TW // physical fights, arguments, confrontations

Bel pulang sekolah telah dibunyikan dengan lantang dan berkumandang pada setiap koridor panjang dengan deretan pintu di kanan dan kiri tampak agak gelap kendati hari masih siang. Semua orang bersemangat memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk segera meninggalkan sumpeknya ruangan berpetak yang dipenuhi oleh tumpukan buku serta suara terang dari guru yang memuakkan.

Orion memicingkan kedua matanya dilanjutkan dengan meloncati dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat geraknya menuju suatu sudut yang sudah terdapat Junio dengan teman-teman lainnya, dihiasi oleh kepulan asap rokok di wajahnya.

Junio adalah satu-satunya orang yang tak pernah lepas dari penglihatan Orion, ia amati bagaimana Junio dengan bibirnya mengapit rokok yang tinggal separuh dan tangannya mulai sibuk melepaskan satu persatu kancing seragam putihnya, menyisakan kaus hitam polos.

Orion menghirup udara yang tercemari kepulan asap rokok dengan kuat-kuat, memasukkan oksigen yang cukup untuk mengisi seluruh rongga pernapasannya dan menghembuskannya dengan gusar.

“Ayo, tonjok gue sekarang. Sepuas lo, gak akan gue bales.” ucap Orion final, tanpa ada penggalan dan penuh dengan keyakinan. Tidak ada yang berkutik, suasana sejak awal Orion menjejakkan dirinya pun sudah terasa mencekam.

Junio bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari warung menuju lahan kosong di sebelah warung yang sudah ia iyakan tadi malam, diikuti dengan langkah Orion dan beberapa teman lainnya di belakang.

Keduanya saling diam, Orion menyiapkan dirinya sendiri dengan mengambil napas panjang-panjang. Seperti yang sudah Orion gambarkan di dalam kepalanya, begitu sampai di lahan kosong itu Junio dengan penuh amarah dan tanpa aba-aba dalam menghentikan langkahnya. Sepersekon detik setelah berbalik menghadap Orion, tangan kanannya mengepal dengan erat dan berhasil melayangkan pukulan ke wajah Orion.

Orion tersungkur, disusul dengan Junio yang segera berjalan mendekat dan meremas kerah baju Orion dengan kuat-kuat karena ia sudah siap melayangkan pukulan berikutnya. Orion memejamkan matanya, seperti yang sudah ia katakan terakhir kali bahwa ia akan menerima pukulan Junio sebanyak apapun itu dan sekeras apapun itu tanpa akan menghindar pun juga membalas.

Ricuh.

Banyak pasang tangan dan kaki yang mendekat, berusaha untuk memisahkan namun segera Junio dorong untuk tak menginterupsinya yang tengah menghujami wajah dan juga badan Orion dengan pukulan serta tendangan.

“Jun, lo sinting!” ucap Luke yang baru saja melesakkan dirinya melewati kerumunan yang memutari keduanya. Badannya jauh lebih besar dari Junio dengan kekuatan yang jauh lebih besar pula lekas menyeret Junio untuk menghentikan aksinya.

“Lepasin gue, anjing!” Junio meronta dan memberikan serangan pada perut bagian kanan Luke, membuat Luke meringis dan tak sadar melepaskan Junio darinya.

“Jangan, Luke. Biar dia puas dulu.” ucap Orion dengan matanya yang menyipit menahan perih pada ujungnya. Junio terus menerus mengumpat di sela-sela pukulannya.

Rintik hujan mulai berjatuhan, membuat semua orang selain Orion, Junio, Luke, dan juga Marvel menyingkir dan mencari teduhnya masing-masing. Meninggalkan keempatnya yang dihujami air hujan yang semakin besar volumenya.

“Jun, udahan jing!” ucap Marvel dan mendekat, tangannya sempat mengusap wajahnya kasar guna menepis hujan yang bersemayam di kulitnya.

“Lo diem di sana, Mar.” ujar Orion.

Junio mencengkram kerah kemeja Orion menggunakan tangan kirinya, membuat Orion sedikit merasa sesak dan kerongkongannya seperti terhimpit. Membuat oksigen semakin susah untuk masuk. “Lo orang paling cupu yang pernah gue kenal. Lo gak inget kita siapin semuanya udah berapa lama? Gimana kita latihan tiap hari? Dan lo ninggalin kita di hari H?”

Junio memberikan jeda pada kalimatnya. “Lo kalau memang punya masalah di rumah jangan dibawa ke hal lainnya. Apa yang musti lo urusin di rumah, biar lo tinggal di sana.”

Dengan tangan kanannya yang sudah mengepal di udara dan siap untuk memberikan pukulan terakhirnya, Junio seketika tersungkur sebelum sempat mendaratkan pukulannya pada wajah Orion tatkala kausnya ditarik dan disusul dengan pukulan yang teramat kencang pada rahang kanannya.

Noel dengan matanya yang menyalang, tak memberikan kedip barang sedetik. Dadanya naik turun tak beraturan, dipenuhi akan gemuruh yang ingin ia ledakkan. Kedua tangannya masih mengepal dengan kencang hingga kuku-kukunya menancap pada telapak tangannya.

“El.”

“Lo manusia paling bejat! Gimana bisa orang yang gue kira sepinter lo memperlakukan orang lain bahkan temen lo sendiri dengan begitu. Gila, ketua OSIS kok enggak bisa memanusiakan manusia. Najis!” cerca Noel dengan suara tingginya yang tak kalah menggelegar dari hujan, setelahnya ia membuang ludah ke arah Junio. Semua pasang mata di sana terbelalak akan kalimatnya, tindakannya, juga akan presensinya.

Berada di tengah-tengah pusat tontonan dengan tanda pengenal sekolahnya yang menjadi pembeda, memberanikan dirinya menyelamatkan Orion yang sudah diwarnai darah pada pelipis, ujung mata, hidung, dan juga sudut bibirnya. Hal tersebut membuat Noel menjadi pusat perhatian. Dapat dipastikan ia akan menjadi topik pembicaraan hangat di seluruh penjuru sekolah untuk beberapa hari ke depan.

Noel memang punya jiwa pemberani dan selalu membela orang yang disayangnya kapanpun ia bisa, semuanya akan ia upayakan untuk tetap berdiri di samping orang terkasihnya dan menghadang kejamnya dunia.