Ardani Prianata.

Semua orang punya preferensinya masing-masing akan aliran lagu yang menjadi favoritnya.

Dan kini gue cukup terkejut sebab alih-alih dari semua musik di dalam playlist gue yang cukup keras dan berisik yang biasa menemani setiap pagi gue, justru kini gue berakhir dengan semua lantunan pelan dan lembut dari playlist milik Reja.

Reagan Janendra atau lelaki yang kerap disapa Reja, lelaki yang selalu menjadi topik pembicaraan Maul setiap harinya. Kata Maul, seorang teman mana yang bersedia menemani temannya lembur menyelesaikan pekerjaan hingga jam tiga pagi? Seorang teman mana yang bersedia ngemper di workspace sampai lumutan? Cuma Reja.

Terhitung sudah tiga bulan ke belakang, sosok Reja tidak pernah absen dari hadirnya setiap jam makan siang gue di kantor.

Reja yang akan selalu menemani gue makan sebab selera makanan gue yang berbeda dengan Maul dan Reksa, Reja yang akan selalu setuju akan semua opini gue saat berdebat dengan Maul dan Reksa mengenai tiap menu yang pernah kita berempat santap tiap istirahat makan siang, dan juga Reja yang selalu sigap untuk membayar makanan gue acap kali gue kehabisan uang cash di dalam dompet.

Dan Reja yang kini tengah memainkan rambut gue, dengan kepala gue yang bersemayam di atas lengan kanannya.

Mohon persilahkan gue untuk menarik garis lurus, apa saja yang telah terjadi sebelumnya.

Seperti yang sudah direncanakan. Dimulai dengan siang kemarin Reja yang menampakkan dirinya di depan pintu apartemen gue, kemudian memijakkan kaki kita ke tempat cuci film kamera yang menjadi langganan gue, dilanjutkan dengan kita yang bermain ria di Timezone seperti permintaan gue, ke Miniso untuk mencari kado ulangtahun keponakan Reja yang akan mengadakan pesta ulangtahun nanti siang, juga mampir makan malam di pinggir jalan.

Semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan seperti janji yang telah kita buat. Kecuali potongan-potongan kejadian setelahnya, gue dan Reja entah siapa yang memulai. Bak saling membutuhkan afeksi untuk direngkuh lebih lama, untuk disentuh lebih dalam, juga untuk saling memberi dan menerima.

Malam tadi, baik gue pun juga Reja sama sadarnya. Bahkan gue masih ingat lontaran kalimat-kalimat pujian yang Reja berikan saat gue terus merapalkan namanya di setiap pergerakkan yang kita buat.

”Ard, lo indah banget.”

”Lo sempit banget, Ard. Gue suka.”

”Ard, lo bener-bener cantik banget.”

”Ard, bibir lo manis banget.”

”Ard, gue nggak tau lo sejago ini.”

”Ard, lo adalah orang paling sempurna yang pernah gue lihat.”

”Ard, coba lihat, bahkan bekas cakaran di lengan gue pun kelihatan indah karena lo yang kasih.”

”Gue pikir gue sayang sama lo, Ard.”

Gue masih ingat betapa lembutnya Reja dalam permainannya. Reja yang mengecup setiap inci tubuh gue, tanpa ada yang terlewat. Reja yang mengusap pelipis gue hingga pipi, memberikan pagutannya saat gue merasa kesakitan karena dia yang mencoba masuk dengan permisinya. Bagaimana Reja memperlakukan gue dengan lembut dan penuh kehati-hatian, bagaimana Reja dengan segala gerakan yang membuat gue mabuk dan hanya mampu merem-melek serta melenguh tak karuan.

Setelah mampu menyambungkan titik demi titik dan memahami situasi saat ini, gue menjauhkan diri dari rengkuhan Reja. Membuat Reja terlihat sedikit terperanjat diakhiri dengan senyumnya yang mengembang pagi itu.

“Selamat pagi, yang mulia Ard.”

Gue tersenyum, buku-buku tangan gue mengucek sudut mata gue yang terasa masih melekat erat. “Selamat pagi, Reja.”

Hening panjang setelahnya.

Gue terbaring dengan mata nyalang menatap langit-langit apartemen gue, mencoba memerangi benak dalam diri gue atas banyaknya serangan yang terjadi di dalam benak gue sendiri. Sedang Reja masih dengan posisi sebelumnya, memiringkan badan dan menatap gue tanpa berkedip dengan tangan kanannya yang kini sesekali terasa menggerayangi surai gue.

“Nanti acaranya jam berapa, Ja?”

Reja berdeham. “Jam satu, masih ada tiga jam lagi kalau mau siap-siap dulu. Lo mau mandi? Atau mau makan? Biar gue pesenin sekarang kalau lo udah laper.”

Gue menggeleng sebagai jawab.

“Terus lo mau apa, Ard? Kalau gue peluk, mau?” kata Reja dengan kekehannya sebagai pelengkap. Gue yang tadinya tak berminat menatap ke arahnya pun kini memalingkan wajah gue, membuat manik mata kita bertemu.

Gue melihat rasa hangat yang memang Reja pancarkan dari netranya, melihat adanya ketulusan dan penyerahan diri seutuhnya kepada gue.

“Lo naksir sama gue, Ja?”

Melihat pergerakkan pelan pada jakunnya, gue tebak Reja kini tengah menelan ludahnya dengan perlahan dan mencoba mengusir gugupnya.

“Jangan.” sambung gue setelahnya.

Reja mengangkat kedua alisnya, gue paham dia kebingungan atas imbuhan atas kalimat gue barusan. “Jangan apa?”

“Jangan naksir sama gue.”

“Kenapa?” suara Reja yang sebelumnya terdengar amat lembut pun kini berubah menjadi lebih tegas dan juga berat. Gue bahkan bisa mendengar napasnya yang kini terlihat lebih memburu.

“Gue nggak bisa balesnya.”

“Kenapa, Ard? Gue kurang di bagian mana, biar coba gue benahi. Sumpah gue akan coba ubah apapun itu asalkan lo bisa nerima gue. Gue bakal coba jadi yang terbaik buat lo, Ard.” terangnya dengan panjang lebar, gue bahkan melihat manik matanya tak sehangat tadi. Kini tatapannya telah sedikit menjadi nanar, postur wajahnya pun terlihat menegang.

“Gue non-committal, Ja.” ucap gue sengaja memberi jeda untuk kalimat selanjutnya.

“Lo adalah orang paling baik dan paling keren. Bahkan kalau boleh mendeskripsikan begini, menurut gue, lo sempurna dan lebih dari cukup dari apa yang lo pikir. Tapi memang gue yang nggak bisa, Ja. Gue nggak akan pernah punya hubungan romantically karena memang gue nggak minat, gue juga punya banyak ketakutan untuk ke arah komitmen dalam sebuah hubungan yang pasti lo tau maksud gue hubungan seperti apa.”

Reja diam tak bergeming, hening setelahnya.

Jangan kira gue sama sekali nggak merasa sedih dan tak bersalah atas penolakan gue yang telak. Gue, dalam diri gue yang paling jauh di sini, gue merasa bersalah dan sedih. Tapi bukankah kesiapan seseorang dalam merajut hubungan juga hal yang penting? Untuk saat ini gue memang belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap. Banyak kepedihan dan kehancuran yang gue terima dari kedua orang tua gue, juga dengan hubungan terakhir gue yang berjalan selaras seperti yang kedua orang tua gue lalui, membuat gue memang benar-benar tidak mampu untuk menjalin hubungan ke arah sana. Gue dengan segala ketakutan dan ketidak siapan.

Jujur, gue memang enggak memendam rasa apapun untuk Reja. Hanya menganggap dia sebagai rekan kantor, teman makan siang, sahabat yang kepalang baik karena banyak membantu dan menemani gue selama tiga bulan ke belakang ini. Tapi melihat Reja dengan raut wajahnya yang gue nggak mengerti, yang benar-benar baru kali ini gue melihatnya, cukup membuat hati gue tercabik-cabik.

Lagi-lagi, gue harus mematahkan seseorang.

“Ja, maaf.”

Reja menggeleng dengan irama konstan, tangan kanannya memberikan elusan pada surai gue. Senyum itu, masih sama dengan senyum sebelumnya. Senyum Reja yang begitu tulus dan tak pernah terganti. Namun sekali lagi, garis bawahi atas bagaimana tatapan nanar yang terpencar dari netranya. Membuat gue sama sekali tak bisa dibohongi atas keadaan hatinya saat ini.

“Jangan minta maaf, Ard. Perasaan gue bukan tanggung jawab lo. Enggak apa-apa kalau memang lo begitu, tapi jangan minta maaf atas apa yang bukan menjadi keharusan lo. Perasaan gue biar jadi urusan gue, Ard.”

Baik gue dan juga Reja, setelahnya hanya terdiam dimakan waktu. Larut dalam emosi masing-masing, saling menatap kosong ke langit-langit apartemen dan mengingat kegundahan yang melanda di pagi itu.