5: Little Things

September, 2019

Gabriel menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum mencebikkan bibirnya, menampilkan gurat frustasi pada tiap sentimeter wajahnya. Telapak tangan kirinya ia bawa untuk mengusak ribuan helai surai yang tersusun rapi, membuatnya berakhir terlihat sedikit acak. Gabriel merogoh saku celana bahan yang membalut kaki jenjangnya, mengambil sebuah kotak putih yang masih tersegel rapat. Jemarinya dengan sigap melucuti plastik pelapis kotak putih berisikan sigaret yang belum terjamah sebelumnya.

“Permen yang gua kasih waktu itu, habis?” sebuah suara bariton menginterupsi Gabriel yang tengah menyalakan pemantik untuk menyalakan sebatang sigaret yang sudah terselip pada belah bibir Gabriel. Gabriel mendongak, netranya mengerjap memastikan empu suara yang kini membuatnya diam tak bergeming. Seorang lelaki dengan padanan kaus berwarna hijau army dan kemeja hitam yang tak dikancingkan itu menukikkan kedua alisnya, pada dahinya tersaratkan berbagai macam kebingungan. “Kenapa?”

Gabriel menarik sebatang sigaret yang terselip di belah bibirnya, menyimpannya kembali ke dalam wadah. “Kayaknya kita emang jodoh, deh, Rumi? Tuhan sengaja bikin Samuel sibuk pacaran, biar gak bisa gua tebengin balik. Karena pasti lu yang mau nganterin gua balik hari ini.” ujar Gabriel dan menarik dirinya dari tempat ia duduk. Pundaknya sudah kembali tegap, tas selempang yang terlihat tak memuat banyak barang pun sudah bertengger pada pundak kanannya.

“Ogah.” Arsena, pemilik suara bariton itu melangkahkan kakinya dan berlalu begitu saja melewati Gabriel yang tengah terkekeh sembari mengayunkan tungkainya tepat di belakang Arsena. Tiap pijakan kakinya yang berbalut sepatu pun turut menyamai tapak tilas Arsena.

“Padahal kan sesama manusia harus saling tolong menolong.” celetuk Gabriel dengan netranya yang membidik lekat punggung lebar lelaki di depannya. “Ternyata orang kalau udah ganteng, dilihat dari punggungnya doang udah cakep ya.”

Arsena menghentikan langkahnya secara spontan, tubuhnya berbalik dengan sigap. “Berhenti ngikutin gua!” Gabriel yang sebelumnya tidak mengantisipasi akan langkah Arsena yang secara impulsif terhenti, tubuhnya kini menabrak Arsena.

“Ih modus lu ya? Tiba-tiba berhenti biar gua tabrak.” Gabriel mengambil beberapa langkah ke belakang sembari tertawa remeh. Alih-alih memberikan jawaban, Arsena memilih untuk menghembuskan napasnya dengan gusar dan menggeleng keheranan. Tubuhnya kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, enggan untuk menghabiskan banyak waktunya.

“Gimana kuliah hari ini, Rumi?” Gabriel memperlebar langkah kakinya, berusaha menyambangi Arsena. Wajahnya menunduk untuk memperhatikan langkah kakinya yang tengah ia upayakan untuk seirama dengan milik Arsena, menimbulkan kedua sudut bibirnya terangkat kecil.

Dengan menggunakan ekor matanya, Arsena menangkap Gabriel yang masih terus mengamati langkah kaki keduanya. Arsena mengulum bibirnya, seolah malu menampakkan senyumnya pada suasana kampus sore itu dengan lorong-lorong yang sunyi bak tak berpenghuni. “Ya gitu.”

“Kalau gua tadi pagi kesiangan, yaudah deh akhirnya ngos-ngosan karena masih belum hapal gedungnya di mana.” Gabriel mengangkat wajahnya, menatap pahat wajah Arsena dari samping. Pandangan Arsena lurus ke depan, terlihat sama sekali tak menaruh atensi kepada dirinya. “Terus kan tadi,”

Gabriel terdiam tak melanjutkan kalimatnya. Pandangannya kembali ia lemparkan ke bawah, mengamati bagaimana kakinya yang masih bergerak seirama dengan milik Arsena. “Kenapa berhenti cerita?”

“Gapapa.” Gabriel menggigit kecil bibir bagian dalamnya.

Go on. Dari tadi gua dengerin.”

Gabriel tak mampu menahan senyumnya yang mengembang, menampilkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi. “Enggak ah, haus gua.”

Arsena menolehkan kepalanya untuk menatap Gabriel yang masih mematri senyum dalam tundukan kepalanya, membuat Arsena turut menunduk dan mengamati bagaimana langkah kaki keduanya yang bergerak beriringan. Arsena tersenyum iseng, kaki kanannya ia langkahkan dua kali dan membuat langkah kaki keduanya kini terlihat bergerak dengan beda.

“Yah kan...rese lu!” Gabriel menghela napasnya dan memukul lengan Arsena yang bersinggungan dengannya, Arsena terkekeh kecil membuat hidungnya terlihat berkerut dan matanya hilang tertelan oleh kelopaknya. “Lu langsung pulang?”

Arsena mengangguk. “Gua cuma bawa helm satu, kalau lu masih minta tolong anterin pulang.”

“Kalau gua ada helm sendiri, lu bakal nganterin gua pulang?”

“Nebengin, bukan nganterin.”

Gabriel tertawa. “Sama aja kan intinya lu bawa gua pulang.”

“Beda,” Arsena menggantung kalimatnya, netranya membalas tatapan Gabriel yang tengah memperhatikannya dari samping. “Kalau nebengin, lu numpang. Tapi kalau nganterin, karena gua yang menawarkan diri.”

“Hah? Mana ada gitu? Ribet banget lu!” Arsena mengedikkan bahunya. “Tapi ini kalau gua ada helm, berarti boleh nebeng kan?”

Arsena enggan menjawab, tungkai keduanya terus terayun membawa mereka semakin mendekat ke arah area parkir motor. Tidak sedikit motor yang masih berjajar dengan rapi, namun ada pula yang sudah terparkir dengan tak beraturan. Arsena menghentikan langkahnya tepat di samping motor vespa hitamnya dengan sebuah helm yang menelungkup di atas jok, membuat Gabriel dengan kesadaran penuhnya turut berhenti.

“Kali ini aja.” Gabriel bersorak kegirangan, tangan kanannya lekas merogoh saku celananya dan mengambil sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang. “Itu pun kalau lu ada helm.”

Gabriel berdecak remeh, wajahnya yang menatap lekat pada layar ponselnya pun terpancar sinar radiasi. “Helm gua bentar lagi sampai, ayo jemput helm gua di depan lobby fakultas.” Arsena mengangkat kedua alisnya, wajahnya terasa padat akan sarat kebingungan. Sedangkan Gabriel mengedikkan bahunya dan mendorong tubuh Arsena untuk lekas naik ke atas motornya.

Jika Arsena diberikan pertanyaan perihal apa yang lebih ajaib dari tujuh keajaiban dunia, maka ia akan dengan lantang dan tanpa ragu menjawab Gabriel Eknath. Ini kali pertama bagi Arsena mengenal seseorang seajaib Gabriel. Akan tingkah lakunya, akan tutur katanya, akan belukar pikirnya yang tak mampu Arsena telusuri tiap sudutnya.

Gabriel kini tengah terduduk dan dibalut tawa yang terus merekah di atas jok motor Arsena dengan helm yang menelungkup kepalanya, helm berwarna hijau yang sengaja ia pinjam dari ojek online yang telah ia pesan. Kedua tangannya ia letakkan pada atas pahanya, badannya sesekali miring ke kanan dan ke kiri, tangan kanannya tak luput untuk menunjukkan arah kepada Arsena.

“Tadi gua kena omel dosen.” Gabriel memiringkan tubuhnya ke sisi kanan, kepalanya berusaha ia sejajarkan dengan telinga Arsena.

Laju motor Arsena melambat, motornya tergerak ke sebelah kiri dan mempersilakan kendaraan lain mendahuluinya. Netranya melirik ke arah kaca spion, memastikan tukang ojek online yang sedari tadi membuntuti keduanya masih berada di belakang. “Kenapa?”

“Bukan gua doang sih, banyak. Tapi karena gua tadi telat masuk, dosennya jadi nyebelin banget kayak apa-apa sambil melototin gua.” Arsena sesekali melirik ke arah kaca spion. Bukan karena memperhatikan tukang ojek online yang helmnya sengaja Gabriel pinjam, namun sebagian besar dari dirinya mendorongnya untuk mengamati wajah Gabriel saat tengah bercerita. “Jadi kan pertemuan sebelumnya dibagi kelompok presentasi, gua kebagian kelompok empat. Gua sama temen-temen gua ngiranya materi presentasin dikumpulkan setelah presentasi, bukan serempak di pertemuan hari ini. Jadi ya sekelas tadi kena.”

“Terus?”

“Disuruh nanti malem jam dua belas harus udah masuk ke email dosennya, untung kelompok gua kemarin udah nyicil.” Gabriel menatap pantulan wajah Arsena dari kaca spion, sekilas netra keduanya bertemu membuat Gabriel terkekeh kecil namun tetap mampu ditangkap oleh pendengaran Arsena.

“Gua punya pertanyaan,” Gabriel memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri, membuat Arsena berdeham dan sedikit menoleh ke arah kirinya. “Kan lu punya kucing nih. Kucing lu bisa bahasa manusia, gak?”

“Apa?”

Gabriel berdecak. “Si cemong, bisa bahasa manusia enggak?”

“Clara namanya,” timpal Arsena dengan cepat. “Ya...Clara mah seperti kucing pada umumnya.”

“Gua kepikiran ini deh. Kenapa ya, kucing enggak bisa bahasa manusia? Logikanya nih bayi manusia kan dirawat sama manusia, akhirnya dia bisa tuh bahasa manusia. Kalau kucing yang dirawat sama manusia dari dia lahir kenapa dia enggak bisa bahasa manusia? Dia bisa bahasa kucing belajar dari mana, coba?” Arsena terkekeh dari balik kaca helmnya akan pertanyaan yang Gabriel lontarkan, sedang Gabriel hanya bersungut tak terima.

“Apa lagi?”

“Apa?”

“Isi kepala lu, ada apa lagi?”

Seluruh alam semesta paham akan sarat makna dari senyum yang kini terpatri pada wajah Gabriel, selama ini ia ingin didengar. Roda motor yang terus melaju pun melewati setiap sudut kota yang tak lagi dianggap ada keberadaannya. Menyusuri aspal dengan pertanyaan hipotesis tentang apapun yang pada akhirnya akan berlanjut menciptakan diskusi panjang di atas motor.

“Rumi, kenapa Indomaret sama Alfamart banyak yang tetanggaan? Entah bangunannya yang sejajar atau yang berhadapan. Menurut lu, siapa yang akan lebih laku?”

Arsena berdeham dan berpikir keras di balik kaca helmnya yang diterpa angin dan mampu menghalau semburat jingga dari senja yang memancarkan hangat untuk menyelimuti keduanya. “Biar saling melengkapi? Kalau gak ada produk A di Indomaret tinggal ke sebelahnya, dan sebaliknya. Itu termasuk strategi pasar dan persaingan sehat.”

“Betul, sih. Tapi kan masalahnya siapa yang akan lebih banyak pelanggan?” Arsena hanya mengangguk sebagai jawab.

Gabriel menunjuk Indomaret dan Alfamart yang berada di sayap kiri jalanan yang hendak mereka lalui. “Dan jawabannya adalah mereka yang punya lahan parkir lebih luas dan gak ada tukang parkirnya!” Arsena dan Gabriel terkekeh setelah melewati Indomaret dan Alfamart yang bersebelahan, pengunjung Alfamart sore itu lebih banyak sebab tak ada tukang parkir yang berdiri di depan lahan parkirnya.

“Kan bener kata gua!” Arsena tidak menjawab, ia lebih memilih melirik ke arah spion untuk menyaksikan rekahan senyum pada wajah Gabriel. “Ngomong-ngomong, permen yang lu kasih waktu itu belum habis karena enggak gua makan.”

“Lu gak suka permen?”

“Bukan,” Gabriel menggeleng dengan cepat. “Sayang aja dari lu, harus gua hemat.”

Dengan Gabriel yang terus melontarkan seluruh isi kepalanya saat itu, perbincangan keduanya tak menemui ujung. Arsena terus mendengarkan dan menjawab dengan teori-teori dalam belukar pikirnya, sedang Gabriel terus melontarkan tanya dan jawaban dengan perspektif lainnya.

“Rumi.”

“Apa?”

Arsena semakin memperlambat laju motornya ketika mulai memasuki sebuah komplek tempat tinggal Gabriel. “Semuanya tentang hari ini serba ngeselin, tapi berkat lu ada satu hal yang bikin gua seneng hari ini.”

Arsena mengulum senyumnya dan mengangguk. “Thank you, Rumi.” satu kalimat, dan Arsena tahu. Gabriel membutuhkan dirinya.

Bagi Gabriel kini semakin sukar untuk dia menjabarkan arti dunia perkuliahan tanpa terdengar bak lelaki yang tengah dimabuk asmara. Alasannya sederhana, terasa nyata, dan apa adanya. Lagi-lagi karena Maherrumi Arsena.