Elvano Bara.
Gue selipkan rambut Arel yang mulai panjang ke belakang telinga si pemilik leher jenjang dengan balutan warna kulit yang cerah dan dingin seperti pualam. Sudah terhitung dua jam lamanya sejak kedatangan gue di rumah Arel, mengisi sepetak ruang pada lantai kayu di dalam bilik kamar lelaki yang terduduk anteng di sisi kiri gue.
Kaki Arel yang berbalut celana training sedari tadi ia peluk erat-erat, dijadikannya sebagai topangan untuk dagunya. Pandangannya menatap lurus ke arah layar laptop yang tidak berhenti menampilkan acara kesukaan Arel. Entah Arel benar-benar menontonnya atau malah ia yang kini sedang ditonton.
Tak berniat mengganggu dan lebih memilih untuk memejamkan kedua netra gue, kini gue bersandar pada kasur Arel yang dibaluti sprei berwarna putih tulang. Kedua tangan gue pun bersedekap, berusaha mengistirahatkan pikiran dan tubuh gue secara bersamaan.
Farrel Gibran atau yang biasa menyandang nama Arel, seorang laki-laki yang dengan ajaibnya dapat masuk ke dalam cerita hidup gue dan menjadi serangkai dengan diri gue selama dua bulan ke belakang ini. Bahkan pada benak gue ketika nama Arel diucap, gue tak akan mampu menyandingkan dengan kata ‘kehilangan’ sebab semuanya akan berbuah ketidaksiapan.
“Bara.” gue hanya berdeham ketika mendengar Arel menyerukan nama gue lirih, terlampau nyaman dengan pejaman dan sandaran tubuh gue. “Kata kamu, Mami aku tau enggak ya kita pacaran?”
Kali ini mata gue dengan cepat menyalang, pertanyaan yang sama telah gue pendam dan serukan sendirian selama dua bulan terakhir. Mengingat bagaimana perlakuan aneh yang gue dapatkan serta perlakuan dingin yang gue sanding ketika menampakkan diri di hadapan Mami Arel. “Tau kali, Rel?”
“Aku takut Mami enggak setuju.”
Sama, Arel, sama. Hal yang sama pun gue takutkan sejak kali pertama gue menjatuhkan diri dan menggali lubang lebih lama untuk bersarang bersama nama lo, mengubur diri kita dalam-dalam.
“Emang kelihatannya akan begitu, Rel?”
“Iya. Mami sering juga ngenalin aku ke anak temen-temennya, perempuan.”
“Mau sampai kapan kamu tutupin?” tanya gue dengan tangan kiri yang sudah terulur dan mengusap kepala hingga punggung Arel yang tampak lesu sore ini. Punggung itu, memikul banyak beban yang hanya gue tahu sebagian kecilnya.
“Aku enggak mau nutupin, tapi aku juga bingung untuk bilangnya.” jawab Arel, tangannya tergerak untuk mematikan nyala laptop. “Kamu dulu gimana ceritanya kok bisa Mbak Ira terima?”
“Mbak Ira mah cuma mau aku seneng.”
Arel mengangguk kecil, tubuhnya bergeser sedikit lebih ke belakang dan menyandarkan tubuhnya pada sisi sebelah gue dengan lengan kiri gue dijadikan bantalan. “Seneng deh, kamu punya Mbak Ira.”
“Punya kamu juga, Rel.” ujarku dan memberikan kecupan singkat pada puncak kepalanya. “Arel.”
“Iya?”
“Kalau kamu udah siap bilang ke Mami, gimanapun nanti reaksi Mami, aku enggak akan ke mana-mana.” Arel hanya mengangguk dan melingkarkan tangannya pada pinggang gue, semakin menyembunyikan dirinya di dalam tubuh gue. “Kita lewatinnya bareng-bareng, Arel. Kamu enggak perlu takut.”
“Aku jauh lebih takut kehilangan kamu, Bar, daripada nantangin dunia.”
Gue hanya terkekeh dan mengiyakan ucapan Arel. Entah nanti ke depannya ucapan itu memang benar sungguh-sungguh adanya dan mampu ia buktikan, atau sekadar menjadi penenang diri untuk saat ini.