Banyak kali pertama dalam hidup. Kali pertama seorang manusia dilahirkan, kali pertama menangis, kali pertama menginjakkan kaki di atas tanah, kali pertama melesakkan diri pada suatu hubungan penuh romansa. Ini kali pertama bagi Arsena merajut cinta juga asa, ada sejumput pemikiran bahwa ia tak cukup dalam menyalurkan rasa. Pada dasarnya memang musuh terbesar manusia adalah insekuritas, kan? Dan perasaan kalut berbalut cemburu menyergap memenuhi belukar benak Arsena lah salah satu bukti nyata.

“Ya Tuhan,” Arsena memejamkan matanya rapat-rapat bersamaan dengan kepalanya yang terlempar ke belakang. “Gab…”

Gabriel mendengus bersamaan dengan tawanya yang terdengar meremehkan, kedua alisnya menukik ke atas menampilkan wajah penuh sarat akan kebingungan. “You’re allowed to curse, sayang.” Gabriel memasukkan penis Arsena ke dalam rongga mulutnya hingga menegang dengan sempurna, memainkan lidahnya tepat di ujung kepala sebelum memasukkan seluruhnya.

Fuck.” Arsena memberanikan diri memegang belakang kepala Gabriel dan mendorong pinggangnya maju supaya dirinya masuk lebih dalam. “I wanna feel mine down your throat.” He commanded, can you sense some authority over his voice?

Gabriel menitikkan air matanya, terlampau senang akan jemari Arsena yang menjambak ribuan helai surainya ketika kenikmatan tak mampu lagi diubah dalam bentuk literasi nyata.

“Maaf,” Arsena memperlambat gerakan pinggulnya dan menarik tubuhnya untuk menjauh, kedua telapak tangannya yang sedari tadi menjambak surai Gabriel pun hengkang sebab kini jemarinya sudah mengusap pipi Gabriel yang basah akibat air matanya yang lolos tanpa permisi. “Maaf, Gab.”

Gabriel menggeleng, membantah rapalan kata maaf yang tak luput dari bibir Arsena. “Just do anything.” Arsena menggerakkan ibu jarinya dengan perlahan untuk membelai belah bibir Gabriel, netra keduanya masih saling fokus dan terikat.

Arsena perlahan menuntun Gabriel untuk berbaring di bawah kungkungannya, tangan kirinya ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya supaya tak ambruk di atas Gabriel yang tengah memindai ujung kepala hingga ujung kakinya yang sudah tak berbalut selembar benangpun. “Kenapa?”

“Gak apa-apa.” Gabriel sekilas menggigit bibir bawahnya, tangan kirinya ia gunakan untuk menyentuh dan mengusap dada bidang Arsena. Sesekali jemarinya bergerak menggambar pola tak beraturan. “You have a beautiful body.

Am I?” Gabriel mengangguk, tangan kirinya sudah merapikan beberapa helai surai Arsena yang mulai memanjang dan mampu menyambangi penglihatannya. Arsena terkekeh, tangan kanannya menangkap jemari Gabriel dan mengecupnya. “Credits to all those gym equipment.

“Kenapa?”

Arsena mengernyit. “Kenapa apa lagi?”

“Kenapa cuma diem aja?” Gabriel menarik tangan kanan Arsena ke arah selatan, menaruhnya tepat di depan lubang Gabriel. “Aku denger-denger guitarists finger faster.”

Arsena terkekeh akan penuturan Gabriel. “Boleh?” Gabriel mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengangguk dengan penuh yakin yang sengaja ia salurkan dan berharap mampu ditangkap oleh Arsena.

“Kenapa cuma satu?” Gabriel merengek, kedua kakinya yang sedari tadi menjuntai lurus pun sedikit ia tekuk dengan jemari kakinya yang turut menekuk ke dalam seiringan dengan satu jari Arsena yang sudah masuk ke dalamnya.

Arsena memilih untuk bungkam dengan satu jarinya yang terus ia gerakkan dengan tempo yang semakin lama kian cepat hingga mampu keluar dan masuk begitu lancar hingga terasa lowong dan memiliki ruang lebih untuk dimasuki jari lainnya.

Gabriel terus mengeluh, merasa ingin terus diisi hingga penuh. Arsena menuruti kemauan Gabriel, ia lesakkan dua jari dengan penuh kehati-hatian.

“Gabriel,” Arsena memperhatikan tiap sentimeter wajah Gabriel, membidik netranya tepat pada kedua mata Gabriel yang sesekali memutar dan memejam erat. “Aku juga bisa main bass.”

“Iya, aku tau.” Gabriel menggerakkan pinggulnya, membantu Arsena untuk terus melesakkan jemarinya lebih dalam dan mempersiapkan lubangnya untuk tamu yang mampu memenuhinya lebih dari tiga jari Arsena yang sedari tadi sudah mengoyak bebas.

Bassist do it deeper.” Gabriel memekik kencang dengan tubuhnya yang bergerak tak karuan ketika ujung jemari Arsena berhasil menyambangi titik nikmat di ujungnya. Seluruh tubuh Gabriel terasa malfungsi, ia hanya mampu mendesah dengan gelisah dan mulut yang terus terbuka.

Arsena menegakkan badannya lantas bergerak untuk berlutut di tengah-tengah kaki Gabriel yang kini semakin ia buka lebar. Tangan kiri Arsena segera menepis tangan Gabriel yang melingkupi kepunyaannya sendiri, menggantikannya dengan gerakan naik dan turun yang membuat Gabriel bergerak semakin tak beraturan dan menjepit tubuh Arsena menggunakan kedua kakinya. Gabriel melemparkan kepalanya ke belakang, semakin melesakkannya ke dalam bantal. Dadanya naik turun tak beraturan, dipenuhi oleh rasa yang membuncah dan siap untuk meledak sewaktu-waktu.

Arsena merasakan denyutan dalam genggaman tangan kirinya, dengan segera ia melepaskan genggamannya. “Jangan keluarin.” Arsena menitah dengan dua kata yang dibalut intonasi menuntut serta suara beratnya, membuat Gabriel sekuat tenaga mengumpulkan segala tenaganya yang tersisa untuk menahan ejakulasinya.

Arsena meraih pengaman yang sudah disiapkan dan tergeletak bebas di atas nakas, memberikan gigitan dari sudut bungkusnya untuk merobek dan mengeluarkan isinya. “Gabby.”

“Apa?” Gabriel yang masih terengah menjawab dengan lirih, netranya sibuk membidik Arsena yang malam ini terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda dari Arsena yang ia kenal.

“Aku udah bisa kan saingan sama mantan kamu?” Arsena yang telah selesai memasang pengaman pun menaruh kedua tangannya pada paha dalam Gabriel, mengusapnya dengan seduktif. “Aku juga bisa, sayang.”

Gabriel mengangguk menyetujui. “Iya, kamu jangan kemakan omongan teman-teman aku tadi.”

“Aku mau buktiin ke kamu.”

“Gak perlu pembuktian. Lagian foreplay tadi,” Gabriel menggantungkan kalimatnya, membuat Arsena yang tengah menggesekkan kepunyaannya tepat di depan lubang Gabriel pun terhenti dan melempar pandang ke arahnya. “That was really fucking hot. Gak kebayang gimana enaknya kalau diewe.”

“Ewa ewe, bahasa lu!” Gabriel terkekeh dan menjulurkan lidahnya sekilas, sedang Arsena turut terkekeh sembari menyisir surainya yang sedikit basah akibat keringat. “Gabby, boleh?”

Gabriel memutar bola matanya dengan skeptis, tangannya meraih pelumas yang tergeletak di atas nakas dan mengoleskannya pada lubangnya serta kepunyaan Arsena. Sesekali tangannya mengurut sebelum kembali menggesekkannya ke bibir lubangnya, hingga akhirnya ia berusaha untuk memasukkannya perlahan.

Arsena sesekali memejamkan kedua matanya, merasakan pergesekkan dan remasan yang sensasinya baru kali ini ia rasakan. Bibirnya tak mampu membendung desisan serta erangan rendah seirama dengan pinggulnya yang bergerak semakin maju untuk melesakkan penisnya lebih dalam.

“Rumi, tunggu dulu. Please stop pushing for a moment.” Arsena dengan cepat menghentikan pergerakannya, suara dalam dadanya yang sebelumnya terus berteriak seolah ingin menuntut lebih pun lekas berganti menjadi penuh rasa sesal di dalamnya.

“Sayang, maaf. Maaf ya, maaf banget. Maaf, maaf, maaf.” Arsena terus merapalkan kata maaf, jemarinya mengusap pipi Gabriel penuh kehati-hatian.

Gabriel pun terkekeh dan menggeleng kecil. “Enggak, gak apa-apa. Aku gak kesakitan, cuma butuh adaptasi aja karena sudah lama enggak.” Gabriel sedikit terengah dengan benak yang terus-terusan merutuki kalimatnya barusan.

“Terakhir kapan?”

“Ya waktu sebelum jadi pacar lu lah! Masa gua waktu pacaran sama lu masih ngewe sana sini.”

Hening pun menyergap, entah Gabriel yang takut untuk salah dalam berucap juga Arsena yang enggan bertanya serta mencari tahu lebih jauh. Dalam jeda waktu yang tercipta untuk menunggu kesiapan Gabriel di bawah sana, Arsena menolehkan kepalanya untuk menyambangi kaki Gabriel yang kini telah disampirkan pada pundaknya. Memberikan kecupan-kecupan serta jilatan pelan.

Gabriel mulai menggerakkan pinggangnya di bawah sana, perlahan mulai ia beri kecepatan dalam tiap gerakannya sehingga membuat Arsena tersenyum simpul dan turut menggerakkan pinggulnya. Keduanya kini bergerak berlawanan dengan tempo yang tak terlalu cepat, seolah-olah enggan untuk mengakhiri segalanya dengan segera.

Arsena tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Gabriel, menelisik tiap ekspresi Gabriel supaya ia tahu bahwa sensasi nikmat serta memabukkan yang dirasakannya tak hanya terjadi dalam satu arah. Arsena ingin Gabriel nya mendapatkan porsi yang sama besar seperti dirinya.

“Enak?” Gabriel mengangguk, jemarinya memainkan kedua putingnya yang sedari tadi belum tersentuh. “Jawab pakai mulut, Gabriel.”

“Iya, enak banget.” Gabriel menggigit bibirnya dengan ragu. “Rumi, mau cepetin.”

Arsena pun mengerti lantas mempercepat ritmenya, semakin lama kesadarannya pun kian terkikis hingga ia tak sadar kini tangan kirinya sudah mengunci kedua tangan Gabriel di atas bantal. Kepalanya merunduk, bibirnya mulai meninggalkan kecupan hingga jilatan dan hisapan pada kedua puting Gabriel secara bergantian.

“Gabby, this feels so good and I don’t want it to end.” Arsena menjilat dan memberikan gigitan kecil pada daun telinga Gabriel setelah membisikkan kalimatnya.

“Mmmh, Rumi, ngghh… Don’t stop, don’t stop, please.” Arsena yang mendengarnya lantas menumbukkan pinggulnya dan menghasilkan suara yang memenuhi seluruh kamar Gabriel, melalui kecepatan yang tak dapat dijelaskan lewat sebuah deskripsi.

“Gab, God really created the best creature since you look perfect without any flaws.” Arsena semakin cepat menghentakkan pinggulnya tatkala ia merasa lubang Gabriel semakin meremas miliknya dengan erat, menghasilkan sensasi pijatan yang membuatnya mabuk kepayang. Tangan kanan Arsena ia letakkan pada bagian bawah perut Gabriel yang kini mencetak jelas kepunyaannya di dalam Gabriel, membuat Arsena tersenyum dan memejamkan netranya sebagai penyaluran akan rasa gembira serta nikmat yang terus membara.

Keduanya terus bergerak bagai tengah mengejar putih yang sebentar lagi akan mereka sambangi. Mengejar sensasi memabukkan dan akan menjadi suatu hal yang berpotensi besar kecanduan bagi keduanya, mengejar gemuruh serta ombak riuh ricuh dalam rongga dada.

Tangan kiri Arsena kini telah membebaskan kedua tangan Gabriel dari genggamannya, dengan cepat Gabriel meraup sprei ke dalam genggamannya sebagai penyaluran perasaan yang membuncah di dalam dadanya. Tubuh Gabriel sengaja ia lengkungkan, pahanya bergetar hebat sebab stimulus nikmat hingga akhirnya keduanya mencapai pelepasannya.

Tak lama dari itu Arsena ambruk di atas tubuh Gabriel, masih dengan penyatuan keduanya yang sama-sama enggan untuk melepaskan. Arsena menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Gabriel, menghembuskan tiap napasnya yang terasa berat.

“Gab, thank you. Maaf ya kalau aku kelewatan.”

Gabriel mengernyitkan dahinya sembari jemarinya terus bermain di atas punggung Arsena. “Enggak, you treated me well including all the roughness. We both enjoyed it, did we?

Arsena mengangguk pelan dan melayangkan kecupan-kecupan pada pundak Gabriel. “I love you.

I’m loving you as well, sayang.”