Hal lain yang ingin Noel jelajahi selain hutan Amazon adalah belukar pikir lelaki yang wajahnya terpampang jelas pada layar laptopnya. Benar, pembendaharaan kata yang Noel miliki masih terbilang miskin yang tentunya masih belum mampu mengurai sungai benak Orion yang beranak pinak. Sudah terhitung lebih dari lima menit keduanya hanya bertukar tatap melalui layar laptop, mengikis jarak sesungguhnya yang terpaut berkilo-kilo meter jauhnya untuk merasa tetap dekat dan didekap.
“Hai, Noel!” sapa Orion yang terdengar sedikit canggung, membuat Noel sedikit berdecih dan membalas sapaan Orion dengan intonasi mengejek. Orion terkekeh mendengar Noel yang mendengus, memberikan ejekan kepadanya. “Kenalin, nama gue Iyon.”
Noel seketika masuk dalam permainan Orion, menegakkan duduknya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah kamera. “Kenalin, nama gue Noel.” Memang betul aneh namun tetap dilakukan, kini Orion mengulurkan tangan kanannya bermaksud menjabat tangan yang ada di balik layar laptopnya.
“Ini apa sih? Ceritanya kita reka ulang adegan virtual blind date kemarin, gitu?” tanya Noel akan makna yang ada di balik semua ketiba-tibaan yang Orion lakukan.
Orion mengedikkan bahunya singkat, tangannya bersedekap dan netranya menelisik pahatan demi pahatan profil wajah penuh sarat kebingungan Noel yang membuatnya kepalang gemas. Kaki Orion di bawah sana bahkan saling terbentur, menekuk buku-buku kakinya dan tergerak tak beraturan untuk mengurangi rasa aneh yang membuncah pada dadanya.
“Kita bahas dari topik pertama dulu ya, Noel.” ujar Orion dan menatap layar ponselnya, Noel yang tak tahu maksud apa yang Orion tuju hanya terdiam dan memandangi dengan penasaran. “Oke, jadi di sini telah disebutkan bahwa saudara Noel sudah melakukan rekonsiliasi dengan saudari Mauren. Itu gimana ceritanya?”
Noel menggigit bibir bawahnya berusaha menyembunyikan senyumannya yang seakan tak tahu malu terus mengembang. “Jadi setelah gue matiin telepon lo itu, tiba-tiba Mauren nge-chat gue, kan. Yaudah kita bahas panjang lebar. Lo tau nggak? Gue berani bilang apa yang gue nggak suka tentang Mauren tempo hari.” jelas Noel dengan intonasi yang terus berubah sehingga membuat satu-satunya audiensi itu terasa masuk ke dalam ceritanya. Orion memberikan tepuk tangan singkat sebagai bentuk apresiasi atas keberanian yang Noel ceritakan.
“Berarti udah nih, nggak marah-marahan lagi?” tanya Orion meyakinkan, membuat Noel mengangguk dengan semangat dan menampilkan deretan giginya. “Nah, emang harus begitu, Noel. Lo keren! Terus, topik kedua adalah sepeda. Gimana kaki lo sekarang?”
Noel sedikit memundurkan kursinya, mengangkat kakinya dan mendekatkan ke arah kamera sehingga menampilkan kakinya yang masih terlihat memar dan bengkak pada displai laptop. Membuat Orion di seberang sana meringis, takut jikalau Noel tiba-tiba merasa nyeri dan lain hal. “Enggak sesakit kemarin, tapi kalau kesentuh ya sakit.”
“Yaudah berarti sepedaannya kita masukin ke to do list bagian bawah-bawah aja, ya.” ucap Orion dan mendapat anggukan dari Noel. “Nah, gimana sama harta karun lo?”
Noel tampak sumringah, tangannya tampak memberi postur untuk meminta Orion menunggu di seberang sana. Noel sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melewati laptop, berniat meraih stoples penuh dengan kelereng-kelereng kecil yang sudah ia cuci sore tadi. “Ini! Banyak kan, Yon?”
Orion tersenyum dan mengangguk. “Kapan-kapan kita adu kelereng, ya, El. Tunggu gue pulang. Pokoknya semua yang mau lo lakuin bareng, tunggu gue pulang. Gue bakal cepet pulang dan ngelakuin semua hal yang pengen lo lakuin. Nih, bahkan gue catet biar enggak lupa.” ujar Orion dan menunjukkan catatan pada layar ponselnya, membuat mata Noel terlihat semakin berbinar dan senyumnya yang terus merekah tidak lagi berusaha ia sembunyikan.
“Terus, apa lagi?” tanya Noel dengan penuh penasaran, menunggu pembahasan apa lagi yang akan Orion bawa ke dalam obrolan keduanya.
Orion menarik napasnya dengan serakah dan dalam tarikan yang panjang, mengisi rongga udara pada dadanya dengan penuh dan menghembuskannya. Melakukannya berulang kali dan membuat Noel tertawa renyah di seberang sana. “Ini jawaban dari pertanyaan lo tadi, gue masih bernapas. Makasih udah ngewakilin jawab tadi.” Noel semakin tertawa mengingat pesan-pesan aneh yang telah ia kirimkan sebelumnya ke Orion, dan Orion menjawabnya satu persatu secara runtut.
“Habis itu? Udah?”
Orion menggeleng dengan cepat sebelum akhirnya ia berdeham panjang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ada yang mau gue omongin.”
“Apa?” tanya Noel dan mengangkat kedua alisnya, senyumnya masih setia menemaninya membuat Orion semakin gugup dengan debaran jantungnya yang tak mampu dikontrol untuk lebih tenang.
“Ayo.”
“Ayo apa? Ke mana?” Noel menukikkan alisnya, membuat kerutan pada dahinya penuh sarat pertanyaan.
“Pacaran. Lo sama gue.”
Noel tersedak ludahnya sendiri, terbatuk-batuk setelahnya. Seluruh organnya terasa malfungsi, tak mampu mencerna apa yang ia dengar barusan. “El? Gapapa?”
“Lo gak lihat gue batuk?” tanya Noel ketus di sela-sela batuknya, Orion hanya tertawa dan menyuruhnya untuk segera minum.
“Jadi?”
“Kok mendadak? Nggak diskusi dulu ke gue?” tanya Noel yang kini sudah jauh lebih mampu mengendalikan dirinya. Giginya terus-terusan menggigit bibir bagian dalamnya, sesekali tangannya mengusap rambutnya dengan tak berpola, kedua matanya berusaha melihat manapun selain ke arah kamera dan sosok Orion pada layar laptopnya.
Orion mengangkat alisnya bingung. “Ya masa gue ngajakin lo diskusi dulu? Gue mau nembak lo, bukan ngajakin lo bisnis.”
“Beneran nggak sih?” badan Orion terlempar ke belakang, kedua tangannya menangkup wajahnya, menyembunyikan senyum dan tawanya di balik sana. “Lo mah bercanda!”
Orion menggeleng dengan cepat, kini matanya menatap lamat-lamat wajah Noel pada layar laptopnya. “Beneran, gue serius. Tapi emang gue gak tau gimana ngomongnya dan apa yang harus gue omongin ke lo selain kalimat tadi. Jadi itu, paket yang tadi, gue harap lo paham sama semua yang ada di sana.”
“Emang isinya apa?”
“Nanti dibuka.” ujar Orion dengan intonasi yang pelan dan menenangkan, tak melupakan senyumannya. “Lo mau jawab sekarang atau minta waktu dulu ke gue?”
“Iya, mau.” Noel meletakkan kedua tangannya pada meja, menenggelamkan wajahnya di sana dan menyembunyikan sepaket senyum dan degupan jantungnya yang terus memburu. Takut jika ada satu orangpun yang akan melihat dan mendengarnya. “Gue gak mau minta waktu buat mikir, maunya peluk aja, Iyon.” sambung Noel yang kini sudah berani mengeluarkan separuh wajahnya, terlihat mengintip.
Orion yang mendengar itu hanya tersenyum dan memajukan tubuhnya, mendekap laptopnya beberapa detik lamanya sebagai penyaluran rasa sorak-sorai atas kemenangannya. “Peluk benerannya tunggu ya, El.”
Bersama senyuman dan tawa yang keduanya kirim malam ini, kini telah menjadi bertumpuk rasa ingin bertemu dan sekarung rindu yang sudah dipastikan tiba dengan selamat di sepetak ruang dalam benak keduanya.
Baik Orion maupun Noel, dengan seluruh sisa kewarasannya saat itu mampu menyimpulkan bahwa sosok yang menjadi alasannya tersenyum saat ini merupakan wujud dari segala hal membahagiakan dan menenangkan di seluruh alam semesta dan isinya. Baik Orion maupun Noel, keduanya merasa cukup. Keduanya telah menemukan aksara masing-masing, untuk saling mengisi paragraf-paragraf yang rumpang dan menjadi pelengkap dari apa yang kurang.