Jatuh dan Patah
Elakshi Jelita
Namaku Elakshi Jelita, dan hanya itu satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku yang masih tersemat utuh pada diriku. Enggan untuk aku lepas juga aku tebas.
Menjadi remaja perempuan yang tumbuh tanpa sosok orang tua sedarah membuat pondasiku kini terbangun lebih kokoh, tidak mudah roboh. Dan pada halaman ini, aku ingin bercerita mengenai salah satu upaya dunia untuk membuat pondasiku rumpang dari sekian banyak kepingan yang bercecer sebab tangan serta raga yang tak mampu lebih lama menopang.
Seperti kebiasaan ku sejak dulu, jendela menjadi satu-satunya titik favorit untuk disambangi ketika langkahku dalam berproses menjadi orang dewasa dihadang oleh masalah. Alih-alih menyantap hidangan yang saat ini seharusnya aku nikmati, netraku memilih untuk melemparkan pandangnya ke keadaan di luar. Kepada oang-orang yang berlalu-lalang dalam penglihatan.
Aku paham betul akan fakta bahwa mereka sama halnya dengan ku, memiliki masalahnya masing-masing yang bersarang dan tumbuh dengan liar. Dari sorot lampu yang terkadang menyapu wajah mereka, dapat aku lihat bahwa sebagian orang membawa masalahnya dengan enteng, sebagian lainnya membawa dengan wajah kuyu. Dan aku termasuk ke dalam golongan kedua.
Hanya beberapa menit pertama yang aku berikan untuk mengobservasi mereka yang tengah berlalu-lalang melalui jendela. Selebihnya pandangan ku hanyalah pandangan kosong sebab aku telah tertarik sepenuhnya, larut tenggelam ke dalam salah satu keping cerita akan sayunya asmara.
“Kenapa enggak dimakan, Ta?” tanya Ayah di sela-sela makannya, membuatku menarik utuh lamunanku dari jalanan yang sarat akan orang-orang dan kembali ke atas meja.
“Ita mau makan yang lain?” tanya Papa, tangannya menaruh garpu dengan tenang untuk memberikan atensinya kepadaku seutuhnya. Tangannya bersedekap di atas meja, punggungnya sedikit merunduk dan menatapku penuh akan afeksi untuk terus disalurkan.
Aku menggeleng pelan sebagai jawab. “Enggak kok, Pa. Ini mau dimakan.” timpalku diakhiri dengan menunjukkan senyum yang menampilkan deretan gigiku.
“Yaudah dimakan, Ita. Makan yang banyak.”
Papa tersenyum dan menyelipkan anak rambutku yang panjang ke belakang telinga sebelum akhirnya kembali meraih garpunya dan memastikan aku memasukkan suapan pertama pada mulutku.
Padahal jika benangnya diluruskan untuk menjumpai tiap noktah yang urut, aku bukan bagian dari mereka juga bukan apa yang diharapkan untuk ada. Namun Ayah dan Papa, sosok yang memberikan aku ruang penuh cinta. Memberikan paham akan sarat makna keluarga, menjaga aku bak harta paling berharga.
Mungkin aku memang handal untuk mematri paham akan aku baik-baik saja dan akan terus begitu dalam benakku, namun raut wajah serta laku ku kurang ahli untuk tak menumpahkan sarat makna di atasnya.
“Ita tumben diem mulu? Kayak lagi sariawan.” ucap Ayah dari balik kemudi, netranya melirikku yang terduduk di jok penumpang belakang dari kaca spion.
“Ita capek?” tanya Papa, kepalanya ia tolehkan ke arahku. “Atau sakit? Udah mulai bulanan?”
“Belum, di aku belum ada notifikasinya. Nih masih jauh juga.” timpal Ayah dan menyodorkan ponselnya, menampilkan aplikasi untuk menstruasi yang sengaja ia pasang sejak kali pertama aku mendapati fitrahku sebagai perempuan.
Aku terkekeh dan menggeleng. “Belum, Papa.”
“Terus kenapa?” tanya Ayah dan mulai melajukan kembali laju mobil tatkala lampu hijau telah memancarkan nyala.
“Ita kalau capek karena kebanyakan ikut les, enggak apa-apa kalau mau minta berhenti. Nanti Papa yang urusin.”
“Bukan, lagian kan Ita sendiri yang minta. Tapi emang bukan itu alasannya, Pa.”
Papa mengangguk dan kembali menatap lurus. “Nanti kalau ada apa-apa yang ganggu pikiran Ita dan pengen cerita, cerita aja. Tapi kalau Ita emang bisa sendiri atau belum bisa cerita juga enggak apa-apa, Papa sama Ayah enggak maksa. Yang penting Ita nya paham kalau ada Papa sama Ayah.”
Dulu sewaktu di panti, kendati diperhatikan, eksistensiku dianggap pun jarang. Aku tertegun dan meneguk ludahku dengan susah payah, bertemu dengan Ayah dan Papa adalah salah satu keajaiban yang aku percaya sebagai permintaan maaf semesta akan orang tuaku yang entah ada di mana.
“Pa..”
Papa berdeham, fokus yang sebelumnya ia lempar pada ponsel pun dialihkan begitu saja saat aku memanggilnya. Papa dengan segala perhatian serta lakunya yang memberikan aku contoh untuk menghargai lawan bicara. “Apa, Ita?”
“Papa pernah patah hati, enggak?”
Papa bergumam panjang, kepalanya kini kembali ia tolehkan ke arahku. Menatap manik mataku dengan telisik. “Ya pernah, Ta.”
“Ita lagi suka sama orang?” tanya Ayah yang sedari tadi tak memasukkan dirinya ke dalam obrolan. Intinasi suaranya terdengar lebih tegas dan berat, membuatku menggigit kecil bibir bawahku supaya gugup dapat dipangkas.
“Iya.”
“Siapa, Ta?” tanya Ayah dan memelankan volume radio yang sedari tadi menyeruak penuh.
“Temen sekolah Ita. Sama-sama anak OSIS, Haidar yang waktu itu ke rumah.” timpalku, Papa mengulum senyumnya saat melihatku terlihat gugup. “Tapi enggak pacaran kok, Ayah.”
“Pacaran juga enggak apa-apa, Ita. Asal orangnya bener.” timpal Ayah, sekilas menengok ke arahku yang tengah mencebikkan bibir dan mengguncang kecil kakiku sembarang tanpa tempo konstan.
“Tapi orangnya enggak suka sama Ita.”
“If he doesn’t like you back it’s his loss, don’t waste your time and energy on him.” ucap Ayah dengan menatapku melalui kaca spion.
“Betul tuh kata Ayah.” ucap Papa menimpali.
Aku menghela napas dengan pelan, menyandarkan tubuhku ke penyandar. “Tapi ternyata cinta-cintaan tuh sakit ya, Pa. Besok-besok enggak lagi deh.”
Papa terkekeh. “Ita, dengerin kata Papa.”
Aku mengangguk kecil dan menatap Papa. “Ada kalanya apa yang kita mau dan kita suka enggak seharusnya buat kita, Ita. Mungkin untuk sekarang Ita sengaja dipatahkan dulu hatinya, biar nanti lebih siap untuk ada di hubungan yang lebih baik sama orang yang lebih tepat.”
“Ketika Ita udah mulai menjatuhkan diri ke seseorang, Ita harus siap nerima segala konsekuensinya. Ini salah satunya. Penolakan, dipatahkan, itu juga bagian dari proses Ita jadi perempuan dewasa yang lebih kuat.” sambung Papa, aku masih diam termangu mendengarkan sedang Ayah dengan damai mengendarai laju mobil dengan kecepatan sedang yang konstan.
“Ita, kamu ini masih kelas sembilan. Bukan maksudnya cinta-cintaan itu harus ada ketika kamu udah gede, bukan loh ya. Maksud Papa, jalan Ita masih panjang banget untuk ketemu sama banyak orang-orang baru. Just because he was your first love, doesn’t mean he’s your only love.”
Aku mengangguk kecil dan tanpa dititah, aku kini menorehkan senyum. “Sebenernya tadi Ita mikir, Ita enggak selayak itu untuk disayang. Dulu tempat yang seharusnya jadi ruang cinta pertama Ita, malah pergi gitu aja. Sekarang, lagi-lagi Ita harus ngerasain gimana jadi seseorang yang enggak diinginkan.”
Ayah menoleh. “Terus Ayah sama Papa apa?”
Aku terkekeh. “Iya, setelah ngobrol sama Ayah sama Papa ternyata Ita sadar. There are too many things I’m grateful about. Please know that I love you, Ayah, Papa juga. Thank you for showing me that love still exists.”
“Anak kamu tuh udah gede.” ucap Ayah kepada Papa, dagunya ia gunakan untuk mengarah kepadaku.
“Iya emang anak aku.”
“Anak aku juga.”
“Tadi katanya anak aku?”
“Aku juga.”
“Ita anak siapa?” tanya Papa kepadaku yang sedari tadi mengulum senyum dan melempar pandang secara bergantian ke Ayah dan Papa.
“Anak Papa, orang tadi Ayah bilangnya gitu.” suara penyiar radio pun tertutup oleh sorakan Papa setelah mendengar jawabanku.
Lagi-lagi, Ayah dan Papa adalah sosok yang menyembuhkan aku dari luka yang ditorehkan semesta. Segala runtutan petuah dari Ayah juga Papa kini tertanam pada belukar pikirku, akan aku siram juga aku pupuk sebagai pegangan juga bekal di jatuh cinta selanjutnya.
Jatuh dan patah kini adalah hal yang lumrah. Lewat semesta, ia menyampaikan akan apa yang sebenarnya. Tak perlu disesali apa yang telah terjadi, dan bersiaplah untuk merasakan bahagia di jatuh cinta yang selanjutnya.