Kini langit terlihat begitu gelap, menghapus jingga dan senja dengan eloknya. Dua buah laptop bersemayam di atas dua pasang kaki yang sengaja diluruskan. Masing-masing empunya menarik napas panjang, merapalkan harap dengan jemari yang saling bertautan. Degup jantung keduanya sama-sama memburu, bak disinggahi ombak riuh ricuh yang terpecah batu karang gagah menjulang.

Dengan menggunakan ibu jarinya, Niko memberikan usapan pada punggung tangan Albian yang berada dalam genggamannya. Albian kian lama kian mengeratkan genggamannya, seakan menyalurkan seluruh perasaannya yang meluruhkan keberanian dalam relungnya. Niko menarik kedua sudut bibirnya ke atas seraya membawa tangan kanan Albian dalam genggaman untuk menyambangi bibirnya, ia membubuhkan kecupan-kecupan singkat pada punggung tangan Albian.

“Udah siap?” Niko menyimpan tangan Albian yang masih berada dalam genggamannya di depan dada, tangan kanannya mengusap kening Albian yang menyaratkan ketidakpercayaan. “Bi, apapun hasilnya itu pasti terbaik. Aku percaya sama kamu, jadi kamu tolong percaya sama diri kamu sendiri.”

Albian menghembuskan napasnya dengan gusar, seolah-olah hal tersebut mampu mengusir kegugupan yang bersarang. “Niko, ayo buka sekarang.”

Niko mengangguk dan kembali melayangkan kecupan singkat pada punggung tangan Albian sebelum melepaskan tautan jemari keduanya. “Biar tangannya wangi, dapet UGM.”

Albian terkekeh dan mengecup kilat lengan kiri Niko yang bersinggungan dengan miliknya. Baik Niko dan juga Albian, netra keduanya sama-sama terpatri pada layar laptop yang memancarkan radiasi lebih kuat di ruang yang remang.

“Niko, aku gak berani lihat. Kalau lolos kasih tau aku, kalau enggak langsung matiin aja laptopnya.” ujar Albian yang tengah memejamkan matanya erat, menghalau secercah cahaya yang berusaha menyeruak untuk ditangkap pupilnya. Niko hanya berdeham dan mengusap surai Albian pelan.

Kedua layar laptop terus memuat akses untuk masuk ke laman jejaring pengumuman SBMPTN.

Hening panjang hingga mampu menangkap suara dari tiap napas yang dihembuskan oleh Niko dan juga Albian.

“Bi, keterima!” pekik Niko begitu layar laptop keduanya berhasil menampilkan laman pengumuman SBMPTN pada akun masing-masing.

Albian perlahan membuka kedua netranya. Belum sepenuhnya terbuka, ia memberanikan diri untuk menilik sebelum akhirnya pekikannya mampu memenuhi isi bilik kamarnya.

Niko memilih untuk menatap lamat Albian yang masih selebrasi, sesekali ia terkekeh. “Kan, kamu pasti bisa, Bi. Selamat, sayangku!” ujar Niko dan mengusak surai Albian, membuatnya terlihat acak.

“Niko,” Niko berdeham panjang, senyumnya masih terpatri hingga matanya terlihat kian menyipit dan tenggelam tertelan kelopaknya. “Berarti kita harus LDR, ya?”

Alih-alih menjawab, Niko memilih bungkam dan menepuk bahu kirinya. Albian yang mengerti bergegas memangkas jarak di angtara keduanya, bagai dititah kini pipi kanannya telah bersandar di atas sana.

“Jogja sama Malang deket, Bi. Nanti aku sering-sering jenguk kamu ke Jogja, kamu juga bisa gantian jenguk aku di Malang.”

“Kamu gak apa-apa?”

“Kenapa harus kenapa-kenapa, Bi?”

Albian sedikit mendongak, memerhatikan tiap inci wajah Niko. “Bisa ya, Nik?”

Niko meletakkan telapak tangan kirinya pada pinggang Albian, menariknya untuk semakin mendekat. Senyumnya tersungging sebelum mulai mengecup kening Albian dan mengusap dahinya pelan dengan irama yang konstan. “Bisa.”

“Dari satu sampai sepuluh, berapa?”

Niko menggumam. “Sebelas?”

“Niko.”

“Iya?”

“Aku percaya sama kamu.”

“Aku juga percaya sama kamu.” Niko meraih jemari Albian dan mengabsennya satu persatu. “Bi, yang bikin beda cuma tempatnya aja. Selebihnya enggak akan ada yang berubah dari aku untuk kamu.”

“Iya.”