3: Hujan dan Teduh

Agustus, 2019

Aroma tanah masih tercium jelas meski hujan sudah menarik dirinya sejak tiga puluh menit yang lalu dari bentala. Sorot mata Arsena menerawang ke dalam ruangan yang dibatasi oleh kaca, sebelum tangan kanannya yang sedari tadi menggenggam erat gelas kecil berisikan kopi yang menyisakan beberapa tegukan terakhir mulai ia gerakkan untuk menyambangi belah bibirnya.

Mata Arsena tergerak dengan patah mengikuti pergerakkan Gabriel, seorang lelaki sebayanya yang baru ia kenal beberapa hari terakhir. Arsena kembali meletakkan gelas yang kini sudah tidak menyisakan setetes kopipun di dalamnya.

Arsena kembali melempar pandangnya ke arah jalanan, mengamati percikan air hujan yang menggenang akibat roda-roda kendaraan melindasnya. Ekor mata Arsena menangkap pergerakan seseorang yang berjalan ke arahnya, seketika ia menghela napasnya ketika kantong plastik putih yang terlihat memuat banyak isi di dalamnya tergeletak di meja tempat ia menaruh sikunya.

“Lo lagi, lo lagi!” ucap Gabriel yang diakhiri dengan kekehannya sembari meletakkan pantatnya di atas sebuah kursi yang sudah ia tarik sebelumnya. “Lo ngikutin gue ya?”

Arsena memalingkan wajahnya sekilas, melihat Gabriel yang tengah membuka sebuah kotak sigaret yang masih tersegel dengan rapi.

“Rokok?” tawar Gabriel, tangan kanannya menyodorkan sekotak sigaret ke arah Arsena yang hanya dibalas gelengan. Gabriel mengangguk dan kembali menarik sodorannya, tangan kanannya mengambil sebatang sigaret dan menyelipkannya pada belah bibirnya.

Gabriel menutup kembali kotak sigaretnya dan mencabut yang telah terselip pada belah bibirnya, menyimpannya pada sela jari telunjuk dan jari tengahnya. “Lagi enggak mau ngerokok atau emang enggak ngerokok?”

“Enggak ngerokok.” bibir Gabriel membentuk huruf O bersamaan dengan jemarinya yang kembali memasukkan sigaret yang sempat ia selipkan pada belah bibirnya. “Lo kalau mau ngerokok, ngerokok aja.”

“Enggak ah.” Gabriel menggeleng dan membuka kantong plastik yang tergeletak di atas meja. Mata Arsena dibuat sedikit memicing ketika Gabriel membuka kantong plastik yang memuat banyak roti cokelat di dalamnya. “Roti nih buat lo.”

Thanks.” ucap Arsena dan kembali meletakkan roti yang Gabriel sodorkan ke dalam kantong plastik.

“Lo tuh suka banget nolak rezeki, ya?” tanya Gabriel dengan tangannya yang kembali mengambil sebungkus roti cokelat dari dalam kantong plastik dan menyodorkannya ke arah Arsena.

“Ini mau lo jualin lagi?” tanya Arsena, tangannya menerima sodoran roti cokelat yang Gabriel berikan.

Tawa Gabriel yang lolos dari bibirnya terdengar nyaring, menambah lantunan dari rintik sisa-sisa hujan. “Gue ada tampang pebisnis ya?”

Arsena mengedikkan bahunya enggan menjawab.

“Sengaja beli banyak aja, bantuin yang kerja.” ucap Gabriel, telunjuknya bergerak pelan mengitari bibir gelas plastik yang mengeluarkan embun. “Gue pernah kerja di Indomaret, setiap hari harus patungan beli nih roti. Karena takut basi dan ngejar target.”

Arsena mengangguk pelan.

“Karena gue tau gimana senengnya ketika ada yang beli, jadi gue beli aja. Lumayan nanti bisa dikasih ke Pak Sapto.” lanjut Gabriel sebelum mengangkat gelasnya dan mengguncangnya pelan. “Lo kenal Pak Sapto?”

“Siapa?”

“Satpam di komplek gue. Kalau Bang Ronal, tau?”

“Christiano Ronaldo?”

Mendengar tanggapan Arsena membuat Gabriel menahan tawanya. “Iya! Sekarang dia jualan bakso, udah enggak main bola lagi. Kapan-kapan gue ajak makan baksonya Bang Ronal, deh, yang kemarin gue tawarin nomornya tapi lo tolak itu.”

“Kenapa sekarang enggak kerja di Indomaret lagi?”

Gabriel menerawang ke langit sore yang terlihat abu, mulutnya berdeham panjang mengeluarkan suara dengung. “Karena lagi ngobrol sama lo?”

“Aneh.” Gabriel terkekeh dan menyedot isi gelas plastiknya. “Dingin-dingin jangan minum es.”

“Ih lo perhatian sama gue!”

“Gue cuma ngomong.”

“Ya tetep aja lo perhatian sama gue! Ulangin lagi dong? Mau gue record dulu.”

Arsena menghembuskan napasnya dengan gusar dan menggeleng keheranan, sedang Gabriel memilih untuk tertawa dan memamerkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi.

“Gue udah enggak kerja di Indomaret karena sekarang kan harus kuliah. Kemarin kerja karena ngisi liburan aja.” ucap Gabriel dan memainkan sedotan pada gelas plastiknya. “Kalau lo kemarin ngapain aja waktu liburan nunggu masuk kuliah?”

“Ngapain aja.”

Gabriel mendengus sebal.

“Rumi, gue punya pertanyaan.”

“Terus?”

“Gue mau nanya ke lo. Boleh?”

“Itu udah nanya.”

Gabriel mendengus dan melemparkan sebungkus sigaretnya yang masih utuh ke arah Arsena, dengan cekatan tangan Arsena menangkapnya. Bibirnya diam-diam mengulum senyum. “Serius!”

“Apa?”

“Lo kuliah buat apa?”

Arsena mengetukkan jemarinya pada sebungkus sigaret milik Gabriel yang ada pada genggamannya dengan irama yang konstan, sorot matanya mengawang pada genangan air di jalanan. “Buat gue sendiri.”

Gabriel mengangguk pelan dan ber-oh-ria. “Enggak usah nanya balik.”

Arsena mengerutkan keningnya. “Emang enggak mau nanya balik.”

“Rese!”

“Lo jadinya mau ikut UKM apa?”

Senyum Gabriel merekah, kedua tangannya mengepal dan memukul meja dengan lirih. “Radio! Kalau lo, mau ikut UKM apa?”

“Teater. Kenapa lo akhirnya milih ikut UKM? Katanya enggak tertarik sama UKM manapun?” tanya Arsena, tangannya merogoh ranselnya yang sedari tadi tertimpa beban tubuhnya. Ia mengeluarkan sebuah plastik berukuran sedang yang memuat banyak bungkus satuan permen susu dengan berbagai perisa di dalamnya.

“Karena,” Gabriel sengaja menggantung jawabannya, alih-alih melanjutkan kalimatnya ia kini meraih sodoran sebuah plastik sedang dari Arsena yang memuat permen susu dengan berbagai macam perisa. “Sejak awal, gue enggak pernah berencana untuk kuliah. Tapi karena paksaan bokap, akhirnya di sini deh gue sekarang. Balik OSPEK, duduk berdua sama lo di Indomaret sambil nunggu jemputan.”

“Gue sadar karena presentasi program kerja lo kemarin. Ketika gue dipaksa untuk duduk di dalam kelas dan belajar dengan sistem pendidikan formal yang gue kurang suka, otak dan batin gue jadi merasa penuh tekanan. Akhirnya gue pikir, kenapa gue enggak belajar dan menuangkan semua isi kepala gue di UKM radio aja, ya? Seenggaknya di dalam hidup gue, ada hal yang gue suka dan gue pilih atas kemauan gue sendiri.” lanjut Gabriel, tangannya meraih gelas plastik yang semakin meneteskan embun lebih banyak dari sebelumnya. Ia menyelipkan sedotan plastik pada belah bibirnya, menarik minuman bersoda untuk mengaliri tenggorokannya.

“Bagus, deh. Take control of your life and don’t let anyone tell you what you can do, Gabriel.”

Gabriel tersedak.

“Apa? Panggil nama gue lagi!” seru Gabriel dengan pancaran manik matanya yang mengeluarkan sorot kegembiraan.

“Orang sinting.” timpal Arsena dan membereskan barang bawaannya ke dalam ransel. Tubuhnya ia tarik dari gravitasi yang melekat pada kursi yang sebelumnya ia duduki, kepalanya menengadah ke langit yang sudah benar-benar menghentikan tangisannya dan menyisakan langit abu-abu.

“Gue cabut duluan.” ucap Arsena dan menyambangi tong sampah yang berada di beberapa langkah dari tempat ia duduk sebelumnya, memasukkan sebuah gelas karton yang sempat terisi penuh oleh kopi hangat yang menemaninya menunggu langit menghentikan tangisannya sore itu.

“Permen lo?”

“Buat lo, gantinya ini.” jawab Arsena dan mengangkat sebungkus sigaret milik Gabriel ke udara, menggoyangkannya pelan. Langkah kakinya mulai bergerak menjauh, menuju salah satu motor yang terparkir tak jauh dari tempat ia dan Gabriel duduk sebelumnya.

“Lo ngibulin gue ya? Katanya gak ngerokok!”

“Emang enggak, buat abangnya nih.” ucap Arsena dan menyerahkan kotak kecil yang memuat sigaret pada seorang lelaki dengan rompi berwarna oranye yang tengah duduk di atas jok motor yang terparkir berjarak beberapa motor dari miliknya.

“Bang, buat Abang. Dari tuh dia yang ngasih.” ucap Arsena dengan dagunya yang bergerak sekilas menunjuk Gabriel yang duduk diam tak bergeming.

Gabriel terkekeh dan mengacungkan ibu jarinya tatkala seorang lelaki berompi oranye merapalkan kata terima kasih kepadanya.

Dalam terpaan semburat lampu-lampu jalanan, Gabriel menggeleng lirih dan menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan senyum yang tak lekas surut selepas presensi Arsena yang mulai menghilang ditelan jarak yang memaut.