Di Penghujung Hari

Menjelang mentari di batas cakrawala, dengan petikan gitar yang sembarang dan sigaret yang kian terkikis oleh nyala bara yang menggerogoti awaknya, Junio lebih memilih untuk diam dan termangu alih-alih menanggapi runtutan aksara yang Rios rapalkan.

“Lo dengerin gue gak sih?” sungut Rios kesal, mulutnya telah bersiap untuk dibuka dan meloloskan berbagai umpatan setelahnya.

“Denger.”

“Apa?”

Dengan penuh tatapan kosong Junio menyesap sigaret yang terselip pada jemarinya kuat-kuat, merasakan pelekatan nikotin pada setiap rongga dalam tubuhnya.

“Lo sendiri gimana?”

Rios memutar kedua bola matanya gusar sebelum akhirnya mengacak surainya dengan frustasi. “Gue juga usaha. Lo nih yang bahaya, makin ke sini ngelunjak.”

Junio terkekeh atas serang Rios.

“Jun, enggak semua orang baik sama lo itu didasari niat flirting ke lo. Karena memang dia diajarkan dan dituntun untuk tumbuh jadi seseorang yang baik dan memanusiakan manusia seutuhnya.”

Hening panjang. Junio menatap lamat-lamat sigaretnya yang kian memendek, sesekali ia mainkan dengan jemarinya.

“Orion salah satunya.” lanjut Rios, tangan kanannya menyalakan pemantik api yang siap menyulut bara pada sigaret ketiga yang telah terselip pada belah bibirnya dan siap untuk ia sesap.

“Gue paham, tapi susah. Lo sendiri gimana? Emang bisa?” runtutan pertanyaan dari Junio membuat Rios tersenyum kecut.

“Enggak, sama susahnya. Buktinya gue malah dari SMP, kan, naksir dianya? Sampai hari ini enggak ada kemajuan apa-apa karena emang gue ngerti kalau gue enggak akan pernah punya kesempatan itu.” terang Rios, tangan kanannya tergerak untuk meruntuhkan abu pada sigaretnya.

“Gimana cara dia memperlakukan kita sama orang yang bener-bener menarik perhatian dia tuh beda, Jun. Tatapan apa yang dia kasih ke Noel enggak akan pernah ada buat gue juga buat lo.” sambung Rios.

Junio terkekeh dan mengangguk kecil, sebagian perasaan ikhlas yang ia tuai sebelumnya pun telah lenyap dan coba untuk ia tanam kembali.

Rios melempar pemantiknya ke arah Junio, membuat manik mata keduanya saling menangkap temu dan memecah tawa dalam hangatnya jingga di penghujung hari.

“Sinting, sinting.” ucap Rios yang ditujukan kepada dirinya dan juga Junio, dengan tangan kiri menyentuh perutnya yang terasa pegal setelah mengakhiri tawa yang sedari tadi bak tak ingin dipenggal.

“Lo sinting.”

“Lo lebih sinting, anjir! Bisa-bisanya lo semalem ngomong begitu ke Orion. Beli percaya diri di mana tuh bawa-bawa Noel?”

Juni mendengus dan melempar kembali pemantik yang sebelumnya Rios lempar ke arahnya. “Lo sinting, naksirnya dari SMP sampai sekarang masih belum bisa lupa.”

“Anjing!” umpat Rios yang dibarengi kekehannya.

“Lo pernah ada niat ngasih tau ke dia, gak?”

Rios mengedikkan bahunya dengan sekenanya, kepulan asap yang menyeruak keluar dari mulutnya menenggelamkan wajahnya. “Enggak pernah kepikiran, takut malah kehilangan dia sebagai temen.”

“Bisa jadi itu salah satu faktor lo susah lepas dari dia karena sejak awal belum pernah lo keluarin.” celetuk Junio, tangannya mematikan sigaret yang sudah teramat pendek.

“Kalau mau sinting jangan bawa-bawa gue.” timpal Rios, netranya nyalang memindahi tiap ujung langit-langit teras rumahnya.

Berbanding terbalik dengan kalimat yang baru saja ia lontarkan, kini sedikit banyak dari perkataan Junio terpatri pada sebagian ruang dalam benak Rios. Menyusun skenario-skenario yang kemungkinan terjadi dan mengesampingkan banyak fakta yang membentengi dirinya dengan Orion.

Dan kini pada penghujung hari, ia menceloskan dirinya untuk berlari dan mencoba menyambangi. Setidaknya sekali, sebelum akhirnya ia benar-benar angkat kaki.