Deanka Pramoedya.
Titik-titik embun yang lolos begitu saja dari gelas kaca yang sengaja gue taruh di atas meja pun menjadi satu fokus gue malam ini. Dapat gue gambarkan bahwa bagaimana cara gue mengekspresikan diri gue adalah bak gelas yang berisi air es tersebut, dengan mudahnya meloloskan apa yang membuat gue penat juga yang membuat gue merasa berat.
Sedang Oza adalah sebaliknya.
Oza Rahandika, ia menjaga segala sakit juga bebannya rapat-rapat. Jika karena bukan gue dengan tak sengaja beberapa bulan lalu memergoki bagaimana ia diperlakukan dengan tidak baik serta tidak pantas oleh Jayden, mantan kekasihnya, gue rasa ia akan terus berada pada lubang hitam yang Jayden suguhkan.
Jam dinding yang tergantung tepat di atas pintu kamar kos gue pun kini jarum pendeknya sedang singgah pada angka dua. Kendati hari sudah berganti, dunia bak sedang terhenti, namun sistem kerja otak gue terus menerus berputar. Sibuk menayangkan kejadian di lorong pertang tadi, ketika bagaimana Oza menjadi objek yang diamati lamat-lamat oleh banyak pasang mata dengan sarat akan tuntutan penjelasan.
Jemari gue terus menari di atas senar-senar gitar dalam pelukan, entah kunci apa yang tengah gue mainkan sebab gue hanya menjadikan ia sebagai distraksi akan keharusan-keharusan yang gue lakukan petang tadi saat berhadapan dengan Jayden namun tak sempat sebab Oza dengan lantangnya menarik gue begitu saja sebelum memberi apa yang seharusnya Jayden terima.
Pintu kamar gue berderak seiring dengan munculnya sosok yang sedari tadi menjadi tokoh utama dalam cerita yang terus gue ulang. Oza dengan kaus putih polosnya tengah berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu.
“Apa?” tanya gue, heran akan hadirnya yang tanpa diundang.
“Kenapa belum tidur?”
“Belum ngantuk.” jawab gue sekenanya, membuat Oza mengangguk dan melesakkan dirinya begitu saja dan mendudukkan diri di atas ranjang. “Lo kenapa belum tidur?”
“Karena masih melek.”
Gue hanya mendengus dan meletakkan gitar yang sedari tadi gue peluk di samping meja, kini gue turut mendudukkan diri di samping Oza. “Mikirin tadi?”
“Enggak.”
Tangan gue terulur untuk memberikan sentilan cukup kencang pada dahinya, membuat Oza mengaduh kesakitan. “Gue tau banget, Oza. Tiap ada masalah tentang Jayden lo pasti jadi begini.”
Oza hanya tertawa. Kalau boleh dibilang, tawa Oza sangat candu. Gue berani bertaruh bahwa tawa Oza adalah pemenang dari segala keindahan yang ada, silahkan sebut gue sebagai seorang penyair yang memanfaatkan majas hiperbola. Tapi memang menurut gue begitu dan akan terus begitu.
“Gue takut, De.”
Gue paham bak mengerti, mencoba memposisikan diri sebagai Oza yang selalu mendapat perlakuan kasar juga perkataan penuh merendahkan dari seseorang yang sempat kita sayang juga banggakan.
“Maaf ya, tadi gue telat.”
Oza menggeleng. “Enggak, Dean. Gue jadi bisa nonjok dia sekali tadi.” gue kini mengangguk dan tertawa sebab Oza juga tertawa. Entah mengapa, setiap hal yang Oza lakukan dapat menjadi hal paling menarik yang pernah netra gue tangkap dan otak gue proses.
“Yaudah, buru tidur gih.” ucapnya dan berdiri dari ranjang. Tangan gue meraih pergelangan tangan Oza, membuat ia yang tadinya ingin mengosongkan sebagian ruang petak dalam bilik gue pun menoleh. “Apa?”
“Di sini aja.”
“Apa?”
“Di sini aja tidurnya, gue temenin.” ucap gue dengan spontan, cukup membuat diri gue sendiri pun terkejut dan lekas membungkam mulut rapat-rapat.
Tangan gue mulai perlahan renggang dari pergelangan tangan Oza, berniat mempersilahkan Oza keluar jika ia memang ingin. Namun alih-alih melenyapkan presensinya dari kamar gue, kini Oza kembali terduduk di sebelah gue.
Entah sarat makna apa yang tengah Oza kirimkan, kini gue beranjak untuk mematikan nyala lampu kamar sebelum akhirnya menyentuh pundak Oza dan membaringkannya di ranjang.
Tidak terlalu luas atau bahkan cukup sempit, membuat Oza harus berbantalkan tangan gue dengan badan kita yang berhimpitan berbagi ruang. Ini kali pertama bagi gue menjadi amat dekat dengan Oza. Memandang serta bersinggungan dengan Oza sedekat ini, membuat jantung gue berdegup dengan sangat cepat. Bahkan jantung gue rasanya hendak lolos begitu saja ketika manik mata kita bertemu, dapat gue lihat dengan jelas bagaimana Oza dengan segala rasa takutnya di dalam sana.
“Tidur, Oza.” ucap gue lirih, tangan kanan gue pun tergerak. Ibu jari gue kini telah bersemayam di alis Oza, memberikan usapan pelan untuk membuatnya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Sebab gue ada di sini, untuk dia.
Tangan kanan gue kini melingkar pada tubuh Oza, memberikan usapan serta tepukan pelan pada punggungnya. Oza sedari tadi hanya diam, terus melayangkan tatapannya secara lamat ke arah gue dan sukses membuat gue rasanya ingin luruh.
Tubuh Oza sedikit bergerak mendekat, membuat tubuh kita semakin berhimpitan. Kepalanya ia tenggelamkan pada dada gue, seakan ia tengah bersembunyi dari apapun dan siapapun yang tengah mengejarnya dan membuatnya merasa tak aman.
Semerbak wangi cokelat bercampur efek segar menyeruak ke dalam indra penciuman gue tatkala rambutnya menyapa. Membuat gue semakin tersadar bahwa segalanya mengenai Oza adalah candu.
Entah sudah berapa lama Oza menyembunyikan dirinya pada dekapan gue, yang gue tau kini adalah bagaimana tenangnya Oza di dalam sini. Hembusan napasnya tidak seberat tadi, punggungnya tak lagi bergerak dengan tempo yang tak beraturan.
“Dean.” gue yang sudah berada pada ambang kesadaran masih mampu menangkap suara Oza.
“Iya?”
Tidak ada balasan, gue sedikit menaikkan kepala gue berusaha menelisik wajah Oza yang menempati dada gue. Matanya menutup dengan tenang.
Satu kata yang Oza lontarkan di tengah lelapnya mampu membuat gue sadar. Bahwa Oza dalam dekapan gue merasa butuh, membuat gue tersenyum dalam pejaman mata gue karena hari itu gue benar-benar merasa utuh.