bersila di atas kasur tatkala Mami mendudukkan diri di tepian kasurnya yang dibalut menggunakan sprei berwarna abu-abu polos. “Mami, I really do respect and love you with every fiber of my being.

Mami terkekeh dan mengusak surai Gabriel. “How sweet of you! Pasti pacar Iel nih yang ngajarin?”

Gabriel turut terkekeh dan mendengus pelan. “Enggak, I really meant it. So, if Papi, Om Rayhan, or anyone ever hurt you please tell me because Imma beat their ass.

“Enggak ada yang nyakitin Mami.” Mami menangkup kedua pipi Gabriel dengan gemas, meninggalkan cubitan kecil sebelum melepaskannya. “Jadi Iel jangan khawatir ya. Karena tugas Iel sekarang banyak-banyak belajar dan berbuat baik, supaya berguna untuk Iel sendiri dan banyak orang. Oke, jagoan Mami?”

Gabriel mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. “Mami, Iel mau minta tolong.”

“Apa, jagoan?”

“Potongin kuku,” Gabriel tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. “Iel mau Mami yang potongin.”

Konsepsi akan kehidupan dan kebahagiaan adalah bagaimana manusia mampu menelan mentah-mentah pahitnya dunia untuk dijadikan pembelajaran. Dan Tuhan ingin Gabriel beserta seluruh runtutan kisahnya, turut berkontribusi dalam merasakannya.

September, 2019

Gabriel menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum mencebikkan bibirnya, menampilkan gurat frustasi pada tiap sentimeter wajahnya. Telapak tangan kirinya ia bawa untuk mengusak ribuan helai surai yang tersusun rapi, membuatnya berakhir terlihat sedikit acak. Gabriel merogoh saku celana bahan yang membalut kaki jenjangnya, mengambil sebuah kotak putih yang masih tersegel rapat. Jemarinya dengan sigap melucuti plastik pelapis kotak putih berisikan sigaret yang belum terjamah sebelumnya.

“Permen yang gua kasih waktu itu, habis?” sebuah suara bariton menginterupsi Gabriel yang tengah menyalakan pemantik untuk menyalakan sebatang sigaret yang sudah terselip pada belah bibir Gabriel. Gabriel mendongak, netranya mengerjap memastikan empu suara yang kini membuatnya diam tak bergeming. Seorang lelaki dengan padanan kaus berwarna hijau army dan kemeja hitam yang tak dikancingkan itu menukikkan kedua alisnya, pada dahinya tersaratkan berbagai macam kebingungan. “Kenapa?”

Gabriel menarik sebatang sigaret yang terselip di belah bibirnya, menyimpannya kembali ke dalam wadah. “Kayaknya kita emang jodoh, deh, Rumi? Tuhan sengaja bikin Samuel sibuk pacaran, biar gak bisa gua tebengin balik. Karena pasti lu yang mau nganterin gua balik hari ini.” ujar Gabriel dan menarik dirinya dari tempat ia duduk. Pundaknya sudah kembali tegap, tas selempang yang terlihat tak memuat banyak barang pun sudah bertengger pada pundak kanannya.

“Ogah.” Arsena, pemilik suara bariton itu melangkahkan kakinya dan berlalu begitu saja melewati Gabriel yang tengah terkekeh sembari mengayunkan tungkainya tepat di belakang Arsena. Tiap pijakan kakinya yang berbalut sepatu pun turut menyamai tapak tilas Arsena.

“Padahal kan sesama manusia harus saling tolong menolong.” celetuk Gabriel dengan netranya yang membidik lekat punggung lebar lelaki di depannya. “Ternyata orang kalau udah ganteng, dilihat dari punggungnya doang udah cakep ya.”

Arsena menghentikan langkahnya secara spontan, tubuhnya berbalik dengan sigap. “Berhenti ngikutin gua!” Gabriel yang sebelumnya tidak mengantisipasi akan langkah Arsena yang secara impulsif terhenti, tubuhnya kini menabrak Arsena.

“Ih modus lu ya? Tiba-tiba berhenti biar gua tabrak.” Gabriel mengambil beberapa langkah ke belakang sembari tertawa remeh. Alih-alih memberikan jawaban, Arsena memilih untuk menghembuskan napasnya dengan gusar dan menggeleng keheranan. Tubuhnya kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, enggan untuk menghabiskan banyak waktunya.

“Gimana kuliah hari ini, Rumi?” Gabriel memperlebar langkah kakinya, berusaha menyambangi Arsena. Wajahnya menunduk untuk memperhatikan langkah kakinya yang tengah ia upayakan untuk seirama dengan milik Arsena, menimbulkan kedua sudut bibirnya terangkat kecil.

Dengan menggunakan ekor matanya, Arsena menangkap Gabriel yang masih terus mengamati langkah kaki keduanya. Arsena mengulum bibirnya, seolah malu menampakkan senyumnya pada suasana kampus sore itu dengan lorong-lorong yang sunyi bak tak berpenghuni. “Ya gitu.”

“Kalau gua tadi pagi kesiangan, yaudah deh akhirnya ngos-ngosan karena masih belum hapal gedungnya di mana.” Gabriel mengangkat wajahnya, menatap pahat wajah Arsena dari samping. Pandangan Arsena lurus ke depan, terlihat sama sekali tak menaruh atensi kepada dirinya. “Terus kan tadi,”

Gabriel terdiam tak melanjutkan kalimatnya. Pandangannya kembali ia lemparkan ke bawah, mengamati bagaimana kakinya yang masih bergerak seirama dengan milik Arsena. “Kenapa berhenti cerita?”

“Gapapa.” Gabriel menggigit kecil bibir bagian dalamnya.

Go on. Dari tadi gua dengerin.”

Gabriel tak mampu menahan senyumnya yang mengembang, menampilkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi. “Enggak ah, haus gua.”

Arsena menolehkan kepalanya untuk menatap Gabriel yang masih mematri senyum dalam tundukan kepalanya, membuat Arsena turut menunduk dan mengamati bagaimana langkah kaki keduanya yang bergerak beriringan. Arsena tersenyum iseng, kaki kanannya ia langkahkan dua kali dan membuat langkah kaki keduanya kini terlihat bergerak dengan beda.

“Yah kan...rese lu!” Gabriel menghela napasnya dan memukul lengan Arsena yang bersinggungan dengannya, Arsena terkekeh kecil membuat hidungnya terlihat berkerut dan matanya hilang tertelan oleh kelopaknya. “Lu langsung pulang?”

Arsena mengangguk. “Gua cuma bawa helm satu, kalau lu masih minta tolong anterin pulang.”

“Kalau gua ada helm sendiri, lu bakal nganterin gua pulang?”

“Nebengin, bukan nganterin.”

Gabriel tertawa. “Sama aja kan intinya lu bawa gua pulang.”

“Beda,” Arsena menggantung kalimatnya, netranya membalas tatapan Gabriel yang tengah memperhatikannya dari samping. “Kalau nebengin, lu numpang. Tapi kalau nganterin, karena gua yang menawarkan diri.”

“Hah? Mana ada gitu? Ribet banget lu!” Arsena mengedikkan bahunya. “Tapi ini kalau gua ada helm, berarti boleh nebeng kan?”

Arsena enggan menjawab, tungkai keduanya terus terayun membawa mereka semakin mendekat ke arah area parkir motor. Tidak sedikit motor yang masih berjajar dengan rapi, namun ada pula yang sudah terparkir dengan tak beraturan. Arsena menghentikan langkahnya tepat di samping motor vespa hitamnya dengan sebuah helm yang menelungkup di atas jok, membuat Gabriel dengan kesadaran penuhnya turut berhenti.

“Kali ini aja.” Gabriel bersorak kegirangan, tangan kanannya lekas merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang. “Itu pun kalau lu ada helm.”

Gabriel berdecak remeh, wajahnya yang menatap lekat pada layar ponselnya pun terpancar sinar radiasi. “Helm gua bentar lagi sampai, ayo jemput helm gua di depan lobby fakultas.” Arsena mengangkat kedua alisnya, wajahnya terasa padat akan sarat kebingungan. Sedangkan Gabriel mengedikkan bahunya dan mendorong tubuh Arsena untuk lekas naik ke atas motornya.

Jika Arsena diberikan pertanyaan perihal apa yang lebih ajaib dari tujuh keajaiban dunia, maka ia akan dengan lantang dan tanpa ragu menjawab Gabriel Eknath. Ini kali pertama bagi Arsena mengenal seseorang seajaib Gabriel. Akan tingkah lakunya, akan tutur katanya, akan belukar pikirnya yang tak mampu Arsena telusuri tiap sudutnya.

Gabriel kini tengah terduduk dan dibalut tawa yang terus merekah di atas jok motor Arsena dengan helm yang menelungkup kepalanya, helm berwarna hijau yang sengaja ia pinjam dari ojek online yang telah ia pesan. Kedua tangannya ia letakkan pada atas pahanya, badannya sesekali miring ke kanan dan ke kiri, tangan kanannya tak luput untuk menunjukkan arah kepada Arsena.

“Tadi gua kena omel dosen.” Gabriel memiringkan tubuhnya ke sisi kanan, kepalanya berusaha ia sejajarkan dengan telinga Arsena.

Laju motor Arsena melambat, motornya tergerak ke sebelah kiri dan mempersilakan kendaraan lain mendahuluinya. Netranya melirik ke arah kaca spion, memastikan tukang ojek online yang sedari tadi membuntuti keduanya masih berada di belakang. “Kenapa?”

“Bukan gua doang sih, banyak. Tapi karena gua tadi telat masuk, dosennya jadi nyebelin banget kayak apa-apa sambil melototin gua.” Arsena sesekali melirik ke arah kaca spion. Bukan karena memperhatikan tukang ojek online yang helmnya sengaja Gabriel pinjam, namun sebagian besar dari dirinya mendorongnya untuk mengamati wajah Gabriel saat tengah bercerita. “Jadi kan pertemuan sebelumnya dibagi kelompok presentasi, gua kebagian kelompok empat. Gua sama temen-temen gua ngiranya materi presentasin dikumpulkan setelah presentasi, bukan serempak di pertemuan hari ini. Jadi ya sekelas tadi kena.”

“Terus?”

“Disuruh nanti malem jam dua belas harus udah masuk ke email dosennya, untung kelompok gua kemarin udah nyicil.” Gabriel menatap pantulan wajah Arsena dari kaca spion, sekilas netra keduanya bertemu membuat Gabriel terkekeh kecil namun tetap mampu ditangkap oleh pendengaran Arsena.

“Gua punya pertanyaan,” Gabriel memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri, membuat Arsena berdeham dan sedikit menoleh ke arah kirinya. “Kan lu punya kucing nih. Kucing lu bisa bahasa manusia, gak?”

“Apa?”

Gabriel berdecak. “Si cemong, bisa bahasa manusia enggak?”

“Clara namanya,” timpal Arsena dengan cepat. “Ya...Clara mah seperti kucing pada umumnya.”

“Gua kepikiran ini deh. Kenapa ya, kucing enggak bisa bahasa manusia? Logikanya nih bayi manusia kan dirawat sama manusia, akhirnya dia bisa tuh bahasa manusia. Kalau kucing yang dirawat sama manusia dari dia lahir kenapa dia enggak bisa bahasa manusia? Dia bisa bahasa kucing belajar dari mana, coba?” Arsena terkekeh dari balik kaca helmnya akan pertanyaan yang Gabriel lontarkan, sedang Gabriel hanya bersungut tak terima.

“Apa lagi?”

“Apa?”

“Isi kepala lu, ada apa lagi?”

Seluruh alam semesta paham akan sarat makna dari senyum yang kini terpatri pada wajah Gabriel, selama ini ia ingin didengar. Roda motor yang terus melaju pun melewati setiap sudut kota yang tak lagi dianggap ada keberadaannya. Menyusuri aspal dengan pertanyaan hipotesis tentang apapun yang pada akhirnya akan berlanjut menciptakan diskusi panjang di atas motor.

“Rumi, kenapa Indomaret sama Alfamart banyak yang tetanggaan? Entah bangunannya yang sejajar atau yang berhadapan. Menurut lu, siapa yang akan lebih laku?”

Arsena berdeham dan berpikir keras di balik kaca helmnya yang diterpa angin dan mampu menghalau semburat jingga dari senja yang memancarkan hangat untuk menyelimuti keduanya. “Biar saling melengkapi? Kalau gak ada produk A di Indomaret tinggal ke sebelahnya, dan sebaliknya. Itu termasuk strategi pasar dan persaingan sehat.”

“Betul, sih. Tapi kan masalahnya siapa yang akan lebih banyak pelanggan?” Arsena hanya mengangguk sebagai jawab.

Gabriel menunjuk Indomaret dan Alfamart yang berada di sayap kiri jalanan yang hendak mereka lalui. “Dan jawabannya adalah mereka yang punya lahan parkir lebih luas dan gak ada tukang parkirnya!” Arsena dan Gabriel terkekeh setelah melewati Indomaret dan Alfamart yang bersebelahan, pengunjung Alfamart sore itu lebih banyak sebab tak ada tukang parkir yang berdiri di depan lahan parkirnya.

“Kan bener kata gua!” Arsena tidak menjawab, ia lebih memilih melirik ke arah spion untuk menyaksikan rekahan senyum pada wajah Gabriel. “Ngomong-ngomong, permen yang lu kasih waktu itu belum habis karena enggak gua makan.”

“Lu gak suka permen?”

“Bukan,” Gabriel menggeleng dengan cepat. “Sayang aja dari lu, harus gua hemat.”

Dengan Gabriel yang terus melontarkan seluruh isi kepalanya saat itu, perbincangan keduanya tak menemui ujung. Arsena terus mendengarkan dan menjawab dengan teori-teori dalam belukar pikirnya, sedang Gabriel terus melontarkan tanya dan jawaban dengan perspektif lainnya.

“Rumi.”

“Apa?”

Arsena semakin memperlambat laju motornya ketika mulai memasuki sebuah komplek tempat tinggal Gabriel. “Semuanya tentang hari ini serba ngeselin, tapi berkat lu ada satu hal yang bikin gua seneng hari ini.”

Arsena mengulum senyumnya dan mengangguk. “Thank you, Rumi.” satu kalimat, dan Arsena tahu. Gabriel membutuhkan dirinya.

Bagi Gabriel kini semakin sukar untuk dia menjabarkan arti dunia perkuliahan tanpa terdengar bak lelaki yang tengah dimabuk asmara. Alasannya sederhana, terasa nyata, dan apa adanya. Lagi-lagi karena Maherrumi Arsena.

Pukul tiga pagi. Waktu yang baik untuk merenung, waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Berbagai narasi yang berkelakar di isi kepala akan mudah terlontarkan, bersarat kejujuran. Alunan musik memenuhi seluruh isi ruangan, sengaja menepis kesunyian untuk menjadi latar musik tak berarti.

Gabriel meneguk sisa wine di dalam gelasnya tatkala Arsena membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas lantai. “Udah selesai?”

“Belum, tapi udah jam segini.” ekor mata Gabriel melirik jam dinding yang menempel pada tembok kamarnya.

Gabriel tertawa remeh. “Akhirnya sadar. Gua kira lu enggak akan berhenti kalau belum mati.” Arsena tertawa kecil sembari menyimpan kacamata yang bertengger di atas batang hidungnya ke dalam tempatnya. Tungkainya tergerak, mengikis beberapa meter jarak yang membentang untuk menyambangi Gabriel yang duduk bersila di atas ranjangnya.

“Rumi, orang-orang bisa cari pengganti lu kalau lu sakit atau beneran mati karena overworked. Tapi gua nanti sama siapa? Enggak ada yang bisa gantiin lu.” alih-alih menjawab, Arsena hanya mengulum senyumnya.

Langkah kaki Arsena berhenti tepat di tepi ranjang. Badannya membungkuk dengan tangan kiri ia letakkan di depan perut, sedang tangan kanannya menjulur di hadapan Gabriel yang tengah mengangkat kedua alisnya. “Would you maybe want to dance with me?

Gabriel menggigit bibir bawahnya, menahan gelak tawa yang bisa meledak kapan saja. Arsena mengangkat wajahnya, netranya membidik manik mata Gabriel yang memantulkan cahaya kamar yang kian berpendar.

“Katanya mau?”

Gabriel mengangguk kecil dan berdiri dari ranjang, tangan kanannya menerima uluran Arsena yang tak lekang dari hadapannya. Tangan kanan Arsena menggenggam erat tangan kiri Gabriel. “Padahal gua udah enggak pengen.”

“Gua yang pengen.” Arsena melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Gabriel, menariknya dengan pelan untuk menghapus beberapa sentimeter yang menjadi sekat bagi keduanya.

Perlahan jemari mereka bertautan, saling mengisi celahnya dan enggan untuk merenggang karena takut digerogoti oleh rasa kekosongan.

“Tapi maaf, enggak pas jam satu dan enggak di atas rooftop karena sekarang hujan.” Gabriel tertawa dengan tangan kanannya yang ia letakkan di atas pundak Arsena.

“Enggak apa-apa, yang penting bareng kamu.”

Kedua sudut bibir Arsena terangkat untuk melengkung ke atas, seirama dengan wajahnya yang semakin tergerak ke depan mengikis ruang sebagai jarak antara wajah keduanya.

“Cantik,” lirih Arsena tepat di hadapan wajah Gabriel. Tangan kirinya yang sedari tadi melingkar di pinggang Gabriel pun enggan untuk diam dan menetap. Arsena menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Gabriel, kemudian ia daratkan kedua telapak tangannya dengan penuh kehati-hatian pada pipi Gabriel, menangkupnya dan memberikan usapan pelan setelahnya. “Mata kamu cantik banget, semuanya tentang kamu cantik banget.”

Arsena mematri kecupan-kecupan singkatnya pada wajah Gabriel, membuat mereka terkekeh dan mengabaikan seluruh benda dan sudut ruangan di dalam kamar Gabriel yang telah menjadi saksi bisu atas torehan takdir keduanya.

Kedua tangan Arsena kini ia taruh pada pinggang Gabriel, sesekali ibu jarinya memberikan usapan pelan. “Ada setor cerita apa lagi?”

Gabriel menggumam panjang, kedua tangannya telah ia lingkarkan pada tengkuk Arsena bak seluruh hidupnya ia gantungkan di sana. “Udah gua ceritain semuanya, waktu lu ngerjain laporan.”

“Siapa tau masih ada.”

“Gantian lu dong yang setor!”

Arsena mengangguk pelan dengan netranya yang menerawang, berusaha mengingat potongan-potongan cerita akan apa yang telah ia lalui sebelum berakhir mengunci diri di dalam apartemen Gabriel. “Seperti biasa, enggak ada yang menarik. Tapi, tadi waktu kuliah ada beberapa topik tugas yang cukup gua pikirin.”

“Apa?”

“Menurut lu, lebih penting mana? Cuti haid dan melahirkan bagi perempuan atau memeratakan infrastruktur pendidikan di Indonesia?”

“Dua-duanya penting, kalau enggak penting enggak akan diangkat sebagai topik bahasan.” kini giliran Gabriel menggumam, masih dengan badannya yang terayun pelan. “Kalau kita bahas infrastruktur pendidikan di Indonesia, jelas kelihatan pentingnya karena masih banyak daerah yang belum merasakan apa yang namanya kecukupan, kan?”

Arsena mengangguk dan enggan bersuara, mempersilakan Gabriel untuk melanjutkan berbagai runtutan narasi yang berkelakar di kepalanya. “Sedangkan cuti haid dan melahirkan dirasa kurang adil karena terlihat hanya perempuan yang diuntungkan di sini. Untuk cuti melahirkan, oke lah, kedengeran wajar dan familier baik di lingkup pendidikan atau kerja. Tapi untuk cuti haid, kayaknya belum ada ya? Atau mungkin emang gua yang gak tau juga.

Gua dan lu sama-sama gak tau gimana sakitnya yang harus ditanggung seorang perempuan ketika sedang haid. Tapi, gak sedikit dari temen gua yang mengeluh sesakit itu! Bahkan ya, ada temen SMA gua dulu pernah sampai pingsan. Terus, di mana bukti nyata dari sila kedua Pancasila? Kemanusiaan yang adil dan beradab, kalau lingkup pendidikan dan kerja enggak memberikan mereka keringanan ketika haid?”

Arsena mengulum senyumnya, jemarinya semakin menekan pinggang Gabriel sebelum mulai menariknya untuk lebih mendekat. “Iya, Gabby. Karena kita berdua sama-sama enggak merasakan atau membutuhkan itu, bukan berarti kita menutup mata dan telinga dalam topik penting ini. Terima kasih banyak ya? Aku kayaknya mau ambil topik ini aja.”

“Anak pinter.” ucap Gabriel, tangan kanannya ia angkat untuk memberi tepukan pelan pada puncak kepala Arsena.

Oh, God. I love you so much, Gabby.”

“Aku tau! Do take me on a real date you have promised before kalau emang sayang sama aku. Bosen di kamar terus.” Gabriel tersenyum dan memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.

Arsena terkekeh. “Nanti siang ya?”

Pinky promise?

“Iya.”

Good boy.” untuk kedua kalinya kini Arsena mendapatkan tepukan pelan pada puncak kepalanya.

Stop saying that, will you?

Gabriel menjulurkan lidahnya. “Enggak mau. Kenapa sih emangnya? Kamu beneran punya praise kink ya?”

“Enggak tuh?”

But you like to be told that you did good.

Secara impulsif, Arsena memajukan wajahnya dan membiarkan bibirnya bersinggungan dengan bibir Gabriel. Bibirnya merasakan dingin yang menjalar dari bibir Gabriel, hingga sepersekon detik setelahnya Arsena menggerakkan bibirnya. Membuat celah pada bibirnya, sebelum akhirnya memagut bibir Gabriel lebih dalam. Menepis segala rasa dingin yang melingkup di pagi buta dan menggantikannya dengan hangat yang menyerbu bersamaan dengan deburan ombak dan riuh ricuh dalam perut keduanya.

Ini bukan kali pertama keduanya saling memagut, saling memburu dan menyalurkan afeksi tanpa ragu. Namun rasa aneh itu masih terus timbul, mungkin ujar sebagian orang ini adalah definisi dari kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut. Namun bagi Maherrumi Arsena, Gabriel Eknath not just serve butterflies but he serve the whole damn zoo.

Kini langit terlihat begitu gelap, menghapus jingga dan senja dengan eloknya. Dua buah laptop bersemayam di atas dua pasang kaki yang sengaja diluruskan. Masing-masing empunya menarik napas panjang, merapalkan harap dengan jemari yang saling bertautan. Degup jantung keduanya sama-sama memburu, bak disinggahi ombak riuh ricuh yang terpecah batu karang gagah menjulang.

Dengan menggunakan ibu jarinya, Niko memberikan usapan pada punggung tangan Albian yang berada dalam genggamannya. Albian kian lama kian mengeratkan genggamannya, seakan menyalurkan seluruh perasaannya yang meluruhkan keberanian dalam relungnya. Niko menarik kedua sudut bibirnya ke atas seraya membawa tangan kanan Albian dalam genggaman untuk menyambangi bibirnya, ia membubuhkan kecupan-kecupan singkat pada punggung tangan Albian.

“Udah siap?” Niko menyimpan tangan Albian yang masih berada dalam genggamannya di depan dada, tangan kanannya mengusap kening Albian yang menyaratkan ketidakpercayaan. “Bi, apapun hasilnya itu pasti terbaik. Aku percaya sama kamu, jadi kamu tolong percaya sama diri kamu sendiri.”

Albian menghembuskan napasnya dengan gusar, seolah-olah hal tersebut mampu mengusir kegugupan yang bersarang. “Niko, ayo buka sekarang.”

Niko mengangguk dan kembali melayangkan kecupan singkat pada punggung tangan Albian sebelum melepaskan tautan jemari keduanya. “Biar tangannya wangi, dapet UGM.”

Albian terkekeh dan mengecup kilat lengan kiri Niko yang bersinggungan dengan miliknya. Baik Niko dan juga Albian, netra keduanya sama-sama terpatri pada layar laptop yang memancarkan radiasi lebih kuat di ruang yang remang.

“Niko, aku gak berani lihat. Kalau lolos kasih tau aku, kalau enggak langsung matiin aja laptopnya.” ujar Albian yang tengah memejamkan matanya erat, menghalau secercah cahaya yang berusaha menyeruak untuk ditangkap pupilnya. Niko hanya berdeham dan mengusap surai Albian pelan.

Kedua layar laptop terus memuat akses untuk masuk ke laman jejaring pengumuman SBMPTN.

Hening panjang hingga mampu menangkap suara dari tiap napas yang dihembuskan oleh Niko dan juga Albian.

“Bi, keterima!” pekik Niko begitu layar laptop keduanya berhasil menampilkan laman pengumuman SBMPTN pada akun masing-masing.

Albian perlahan membuka kedua netranya. Belum sepenuhnya terbuka, ia memberanikan diri untuk menilik sebelum akhirnya pekikannya mampu memenuhi isi bilik kamarnya.

Niko memilih untuk menatap lamat Albian yang masih selebrasi, sesekali ia terkekeh. “Kan, kamu pasti bisa, Bi. Selamat, sayangku!” ujar Niko dan mengusak surai Albian, membuatnya terlihat acak.

“Niko,” Niko berdeham panjang, senyumnya masih terpatri hingga matanya terlihat kian menyipit dan tenggelam tertelan kelopaknya. “Berarti kita harus LDR, ya?”

Alih-alih menjawab, Niko memilih bungkam dan menepuk bahu kirinya. Albian yang mengerti bergegas memangkas jarak di angtara keduanya, bagai dititah kini pipi kanannya telah bersandar di atas sana.

“Jogja sama Malang deket, Bi. Nanti aku sering-sering jenguk kamu ke Jogja, kamu juga bisa gantian jenguk aku di Malang.”

“Kamu gak apa-apa?”

“Kenapa harus kenapa-kenapa, Bi?”

Albian sedikit mendongak, memerhatikan tiap inci wajah Niko. “Bisa ya, Nik?”

Niko meletakkan telapak tangan kirinya pada pinggang Albian, menariknya untuk semakin mendekat. Senyumnya tersungging sebelum mulai mengecup kening Albian dan mengusap dahinya pelan dengan irama yang konstan. “Bisa.”

“Dari satu sampai sepuluh, berapa?”

Niko menggumam. “Sebelas?”

“Niko.”

“Iya?”

“Aku percaya sama kamu.”

“Aku juga percaya sama kamu.” Niko meraih jemari Albian dan mengabsennya satu persatu. “Bi, yang bikin beda cuma tempatnya aja. Selebihnya enggak akan ada yang berubah dari aku untuk kamu.”

“Iya.”

Agustus, 2019

Beberapa individu ada yang berjalan dengan setengah berlari, terlihat pula beberapa tengah melepaskan atribut yang melekat pada tubuhnya. Hari terakhir OSPEK jurusan berjalan dengan lancar, satu beban yang telah dipikul oleh para mahasiswa baru pun sirna dan digantikan dengan beban serta harapan baru yang siap menyambut di depan gerbang perkuliahan.

Arsena dan Erico—seorang teman lelaki sebayanya—memilih berjalan dengan tenang, melewati lorong yang diapit oleh taman FISIPOL yang banyak ditumbuhi pohon palem yang menjulang tak begitu tinggi.

“Sen, lu langsung cabut?” tanya seorang individu dengan kancing kemeja bagian atasnya yang sudah tak terkait, tangan kirinya melipat tanda pengenal yang sudah tak terpakai untuk ia jadikan kipas tangan.

“Cabut pendopo lah, lama enggak ke pendopo.” lanjutnya memberi saran setengah memaksa.

Dengan menggunakan dagunya, Arsena menunjuk taman FISIPOL yang dihiasi oleh banyak pernak-pernik serta atribut. “Mau nonton itu dulu.”

“Itu ILKOM, ya? Buset rame banget dah, meriah kayak ulang tahun bocah umur tiga tahun.”

“Anak-anak pada ke pendopo?” tanya Arsena, enggan menimpali ucapan yang dilontarkan oleh temannya.

“Katanya gitu.” Arsena mengangguk kecil, tangan kanannya melepas kancing yang masih berpaut di pergelangan kemeja kirinya.

“Cabut agak nantian aja, masih ada yang belum kelar OSPEK kan jam segini.”

“Itu cowok yang maju bareng lu kan? Si Gabriel.” saat langkah mereka tengah menyambangi tatanan kursi yang disediakan oleh panitia, dengan menggunakan jari telunjuknya kini Erico menuding seorang lelaki yang tengah menggerutu, tercetak jelas pada wajahnya.

Arsena menjentikkan jari tengahnya pada kening Erico. “Jangan ditunjuk-tunjuk, tolol.”

Erico terkekeh, pantatnya ia dudukkan pada salah satu kursi yang belum ditempati di sebelah kanan Arsena.

“Ini acara apaan, sih? Pemilihan ketua angkatan kayak kita kemarin?” tanya Erico, matanya memindai tiap sudut dekorasi yang terpatri.

“Sen, itu Deo ya? Lusuh amat udah sore.” Arsena mengikuti arah pandang Erico dan terkekeh kecil menyetujui.

“Selamat sore semuanya!” suara lantang yang kini cukup familier pada pendengaran Arsena pun menyeruak masuk, mencuri segala atensi.

“Sore!” dengan serempak para hadirin pun menjawab tak terkecuali Arsena dan Erico, serta beberapa orang lainnya yang sebelumnya enggan menilik ke panggung kecil di barisan depan sebagai tempat berpijak.

“Selamat sore terutama buat lu yang gak pernah diucapin selamat sore, ngenes-ngenesnya harus ke Indomaret dulu biar ada yang ngucapin.” gelak tawa menyeruak sehingga membuat Gabriel memberi jeda pada kalimatnya, menunggu reaksi penonton mereda.

“Ngomongin soal sore. Dulu waktu SD, gua suka main layangan bareng tetangga-tetangga gua. Pas gede gua jadi males main layangan karena gua sekarang paham rasa sakitnya ditarik ulur.” rekahan tawa dari para penonton menghangatkan hati Gabriel.

Gabriel memasang mimik wajahnya, seolah mengajak massa untuk turut masuk ke dalam ceritanya. “Waktu SMP akhirnya gua coba ganti mainan, akhirnya gua diajak pergi mancing sama bokap gua. Tapi sekarang gua udah males karena tau rasa gak enaknya menunggu.”

Arsena diam-diam mengulum senyumnya, sedangkan Erico di samping kanannya tengah tertawa lepas.

“Akhirnya waktu SMA, gua di rumah secara sukarela jadi tukang angkat jemuran karena gua tau rasa sedihnya digantung.”

“Waaaaaaa.” sorak meriah dari penonton membuat Gabriel harus menunggu.

Pandangan Gabriel menyisir tiap sudut taman, sampai pada akhirnya menangkap dan singgah pada manik mata Arsena.

“Biasanya nih setelah angkat jemuran gua bakalan ongkang-ongkang di teras sambil nunggu abang bakso lewat. Nah, waktu itu ada abang bakso lewat terus gua berhentiin. ”Bang, baksonya masih?” Gua tanya gitu dong? Eh dijawab sama abangnya gini, ”Habis, Mas. Yang tersisa hanyalah penyesalan.”

Gua pandangin abangnya, abangnya balik mandang ke gua. Belum aja cinta pada pandangan pertama, akhirnya gua pesen aja tuh penyesalan seporsi. Gua udah nungguin lama banget di teras. Kenapa gak jadi-jadi? Akhirnya gua beraniin tanya ke abangnya dan kata abangnya, ”Maaf, Mas, namanya penyesalan pasti datang terlambat.”

Terima kasih, saya Gabriel Eknath.”

Gabriel menunduk dan melambaikan kedua tangannya sebelum akhirnya turun dari panggung. Sorak sorai dari penonton memekakkan telinga, pukulan-pukulan kecil serta riuhnya tepuk tangan mengiringi Gabriel yang melesakkan tubuhnya ke dalam barisan.

“Cabut sekarang?” tanya Erico tatkala Arsena bangkit dari kursinya dan meregangkan punggungnya, Arsena hanya mengangguk dan berjalan melewati kursi Erico dengan langkahnya yang mulai menjauh.

Baru beberapa langkah kaki Arsena gerakkan, ia dihadang oleh seorang perempuan dengan tanda pengenal panitia yang tersemat pada jas almamater yang ia kenakan.

“Permisi Dek, boleh minta waktunya sebentar untuk ngisi kesan dan pesan atau harapan dari adanya acara ini? Bisa ditujukan untuk panitia atau teman-teman maba.” ucap seorang perempuan tersebut sembari menyodorkan selembar kertas berukuran kecil dengan tali yang menjerat di ujungnya untuk digantungkan pada pohon bonsai milik panitia.

Arsena hanya mengangguk kecil dan menerima sodoran kertas yang menjadi alasan ia tengah berpikir keras akan frasa apa yang ingin ia torehkan di atasnya. Pandangannya mengerling ke arah Gabriel yang tengah tertawa di dalam kerumunan, memunculkan aksara akan gagasan yang bermunculan.

Jangan mau jadi kayak gua, jadi diri lu aja karena lu udah keren. Semangat kuliah dan UKM nya, Gabriel. Kapan-kapan ayo kita makan bakso Bang Ronal yang lu ceritain kemarin.

Rumi.

Beberapa individu ada yang berjalan dengan setengah berlari, terlihat pula beberapa tengah melepaskan atribut yang melekat pada tubuhnya. Hari terakhir OSPEK jurusan berjalan dengan lancar, satu beban yang telah dipikul oleh para mahasiswa baru pun sirna dan digantikan dengan beban serta harapan baru yang siap menyambut di depan gerbang perkuliahan.

Arsena dan Erico—seorang teman lelaki sebayanya—memilih berjalan dengan tenang, melewati lorong yang diapit oleh taman FISIPOL yang banyak ditumbuhi pohon palem yang menjulang tak begitu tinggi.

“Sen, lu langsung cabut?” tanya seorang individu dengan kancing kemeja bagian atasnya yang sudah tak terkait, tangan kirinya melipat tanda pengenal yang sudah tak terpakai untuk ia jadikan kipas tangan.

“Cabut pendopo lah, lama enggak ke pendopo.” lanjutnya memberi saran setengah memaksa.

Dengan menggunakan dagunya, Arsena menunjuk taman FISIPOL yang dihiasi oleh banyak pernak-pernik serta atribut. “Mau nonton itu dulu.”

“Itu ILKOM, ya? Buset rame banget dah, meriah kayak ulang tahun bocah umur tiga tahun.”

“Anak-anak pada ke pendopo?” tanya Arsena, enggan menimpali ucapan yang dilontarkan oleh temannya.

“Katanya gitu.” Arsena mengangguk kecil, tangan kanannya melepas kancing yang masih berpaut di pergelangan kemeja kirinya.

“Cabut agak nantian aja, masih ada yang belum kelar OSPEK kan jam segini.”

“Itu cowok yang maju bareng lu kan? Si Gabriel.” saat langkah mereka tengah menyambangi tatanan kursi yang disediakan oleh panitia, dengan menggunakan jari telunjuknya kini Erico menuding seorang lelaki yang tengah menggerutu, tercetak jelas pada wajahnya.

Arsena menjentikkan jari tengahnya pada kening Erico. “Jangan ditunjuk-tunjuk, tolol.”

Erico terkekeh, pantatnya ia dudukkan pada salah satu kursi yang belum ditempati di sebelah kanan Arsena.

“Ini acara apaan, sih? Pemilihan ketua angkatan kayak kita kemarin?” tanya Erico, matanya memindai tiap sudut dekorasi yang terpatri.

“Sen, itu Deo ya? Lusuh amat udah sore.” Arsena mengikuti arah pandang Erico dan terkekeh kecil menyetujui.

“Selamat sore semuanya!” suara lantang yang kini cukup familier pada pendengaran Arsena pun menyeruak masuk, mencuri segala atensi.

“Sore!” dengan serempak para hadirin pun menjawab tak terkecuali Arsena dan Erico, serta beberapa orang lainnya yang sebelumnya enggan menilik ke panggung kecil di barisan depan sebagai tempat berpijak.

“Selamat sore terutama buat lu yang gak pernah diucapin selamat sore, ngenes-ngenesnya harus ke Indomaret dulu biar ada yang ngucapin.” gelak tawa menyeruak sehingga membuat Gabriel memberi jeda pada kalimatnya, menunggu reaksi penonton mereda.

“Ngomongin soal sore. Dulu waktu SD, gua suka main layangan bareng tetangga-tetangga gua. Pas gede gua jadi males main layangan karena gua sekarang paham rasa sakitnya ditarik ulur.” rekahan tawa dari para penonton menghangatkan hati Gabriel.

Gabriel memasang mimik wajahnya, seolah mengajak massa untuk turut masuk ke dalam ceritanya. “Waktu SMP akhirnya gua coba ganti mainan, akhirnya gua diajak pergi mancing sama bokap gua. Tapi sekarang gua udah males karena tau rasa gak enaknya menunggu.”

Arsena diam-diam mengulum senyumnya, sedangkan Erico di samping kanannya tengah tertawa lepas.

“Akhirnya waktu SMA, gua di rumah secara sukarela jadi tukang angkat jemuran karena gua tau rasa sedihnya digantung.”

“Waaaaaaa.” sorak meriah dari penonton membuat Gabriel harus menunggu.

Pandangan Gabriel menyisir tiap sudut taman, sampai pada akhirnya menangkap dan singgah pada manik mata Arsena.

“Biasanya nih setelah angkat jemuran gua bakalan ongkang-ongkang di teras sambil nunggu abang bakso lewat. Nah, waktu itu ada abang bakso lewat terus gua berhentiin. ”Bang, baksonya masih?” Gua tanya gitu dong? Eh dijawab sama abangnya gini, ”Habis, Mas. Yang tersisa hanyalah penyesalan.”

Gua pandangin abangnya, abangnya balik mandang ke gua. Belum aja cinta pada pandangan pertama, akhirnya gua pesen aja tuh penyesalan seporsi. Gua udah nungguin lama banget di teras. Kenapa gak jadi-jadi? Akhirnya gua beraniin tanya ke abangnya dan kata abangnya, ”Maaf, Mas, namanya penyesalan pasti datang terlambat.”

Terima kasih, saya Gabriel Eknath.”

Gabriel menunduk dan melambaikan kedua tangannya sebelum akhirnya turun dari panggung. Sorak sorai dari penonton memekakkan telinga, pukulan-pukulan kecil serta riuhnya tepuk tangan mengiringi Gabriel yang melesakkan tubuhnya ke dalam barisan.

“Cabut sekarang?” tanya Erico tatkala Arsena bangkit dari kursinya dan meregangkan punggungnya, Arsena hanya mengangguk dan berjalan melewati kursi Erico dengan langkahnya yang mulai menjauh.

Baru beberapa langkah kaki Arsena gerakkan, ia dihadang oleh seorang perempuan dengan tanda pengenal panitia yang tersemat pada jas almamater yang ia kenakan.

“Permisi Dek, boleh minta waktunya sebentar untuk ngisi kesan dan pesan atau harapan dari adanya acara ini? Bisa ditujukan untuk panitia atau teman-teman maba.” ucap seorang perempuan tersebut sembari menyodorkan selembar kertas berukuran kecil dengan tali yang menjerat di ujungnya untuk digantungkan pada pohon bonsai milik panitia.

Arsena hanya mengangguk kecil dan menerima sodoran kertas yang menjadi alasan ia tengah berpikir keras akan frasa apa yang ingin ia torehkan di atasnya. Pandangannya mengerling ke arah Gabriel yang tengah tertawa di dalam kerumunan, memunculkan aksara akan gagasan yang bermunculan.

Jangan mau jadi kayak gua, jadi diri lu aja karena lu udah keren. Semangat kuliah dan UKM nya, Gabriel. Kapan-kapan ayo kita makan bakso Bang Ronal yang lu ceritain kemarin.

Rumi.

Tidak ada yang lebih mengerikan dari pertikaian antara pikiran dan perasaan, setidaknya itu yang saat ini tengah menggerogoti Orion. Menyandarkan punggungnya pada tembok sepetak ruangan yang menjadi tempatnya bernaung, berlindung akan panasnya Matahari serta hujaman air hujan yang tak mampu lagi dibendung oleh awan. Kakinya ia luruskan, dadanya bergerak teratur seiringan dengan tempo hisapan serta hembusan sigaret yang terselip pada belah bibirnya. Netranya memindai dari tiap sudut ruangan, benaknya menayangkan cuplikan-cuplikan kisah yang sempat ia rekam di sana. Entah buruk, juga baiknya.

“Anjing!” dari luar, pekikan Luke nyaring terdengar hingga mampu menyambangi indra pendengaran Orion dan Rios yang tengah terduduk di dalam kamar pun bergegas keluar.

Langkah Orion dan Rios terhenti di teras indekos, menyaksikan Luke yang tadinya tersungkur kini perlahan berdiri. Kedua tangan Luke mengepal erat, satu pukulan ia layangkan pada wajah Junio yang berdiri tepat di hadapannya. Lokasinya cukup menyakitkan karena alih-alih mendarat di pipi, kepalan tangan Luke jatuh tepat mengenai rahang Junio.

Junio yang telah bersiap diri akan pukulan yang Luke layangkan pun hanya terhuyung. “Lagi, tonjok gua lagi.”

“Lu kenapa sih? Tiba-tiba nonjok, tiba-tiba minta ditonjok.” tanya Luke dan menjentikkan jarinya pada dahi Junio cukup kencang.

“Banyak nanya lu!” satu pukulan Junio layangkan tepat pada mata Luke, yang dipukul meringis kesakitan dan mengaduh keras.

Netra Orion menyalang, kedua alisnya terangkat penuh kejut. Langkahnya siap menyambangi Luke dan Junio namun dengan cepat tangan Rios menahannya, menarik lengannya untuk tetap diam di tempat.

Marvel dan Svarga yang sedari tadi tengah mengikat barang-barang Orion di atas pikap hitam pun bergegas menengahi keduanya. Sedangkan Orion kini tengah bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar dengan presensi Rios yang berdiri tepat di sampingnya, menyaksikan keempat temannya dengan belah bibirnya masih mengapit sigaret yang menguarkan aroma khas.

Tangan kiri Luke dengan gusar meremas kerah baju Junio, menyeretnya dan menyudutkan pada tembok. Tangan kanannya ia gunakan untuk menepis Marvel dan Svarga, gurat kemarahan tercetak jelas pada mimik wajah Luke.

Tangan kanan Luke mengepal erat.

Pukulan kedua yang ia layangkan kepada Junio tepat jatuh di dekat batang hidung Junio, meloloskan setitik darah segar tanpa aba-aba.

Pukulan ketiga, Luke jatuhkan pada samping telinga Junio. Membuat dunia Junio berputar dan matanya berulang kali mengerjap, kepalanya ia sandarkan pada tembok dengan pijakan kakinya yang mulai melemas.

Tungkai Junio bergetar, tangan kiri Luke tak lagi meremas kerahnya sehingga membuat tubuhnya merosot lolos terduduk di atas tanah.

Posisi Junio seakan mengizinkan Luke untuk melayangkan sebuah tendangan pada pinggangnya. Bukan tendangan kecil, sehingga mampu membuat Junio meringis kesakitan, berteriak serta melenguh untuk pertama kalinya. Badannya terasa nyeri, dunianya kini remuk redam.

Dada Luke bergerak naik turun tak beraturan, seimbang akan napasnya yang terus memburu dengan peluh yang bermunculan pada garis dahinya. Tangan kanannya mengacak pinggang, sedang tangan kirinya meremas erat surainya dengan frustasi.

Luke mengulurkan tangan kanannya namun segera Junio tepis, ia bahkan tak punya kekuatan lebih untuk berdiri. Luke yang melihatnya hanya berdecak sebal dan turut membaringkan tubuhnya tepat di samping Junio yang masih mengatur napasnya.

“Gua,” lirih Junio, ekor matanya melirik Orion yang masih menyesap sigaretnya. “Gua pernah cium Orion di depan Noel.”

Orion terbatuk dengan asap sigaret yang mengepul di wajahnya, ia jatuhkan sigaretnya yang tersisa beberapa senti terakhir di atas tanah dan menggilasnya dengan batu.

Junio menutup kedua matanya dengan lengan. “Gua suka sama Orion.”

Tawa Luke memecah keheningan yang sempat menyergap, kedua tangannya yang ia taruh di atas perut pun turut bergerak seirama dengan tawanya yang kian meredup. “Gua udah pacaran sama Mauren.”

“Anjing! Sejak kapan?”

“Sebelum pacaran, gua pernah cium Mauren,” suara Luke perlahan lirih, tertutup oleh napasnya yang tersenggal. “Waktu itu, bukan karena dia suka sama gua. Tapi karena dia mau gua jadi Noel buat dia dan gua bilang iya.”

Marvel mendudukkan dirinya di samping Luke, tangannya merogoh sekotak sigaret dari dalam saku celana yang panjangnya hanya mampu menyambangi hingga lututnya. “Waktu SMP, gua pernah bikin anak TK kehilangan ibunya karena gua tabrak.”

“Anjing! Serius?”

Svarga berjalan mendekat berniat untuk mendudukkan dirinya di sebelah Marvel, tangannya dengan sigap menerima lemparan sekotak sigaret dari Marvel. “Gua pernah bikin kakak gua sakit dan terpaksa opname karena gua pernah sengaja hapus file skripsi dia dan sampai sekarang gak ada yang pernah tau.”

“Tolol.” timpal Rios yang tengah berjalan mendekat.

“Emang. Bukannya ini ajang mengumbar ketololan?” tanya Svarga sebelum akhirnya menyelipkan sebatang sigaret pada belah bibirnya.

“Gua juga suka,” ucap Rios sengaja menggantung, ia turut mendudukkan dirinya di atas tanah dan menjadikan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan untuk mengistirahatkan punggungnya. “Gua juga suka sama Orion, malah sejak SMP.”

Orion menelan ludahnya dengan susah payah, mendengar runtutan pengakuan dari anak-anak manusia yang tengah menjalani kehidupan pertamanya.

Orion yang tadinya berjongkok tepat di depan teras kini melangkahkan tungkainya untuk turut melesakkan diri bersama teman-temannya. Napasnya ia buang dengan gusar sebelum akhirnya duduk dengan kakinya yang ia tekuk dan ia kunci menggunakan kedua tangannya. Wajahnya menengadah.

“Gua anak dari seorang Ayah yang kerjaannya ngewe sana sini, sampai akhirnya ketemu Mami nya Jordan. Gua juga anak dari seorang Ibu yang inget namanya sendiri aja enggak.” ucap Orion, sudut bibirnya terangkat getir.

“Tapi itu bukan ketololan gua,” lanjut Orion dengan kekehan di ujung kalimatnya. “Ketololan gua jadiin itu semua sebagai alasan gua pergi dari Noel.”

“Tolol.”

Mereka berlima tertawa tanpa tujuan yang jelas.

Menertawakan segala hal yang salah,

Menertawakan segala hal yang konyol,

Menertawakan nasib,

dan menertawakan alam semesta.

Rintik hujan mulai menginterupsi tawa dari anak-anak manusia yang kini sama-sama menengadah menghadap langit yang sama. Berharap hujan mampu meluruhkan seluruh rasa bersalah juga kutukan buruk yang semesta sematkan pada tiap langkahnya.

Anak-anak manusia, ini adalah kehidupan pertamanya. Wajar bil