Ganesh Putra Bentala.

Gama beserta dengan keimpulsifannya menyeretku ke dalam keadaan di mana aku harus menutup klinik untuk hari ini. Sungguh tidak terpaksa, dengan suka cita aku mengiyakan ajakan Gama untuk langsung menuju ke Waduk Sermo setelah petang mulai menyelimuti Bukit Paralayang tadi malam. Berada di dalam rengkuhan Gama semalaman, dalam tenda kecil yang membuat kita berhimpitan.

Beberapa tahun lalu, hal tersebut telah kita rencanakan sebelum akhirnya memilih untuk memutus komitmen yang menjembatani hubungan kita dan membatalkan rangkaian rencana-rencana yang sudah tersusun dengan penuh bayangan sorak sorai akan harsa.

Sisa-sisa embun semalam masih terasa, waduk dan sekitar tenda masih terselimuti kabut. Begitu pula pucuk-pucuk rumput yang tengah aku pijak dengan ujungnya yang digelayuti bulatan-bulatan air yang dengan cepat menjalarkan dingin ke seluruh tubuhku. Kakiku terus melangkah, semakin menjauhi tenda yang aku tempati semalam bersama Gama. Menggerayangi tanah yang tak tertutup rumput, terasa masih basah dan bergeronjal.

Aku dengan serakah menghirup udara pagi yang terasa sangat menyegarkan, membiarkan rongga dadaku memenuhi kebutuhannya. Menukarnya dengan segala yang melekat dari kota.

Perlahan kini permukaan air waduk mulai dimandikan oleh cahaya mentari yang dipancarkan dari atas bumi khatulistiwa, mengganti dinginnya kabut yang menusuk dengan hangat yang merengkuh erat. Aku bergegas kembali ke dalam tenda, membangunkan Gama yang masih diam dalam lelapnya sebab semalam ia enggan memejamkan matanya terlebih dahulu jika aku belum mendahului.

Berada di tepi waduk dengan arunika Jogja yang dipantulkan air dan Gama sebagai pelengkapnya, atau malah Gama yang menjadi tokoh utama sedang arunika itu yang menjadi pelengkapnya?

Mungkin jawabannya adalah opsi kedua, Gama sebagai tokoh utama dan terus akan menjadi tokoh utama.

Aku dan segala diagnosa mandiriku, menciptakan keyakinan dan sugesti bahwa lima tahun ke belakang aku baik-baik saja tanpa adanya Gama. Memang betul, aku baik-baik saja dan cukup baik-baik saja.

Namun ternyata diagnosaku dipatahkan oleh kehadiran Gama yang menyeruak kembali tanpa permisi. Penjabaran yang aku tuliskan di atas benar adanya, namun kini aku sadar bahwa jika bersama Gama aku merasa lebih dari sekedar baik-baik saja. Aku yang pengecut memang sengaja menutup indra perihal badai hujan dan topan yang kapan saja bisa menerpa, sebab aku hanya ingin hidup tanpa lara. Aku hanya ingin hidup dan berderma.

Hadirnya Gama sore itu bak berkah tak terduga, membuatku digerogoti rasa tak percaya apakah itu nyata atau halusinasi belaka. Namun malamnya aku tersadar, akan bahunya yang lebar membawaku pada dunia laksana surga yang ku elu-elukan kehadirannya.

“Ganesh, kamu seneng enggak?”

Pertanyaan singkat namun cukup membuatku berpikir dengan susah payah. Sebetulnya lima tahun ke belakang ini aku betulang senang, atau hanya sebuah paksaan yang sengaja aku tanamkan.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Seneng.”

“Kalau kemarin-kemarin? Setelah pisah sama aku dan sebelum ketemu lagi.”

“Kemarin-kemarin yang kamu maksud tuh lima tahun ini, Gam?”

Gama berdeham, aku tak menjawab dan lebih memilih mengulurkan tanganku untuk mengusap dan menata surai Gama yang terlihat acak karena baru saja bangun dari lelapnya.

“Kalau kamu sendiri gimana?” tanyaku yang mengembalikan pertanyaan Gama.

“Seneng tapi beda.”

Aku mengernyit keheranan. “Apanya yang beda?”

“Senengku ketika sama kamu dan enggak, beda.”

“Bedanya apa?”

“Kalau sama kamu rasanya utuh.”

Aku mengangguk dan tersenyum, aku paham apa yang Gama maksud sebab perasaan tersebut juga bersarang dalam sukmaku.

Kembali teringat akan potongan-potongan kisahku bersama Gama, sejujurnya aku sempat bingung apa yang mengharuskan kami berpisah kala itu karena segalanya baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa banyak hal di dunia yang sepertinya memang harus dibiarkan menguap sampai akhirnya mereka punya rumah sendiri. Sampai akhirnya mereka selesai dan tidak perlu menaruh banyak bingung lagi.

“Ganesh, kalau kamu kasih izin, aku mau kita coba untuk lanjutin apa yang sempet ditutup.” ucap Gama dengan tiba-tiba. Bisa ku sebutkan bahwa Gama memiliki sepasang mata bulat yang paling indah di dunia, apalagi ketika ia sedang menyalurkan rasanya pagi ini. Aku bahkan tidak keberatan untuk menatap mata cokelat miliknya meski tanpa berkedip sekalipun.

“Kenapa?”

“Karena selama lima tahun ke belakang ini, aku punya banyak rencana yang enggak terlaksana. Ribuan kali aku secara impulsif pengen pulang ke Jogja tapi baru berani merealisasikan sekarang.”

“Pulangnya kamu ke Jakarta, Gama.”

Gama menggeleng untuk membantah. “Jogja.”

Aku cukup pintar untuk mengartikan untaian aksara demi aksara yang tersusun dengan sembarang, menjadikan potongan-potongan kata yang saling berhubungan menyiratkan penuh makna.

“Ganesh.”

Aku tenggelam dalam perseteruan dalam diriku. Bagaimana semua lagu jatuh cinta yang sering berkumandang di kepalaku selalu mampu menampilkan Gama di setiap untaian liriknya, menjadi penguatnya.

Aku pikir dan aku rasa, aku bersama Gama merupakan dua individu yang tengah menemukan dan mengupayakan pasangan jiwanya untuk kembali ke kediaman satu sama lain yang disebut rumah.