Kantin fakultas teknik setelah jam makan siang terlihat lengang dan sepi. Beberapa menu sudah habis, sisanya tak begitu menggairahkan lagi. Dari banyaknya meja yang berjejer, segerombolan lelaki dengan sebatang cerutu yang terselip di jarinya masing-masing dan rambut yang terlihat acak memilih untuk mendudukkan diri secara lesehan di lorong sebelah gang kecil pada ujung kantin. Buku tebal bergaris serta penggaris dan pulpen bertinta hitam yang berserakan menjadi pelengkapnya.

Sepasang kaki Jasean yang dibalut sepatu dengan sedikit motif pada sisinya terhenti dan turut melesak ke dalam lingkaran, membuat beberapa lelaki yang sedari tadi ricuh kini mengunci mulutnya.

“Selamat pagi, saudara Sean!” seru salah satu lelaki dengan kaus hijau lumutnya.

“Udah siang, Der.” timpal Jasean dan menggeleng kepalanya kecil merasa terheran.

“Kalau lihat lo rasanya pagi terus, cerah banget masih belum kucel.”

“Pacar gue, bangsat!” seru lelaki yang tengah mematikan nyala cerutunya dan menepuk sisi kanannya dengan pelan, bermaksud mempersilahkan Jasean untuk duduk di sana.

Lelaki yang menyandang nama Derian tersebut terkekeh. “Diumumin ke seluruh dunia dong kalau pacaran, nanti ada yang ambil galau setengah mampus.”

Jasean hanya berjalan menunju lelaki yang sempat menepuk sepetak lantai di sampingnya guna menitah Jasean untuk duduk di sana, sengaja mengabaikan atau berusaha tak memberi atensi pada guyonan Derian yang diloloskan begitu saja.

“Kok sendirian?” tanya Dabio, kekasih Jasean, tangannya merogoh sebuah ransel yang memuat banyak barang di dalamnya. “Mau lanjut ngerjain di mana, Se?”

“Risang udah pulang, kurang enak badan katanya.” tangan Jasean menerima uluran laptop yang sudah disodorkan kepadanya. “Kamu masih lama di sini?”

“Lo kalau mau ikut nugas di sini ya kerjain aja, Se. Gue masih lama di sini.” celetuk Gio, lelaki dengan balutan kaus putih yang tengah melepaskan kacamata baca yang sebelumnya bertengger pada batang hidungnya.

“Gio mah emang juru kunci sini, Se.” timpal Derian, membuahkan lemparan pulpen dari Gio ke arahnya.

“Aku sebentar lagi ada kumpul himpunan.” ucap Dabio dan melirik arloji yang melilit pada pergelangan tangan kirinya. “Kamu kalau mau ngerjain di sini enggak apa-apa, masih ada mereka.”

“Gapapa?”

“Gapapa.” jawab Dabio, tangannya sempat mengusak puncak kepala Jasean sebelum memasukkan barang bawaannya ke dalam ransel. “Ayo, Dam, Cak. Keburu dimulai rapatnya.”

Kedua lelaki yang sedari tadi diam dan menaruh fokus penuh pada bukunya pun kini hanya membuang napas dengan berat, tangannya mengukuti barang bawaannya masing-masing.

“Dikit-dikit rapat dah.” keluh Sadam, seorang lelaki dengan kemeja flanel yang lengannya sengaja dilinting hingga ke siku.

Selepas presensi Dabio, Sadam, dan Cakra yang termakan oleh jarak, kini menyisakan Jasean dengan laptop pada pangkuannya, Gio dengan lututnya yang menekuk sebagai tumpuannya dalam menulis, serta Derian yang lebih memilih menelantarkan buku tebalnya dan memainkan ponselnya dalam hening.

“Tugas apa, Se?”

“Tugas broadcasting gitu, Gio.” jawab Jasean sekenanya, tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar laptopnya. Gio hanya mengangguk, netranya turut mengamati langkah demi langkah yang Jasean lakukan pada tugasnya. “Lo udah selesai?”

“Tinggal sedikit.” ucap Gio, tangannya secara otomatis memiringkan bukunya dan membuat Jasean mau tak mau mengintip laporan praktikum yang tengah Gio garap.

“Buruan diselesaiin.”

“Santai, dia aja malah tidur.” ujar Gio, dagunya mengarah kepada Derian yang sejak tadi tengkurap di lantai dengan ponselnya yang masih menyala membuat Jasean terkekeh. Entah sejak kapan Derian mulai terpejam dengan napasnya yang tenang bak tidak memiliki tugas yang ia pikul pada punggungnya.

“Lo bawa motor?” tanya Gio, tangannya meraih sebuah cangkir besar yang dibubuhi dengan embun atas es di dalamnya yang sudah mulai mencair.

“Enggak, gue kira bakal pulang bareng Bio. Semalem dia bilang mau ngajakin jalan, tapi kayaknya dia lupa. Toh dia ada kumpul himpunan, gue juga masih harus nyelesaiin ini.”

Gio hanya mengangguk dan menyodorkan cangkir yang sebelumnya telah ia minum ke arah Jasean. “Minum dulu, sejak lo duduk belum minum.” Jasean tersenyum simpul dan menerima sodoran Gio, sempat mengucap terima kasih sebelum mulai meneguk isinya.

“Bareng gue aja pulangnya.” ucap Gio lirih, terdengar ragu akan respons Jasean. Entah ia merasa bersalah karena menawarkan diri untuk mengantar pulang kekasih temannya atau entah ia merasa takut akan tolakan yang sudah berlari-lari dalam bayangannya.

“Gapapa?”

“Gapapa.”

“Boleh, sekalian mampir ke toko alat tulis bisa gak? Ada yang mau gue beli.” ujar Jasean dan menampilkan deretan giginya.

“Ya.”

Dengan segera Gio menundukkan wajahnya, memandangi bukunya yang dipenuhi oleh garis demi garis yang sebetulnya tidak semenarik itu untuk dipandang ketika di sampingnya ada Jasean yang tengah tersenyum lebar dengan mata berbinar menatapnya, gambaran tersebut jelas-jelas sangat menarik bagi netranya. Namun ia tetap memilih memandang apa pun itu yang ada di dalam bukunya, bermaksud menyembunyikan degupan jantungnya serta sorak-sorai dalam relungnya.