2: Bersulang!
Agustus, 2019
Pucuk-pucuk daun mengisakkan tangisnya ketika jemari yang terasa asing menyambangi tubuhnya dan memetiknya dengan sembarang lalu melemparkan ke tanah tanpa alasan pasti, hanya untuk iseng.
“Ampun, sakit.” Gabriel mengaduh kesakitan dengan tiba-tiba, membuat seseorang perempuan terperanjat kaget dan melepaskan jemari lentiknya dari dedaunan yang masih bertahan di tempatnya.
“Apa?” tanya perempuan tersebut dengan wajah serta intonasi datarnya, menyadari akan pandangan yang Gabriel lemparkan ke arahnya.
“Kalau daun-daun itu bisa ngomong, pasti mereka sekarang lagi kesakitan. Jangan dipetikin.” ujar Gabriel sembari membuka tas ransel yang hanya ia gunakan sebelah selempangnya. Tangannya terus merogoh isi di dalam ranselnya, mengeluarkan sebuah jaket berwarna hitam legam yang tidak terlipat rapi.
Gabriel menyodorkan jaket tersebut ke hadapan seorang perempuan yang kini dengan cekatan meletakkan kedua tangannya dan membuat kuncian di belakang tubuhnya.
“Siapa tau lo butuh. Ambil aja, Anin? Dya? Anindya?” ucap Gabriel dengan matanya yang memicing dan membaca deretan aksara yang tertulis pada papan nama yang menggantung dengan bebas pada leher seorang perempuan yang kini dengan sigap menerima uluran jaketnya.
“Dya.”
Gabriel mengangguk dan memundurkan langkahnya hingga menyambangi sebuah tiang untuk ia jadikan sandaran. “Gue Gabriel.”
“Bisa baca.” ucap Anindya, tangannya sibuk mengikat jaket milik Gabriel yang kini melingkari pinggangnya.
“Gue ilmu komunikasi juga, kelas A. Lo kelas apa?” tanya Gabriel setelah membaca nama jurusan yang tertera pada tanda pengenal Anindya, berusaha memecahkan suasana di antara keduanya.
“Gue B, kembaran gue A.”
Gabriel membulatkan mulutnya membentuk huruf O tanpa suara. “Lo ada kembaran? Siapa nama kembaran lo? Barangkali gue udah kenal.”
“Deo.”
Gabriel pun menampilkan senyum sumringahnya, kedua telapak tangannya bertepukan. Menaruh banyak antusias pada Anindya yang kini merasa lebih aman dari sebelumnya.
“Tau tuh gue! Yang heboh banget di grup!” seru Gabriel membuat Anindya terkekeh dan mengangguk setuju.
“Ada apa ketawa-ketawa?” ucap seorang lelaki menginterupsi Gabriel dan Anindya, tangannya melemparkan sebuah kantong plastik ke arah Anindya. “Gila, harus ada bayarannya tuh.”
“Bacot.” timpal Anindya, netranya menilik isi kantong yang baru saja dilemparkan ke arahnya. “Ini salah! Bukan yang ini, lo mah enggak pernah bener.”
“Iya dah yang paling bener emang cuma cewek doang.” ucap lelaki tersebut sembari membuka botol air mineral yang masih tersegel rapat. “Gabriel?”
“Baca lah!” ucap Gabriel dan membusungkan dadanya, tangannya menepuk pelan tanda pengenal yang tergantung pada lehernya.
“Lo Gabriel yang tengil di grup itu ya?”
“Lo kali tengil.”
“Lo berdua sama tengilnya.” ucap Anindya menengahi sebelum akhirnya berjalan menjauh meninggalkan Gabriel dan Deo yang tengah melanjutkan obrolan keduanya lebih jauh.
“Lo udah telepon semua anak angkatan?” tanya Deo, tangannya menyodorkan sebuah kotak berisikan sigaret yang tersusun rapi di dalamnya.
Gabriel mengangguk, tangan kanannya mengambil sigaret dari kotak yang Deo sodorkan. “Udah.”
“Lah? Gue enggak ngerasa pernah lo telepon, tuh?” tanya Deo, tangannya menyalakan pemantik yang kini ia dekatkan pada sigaret yang telah bibir Gabriel apit.
Manik mata Gabriel mengamati sigaret yang terapit pada bibirnya perlahan mulai terbakar oleh api, menimbulkan bara merah nyala. Gabriel menyesap sigaretnya dengan kuat, mempersilahkan nikotin untuk menempel pada paru-parunya.
“Udah yang cakep-cakep, maksud gue.”
“Brengsek! Gue juga cakep, tot.” ucap Deo dan melemparkan plastik segel air mineral yang masih ia pegang ke arah Gabriel yang tengah terkekeh dalam hembusan sigaretnya.
“Lo sama Dya gak langsung balik?”
“Malu anaknya, lo gak lihat tuh tadi merah-merah? Sekalian nunggu agak sepian dulu parkirannya.” ujar Deo bersama dengan kepulan asap dari sigaret yang berhasil menutupi wajahnya. “Jaket lo biar dipinjem dulu ya.”
“Santai.”
Hening panjang, keduanya asik menyesap sigaret yang terapit pada bibir mereka. Menyaksikan segerombolan mahasiswa baru lainnya yang masih belum selesai dengan acara OSPEK jurusannya.
Dua bukit kecil artifisial yang dilapisi dengan rumput-rumput hijau mengapit sebuah hamparan lahan berbalut rumput segar yang tak begitu luas namun mampu menampung lebih dari seratus jiwa itu seketika menyerukan riuh, membuat Deo yang sedari tadi terdiam menikmati sepoi angin sore dengan sigaretnya yang menyisakan beberapa senti terakhir pun melangkahkan kakinya untuk mencari penyebabnya.
“Semangat amat anak-anak PSdK.” celetuk Deo yang sudah berdiri beberapa langkah di depan Gabriel, tangan kanannya ia simpan pada saku celana bahannya.
“Eh, gue jadi inget. Lo tuh yang kemarin disuruh maju bareng sama Sena bukan sih?”
Gabriel mengernyitkan dahinya. “Rumi?”
“Sena.”
“Rumi, namanya.”
“Sena anjrit jangan ganti-ganti nama orang!”
“Maherrumi, kan?” tanya Gabriel dan terkekeh, tangannya sibuk mengusak sigaretnya ke tanah sebelum akhirnya ia masukkan ke sebuah tong sampah yang berada tak jauh dari tempatnya.
“Bener, sih. Tuh anaknya.” ucap Deo, dagunya ia gunakan untuk menunjuk ke arah segerombolan manusia yang menciptakan riuh.
“Kok lo kenal sama Sena?”
“Tetangga gue.”
Deo menepuk pundak Gabriel tatkala netranya menangkap Anindya berdiri tak jauh dari pandangannya dengan kedua tangannya yang bersedekap di dada dan bibirnya yang mencebik. “Gue duluan ya.”
Gabriel mengacungkan ibu jarinya dan membalas lambaian tangan dari Anindya yang telah menyeret Deo dalam langkahnya, membuat Gabriel terkekeh.
Dengan kesadaran penuh Gabriel melangkahkan kakinya menuju sebuah lahan hijau, tempat di mana Deo menyebutkan presensi Arsena di dalamnya. Langkah kakinya terasa ringan, debaran jantungnya tak lagi tertahan, pipinya tak mampu menahan sipuan.
Gabriel menghentikan langkahnya tepat di dekat pohon palem yang berdiri kokoh tak jauh dari kerumunan. Tangannya bersedekap dada, setelah netranya melirik sekilas arloji yang melingkar pada tangannya.
Seorang laki-laki yang disemati nama Maherrumi Arsena menjadi alasannya untuk menghentikan langkahnya sore itu di dekat pohon palem sembari menunggu Samuel yang masih belum selesai dengan kegiatan OSPEK jurusannya.
Dengan dibalut kemeja putih serta celana bahan berwarna hitam pekat rapi dan dibubuhi tatanan surainya yang terpangkas rapi, Arsena terlihat tengah berdiri di hadapan para peserta OSPEK lainnya.
“Hidup mahasiswa!” seru Arsena dengan suara lantangnya.
“Hidup rakyat Indonesia!” seru para peserta OSPEK jurusan yang tengah terduduk di atas rumput dengan membentuk barisan yang berjajar rapi.
“Selamat sore teman-teman yang berbahagia! Saya, Maherrumi Arsena, dengan ini saya ingin mempresentasikan usulan program kerja pertama yang akan saya laksanakan jika terpilih menjadi ketua angkatan PSdK 2019.” ucap Arsena dengan postur tubuhnya yang tegap, bak tanpa ada rasa takut juga gugup yang bergelayut untuk ia sembunyikan dari dunia.
“Saya ingin menciptakan program kerja berbasis pendidikan non formal dengan berbentuk sekolah alam. Pada sekolah alam ini, saya harap masing-masing dari kita mampu membantu peserta didik untuk mendapatkan wadah dalam menyalurkan hobi serta kemampuannya untuk terus berkreasi dengan cara dikelompokkan berdasarkan minat serta bakatnya.”
“Alasan saya menciptakan program kerja dengan membentuk sekolah alam karena tanpa kita sadari, di sekitar kita bahkan mungkin pernah terjadi pada diri kita sendiri pun ada masa di mana terkekang serta ditekan akan pendidikan formal yang sejatinya tidak memuat minat serta bakat kita di dalamnya.”
Arsena menarik napasnya dengan panjang, sebelum akhirnya melanjutkan presentasi akan program kerja yang akan ia jalankan. “Jika kita terus dipaksa untuk mengenyam bangku sekolah formal sedang pikiran serta minat kita yang tidak turut serta di dalamnya, akan berbuah kosong. Sebab jika peserta didik terus dituntut untuk mendengar para pendidik maka akan menjumpai lupa. Jika belajar dengan cara melihat maka akan lebih mampu dicerna serta di ingat dalam rekaman memori manusia. Jika belajar sembari melakukan, maka akan membuahkan paham. Sedang jika kita menemukan sendiri, maka akan lebih mudah untuk menguasai.”
“Mengapa sekolah alam? Karena menurut saya, pendidikan tidaklah cukup hanya dilakukan di dalam ruang kelas antara pendidik dan peserta didik. Maka diperlukan proses belajar yang secara holistik terbangun relasi dengan orang tua murid dan lingkungan setempat. Maka proses belajar merupakan gerakan untuk menemukan nilai-nilai serta pemahaman hidup yang lebih baik.”
“Maka dari itu, dengan dibentuknya sekolah alam, saya harap kita semua mampu berupaya untuk menciptakan ruang bagi anak-anak serta komunitas untuk lebih leluasa dalam melakukan eksperimen, eksplorasi dan mengekspresikan berbagai temuan pengetahuan dengan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya sebagai media belajar. Saya Maherrumi Arsena, terima kasih.”
Arsena yang telah selesai menyuarakan usulannya pun lekas berjalan untuk kembali ke dalam barisan. Netranya sempat menangkap Gabriel yang berdiri tak jauh dari barisannya, dengan tangan kanan Gabriel yang mengangkat sebotol air mineral dan digoyangkan di udara sebelum akhirnya ia tegak.
“Bersulang! Lo keren banget!” ucap Gabriel tanpa mengeluarkan suara, hanya mulutnya yang bergerak namun mampu Arsena baca tiap frasanya. Ibu jarinya ia acungkan di udara, membuat Arsena mengernyitkan dahi keheranan dan lekas kembali melesakkan diri untuk turut duduk di dalam barisan bersama teman-temannya.
Arsena dengan segala tatanan masa depan serta hidupnya, membuat Gabriel diselimuti pertanyaan atas dirinya sendiri yang terus mengepul di udara. Ditampar serta disadarkan, membuat Gabriel ingin bergegas kembali ke apartemen dan merebahkan dirinya di atas kasur sembari menimang unit kegiatan mahasiswa mana yang akan ia sambangi setelahnya. Tempat di mana setidaknya ia ingin menyalurkan apa yang ia punya dan ia suka.
Segala runtutan perkataan Arsena, akan menjadi teman Gabriel dalam menuntun sadarnya.
Kini satu lagi yang Gabriel pelajari akan pribadi Arsena sore itu, akan Arsena dengan belukar pikirnya yang berani ia serukan, akan Arsena dengan belukar pikirnya untuk menciptakan tempat baru bagi mereka yang memerlukan wadah untuk menuangkan kreativitas dalam naungan rasa aman serta nyaman.