3 AM
Pukul tiga pagi. Waktu yang baik untuk merenung, waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Berbagai narasi yang berkelakar di isi kepala akan mudah terlontarkan, bersarat kejujuran. Alunan musik memenuhi seluruh isi ruangan, sengaja menepis kesunyian untuk menjadi latar musik tak berarti.
Gabriel meneguk sisa wine di dalam gelasnya tatkala Arsena membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas lantai. “Udah selesai?”
“Belum, tapi udah jam segini.” ekor mata Gabriel melirik jam dinding yang menempel pada tembok kamarnya.
Gabriel tertawa remeh. “Akhirnya sadar. Gua kira lu enggak akan berhenti kalau belum mati.” Arsena tertawa kecil sembari menyimpan kacamata yang bertengger di atas batang hidungnya ke dalam tempatnya. Tungkainya tergerak, mengikis beberapa meter jarak yang membentang untuk menyambangi Gabriel yang duduk bersila di atas ranjangnya.
“Rumi, orang-orang bisa cari pengganti lu kalau lu sakit atau beneran mati karena overworked. Tapi gua nanti sama siapa? Enggak ada yang bisa gantiin lu.” alih-alih menjawab, Arsena hanya mengulum senyumnya.
Langkah kaki Arsena berhenti tepat di tepi ranjang. Badannya membungkuk dengan tangan kiri ia letakkan di depan perut, sedang tangan kanannya menjulur di hadapan Gabriel yang tengah mengangkat kedua alisnya. “Would you maybe want to dance with me?“
Gabriel menggigit bibir bawahnya, menahan gelak tawa yang bisa meledak kapan saja. Arsena mengangkat wajahnya, netranya membidik manik mata Gabriel yang memantulkan cahaya kamar yang kian berpendar.
“Katanya mau?”
Gabriel mengangguk kecil dan berdiri dari ranjang, tangan kanannya menerima uluran Arsena yang tak lekang dari hadapannya. Tangan kanan Arsena menggenggam erat tangan kiri Gabriel. “Padahal gua udah enggak pengen.”
“Gua yang pengen.” Arsena melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Gabriel, menariknya dengan pelan untuk menghapus beberapa sentimeter yang menjadi sekat bagi keduanya.
Perlahan jemari mereka bertautan, saling mengisi celahnya dan enggan untuk merenggang karena takut digerogoti oleh rasa kekosongan.
“Tapi maaf, enggak pas jam satu dan enggak di atas rooftop karena sekarang hujan.” Gabriel tertawa dengan tangan kanannya yang ia letakkan di atas pundak Arsena.
“Enggak apa-apa, yang penting bareng kamu.”
Kedua sudut bibir Arsena terangkat untuk melengkung ke atas, seirama dengan wajahnya yang semakin tergerak ke depan mengikis ruang sebagai jarak antara wajah keduanya.
“Cantik,” lirih Arsena tepat di hadapan wajah Gabriel. Tangan kirinya yang sedari tadi melingkar di pinggang Gabriel pun enggan untuk diam dan menetap. Arsena menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Gabriel, kemudian ia daratkan kedua telapak tangannya dengan penuh kehati-hatian pada pipi Gabriel, menangkupnya dan memberikan usapan pelan setelahnya. “Mata kamu cantik banget, semuanya tentang kamu cantik banget.”
Arsena mematri kecupan-kecupan singkatnya pada wajah Gabriel, membuat mereka terkekeh dan mengabaikan seluruh benda dan sudut ruangan di dalam kamar Gabriel yang telah menjadi saksi bisu atas torehan takdir keduanya.
Kedua tangan Arsena kini ia taruh pada pinggang Gabriel, sesekali ibu jarinya memberikan usapan pelan. “Ada setor cerita apa lagi?”
Gabriel menggumam panjang, kedua tangannya telah ia lingkarkan pada tengkuk Arsena bak seluruh hidupnya ia gantungkan di sana. “Udah gua ceritain semuanya, waktu lu ngerjain laporan.”
“Siapa tau masih ada.”
“Gantian lu dong yang setor!”
Arsena mengangguk pelan dengan netranya yang menerawang, berusaha mengingat potongan-potongan cerita akan apa yang telah ia lalui sebelum berakhir mengunci diri di dalam apartemen Gabriel. “Seperti biasa, enggak ada yang menarik. Tapi, tadi waktu kuliah ada beberapa topik tugas yang cukup gua pikirin.”
“Apa?”
“Menurut lu, lebih penting mana? Cuti haid dan melahirkan bagi perempuan atau memeratakan infrastruktur pendidikan di Indonesia?”
“Dua-duanya penting, kalau enggak penting enggak akan diangkat sebagai topik bahasan.” kini giliran Gabriel menggumam, masih dengan badannya yang terayun pelan. “Kalau kita bahas infrastruktur pendidikan di Indonesia, jelas kelihatan pentingnya karena masih banyak daerah yang belum merasakan apa yang namanya kecukupan, kan?”
Arsena mengangguk dan enggan bersuara, mempersilakan Gabriel untuk melanjutkan berbagai runtutan narasi yang berkelakar di kepalanya. “Sedangkan cuti haid dan melahirkan dirasa kurang adil karena terlihat hanya perempuan yang diuntungkan di sini. Untuk cuti melahirkan, oke lah, kedengeran wajar dan familier baik di lingkup pendidikan atau kerja. Tapi untuk cuti haid, kayaknya belum ada ya? Atau mungkin emang gua yang gak tau juga.
Gua dan lu sama-sama gak tau gimana sakitnya yang harus ditanggung seorang perempuan ketika sedang haid. Tapi, gak sedikit dari temen gua yang mengeluh sesakit itu! Bahkan ya, ada temen SMA gua dulu pernah sampai pingsan. Terus, di mana bukti nyata dari sila kedua Pancasila? Kemanusiaan yang adil dan beradab, kalau lingkup pendidikan dan kerja enggak memberikan mereka keringanan ketika haid?”
Arsena mengulum senyumnya, jemarinya semakin menekan pinggang Gabriel sebelum mulai menariknya untuk lebih mendekat. “Iya, Gabby. Karena kita berdua sama-sama enggak merasakan atau membutuhkan itu, bukan berarti kita menutup mata dan telinga dalam topik penting ini. Terima kasih banyak ya? Aku kayaknya mau ambil topik ini aja.”
“Anak pinter.” ucap Gabriel, tangan kanannya ia angkat untuk memberi tepukan pelan pada puncak kepala Arsena.
“Oh, God. I love you so much, Gabby.”
“Aku tau! Do take me on a real date you have promised before kalau emang sayang sama aku. Bosen di kamar terus.” Gabriel tersenyum dan memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.
Arsena terkekeh. “Nanti siang ya?”
“Pinky promise?“
“Iya.”
“Good boy.” untuk kedua kalinya kini Arsena mendapatkan tepukan pelan pada puncak kepalanya.
“Stop saying that, will you?“
Gabriel menjulurkan lidahnya. “Enggak mau. Kenapa sih emangnya? Kamu beneran punya praise kink ya?”
“Enggak tuh?”
“But you like to be told that you did good.“
Secara impulsif, Arsena memajukan wajahnya dan membiarkan bibirnya bersinggungan dengan bibir Gabriel. Bibirnya merasakan dingin yang menjalar dari bibir Gabriel, hingga sepersekon detik setelahnya Arsena menggerakkan bibirnya. Membuat celah pada bibirnya, sebelum akhirnya memagut bibir Gabriel lebih dalam. Menepis segala rasa dingin yang melingkup di pagi buta dan menggantikannya dengan hangat yang menyerbu bersamaan dengan deburan ombak dan riuh ricuh dalam perut keduanya.
Ini bukan kali pertama keduanya saling memagut, saling memburu dan menyalurkan afeksi tanpa ragu. Namun rasa aneh itu masih terus timbul, mungkin ujar sebagian orang ini adalah definisi dari kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut. Namun bagi Maherrumi Arsena, Gabriel Eknath not just serve butterflies but he serve the whole damn zoo.