6: Dua Buah Malam
Oktober, 2019
Mungkin kata sempurna bagi sebagian orang amat sukar untuk ditafsirkan. Namun bagi Arsena, kata sempurna mampu ia definiskan dengan rentang waktu di mana segalanya berjalan dengan lancar dan masih bersama dengan orang-orang terkasih.
Malam ini dapat menjadi salah satu contoh konkret akan definisi sempurna bagi Arsena. Mendudukkan dirinya di atas karpet pada ruang keluarga, memeluk gitar akustik dengan jemarinya yang terus memetik. Sejak setengah jam yang lalu, Bunda sibuk memeriksa pekerjaan sekolah milik murid-muridnya. Sedangkan Akbel—adik perempuan Arsena satu-satunya kini tengah bermain bersama pemegang takhta tertinggi di rumah, Clara si cemong.
“Beneran enggak perlu Kakak bantuin, Bunda?” Arsena menolehkan wajahnya, melihat tumpukan buku tulis yang masih belum tersentuh di atas sofa tempat Bunda nya terduduk. Banyak yang mengira Arsena adalah seorang laki-laki yang dingin dan datar, tidak banyak yang tahu akan hangat serta lembutnya.
Bunda tersenyum dengan tangan kanannya yang tergerak untuk menyambangi kepala Arsena dan mengusaknya surainya lembut. “Enggak perlu, Kakak. Cepet kok ini. Terima kasih ya, ganteng.”
Arsena mengangguk, gitarnya kembali digelungi akan intensi. “Bun, Kakak mau ikut himpunan boleh?”
“Boleh,” Arsena meletakkan gitarnya dan disandarkan pada sofa tatkala Clara berlari kecil ke pangkuannya. “Asal jangan sampai keteteran kuliahnya. Kan niat utama Kakak untuk kuliah.”
“Kakak mah pasti gak akan lupa sama kuliahnya, tapi bakal lupa sama dirinya sendiri.” Akbel menimpali, turut memasukkan dirinya ke dalam konversasi keduanya yang sedari tadi ia dengarkan. Tubuhnya merangkak untuk menyambangi Bunda di atas sofa.
“Nah, itu paling penting.” Bunda menutup pulpennya dan meletakkan di atas tumpukan buku tulis yang telah selesai dikoreksi.
Arsena terkekeh, kedua kakinya yang sedari tadi berselonjor pun telah ia tekuk untuk mendudukkan Clara di atas lututnya. “Kakak juga ikut teater.”
“Yah, bahaya tuh Bun. Nanti pasti Kakak ngalah-ngalahin sibuknya Ayah.” Akbel membaringkan tubuhnya pada sofa empuk yang masih memiliki banyak spasial, menjatuhkan kepalanya di atas paha Bunda untuk diusap-usap surainya.
“Kata Ayah harus banyak-banyak mengeksplorasi kehidupan di kampus.” Arsena membela diri, hidungnya berkerut sebelum mengusal pada perut Clara.
Bunda menggeleng penuh keheranan, kedua tangannya memberi usapan pada surai panjang berwarna hitam legam milik putrinya. “Iya, tapi jangan sampai lupa sama diri sendiri ya Kak?”
Terbentang beberapa kilometer dari rumah Arsena, tempat tidur itu tampak menjorok ke bawah saat menopang berat badan seorang laki-laki dewasa yang merebahkan dirinya di atasnya. Sembari menghembuskan napasnya dengan berat, lelaki itu mengubah posisinya menjadi menyamping dan menatap nanar pada seorang perempuan paruh baya yang duduk termangu di atas sofa.
“Mami,” Gabriel menggertakkan giginya, tenggorokannya tercekat dan kini terasa kian sukar bagi paru-parunya disaluri oksigen. “Iel gak apa-apa kalau Mami mau nikah lagi.”
Netra Gabriel tergerak, menghindari tatapan Mami yang terasa mengunci. Memindai tiap sudut apartemen, berhenti pada sorot lampu yang menyilaukan. “Mami janji, rasa sayang Mami buat Iel enggak akan berkurang.”
“Iya,” Gabriel memainkan kuku-kuku jemarinya yang mulai memanjang dan lama tak dipotong. “Selama ini Mami udah buktiin itu. Mami seneng?”
“Lebih dari seneng.”
Gabriel mengangkat kedua sudut bibirnya dengan rasa getir yang terus berkelakar pada benaknya, kepalanya mengangguk dengan lirih. “Itu yang paling penting, Iel mau lihat Mami seneng.”
“Kalau bicara soal seneng, sekarang punya Iel yang sedewasa ini udah cukup bikin Mami seneng.” Gabriel lagi-lagi menggertakkan giginya, mencari distraksi untuk menahan kelopaknya yang membentuk bendungan. “Mami tanya sekali lagi. Mami boleh nikah lagi, sayang?”
Gabriel menyugar surainya yang mulai panjang. “Boleh. Iel enggak mau Mami kesepian, Iel mau Mami punya temen untuk ngelewatin hari-hari Mami dan ngejaga Mami.”
“When someone’s getting older, we didn’t even care anymore about our wholebeing. Awalnya Mami cuma mau fokus sama kerjaan dan ke Iel, tapi…Mami gak bisa.” Mami melangkahkan tungkainya dengan lambat laun, mengikis jarak antar sofa dan kasur yang memuat Gabriel di atasnya.
Gabriel duduk bersila di atas kasur tatkala Mami mendudukkan diri di tepian kasurnya yang dibalut menggunakan sprei berwarna abu-abu polos. “Mami, I really do respect and love you with every fiber of my being.”
Mami terkekeh dan mengusak surai Gabriel. “How sweet of you! Pasti pacar Iel nih yang ngajarin?”
Gabriel turut terkekeh dan mendengus pelan. “Enggak, I really meant it. So, if Papi, Om Rayhan, or anyone ever hurt you please tell me because Imma beat their ass.”
“Enggak ada yang nyakitin Mami.” Mami menangkup kedua pipi Gabriel dengan gemas, meninggalkan cubitan kecil sebelum melepaskannya. “Jadi Iel jangan khawatir ya. Karena tugas Iel sekarang banyak-banyak belajar dan berbuat baik, supaya berguna untuk Iel sendiri dan banyak orang. Oke, jagoan Mami?”
Gabriel mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. “Mami, Iel mau minta tolong.”
“Apa, jagoan?”
“Potongin kuku,” Gabriel tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. “Iel mau Mami yang potongin.”
Konsepsi akan kehidupan dan kebahagiaan adalah bagaimana manusia mampu menelan mentah-mentah pahitnya dunia untuk dijadikan pembelajaran. Dan Tuhan ingin Gabriel beserta seluruh runtutan kisahnya, turut berkontribusi dalam merasakannya.