4: Selembar Harapan
Agustus, 2019
Beberapa individu ada yang berjalan dengan setengah berlari, terlihat pula beberapa tengah melepaskan atribut yang melekat pada tubuhnya. Hari terakhir OSPEK jurusan berjalan dengan lancar, satu beban yang telah dipikul oleh para mahasiswa baru pun sirna dan digantikan dengan beban serta harapan baru yang siap menyambut di depan gerbang perkuliahan.
Arsena dan Erico—seorang teman lelaki sebayanya—memilih berjalan dengan tenang, melewati lorong yang diapit oleh taman FISIPOL yang banyak ditumbuhi pohon palem yang menjulang tak begitu tinggi.
“Sen, lu langsung cabut?” tanya seorang individu dengan kancing kemeja bagian atasnya yang sudah tak terkait, tangan kirinya melipat tanda pengenal yang sudah tak terpakai untuk ia jadikan kipas tangan.
“Cabut pendopo lah, lama enggak ke pendopo.” lanjutnya memberi saran setengah memaksa.
Dengan menggunakan dagunya, Arsena menunjuk taman FISIPOL yang dihiasi oleh banyak pernak-pernik serta atribut. “Mau nonton itu dulu.”
“Itu ILKOM, ya? Buset rame banget dah, meriah kayak ulang tahun bocah umur tiga tahun.”
“Anak-anak pada ke pendopo?” tanya Arsena, enggan menimpali ucapan yang dilontarkan oleh temannya.
“Katanya gitu.” Arsena mengangguk kecil, tangan kanannya melepas kancing yang masih berpaut di pergelangan kemeja kirinya.
“Cabut agak nantian aja, masih ada yang belum kelar OSPEK kan jam segini.”
“Itu cowok yang maju bareng lu kan? Si Gabriel.” saat langkah mereka tengah menyambangi tatanan kursi yang disediakan oleh panitia, dengan menggunakan jari telunjuknya kini Erico menuding seorang lelaki yang tengah menggerutu, tercetak jelas pada wajahnya.
Arsena menjentikkan jari tengahnya pada kening Erico. “Jangan ditunjuk-tunjuk, tolol.”
Erico terkekeh, pantatnya ia dudukkan pada salah satu kursi yang belum ditempati di sebelah kanan Arsena.
“Ini acara apaan, sih? Pemilihan ketua angkatan kayak kita kemarin?” tanya Erico, matanya memindai tiap sudut dekorasi yang terpatri.
“Sen, itu Deo ya? Lusuh amat udah sore.” Arsena mengikuti arah pandang Erico dan terkekeh kecil menyetujui.
“Selamat sore semuanya!” suara lantang yang kini cukup familier pada pendengaran Arsena pun menyeruak masuk, mencuri segala atensi.
“Sore!” dengan serempak para hadirin pun menjawab tak terkecuali Arsena dan Erico, serta beberapa orang lainnya yang sebelumnya enggan menilik ke panggung kecil di barisan depan sebagai tempat berpijak.
“Selamat sore terutama buat lu yang gak pernah diucapin selamat sore, ngenes-ngenesnya harus ke Indomaret dulu biar ada yang ngucapin.” gelak tawa menyeruak sehingga membuat Gabriel memberi jeda pada kalimatnya, menunggu reaksi penonton mereda.
“Ngomongin soal sore. Dulu waktu SD, gua suka main layangan bareng tetangga-tetangga gua. Pas gede gua jadi males main layangan karena gua sekarang paham rasa sakitnya ditarik ulur.” rekahan tawa dari para penonton menghangatkan hati Gabriel.
Gabriel memasang mimik wajahnya, seolah mengajak massa untuk turut masuk ke dalam ceritanya. “Waktu SMP akhirnya gua coba ganti mainan, akhirnya gua diajak pergi mancing sama bokap gua. Tapi sekarang gua udah males karena tau rasa gak enaknya menunggu.”
Arsena diam-diam mengulum senyumnya, sedangkan Erico di samping kanannya tengah tertawa lepas.
“Akhirnya waktu SMA, gua di rumah secara sukarela jadi tukang angkat jemuran karena gua tau rasa sedihnya digantung.”
“Waaaaaaa.” sorak meriah dari penonton membuat Gabriel harus menunggu.
Pandangan Gabriel menyisir tiap sudut taman, sampai pada akhirnya menangkap dan singgah pada manik mata Arsena.
“Biasanya nih setelah angkat jemuran gua bakalan ongkang-ongkang di teras sambil nunggu abang bakso lewat. Nah, waktu itu ada abang bakso lewat terus gua berhentiin. ”Bang, baksonya masih?” Gua tanya gitu dong? Eh dijawab sama abangnya gini, ”Habis, Mas. Yang tersisa hanyalah penyesalan.”
Gua pandangin abangnya, abangnya balik mandang ke gua. Belum aja cinta pada pandangan pertama, akhirnya gua pesen aja tuh penyesalan seporsi. Gua udah nungguin lama banget di teras. Kenapa gak jadi-jadi? Akhirnya gua beraniin tanya ke abangnya dan kata abangnya, ”Maaf, Mas, namanya penyesalan pasti datang terlambat.”
Terima kasih, saya Gabriel Eknath.”
Gabriel menunduk dan melambaikan kedua tangannya sebelum akhirnya turun dari panggung. Sorak sorai dari penonton memekakkan telinga, pukulan-pukulan kecil serta riuhnya tepuk tangan mengiringi Gabriel yang melesakkan tubuhnya ke dalam barisan.
“Cabut sekarang?” tanya Erico tatkala Arsena bangkit dari kursinya dan meregangkan punggungnya, Arsena hanya mengangguk dan berjalan melewati kursi Erico dengan langkahnya yang mulai menjauh.
Baru beberapa langkah kaki Arsena gerakkan, ia dihadang oleh seorang perempuan dengan tanda pengenal panitia yang tersemat pada jas almamater yang ia kenakan.
“Permisi Dek, boleh minta waktunya sebentar untuk ngisi kesan dan pesan atau harapan dari adanya acara ini? Bisa ditujukan untuk panitia atau teman-teman maba.” ucap seorang perempuan tersebut sembari menyodorkan selembar kertas berukuran kecil dengan tali yang menjerat di ujungnya untuk digantungkan pada pohon bonsai milik panitia.
Arsena hanya mengangguk kecil dan menerima sodoran kertas yang menjadi alasan ia tengah berpikir keras akan frasa apa yang ingin ia torehkan di atasnya. Pandangannya mengerling ke arah Gabriel yang tengah tertawa di dalam kerumunan, memunculkan aksara akan gagasan yang bermunculan.
Jangan mau jadi kayak gua, jadi diri lu aja karena lu udah keren. Semangat kuliah dan UKM nya, Gabriel. Kapan-kapan ayo kita makan bakso Bang Ronal yang lu ceritain kemarin.
Rumi.