Junio.
Hujan dan Kekalahan Milik Junio.
Sepiring nasi goreng yang baru saja diangkat dari wajan bertengger di atas telapak tangan kiri gua dengan panasnya sehingga memunculkan kepulan asap akibat perbedaan suhu yang kontras dengan atmosfer malam ini.
Gua mengendus-endus kecil, kegirangan akan wanginya yang semakin membuat perut gua terasa kosong melompong. Orion yang terduduk di sebelah kiri gua sudah terlebih dahulu memasukkan suap demi suap nasi goreng ke dalam mulutnya, seakan tak menaruh atensi akan aromanya.
“Dimakan, jangan cuma dicium-cium. Mana ada kenyang kalau begitu.” ujar Orion dan membuat gua terkekeh, bak sedang diperintah tangan gua mulai menyendok butir-butir nasi pada piring dan memakannya.
“Lu berarti pindahannya besok?”
“Iya, enggak mungkin langsung sekarang. Barang-barang gua masih di rumah, toh udah malem juga.”
“Asik jadi bisa nebeng kalau ke sekolah.”
Orion tertawa. “Kalau enggak kebetulan bareng Noel, sabi sih.”
Hanya dentingan antara sendok yang bertubrukan dengan sisi piring yang menjadi pengisi celah antara gua dan Orion saat ini. Sesekali mata gua melirik, melihat bagaimana Orion yang akan meringis ketika permukaan sendoknya menyentuh lapisan kulit pada sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan yang gua layangkan sepulang sekolah tadi.
“Harusnya tadi lu tonjok gua balik, Yon.” ujar gua dengan suara yang terseret, merasa sedikit menyesal karena meluapkan emosi yang segitunya.
“Kan gua udah bilang, enggak akan nonjok lu balik karena memang gua salah.” jawab Orion dengan sedikit membungkukkan badannya, menaruh piring bekas nasi gorengnya di bawah bangku plastik berwarna hijau yang ia duduki.
“Keren kan lu jadinya, bisa ngalahin gua padahal Jordan aja enggak.” lanjutnya sebelum akhirnya menegak teh panas yang sesekali ia tiup-tiup kecil guna meredakan panasnya.
“Keren apanya? Orang akhirnya gua kena tonjok cowok lu langsung K.O.” Orion tertawa sebagai balasan atas ucapan gua yang terdengar sedikit mengeluh.
“Kecil-kecil gitu tenaganya gede.” gua hanya bisa mengangguk setuju dan ikut tertawa bersama Orion. Betul apa katanya, Noel memang terlihat lebih kecil dibandingkan gua pun juga Orion.
Setelah selesai pada suapan terakhir nasi goreng yang ada di piring, gua menunduk dan menaruh piring bekas nasi goreng tersebut di bawah bangku plastik yang gua duduki. Sama seperti apa yang Orion lakukan sebelumnya.
Orion, seutas nama yang membuat gua dengan senang hati akan menceritakan ketangguhan serta kebaikannya. Kalau ditanya, apakah gua pernah menaruh rasa pada sosok Orion yang gua sebutkan sebelumnya? Gua akan menjawab ya dengan lantang, namun memang tidak ada yang pernah bertanya juga tak akan ada yang pernah tahu akan rasa yang gua pendam rapat-rapat.
Sejak kali pertama gua bertemu dengan Orion, menjadi satu tim basket bersamanya, enggak pernah terlintas dalam benak gua untuk menaruh rasa serta harap kepadanya.
Meskipun gua merupakan anggota OSIS pada saat itu, gua bukan orang yang populer di sekolah layaknya Luke dan Marvel. Bukan juga orang yang dielu-elukan parasnya seperti Rios, juga bukan orang yang dikenal membawa banyak ceria seperti Svarga. Gua terlampau bawah dan tak terlihat, tak pantas untuk Orion yang masuk ke dalam ketiga kategori yang ada.
Sampai akhirnya hal tersebut benar-benar terjadi, gua enggak paham kapan pastinya tapi yang gua tau jauh dalam diri gua merasa patah ketika mengetahui Orion memiliki Noel yang kini dia sebut rumah.
Bagaimana Orion menurunkan Rios di gang depan untuk segera memastikan Noel yang ia lihat sebelumnya tengah terduduk sendirian di trotoar lekas mendapat pertolongan. Bagaimana Orion yang sigap dan penuh kekhawatirannya ketika Noel kehujanan untuk sampai ke warung belakang, atau bagaimana pancaran senyum yang Orion tunjukkan selama lesakkan pertama Noel di warung belakang kala itu.
Pancaran sendu pada kedua manik matanya pun sudah tak ada lagi, Orion yang sekarang jauh lebih hangat dan hidup dari Orion sebelumnya. Gua senang akan hal itu, akan fakta di mana Orion menjadi manja kepada orang-orang tertentu dan menjadi sangat perhatian kepada orang terkasihnya. Gua akhirnya mengenali Orion yang sesungguhnya.
Semua telah menjadi deskripsi atas kekalahan telak yang gua dapatkan.
Sebut gua sebagai hujan yang ingin hidup berdampingan bersama pelangi, tetapi semesta tak merestui. Kata semesta, pelangi terlalu indah untuk hujan yang terlampau menyedihkan.