Hangat dan menenangkan, setidaknya dua kata tersebut mampu untuk mendeskripsikan dekapan yang sedari tadi tak terlepas dari tubuh Orion.
Orion sadar bahwa kini tubuh yang tengah mendekapnya dengan erat, juga tangan yang tengah mengusap punggungnya dengan irama yang terstruktur, telah memiliki jiwa serta raganya dengan utuh.
Entah dimulai sejak pertama kali ia melihat Noel yang tengah menunggu Mauren saat menjemput Mauren di sekolah, terduduk di atas motornya dan bersenda gurau dengan hangatnya bersama penjual cilok di depan sekolahnya. Sejak konversasi pertama keduanya dimulai saat bertemu Tabi dan Tobi, atau setelah obrolan panjang keduanya via Blind Date yang hingga saat ini masih mampu membuat geleng kepala keheranan akan kebetulan yang tak direncanakan namun sedikit ia rapalkan.
Setiap jiwa memiliki alasannya masing-masing akan tindakannya, termasuk Noel saat ini yang masih terus bergelayut manja pada tubuh Orion di balik kemudinya.
“Aku bau banget, El.” ucap Orion dan berusaha melepaskan Noel dari tubuhnya, membuat Noel menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. Mengaitkan jemarinya, membuatnya terkunci. “Kata kamu tadi jorok, keringet orang abis basketan.”
Noel terkekeh, membuat bahu kiri Orion sedikit bergetar. “Masih wangi. Sebentar lagi deh! Sebentar lagi ya, begini dulu.” Orion hanya menggeleng dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Noel, tangan kanannya tidak absen dari surai Noel yang akan selalu menjadi bagian favoritnya untuk diusap juga disisir.
“Kenapa? Capek ya? Sedih? Khawatir sama Bunda?” tanya Orion dengan runtut, Noel meloloskan dirinya dari pelukan Orion. Menyandarkan tubuhnya pada bangku penumpang.
“Lebih ke sedih, sih. Ayah aku weekend yang diurusin juga tetep kerjaan. Di rumah sakit aja nungguin Bunda nya sambil nyicil kerjaan.”
Orion mengangguk kecil, menyisipkan rambut Noel yang sudah mulai panjang sehingga tak menutupi kedua mata binarnya. “Kata kamu tadi Bunda lagi tidur? Ya enggak apa-apa, dong? Yang penting Ayah ada di sana kan, jadi kalau Bunda butuh apa-apa pasti Ayah langsung berhenti ngerjain kerjaannya. Toh, kerja juga buat kamu, El.”
Noel menggembungkan pipinya sebelum akhirnya menghembuskan napasnya dengan berat. Menurutnya, apa yang dikatakan Orion ada betulnya. Orion hanya terkekeh dan mengacak puncak kepala Noel, membuat Noel mendengus. “Lo tuh, suka banget cari kerjaan buat diri sendiri ya? Diberantakin, dibenerin, diberantakin, dibenerin.”
“Emangnya lo nggak suka, gue elus-elus begini?” tanya Orion dan mengusap surai Noel yang semula berantakan.
“Suka! Elus-elus terus, dong.” timpal Noel dan menyodorkan kepalanya semakin mendekat ke badan Orion, membuat Orion menggerutu dan mendorong kepala Noel menjauh. Noel dengan tawanya yang pecah, membuat matanya menutup dengan rapat dan hidungnya mengkerut lucu.
“El.” panggil Orion ketika tawa Noel mereda. Merasa namanya dipanggil, Noel hanya berdeham dan menatap Orion yang tengah menatapnya lekat.
Dari pancaran mata Orion tersirat banyak makna yang Noel pahami terlampau beda dari tatapan biasanya. Malam ini tatapan itu tersirat keraguan, ketakutan, kesedihan, kekosongan, kesepian, kehancuran, dan segala hal buruk lainnya. Tak ada gembira, juga tak ada ketenangan.
“Sebenernya, ada hal yang aku pikirin akhir-akhir ini.”
Noel tersenyum, tangan kirinya terulur untuk memberi sapuan pelan pada pelipis Orion. Membuat ketegangan pada wajah Orion sedikit mereda.
“Aku tau, sayang. Tapi aku enggak mau nanya karena pasti jawaban kamu akan selalu ”Aku enggak apa-apa, El. Gak ada apa-apa.” yaudah jadi aku diem sambil nunggu kamu cerita aja. Sekarang kamu bilang begini, udah siap cerita ke aku?”
Hening. Orion dengan segala takjubnya akan Noel. Noel nya yang tidak akan pernah mendesak untuk bercerita, Noel nya yang memahaminya, serta Noel nya yang memberinya kesempatan untuk merasa aman dan nyaman.
“Kak Isa lagi ada masalah, tau kan kamu kalau Kak Isa mau coba untuk bisnis? Nah, ternyata ditipu sama temennya. Masih diurus sih sekarang.”
Noel mengangguk paham. “Kena berapa?”
“Gak tau pastinya karena tiap aku tanya gak mau jawab, tapi jelas gede sih. Karena dari semua cerita Kak Isa selama ini tentang progres bisnisnya, aku denger itu bisnis yang gak kecil. Aku mau bantuin tapi nggak tau harus ngapain. Kemarin waktu aku sering bangun kesiangan karena malemnya nemenin Kak Isa. Makin kurusan deh dia.”
Kalau diperbolehkan untuk jujur, Noel pun sama bingungnya dan kurang paham akan masalah ini. Satu-satunya yang bisa ia berikan saat ini atas cerita Orion adalah tepukan pelan pada kepala Orion serta senyuman penuh rasa hangat yang dengan penuh harap mampu hinggap menyelimuti Orion.
“Dengan kamu temenin begitu juga Kak Isa udah merasa dibantu, sayang. Kalau kamu merasa Kak Isa kurusan, bisa tuh kamu sesekali ngirimin makan. Pasti Kak Isa bakal seneng banget!”
“Gitu?”
“Gitu.”
“El.”
Lagi-lagi Noel berdeham panjang sebagai jawaban, ibu jarinya mengusap alis kanan Orion yang tengah memejamkan matanya dengan tenang.
“El.” panggilnya sekali lagi sembari membuka matanya, pertama kali yang dapat Orion tangkap adalah senyuman Noel yang tak luntur saat menatapnya. Senyuman paling hangat dan paling candu, senyuman favorit yang selalu ia elu-elukan.
“Yon.”
“Noel.”
“Iyon.”
“Noel!”
“Siap, saya!” jawab Noel dengan tegas dan tubuhnya yang tegap, tangan kanannya pun telah berlagak memberi hormat.
Keduanya tertawa dan Orion rasa sebagian hal yang mengganjal di dalam benaknya telah luruh saat itu juga, bersamaan dengan tawa Noel yang terus menyeruak masuk ke dalam telinganya dan berusaha ia rekam dengan apik dalam ingatannya.
Orion melirik ponselnya sekilas. “El, ayo cepet-cepetan sampai rumah.”
“Gue yang menang, lah! Orang tinggal turun dari mobil lo terus masuk ke gerbang.”
Orion tersenyum. “Enggak, gue yang menang.”
Noel mendengus dan mengerucutkan bibirnya. “Nggak lucu kalau lo gas mobilnya sekarang terus culik gue ke rumah lo, mentang-mentang nggak ada Ayah sama Bunda gue.”
Alih-alih menjawab, Orion menggunakan telunjuknya, ia arahkan pada Noel yang tengah mengangkat kedua alisnya dan menggantungkan tanda tanya besar pada guratan dahinya.
“Lo.”
“Apa?”
“Rumah gue.”
Tak tahu harus bereaksi apa atas pernyataan mutlak yang Orion berikan, Noel hanya memainkan bibirnya dan melemparkan tatapannya ke arah manapun. Selain manik mata Orion.
“Lo beneran gak mau mampir dulu?” tanya Noel setelah memangkas seluruh rasa salah tingkah yang menggerogoti rongga dadanya.
Orion menggeleng. “Udah malem banget, bisa-bisa nggak mau pulang gue.”
“Yon, sebelum lo pulang ada yang mau gue kasih tau ke lo.”
“Apa, Noel sayang?” tanya Orion dengan tatapannya yang menatap Noel lamat, tangan kirinya memberikan sapuan pada pipi kanan Noel.
Ini bukan kali pertama Orion menyerukan namanya dan disandingkan dengan embel-embel sayang setelahnya, namun Noel tetap merasa gugup. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, menggigit bibir bagian dalamnya sesekali guna menyembunyikan rasa gugupnya.
“Emang wajar untuk kamu ngerasa sedih atau bingung sama masalah Kak Isa, kamu ngerasa khawatir juga wajar banget. Tapi aku harap kamu lebih bisa memisahkan mana yang menjadi urusan kamu dan yang bukan. Ini di luar kendali dan tanggung jawab kamu, Iyon. Aku rasa Kak Isa pun maunya kamu fokus aja sama sekolah kamu, sama basket kamu, sama hal-hal yang jadi kewajiban kamu.”
“Iya, Noel.”
“Belajar untuk lebih saring emosi kamu, sayang. Mana yang memang jadi masalah dan harus kamu urus dan mana yang bukan. Ibarat kamu cuma mampu menanggung dua luka, tapi kamu memaksa diri kamu sendiri untuk menanggung empat. Ya mana bisa? Jangan jahat-jahat sama diri sendiri.”
“Iya, sayang.”
“Iya iya doang kamu mah, tapi nggak paham.”
“Siap, paham!” lantang Orion dan memberikan hormat ke arah Noel yang tengah tertawa kecil atas respons yang ia berikan.
“Kamu suka gak kalau aku cerita ke kamu?” tanya Noel, kedua tangannya ia gunakan untuk membetulkan tali sepatunya yang terasa longgar.
“Suka, suka banget. Aku ngerasa dipercaya dan dianggap.”
“Iya, aku juga ngerasa begitu setiap kamu cerita.” ucap Noel tepat setelah talinya terikat dengan kencang.
Noel bubuhkan kecupan singkat pada pipi kiri Orion sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Orion yang diam tak bergeming dengan matanya yang terus mengikuti setiap langkah Noel yang semakin menjauh dan presensinya dilahap oleh jarak.
Ketika semua orang ingin bercerita mengenai suatu keindahan dan kebahagiaan, mereka akan memiliki serta memilah diksi yang indah sehingga akan mampu mereka tuangkan membentuk kalimat yang tersusun padat dan merayap, namun bagi Orion, hanya nama Noel lah diksi nyata yang lebih cukup dari segalanya.