Anak-Anak Manusia
Tidak ada yang lebih mengerikan dari pertikaian antara pikiran dan perasaan, setidaknya itu yang saat ini tengah menggerogoti Orion. Menyandarkan punggungnya pada tembok sepetak ruangan yang menjadi tempatnya bernaung, berlindung akan panasnya Matahari serta hujaman air hujan yang tak mampu lagi dibendung oleh awan. Kakinya ia luruskan, dadanya bergerak teratur seiringan dengan tempo hisapan serta hembusan sigaret yang terselip pada belah bibirnya. Netranya memindai dari tiap sudut ruangan, benaknya menayangkan cuplikan-cuplikan kisah yang sempat ia rekam di sana. Entah buruk, juga baiknya.
“Anjing!” dari luar, pekikan Luke nyaring terdengar hingga mampu menyambangi indra pendengaran Orion dan Rios yang tengah terduduk di dalam kamar pun bergegas keluar.
Langkah Orion dan Rios terhenti di teras indekos, menyaksikan Luke yang tadinya tersungkur kini perlahan berdiri. Kedua tangan Luke mengepal erat, satu pukulan ia layangkan pada wajah Junio yang berdiri tepat di hadapannya. Lokasinya cukup menyakitkan karena alih-alih mendarat di pipi, kepalan tangan Luke jatuh tepat mengenai rahang Junio.
Junio yang telah bersiap diri akan pukulan yang Luke layangkan pun hanya terhuyung. “Lagi, tonjok gua lagi.”
“Lu kenapa sih? Tiba-tiba nonjok, tiba-tiba minta ditonjok.” tanya Luke dan menjentikkan jarinya pada dahi Junio cukup kencang.
“Banyak nanya lu!” satu pukulan Junio layangkan tepat pada mata Luke, yang dipukul meringis kesakitan dan mengaduh keras.
Netra Orion menyalang, kedua alisnya terangkat penuh kejut. Langkahnya siap menyambangi Luke dan Junio namun dengan cepat tangan Rios menahannya, menarik lengannya untuk tetap diam di tempat.
Marvel dan Svarga yang sedari tadi tengah mengikat barang-barang Orion di atas pikap hitam pun bergegas menengahi keduanya. Sedangkan Orion kini tengah bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar dengan presensi Rios yang berdiri tepat di sampingnya, menyaksikan keempat temannya dengan belah bibirnya masih mengapit sigaret yang menguarkan aroma khas.
Tangan kiri Luke dengan gusar meremas kerah baju Junio, menyeretnya dan menyudutkan pada tembok. Tangan kanannya ia gunakan untuk menepis Marvel dan Svarga, gurat kemarahan tercetak jelas pada mimik wajah Luke.
Tangan kanan Luke mengepal erat.
Pukulan kedua yang ia layangkan kepada Junio tepat jatuh di dekat batang hidung Junio, meloloskan setitik darah segar tanpa aba-aba.
Pukulan ketiga, Luke jatuhkan pada samping telinga Junio. Membuat dunia Junio berputar dan matanya berulang kali mengerjap, kepalanya ia sandarkan pada tembok dengan pijakan kakinya yang mulai melemas.
Tungkai Junio bergetar, tangan kiri Luke tak lagi meremas kerahnya sehingga membuat tubuhnya merosot lolos terduduk di atas tanah.
Posisi Junio seakan mengizinkan Luke untuk melayangkan sebuah tendangan pada pinggangnya. Bukan tendangan kecil, sehingga mampu membuat Junio meringis kesakitan, berteriak serta melenguh untuk pertama kalinya. Badannya terasa nyeri, dunianya kini remuk redam.
Dada Luke bergerak naik turun tak beraturan, seimbang akan napasnya yang terus memburu dengan peluh yang bermunculan pada garis dahinya. Tangan kanannya mengacak pinggang, sedang tangan kirinya meremas erat surainya dengan frustasi.
Luke mengulurkan tangan kanannya namun segera Junio tepis, ia bahkan tak punya kekuatan lebih untuk berdiri. Luke yang melihatnya hanya berdecak sebal dan turut membaringkan tubuhnya tepat di samping Junio yang masih mengatur napasnya.
“Gua,” lirih Junio, ekor matanya melirik Orion yang masih menyesap sigaretnya. “Gua pernah cium Orion di depan Noel.”
Orion terbatuk dengan asap sigaret yang mengepul di wajahnya, ia jatuhkan sigaretnya yang tersisa beberapa senti terakhir di atas tanah dan menggilasnya dengan batu.
Junio menutup kedua matanya dengan lengan. “Gua suka sama Orion.”
Tawa Luke memecah keheningan yang sempat menyergap, kedua tangannya yang ia taruh di atas perut pun turut bergerak seirama dengan tawanya yang kian meredup. “Gua udah pacaran sama Mauren.”
“Anjing! Sejak kapan?”
“Sebelum pacaran, gua pernah cium Mauren,” suara Luke perlahan lirih, tertutup oleh napasnya yang tersenggal. “Waktu itu, bukan karena dia suka sama gua. Tapi karena dia mau gua jadi Noel buat dia dan gua bilang iya.”
Marvel mendudukkan dirinya di samping Luke, tangannya merogoh sekotak sigaret dari dalam saku celana yang panjangnya hanya mampu menyambangi hingga lututnya. “Waktu SMP, gua pernah bikin anak TK kehilangan ibunya karena gua tabrak.”
“Anjing! Serius?”
Svarga berjalan mendekat berniat untuk mendudukkan dirinya di sebelah Marvel, tangannya dengan sigap menerima lemparan sekotak sigaret dari Marvel. “Gua pernah bikin kakak gua sakit dan terpaksa opname karena gua pernah sengaja hapus file skripsi dia dan sampai sekarang gak ada yang pernah tau.”
“Tolol.” timpal Rios yang tengah berjalan mendekat.
“Emang. Bukannya ini ajang mengumbar ketololan?” tanya Svarga sebelum akhirnya menyelipkan sebatang sigaret pada belah bibirnya.
“Gua juga suka,” ucap Rios sengaja menggantung, ia turut mendudukkan dirinya di atas tanah dan menjadikan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan untuk mengistirahatkan punggungnya. “Gua juga suka sama Orion, malah sejak SMP.”
Orion menelan ludahnya dengan susah payah, mendengar runtutan pengakuan dari anak-anak manusia yang tengah menjalani kehidupan pertamanya.
Orion yang tadinya berjongkok tepat di depan teras kini melangkahkan tungkainya untuk turut melesakkan diri bersama teman-temannya. Napasnya ia buang dengan gusar sebelum akhirnya duduk dengan kakinya yang ia tekuk dan ia kunci menggunakan kedua tangannya. Wajahnya menengadah.
“Gua anak dari seorang Ayah yang kerjaannya ngewe sana sini, sampai akhirnya ketemu Mami nya Jordan. Gua juga anak dari seorang Ibu yang inget namanya sendiri aja enggak.” ucap Orion, sudut bibirnya terangkat getir.
“Tapi itu bukan ketololan gua,” lanjut Orion dengan kekehan di ujung kalimatnya. “Ketololan gua jadiin itu semua sebagai alasan gua pergi dari Noel.”
“Tolol.”
Mereka berlima tertawa tanpa tujuan yang jelas.
Menertawakan segala hal yang salah,
Menertawakan segala hal yang konyol,
Menertawakan nasib,
dan menertawakan alam semesta.
Rintik hujan mulai menginterupsi tawa dari anak-anak manusia yang kini sama-sama menengadah menghadap langit yang sama. Berharap hujan mampu meluruhkan seluruh rasa bersalah juga kutukan buruk yang semesta sematkan pada tiap langkahnya.
Anak-anak manusia, ini adalah kehidupan pertamanya. Wajar bila salah, wajar bila gagal dan belum mampu mengetahui banyak hal.
Pasti ada pengampunan, pasti ada harapan.