Closure
Dipta Gulzar
Segalanya tentang dulu yang pernah ada dan tertulis bersama Kaivan, kini rasanya sudah luruh menyeluruh tak menyisakan tempat setitik untuk dapat lagi berlabuh.
Dulu ketika nama Kaivan menyambangi indra pendengaran gue, dapat dipastikan banyak deburan ombak yang riuh dalam dada. Senyum juga mengembang tanpa upaya, dengan bangga gue akan menyerukan bahwa dia adalah satu-satunya makhluk yang akan selalu gue pinta.
Sekarang, siapa yang akan menyangka kalau segalanya tentang Kaivan merupakan sebingkai cerita yang menorehkan luka juga kecewa? Tidak ada lagi rasa, meredupkan segala asa.
“Kak Dipta, ada Kak Kai di depan.” ujar Lily di ambang pintu, satu tangannya meremas erat apron yang membungkus sebagian banyak tubuh bagian depannya. “Aku harus bilang apa?”
Gue hanya terkekeh, menimbulkan tanya pada otak gue akan kecemasan Lily yang tak seharusnya naik ke permukaan. “Kenapa malah lo yang kelihatan panik gitu, Ly? Tolong bilang ke Kaivan suruh ke sini aja ya, Ly.”
Lily mengangguk dan melenyapkan presensinya dari ambang pintu, bersamaan dengan itu, kini benak gue menayangkan serangkaian gambar akan hubungan gue dan juga Kaivan enam bulan ke belakang.
Gue bukan orang yang gemar menuntut, juga bukan orang yang gemar mengeluh hingga menimbulkan gaduh ketika pasangan gue akan lebih memprioritaskan segala mimpi-mimpinya, menempatkan karirnya di atas gue sebab gue juga akan melakukan hal yang sama.
Tapi, Kaivan dan segala tingkah lakunya enam bulan ke belakang membuat gue harus meminta. Sebab Kaivan kini berlari terlalu cepat hingga tak mampu gue jaga dengan lekat.
“Dip?” suara bariton yang sangat gue hapal betul siapa empunya kini menyeruak, mengambil seluruh atensi gue dari berkas-berkas yang berserakan di atas meja.
Harum yang menyerbak dari tubuhnya masih sama, sekonyong-konyong melekat pada indra penciuman gue saat tubuhnya ia rapatkan serta tangannya ia lingkarkan.
Gue berusaha melepas diri dari pelukannya, alih-alih membuat gue lolos, ia semakin mengeratkan tangannya yang melingkar pada tubuh gue. “Jangan, sebentar aja.”
“Kaivan.”
Kaivan berdeham, gue menarik wajah gue dari pundaknya. Dengan jarak pandang yang sedekat ini, membuat gue mampu merasakan deru napasnya yang memberat dan menerpa wajah gue dengan hangat.
Gue telisik lamat-lamat setiap senti wajahnya, sama sekali tidak ada yang berubah selain kantung matanya yang kini semakin muncul dengan bubuhan warna gelap yang menyergap.
“Kenapa?”
“Apa?”
“Lihatin aku.”
“Lihatin kantung mata lo.” timpal gue dan melepaskan diri dari rengkuhannya yang sudah merenggang.
“Maaf.”
“Apa?”
“Tiba-tiba dateng tanpa bilang dulu.” ucap Kaivan, punggungnya kini ia sandarkan pada sofa dengan kepalanya yang menengadah. Netranya terus memindahi dari tiap sisi ruang kerja gue. “Ternyata aku kangen banget ke sini.”
Gue memilih untuk diam.
“Dan ternyata aku lebih kangen ke yang punya ruangan ini.”
“Kai, udah gue bilang. Gue sama sekali udah enggak bisa kalau lo ngajakin gue untuk balik lagi.”
Kaivan mengangguk lemah sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Sekali ini, Dipta. Terakhir kalinya.”
“Enggak bisa, Kaivan.”
“Aku mohon.”
“Gimana rasanya mohon-mohon?” tanya gue tanpa berniat menatap manik matanya, hanya berani melirik ekspresinya dengan sudut mata.
“Dip, sesusah itu ya?”
“Kai, sesusah itu ya ngabarin gue untuk bilang lo batalin janji kita? Sesusah itu ya luangin waktu sebentar aja untuk nepatin janji lo ke gue? Bahkan enam bulan kemarin bener-bener kita enggak pernah ketemu, Kai.”
Hening panjang, gue meraup oksigen dengan rakus untuk mencari kekuatan akan melanjutkan rangkaian frasa yang telah gue simpan rapat-rapat seorang diri.
“Bahkan gue kalau mau tau kabar lo harus cek sosial media, lihatin postingan orang-orang.”
“Dipta, maaf.”
Gue tertawa. “Ini maaf ke berapa ya? Gue sampai enggak bisa ngehitung karena lo sesering itu minta maaf.”
“Dipta…”
“Kaivan, maaf gue buat lo enggak akan pernah habis. Tapi kalau lo minta untuk gue kembali jadi Dipta yang sebelumnya, Dipta yang akan ada buat lo, gue udah enggak bisa.”
Kaivan masih dalam heningnya memperhatikan wajah gue dan setiap gerakan kecil yang gue buat. “Kaivan, I really cherish myself so much and I hope it’s more than I cherish you. Gue enggak mau kehilangan diri gue dan nyakitin diri sendiri, gue merasa sekarang saatnya gue harus menolong diri sendiri sebelum gue mendahulukan orang lain.”
Kaivan meraih kedua tangan gue, menyentuhkannya ke pipinya sendiri dan memberikan elusan dengan kedua ibu jarinya. “You deserve someone else better.”
Gue mengulum senyum. Banyak atas diri gue yang berseru lega setelah menyuarakan segalanya akan Kaivan yang selalu gue pendam sendirian.
Pada halaman ini akhirnya gue menutup dan merampungkan segala cerita akan kisah cinta pertama gue.
Cinta pertama yang sama sekali tak gue sesali hadirnya, cinta pertama yang menorehkan luka paling luar biasa namun juga menghadirkan kedewasaan walau diiringi dengan tangisan. Cinta pertama yang hendak gue jadikan kamus akan pencarian cinta berikutnya, dengan bermaksud tidak akan mengulangi kerumpangan yang sama.