Farrel Gibran.

Hidangan yang sudah Mami siapkan dari sore tadi tertata dengan sopan dan melambai-lambai untuk disentuh, namun tak ada satupun dari penghuni ruang makan yang berinisiatif untuk memulai.

Gue yang sudah kepalang frustasi hanya menghembuskan napas dengan kasar, mengambil piring untuk gue taruh di hadapan Mami dan Bara secara bergantian.

Selama dua puluh tahun gue hidup, ini adalah makan malam teraneh yang pernah ada. Hanya ada suara dentingan antara piring dan sendok yang beradu, Mami yang terlewat dingin dan terlihat tak menaruh atensi sedikitpun kepada kehadiran Bara sedikit banyak membuat hati gue terluka.

Tidak ada yang bergeming dari meja makan setelah masing-masing baik Mami dan juga Bara menghabiskan makannya. Perut gue terasa penuh dan sesak, tak mampu lagi untuk dimasuki karena alih-alih memakan masakan Mami, gue sudah dibuat kenyang oleh atmosfer yang memuakkan.

Di bawah meja makan, gue merasakan jemari Bara yang mulai bertaut dengan jemari gue secara luwes. Memberikan usapan pada punggung tangan gue berniat meredakan dan membuat gue sedikit aman.

“Mami.” gue sedikit melirik ke arah Bara, dapat gue lihat bagaimana Bara dengan susah payah menelan ludahnya dari gerakan jakunnya. Kini gue memberikan elusan pada punggung tangannya, persis seperti apa yang Bara lakukan sebelumnya.

“Apa?”

“Kenalin, ini Bara.”

“Udah kenal, kan.” ujar Mami, tangan serta pandangannya tak terlepas dari ponselnya. “Kenapa?”

“Pacar Arel.”

Bara tersedak ketika mendengar kalimat yang baru saja gue lontarkan, sedangkan reaksi Mami hanya menaruh ponselnya secara tengkurap di atas meja. Manik matanya sedikit bergetar menatap gue dan juga Bara secara bergantian.

“Katanya kemarin Mami mau dikenalin ke pacar Arel. Ini, sekarang udah Arel bawa ke rumah dan kenalin ke Mami.” lanjut gue, napas gue kini tercekat dan jantung gue berdegup bak tengah di atas wahana roler coaster dan tiba-tiba pengamannya terputus sehingga membuat gue terpental dan terjatuh langsung menembus inti bumi.

“Jangan bercanda.”

Gue melirik Bara yang tengah membuka mulutnya untuk menjawab, namun dengan cepat gue serukan apa yang ada di dalam diri gue. “Enggak bercanda. Kenapa? Ada yang salah?”

“Salah, Gibran!” suara Mami kini mengisi seluruh ruangan, bahkan sangat memekakkan telingan juga menorehkan luka. Gibran, begitu cara Mami mengucap nama gue tatkala melakukan hal yang di luar batasan Mami.

Berulang kali Bara ingin menyuarakan suaranya namun dengan cepat gue sela, gue enggan membuat Bara lebih terluka dari yang seharusnya.

“Apanya yang salah dari cinta, Mi? Bukannya Mami yang pernah bilang ke Arel kalau cinta itu adalah apa yang membuat kita merasa hangat dan selalu mendapat validasi atas semuanya?”

“Mami enggak pernah mendidik kamu untuk begini ya, Gibran.”

“Karena memang Mami hanya mendidik Arel sebagaimana Mami mau jadi seperti apa Arel nantinya.”

“Karena Mami cinta sama kamu!”

“Sampai Mami lupa kalau mencintai itu juga berarti menerima segala kondisi orang yang dicintai?”

Hening panjang. Bahkan gue bisa mendengar decakan cicak yang baru saja melintas dan sempat tertangkap indra penglihatan gue.

“Tante, Maaf. Tapi saya-“

Bara belum menyelesaikan kalimatnya namun Mami sudah berjalan menjauh, tentu dengan perasaan kesal dan kecewanya yang tergambar jelas pada raut wajahnya. Sedang Bara hanya tersenyum simpul, tangannya terulur untuk memberi usakan pada surai gue.

“Enggak apa-apa, masih ada hari besok untuk coba lagi. Pelan-pelan, Arel. Ini hal baru buat Mami kamu, juga buat kita.” ucapnya dengan teduh, masih dengan matanya yang tenggelam di balik kelopaknya karena senyumnya yang terus mengembang.

“Bara, maaf kalau mencintai aku akan semenyakitkan ini.”

Bara menggeleng pelan. “Jangan minta maaf, karena enggak ada yang salah dan enggak ada yang perlu minta maaf.”

“Arel, kamu tadi keren banget. Pelan-pelan ya, jangan dipaksa untuk bisa langsung nerima.” imbuhnya. Gue terlampau bingung. Apa yang ada di dalam pikiran Bara sekarang? Dia bertingkah seperti orang yang sama sekali tidak terluka padahal gue yakin, dia sama terlukanya atau lebih dari gue dan juga Mami.

Malam ini di antara gue, Bara, dan juga Mami, terlalu banyak dari kami yang saling menyakiti dan tersakiti. Disaksikan oleh meja makan dan sisa hidangan yang Mami buat, yang sudah mengendapkan isian beserta rempahnya karena terlalu muak untuk mendengar juga ikut campur atas kisah cinta dua anak adam yang dianggap salah, dianggap tabu dan tak seharusnya tercipta.