Bumi dan Bulan
Bibir itu menyesap cerutunya kuat-kuat, mengisi kerongkongan serta sebagian rongga dadanya penuh akan zat nikotin. Kemudian menghembuskan napas panjang, menampilkan kepulan asap tepat pada wajahnya hingga menghadang penglihatannya akan sosok yang sedari tadi enggan untuk menengok.
“Jauh-jauh nyusulin sampai Jogja, tapi gue nya didiemin aja.” celetuk Kaivan, tangan kanannya sibuk mematikan nyala cerutu yang kini tersisa pendek.
Ada banyak hal pada alam semesta ini yang tak mampu disebutkan satu persatu namanya. Namun bagi Kaivan, Dipta adalah satu-satunya makhluk yang mampu menjadi alasannya merasa kelabakan.
Pasalnya, beberapa pesan singkat dari Dipta yang menyampaikan kabar bahwa ia tengah menjejakkan diri di depan hotel tempat Kaivan bermalam pun mampu menimbulkan efek besar bagi seorang Kaivan. Meninggalkan pesta makan malam atas selesainya pengerjaan proyek untuk lagu barunya dengan tergesa, membuat segala kru nya menoleh bingung hingga bersorak khawatir.
“Gue sampai habis dua batang karena nungguin lo ngomong.” ujar Kaivan, dagunya tergerak bak menunjuk ke arah gelas plastik yang ia jadikan sebagai asbak.
Dipta tertawa. “Nungguin gue ngomong atau sekalian ngebakar rasa gugup lo?”
“Dua-duanya.” timpal Kaivan dan menyusul Dipta pada sisa-sisa tawanya.
Hening menyergap, melingkupi ruang pada keduanya.
“Ada yang mau gue kasih ke lo.” ucap Dipta, tangan kanannya merogoh isi tas selempang yang tergeletak di atas pahanya.
Jika hanya dengan beberapa pesan singkat yang Dipta kirimkan beberapa waktu lalu mampu membuat Kaivan bersorak kegirangan dan merasa kelabakan, kini rangkaian aksara menjadi satu kesatuan kalimat utuh serta sodoran kertas tebal dibalut plastik bening dari Dipta lah yang mampu membuat hatinya mencelos ingin lolos.
Sebelum Kaivan kehilangan segalanya tentang Dipta, ia pernah memasukkan kertas tebal dengan guratan nama keduanya bak asma pemeran utama yang disorot pada salah satu rencana masa depannya. Namun kali ini ia dicabik oleh kenyataan, bahwa segala rencana masa depannya akan Dipta telah dihadang tembok besar yang bernama pernikahan.
“Enggak yakin sih lo bisa dateng atau enggak, yang penting undangannya udah sampai ke lo.” ucap Dipta menepis keheningan yang membuat Kaivan dihinggapi rasa kedinginan.
“Selamat ya, Dip!”
“Terima kasih, Kai.”
“Gue sampai bingung mau ngomong apa lagi.” tutur Kaivan, tangan kirinya meremas erat jahitan pada samping celananya sebagai penyaluran emosionalnya. “Semoga lancar semuanya ya, Dip.” Dipta mengangguk dalam diam dengan deretan giginya yang menggigit lidahnya, berusaha menahan derai air mata yang sudah siap meloloskan diri dari pelupuk matanya.
“Dulu gue kira, kita bakal nikah barengan. Dalam artian lo nikahnya sama gue.” ucap Kaivan dengan suaranya yang mulai berat serta menunjukkan getar, netranya menyapu tiap frasa yang tertulis pada kertas yang tengah ia genggam.
“Dulu gue kira, di sini bakal ada nama gue sama lo, Dip.” sambung Kaivan dengan menunjuk nama Dipta yang bersanding dengan nama seseorang, bukan dirinya.
“Dulu juga, gue kira…” lidah Kaivan terasa amat kelu, tak mampu menumpahkan segala pilu.
Deru napas Kaivan yang terburu-buru mampu menyambangi indra pendengaran Dipta. “Gue boleh peluk lo, gak?”
Kaivan menyeka matanya menggunakan buku-buku jarinya sekilas sebelum akhirnya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Kalau lo enggak minta, gue yang bakal minta.”
Tidak banyak lantunan kalimat yang menyusul setelahnya, baik Kaivan pun juga Dipta tengah sibuk untuk menata apa yang telah berceceran pada spasi yang ada.
Pundak kiri Dipta merasakan getar, seirama dengan punggung Kaivan yang terus bergerak dalam isak. “Maaf karena selama ini gue kurang maksimal untuk mengupayakan rencana-rencana soal kita.” ucap Kaivan dengan suaranya yang lirih menorehkan perih.
Dipta menggeleng dengan cepat dan terus memberikan usapan pada punggung Kaivan.
Selama ini bagi Dipta ia akan mengibaratkan dirinya bak Bulan, tatkala Kaivan akan ia umpamakan sebagai Bumi nya. Bagai Bulan yang akan selalu menerima Bumi, berusaha untuk mengiringi tiada henti. Menerima apa yang kurang, serta mempersilahkannya untuk berporos pada Matahari demi mengejar terang.