“Atas nama teman-teman panitia, kita ucapkan terima kasih banyak untuk antusiasnya di acara PRAKARSA tahun ini. Semoga kita dipertemukan lagi ya di acara-acara lainnya! Kalau gitu, aku Lalita.”

“Dan aku Gabriel.”

“Kita pamit undur diri!”

“Terima kasih teman-teman! Jangan lupa isi kesan dan pesannya lewat link yang tertera di QR code pada notebook yang sudah dibagikan panitia tadi ya!”

“Kita tunggu nih masukan dan kontribusi kalian untuk fakultas kita, iya enggak, Gabriel?”

“Betul banget, Lita. Yang langsung pulang hati-hati di jalan ya!”

“Kalau yang belum pengen pulang gimana, Gabriel?”

“Bisa di sini aja bantuin panitianya angkat-angkat sampah.”

“Kirain yang belum pengen pulang mau diajakin mampir-mampir dulu sama Gabriel.”

“Wah Lita mah, bongkar dapur orang. Dilirik sama Bu Sarah tuh! Ampun Bu.”

“Hahaha ampun Bu Sarah, bercanda.”

“Yuk langsung aja daripada habis ini kita diomelin habis-habisan sama timekeeper nya tuh udah angkat-angkat papan daritadi.” ucap Gabriel, sorot mata dan tangan kanannya pun mengarah ke seorang perempuan yang sedari tadi mengangkat papan di belakang barisan peserta. Kini ruangan tersebut dipenuhi dengan gelak tawa dari para peserta, juga dari para panitia dan dosen yang menjadi tamu undangan.

“Terakhir nih, PRAKARSA 2021?”

“Dari mahasiswa, untuk bangun bangsa!”

Thank you semuanya!”

Acara yang diketuai oleh Arsena pun dapat dideskripsikan dengan dua kata, meriah dan juga berjalan dengan lancar. Tatkala Gabriel dan Lalita berjalan ke salah satu sudut ruangan yang menjadi tempat para panitia berkumpul, sebagian peserta masih memilih untuk duduk tatkala menunggu jalan keluar senggang, sebagian lagi masih sibuk berfoto dan mengabadikan kegiatan hari ini bersama teman-teman barunya.

Thank you banget ya, Yel. Gue enggak tau bakal gimana tadi kalau disuruh sendirian.” ucap Lalita, tangannya meraih botol air mineral dengan tersegel rapat yang disodorkan Gabriel.

Gabriel tersenyum dan mengangguk, tangannya sibuk membuka botol air mineral pada genggamannya. “MC kondang gini loh padahal?”

“Gini-gini juga gugup masih ada, tau!” seru Lalita setelah meneguk air mineralnya. “Gue malah baru tau deh kalau lo bisa nge-MC juga, kirain cuma pro dugem doang.”

Gabriel tertawa renyah. “Ayo deh, gantian kapan-kapan lo yang ikut gue dugem.”

“Yel.” suara bariton yang bersumber dari seseorang di belakang Gabriel pun menginterupsi konfersasinya bersama Lalita.

Gabriel membalikkan tubuhnya, mendapati sosok lelaki yang menjadi alasan dalam kesanggupannya pada acara dadakan hari ini. “Iya, Rumi?”

“Sena.”

“Rumi.” ucap Gabriel dan menjulurkan lidah, kekeuh akan pendiriannya.

Arsena hanya menghembuskan napasnya gusar. “Iya, deh, terserah lo.”

“Apa?”

“Mau bilang makasih.”

“Yaudah, buruan. Gue cuma punya waktu satu menit.”

Arsena menukikkan alisnya. “Ini masih balas dendam ke gue?”

Gabriel merogoh saku celana hitamnya, mengambil benda kecil berbentuk persegi panjang yang terus bergetar dan menampilkan nama Mark pada layarnya.

“Gue mau pergi habis ini, udah ditungguin.” ujar Gabriel sebelum akhirnya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Buruan kalau mau ngomong.”

Thank you ya udah gantiin Haris. Gue berhutang banget ke lo, berkat lo acara gue jadi sukses. You did great padahal tadi persiapannya super dadakan dan briefing pun cepet banget.” ucap Arsena, dalam balutan sepatu berwarna hitam jari-jari kakinya menekuk ke dalam sebagai distraksi atas rasa gugupnya.

“Udah?”

“Udah.”

“Kalau merasa punya hutang sama gue, ayo kapan-kapan temenin gue makan bakso.”

“Iya, tadinya gue mau ngajakin lo tapi katanya lo ada urusan kan? Besok-besok deh, lo yang atur mau kapan tinggal kabarin aja.”

Gabriel tersenyum dan meraih tas kecilnya yang tergeletak di atas kursi. “Atau lo mau ikut gue sekarang?”

“Enggak bisa, gue kan ketua nya. Harus beresin ini dulu.” ujar Arsena, dagunya tergerak menuding isi ruangan yang masih meninggalkan euforia akan acara yang ia pimpin.

“Yaudah, nanti berkabar aja lo kosong kapan.”

“Oke.”

“Jangan ghosting gue!”

“Iya.”

“Yaudah gue cabut duluan ya, Rumi. Titip salam buat temen-temen lainnya, maaf enggak bisa ikut eval dulu.” ucap Gabriel, tangannya menepuk pundak Arsena sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya.

“Eh ini enggak mau bawa?” tanya Arsena dengan suaranya yang sedikit lantang, menyambangi Gabriel yang sudah berada beberapa langkah jauh di depannya.

Gabriel membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Arsena memasuki indra pendengarannya, dahinya mengernyit melihat Arsena tengah menunjuk tumpukan kotak kardus yang diduga berisi konsumsi untuk panitia.

“Gue mau dugem masa bawa nasi kotak!” timpal Gabriel, membuat siapapun yang mendengar percakapan keduanya pun terkekeh. Arsena hanya mengangguk, tak berkutik dalam pijakan kakinya. Matanya terus mengikuti Gabriel yang dengan terlihat ringan semakin lama semakin hilang ditelan jarak.

Pada detik yang sama pula sekon perputaran waktu terasa ingin Arsena perlambat, enggan mengalihkan pandangannya yang lamat, akan presensi seseorang yang menjadi alasan sekonyong-konyong atas degup jantungnya yang sudah tak terselamat.