Hujaman air hujan yang dikirim oleh langit membuat cacing-cacing di dalam perut berontak lebih ganas. Memaksa Orion dan Noel menembus curahan air dari langit yang masih rintik. Dua pasang kaki yang berbalut sepatu sekolah pun menghasilkan bunyi keciprak di atas trotoar yang sedikit menggenang.

Sebuah warung bakso kecil yang terletak di tepi jalan pun tak luput dari serangan hujan dan angin, dengan kepulan asap dari kuah bakso yang sangat panas membuat para pelanggannya tak memberi atensi sedikitpun kepada hujan dan angin yang terus-terusan menghantam, meminta untuk diperhatikan. Namun tidak dengan Noel, lelaki itu justru menaruh seluruh atensinya kepada dua buah plastik berisikan air dan ikan adu siam yang beberapa waktu lalu Orion belikan.

Berulang kali Orion menjentikkan jarinya di depan wajah Noel, membuat Noel sedikit terperanjat saat atensinya berhasil ditarik oleh lelaki dengan hoodie nya yang terlihat sedikit basah sebab keduanya sempat menerjang rintik hujan untuk dapat mendudukkan diri mereka di tempat saat ini keduanya berada. Orion mengulas senyumnya dengan sangat apik, kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya dan menatap lamat-lamat pahatan wajah Noel berniat menyalurkan rasa nyaman untuk Noel di seberangnya.

“Mau dinamain siapa, El?”

Noel berdeham panjang, jemarinya mengetuk meja dengan irama konstan. “Kenzo sama Kenzi.”

Orion mengernyit. “Ya jangan bagus-bagus, itu mah sama nama gue bagusan nama dia.” Noel mendengus sebal.

“Tadi mau gue namain Saipul sama Jamil lo malah nggak mau beliin!”

Pukulan kecil Orion daratkan pada puncak kepala Noel. “Ya jangan Saipul sama Jamil juga.”

“Ih ribet banget perkara nama aja.”

“Biarin orang belinya pakai duit gue.” ujar Orion dan menjulurkan lidahnya sekilas sebelum akhirnya memalingkan sedikit tubuhnya untuk menghadap ke pemilik warung bakso dan menerima uluran dua mangkuk berisikan bakso dengan kepulan asap dan dua gelas teh hangat yang telah keduanya pesan setibanya di sana. Noel hanya menampilkan deretan giginya kemudian bibirnya turut mengucapkan terima kasih kepada pemilik warung bakso yang segera menarik diri dari meja Orion dan juga Noel.

Tangan kanan Noel sibuk mengaduk teh hangat dengan asap yang sedikit mengepul, memperlihatkan perbedaan suhunya dengan suasanya saat itu. Baik Orion pun Noel, keduanya disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Noel yang sesekali mencuil pangsit goreng milik Orion, membuat Orion mendengus dan menampilkan wajah kesal yang sengaja ia buat hanya untuk membuat Noel nya terkekeh.

“Udah kenyang belum?” tanya Orion sebelum akhirnya menyeruput teh manis yang tidak lagi panas. Noel menggeleng pelan, tangan kanannya terulur menarik satu lembar tisu guna menyeka keringat yang muncul dan membuat kening Orion lebih lembab. “Gue pesenin lagi?”

Lagi-lagi Noel menggeleng. “Enggak mau juga, nunggunya lama pasti.”

“Ya nggak apa-apa kan masih hujan ini lagian, nggak bisa balik ke sekolah lo sekarang.” ujar Orion, dagunya mengarah ke arah luar warung yang menampilkan hujan kian deras.

“Lo gimana dong nanti basketnya?”

Orion mengedikkan bahunya singkat. “Biasa kalau hujan begini mah cuma lari doang di lorong-lorong sekolah. Jadi nggak ada latihan, cuma fisik doang. Lo gimana tuh kumpul OSIS? Bentar lagi udah jam tiga. Gue pesenin Grab Car ya?”

Noel menggeleng. “Nggak usah lah, kumpulnya juga cuma kumpul doang bahas mingguan ini. Enggak ada hal yang penting, tenang. Gue izin ke temen gue aja nelat.”

“Maaf ya.”

“Gapapa anjrit mana tau juga kan kalau bakal hujan.”

“Jadi mau dipesenin lagi nggak?” Noel hanya menggeleng tanpa memalingkan wajahnya barang sedetik dari kedua plastik berisikan dua ekor ikannya. “Besok gue mau ambil ID card ke GOR.”

“Gue juga, pulang sekolah langsung ke GOR bareng Jihan. Oh, Jihan ini temen gue, dia ikut jurnalis.”

Orion mengangguk singkat. “Mau bareng?”

“Enggak deh, gue udah janji sama Jihan nebengin dia. Eh, nggak apa-apa kan?”

“Ya nggak apa-apa, El.” Noel mengacungkan ibu jarinya dan menampilkan senyum sumringahnya. “Jangan dilihatin doang itu ikannya, nanti diurus yang bener. Awas aja besok pagi udah mati.”

“Jangan meragukan kemampuan gue bisa gak?” Orion terkekeh melihat kerucutan pada bibir Noel acap kali ia protes. “Berarti list nya dicoret lagi dong, Yon? Lama-lama habis deh.”

“Nanti lo pikir lagi mau nambah apa lagi. Semuanya yang mau lo lakuin bareng gue, ayo kita lakuin.” ucap Orion dan menepuk puncak kepala Noel sekilas sebelum akhirnya ia berdiri berniat untuk membayar bakso dan teh yang telah keduanya habiskan.

Orion yang tengah menunggu dua orang di depannya pun melempar pandang ke arah Noel yang menopang dagunya dan menatap ikan-ikannya, sesekali ia ajak bicara dengan berbisik. Orion menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan, bermaksud menyembunyikan senyumannya karena tingkah Noel yang membuatnya merasa gemas setengah mampus.