Dengan jemarinya yang panjang dan penuh kehati-hatian, Noel mengusap punggung dan pipi dua ekor kucing yang ia jumpai di dekat tempat pencucian sepeda motor. Sesekali kedua tangannya mennagkup wajah dari salah satu kucing tersebut dengan penuh kehangatan yang tersirat kegemasan. Sesekali Noel mengajak kedua ekor kucing tersebut berbincang, menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan dan memberikan jawaban seolah-olah ia mengetahui maksud dari arti ngeongan salah satu kucing yang membalas. Raut wajah Noel mengeluarkan semburat kejut saat salah satu ekor kucing yang tidak sedang ia usap berlari dengan kencang meninggalkannya. Kedua netra Noel mengikuti arah pelarian kucing tersebut, yang dengan cepat disusul oleh kucing yang tengah ia usap-usap sebelumnya.

Mata Noel memicing tatkala menangkap sosok yang tidak dekat namun pahatan wajahnya cukup familiar bagi Noel.

Orion tengah duduk bertumpu pada kedua lututnya, tangan kirinya sempat menaikkan lengan kemejanya yang terjuntai pasrah di lengan kanannya. Senyumnya tak luntur mengetahui kedua ekor kucing tersebut sudah mengenali dan memberi tanda pada presensinya. Tangan kiri Orion terulur untuk memberikan usapan-usapan sedang tangan kanannya sibuk menuangkan makanan kemasan khusus untuk kucing yang sengaja ia beli sebelumnya. Menimbang-nimbang takaran satu dan lainnya pas, membaginya dengan adil.

Seutas guratan senyum timbul dari Noel yang sedari tadi hanya menjadi seorang penonton dari beberapa langkah jauh di sana. Orion menengadah, melemparkan seutas guratan senyum yang sama merekahnya ke arah Noel yang setelahnya otak dalam kepalanya hanya mampu memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir bagian dalamnya sebagai respon atas senyuman tak terduga yang ia dapatkan.

“Kenapa lihatin dari jauh? Sini.” Noel mengedarkan pandangannya, sesekali menengok dan mencari presensi orang lain selain dirinya dan nihil. Ia menarik kesimpulan bahwa ucapan Orion tersebut ditujukan kepadanya. Orion yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari kedua ekor kucing yang tengah sibuk dengan sarapannya pun kembali menengadah, kini tangan kanannya sedikit ia lambaikan ke adah Noel yang dengan penuh keraguan mulai memangkas jarak di antara keduanya.

“Lo suka kucing, El?”

“Eh? Gue? Suka kok.” Noel dengan segala bentuk keterkejutannya mengangkat kedua alisnya ketika mendengar namanya disebut, sedikit terheran bahwa lelaki di sampingnya berjongkok mengetahui namanya.

“Kalau bubur ayam, suka?” tanya Orion yang tak mengalihkan tatapannya barang sedetik dari wajah Noel. Menelusuri tiap inci, mempelajari profil wajah Noel dari sebelah kanannya. Yang ditanya hanya mengangguk pelan dan mengucapkan bahwa ia menyukai bubur ayam dengan suaranya yang lirih.

“Yuk, cari bubur ayam sama gue.”

Noel mengerjap, memberikan gestur tengah menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Berdua aja?” tanya Noel memastikan.

Orion terkekeh dan menunjuk dua ekor kucing menggunakan dagunya yang tergerak. “Emangnya mau ngajakin Tabi sama Tobi juga?”

Noel mengernyit, jemarinya kini ikut mengusap punggung salah satu ekor kucing di hadapan keduanya. “Yang lagi lo usap-usap, namanya Tabi. Kalau yang ini Tobi. Nggak ada yang namain begitu sih, gue cuma iseng aja. Kalau lo mau namain Orion sama Noel juga nggak masalah.” terang Orion dibubuhi dengan kekehan.

“Oh, iya, nama gue Orion.” sambung Orion, menjulurkan tangan kanannya ke arah Noel yang menyambutnya dengan hangat dan anggukan kecil, dirinya tak mampu untuk menahan senyum yang sedari tadi tidak henti-hentinya ia turunkan.

“Lucu.” gumam Noel kepada dirinya sendiri dalam benaknya setelah tangan keduanya tak lagi saling menjabat.

“Jadi gimana, El? Mau cari bubur ayam atau lo udah sarapan?” tanya Orion sekali lagi, kedua tangannya melipat plastik kemasan makanan kucing yang masih menyisakan cukup banyak isi dan memasukkannya ke dalam saku celana abu-abunya.

“Boleh.”

***

Suara dentingan yang ditimbulkan antara mangkuk dan sendok pun terdengar dan menjadi satu-satunya pengisi, menyeruak masuk ke dalam pendengaran keduanya yang sedari tadi hanya diam membisu dan melayang atas pikiran yang bersarang dalam benaknya masing-masing.

Kedua kaki Noel tidak bisa berhenti untuk bergerak, menggambar beberapa pola tak berbentuk pada aspal sebagai upaya mendistraksi pikirannya sendiri atas skenario-skenario yang ia bentuk sendiri dalam angannya.

“Lo habis dari mana?” tanya Orion setelah berhasil menelan sendok terakhir pada mangkuk bubur ayamnya.

“Nyuciin motor di tempat tadi, niatnya mau lari sambil cari makan sih. Eh malah ketemu Tabi sama Tobi, gemes banget kayak nggak bisa ditinggal.” di dalam bungkam setelahnya, Noel berulang kali merutuki dirinya sendiri. Peduli apa Orion atas kegiatan yang tidak sepenting itu untuk dibicarakan.

Orion tersenyum, perasaan di dalam dadanya tergebu-gebu dan untuk pertama kalinya ia menampilkan sisi lain dari dalam dirinya kepada Noel. Hanya obrolan-obrolan ringan yang terlontar dari kedua mulut anak adam disaksikan oleh mangkuk dan gelas yang tidak meninggalkan sisa. Keduanya saling menceritakan hal-hal lucu yang menggelitik, sehingga menyadarkan Noel akan hal yang menjadi kesukaannya saat itu. Ketika mata Orion yang terlihat begitu menarik saat tertutup rapat dan menampilkan bentuk sabit tatkala keduanya tengah tertawa lepas.

Bagi Noel, ia sangat ingin menyimpan semuanya rapat-rapat. Semua tentang Orion pagi ini terekam begitu dekat dan jelas, enggan untuk dia tepiskan.

Sedang bagi Orion, ia dengan seluruh sisa kewarasannya saat itu mampu menyimpulkan bahwa Noel merupakan wujud dari segala hal membahagiakan dan menenangkan.