Detak jarum jam terdengar jauh lebih keras kala itu, menemani mata yang nyalang di dalam ruang kamar yang gelap sebab lampunya sengaja ia matikan. Sudah tak terhitung berapa banyak Jazziel menghembuskan napasnya dengan kasar, sesekali ibu jarinya memberikan tekanan pada pelipisnya yang terasa ngilu. Tangan kanannya masih setia menggenggam sebuah kotak kecil yang telah ia siapkan dari jauh-jauh hari, sebelum akhirnya ia merencanakan hari ini untuk melamar kekasihnya; Nafandra.

Kedua netra Jazziel memindai apartemen Nafandra, dari sudut ke sudut lainnya ia sapu habis. Melihat bagaimana dekorasi yang telah ia pasang beberapa waktu lalu dibantu Harsa dan Matteo, melihat kasur yang selalu menjadi tempatnya berbaring dengan Nafandra di dalam rengkuhannya. Segala sudutnya terlihat rapi, bak tidak ada tanda-tanda kehidupan seseorang yang tinggal di ruangan itu. Nafandra, jauh lebih memilih untuk menghabiskan seluruh waktunya di ruang operasi dengan badannya yang dibalut seragam operation kamer berjam-jam lamanya.

Jazziel tidak mungkin menyudutkan dan menjatuhkan segala kegagalan atas rencana-rencana yang telah ia susun untuk malam ini kepada Nafandra. Ia hanya merasa kosong, merasa akan sampai kapan Nafandra terus-terusan mengabaikan dirinya sendiri? Bahkan untuk sekedar makan pun Nafandra hanya akan memakan makanan di kantin rumah sakit tempat ia bekerja, enggan untuk meluangkan sedikit waktunya dari dua puluh empat jam yang ia miliki hanya untuk sekedar mencari makan ke luar. Nafandra nya yang pekerja keras.

Dengan penuh keimpulsifan, Jazziel meraih jaket kulitnya yang sebelumnya tergeletak di atas sofa tempat ia duduk. Setelah selesai mengukung tubuhnya dengan jaket kulitnya, Jazziel bergegas memasukkan kotak kecil yang telah ia genggam sedari tadi ke dalam saku celananya. Sebelum akhirnya presensinya meninggalkan ruangan tersebut, Jazziel sempat meraih sebuah kantong plastik yang berisikan sekotak kue cokelat dengan dua kotak kecil yang membungkus lilin berbentuk angka dua dan tujuh di dalamnya.

Jazziel dengan segala keimpulsifannya, memilih untuk mendatangi rumah sakit tempat Nafandra berjaga malam itu. Tidak peduli dengan pepohonan besar di pinggir jalan yang bergoyang sempoyongan sebab tertiup angin besar dalam gemuruh hujan. Pun dengan tetes-tetes air hujan sebesar biji jagung yang menyerbu tanah dengan tidak sopan, menyapu daun-daun dan ranting yang berguguran karena tak mampu mempertahankan dirinya untuk tetap berada pada tempatnya.

Jauh dalam benak Jazziel saat ini hanya terisi oleh bagaimana ia segera sampai ke rumah sakit dan menjadi orang pertama untuk merayakan ulang tahun Nafandra, membuatnya tak mengindahkan suara-suara klakson dari arah berlawanan tatkala Jazziel mendahului kendaraan-kendaraan yang menghalangi laju mobilnya kala itu.

Bak secepat kilat, Jazziel menutup matanya dengan erat dan membanting kemudinya ke arah kiri tepat setelah kedua pupil mata Jazziel menangkap banyaknya cahaya dari arah lawan. Jalanan yang licin malam itu akibat guyuran hujan yang tak memiliki sopan dan santunnya, membuat mobil yang Jazziel kendarai tergelincir dan menerjang pembatas jalan. Tubuh Jazziel terhimpit jok dan kemudi, kepalanya sempat terbentur ke sisi kanan mobilnya dengan kencang hingga menyebabkan keluarnya banyak darah segar dari ujung sana. Kedua lutut Jazziel menekuk dengan penuh gencatan dari arah manapun. Jazziel dengan seluruh sisa kesadarannya merogoh saku celananya, memastikan keselamatan kotak yang beberapa hari terakhir ini selalu ia bawa kemanapun ia berada.

***

Tubuhnya meringkuk di atas beberapa kursi kayu yang ditata, Nafandra yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai dokter bedah mengistirahatkan seluruh sistem kerja pada tubuhnya. Tenaganya tak bersisa sebab hari ini sudah tiga pasien yang ia tangani. Nafandra berdeham tanpa membuka kedua netranya yang tertutup rapat ketika merasakan tubuhnya tengah digoyahkan secara pelan, nyawanya belum sepenuhnya berkumpul untuk mencerna apa yang baru saja disampaikan kepadanya. Ia hanya mengangguk dan berdeham sebagai tanggapan, tubuhnya kembali meringkuk dengan kedua tangannya yang memeluk kakinya yang tertekuk rapat-rapat ke dalam rengkuhannya.

Untuk kali ini saja, Nafandra hanya menginginkan sedikit waktu dari dua puluh empat jam yang ia miliki untuknya mengistirahatkan dirinya dan absen dari dunia yang dengan perlakuan kejamnya hari ini; pada hari ulang tahunnya tak membiarkan ia berhenti barang sebentar.

“Na.” guncangan yang Nafandra dapatkan kali ini lebih besar dari sebelumnya, dengan penuh paksa dan menuntut untuk menarik dirinya kembali tersadar.

Nafandra dengan buku-buku tangannya yang sibuk mengucek sudut matanya pun terduduk, mengerjapkan kedua netranya untuk mengambil ulang kesadarannya. Keningnya menampilkan kerutan tatkala rekan kerja di hadapannya memasang mimik wajah gelisah dan penuh raut yang Nafandra sukar artikan. “Kenapa? Ada pasien lagi? Atau gimana pasien yang tadi?”

Rekan kerjanya menggeleng dengan kencang, sesekali menggigit bibir bawahnya dengan kasar. Tingkah lakunya penuh sarat kebingungan. “Apa sih?”

“Na, cowok lo.”

“Jiel? Kenapa?” Nafandra sempat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebab tidurnya yang hanya sekilas dan dengan posisi serta tempat yang tak begitu nyaman.

“Cowok lo enggak ada.”

Nafandra terkekeh, tubuhnya membungkuk untuk memasang sepatunya yang ia tanggalkan sebelum meringkukkan diri di atas kursi-kursi yang berjajar. “Ya emang nggak ada, dia mah lagi di apart gue.”

“Cowok lo udah meninggal, Na.”

Nafandra yang masih membungkuk tak bergeming, tubuhnya seketika membeku dan otaknya malfungsi. Ia tak mengerti entah telah terjadi kesalahan apa pada telinganya atau kesalahan apa yang terjadi pada hari ini. Tubuhnya masih terus membungkuk walau kedua tangannya telah selesai mengikat tali sepatu itu erat-erat.

Beberapa menit tanpa adanya salah satu yang berucap, Nafandra menegakkan duduknya. Tangan kanannya menepuk keningnya dengan perlahan, tawanya meledak. “Ya elah, prank lo nggak mempan kali! Iya, iya, jadi mana kue ulang tahun gue? Gue perlu pura-pura kaget nggak ini?” tanya Nafandra dengan kekehannya, kakinya tergerak untuk berjalan di ambang pintu ruangan dengan kepalanya yang celingukan kesana dan kemari mencari orang-orang yang sengaja bersembunyi untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.

“Na, gue serius. Jazziel masih ada di UGD, baru mau dipindah ke kamar mayat.”

Banyak kisah patah hati dan kehancuran yang telah Nafandra lalui, namun kali ini menjadi satu-satunya kisah yang enggan ia percayai namun dengan lututnya yang lemas Nafandra segera berlari menuju ruang yang telah disebutkan rekan kerjanya. Mengabaikan banyak kalimat-kalimat khawatir yang berseru di belakangnya. Saat itu ia hanya ingin segera menjejakkan kakinya di UGD, memastikan apa yang telah ia dengar.

Bagai mati rasa, Nafandra memaksa tubuhnya untuk tak memberikan respon atas apa yang tengah ia saksikan dengan kedua matanya. Di hadapannya, terbaring dengan lemas dan tak berdaya. Jazziel, laki-laki yang selalu terlihat kuat dan keras itu tidak lagi ada. Kedua mata Nafandra memanas, air matanya ingin mendobrak seluruh pertahanan yang Nafandra simpan pada kantung matanya yang telah terbendung.

“Selama aku pacaran sama kamu, kayaknya ini prank paling niat dan paling jelek kamu deh, Ji.” ujar Nafandra lirih, tak berani mendekat ke arah ranjang dengan tubuh Jazziel yang bersimbah darah.

Salah seorang perawat yang berada di ruangan itu mendekat ke arah Nafandra, menyerahkan sebuah kotak kecil dan sekantong plastik yang sempat Jazziel titipkan sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdetak.

Nafandra membuka kantong plastik tersebut sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di lantai. Ia terkekeh saat melihat sekotak kue cokelat yang tak lagi berbentuk. Tangannya membuka dua kotak kecil berisikan lilin dengan angka dua dan tujuh yang kemudian ia tancapkan di atas kue tersebut.

Kedua mata Nafandra memejam dengan erat seolah memang ia tak ingin untuk membukanya lagi jika benar kenyataannya seperti apa yang ada di hadapannya. Benaknya terus-terusan merapalkan banyak doa yang ditujukan untuk Jazziel, yang ia harapkan saat ini hanyalah Jazziel nya.

Matanya terbuka dengan perlahan dan meniup lilin yang tidak pernah sempat ia nyalakan bersama dengan Jazziel.