Kerikil di halaman rumah Noel berderak ketika langkah kaki Orion memijaknya, mengusak mereka untuk bergegas membetulkan beberapa pot bunga yang ambruk. Setelah pot-pot dengan bunga yang melambai di atasnya tersusun kembali dengan rapi, Orion berdiri dengan kedua tangan menenteng dan memindai dari ujung ke ujung memastikan tidak ada pot yang tergeletak tak berdaya.

Sapaan hangat dari Bunda Noel bergegas menyelimuti sukma Orion tatkala ia menginjakkan kakinya di ruang makan. Bunda dengan dasternya yang terlihat elegan dan rambut panjangnya yang sengaja diikat lekas menarik salah satu kursi yang tertata, menitah Orion untuk turut mendudukkan dirinya. Tidak ada yang bersuara baik Bunda, Noel, pun Orion. Hanya suara dentingan yang ditimbulkan piring dan sendok yang terus beradu, cukup menggambarkan betapa khusyunya mereka dengan hidangan yang telah Bunda siapkan.

Setelah rampung dengan acara makan malam, kini Orion kembali melesakkan dirinya ke dalam bilik kamar Noel. Ini baru kali keduanya menjejakkan kaki di ruangan ini namun sudah terasa familier, mengenai kebiasaan Noel yang selalu meletakkan tas sekolahnya dengan sembarang pada pojok meja belajar atau kunci motor yang akan selalu Noel gantungkan pada sudut wajah meja belajarnya.

Noel memungut buku-bukunya yang berserakan di kasur dan meletakkannya di atas nakas samping kasurnya.

“Udah selesai ngerjainnya?” Noel mengangguk dan membaringkan tubuhnya dengan kedua kakinya yang masih terjuntai di lantai, tangannya berulang kali menekuk jari-jarinya secara bergantian membuat bunyi. “Habis makan tuh jangan tiduran dulu, El.”

Noel hanya terkekeh dan menganggap teguran Orion sebagai angin lalu, sama sekali tak mengindahkannya. Orion hanya menggeleng pelan dan mendudukkan diri di antara kedua kaki Noel. Noel dengan perlahan mendudukkan dirinya, tangannya mengusap surai Orion dengan penuh kehati-hatian yang bersarat perhatian. Orion menyandarkan punggungnya pada bagian dalam kaki kiri Noel, kepalanya ia letakkan pada paha Noel.

Netra keduanya bertemu tatkala Orion mendongak sedang Noel menundukkan wajahnya masih dengan kegiatan baru yang menjadi favoritnya; mengusap rambut Orion dengan gerakan konstan. “Gimana sama hari ini, Iyon?”

Orion dengan susah payah menahan nyawanya agar tak keluar dari raganya saat itu juga, memandang wajah Noel yang kini tengah tersenyum dengan hangat dari bawah sini merupakan salah satu hal baru yang langsung dapat ia masukkan ke dalam daftar kesukaannya. “Nggak gimana-gimana, semuanya baik-baik aja.”

“Nggak ada yang bikin kesel, kan?”

“Sebenernya ada, tapi bukan hari ini.”

Noel mengangkat kedua alisnya melambangkan sarat pertanyaan. “Terus kapan?”

Orion memejamkan matanya, kepalanya masih merasakan usapan-usapan pelan dari tangan Noel. Ia pun berdeham panjang, seolah berusaha mengingat. “Semalem?”

Noel memasang wajah ibanya. “Kenapa?”

“Nggak jadi ke sini semalem. Terus gue cemburu, sama Mauren.” adunya diakhiri dengan kerucutan kecil pada bibirnya yang sebetulnya Orion pun tak menyadari akan hal itu. Satu lagi, satu lagi sifat Orion yang tak pernah Noel lihat sebelumnya kini berhasil ia jumpai.

Noel menggigit bibir bagian dalamnya, menyalurkan kegemasannya atas Orion. “Oh? Jadi semalem cemburu ke Mauren?”

Orion mengedikkan bahunya, kedua tangannya pun bersedekap di depan dadanya. “Nggak tau.”

Noel hanya membungkukkan badannya, kedua tangannya kini merengkuh tubuh Orion dan memeluknya dengan erat. Tangan kanannya ia gerakkan menyusur punggung Orion dengan gerakan yang konstan, sesekali memberikan tepukan pelan.

“Maaf ya, Iyon.” ujar Noel dan bergegas ingin melepaskan rengkuhannya namun tangannya merasa ditahan.

Orion menggeleng dengan singkat. “Nanti dulu dilepasnya. Masa cuma tiga kali peluk, sekalinya peluk sebentar banget.”

Noel memberikan pukulan yang terbilang cukup kencang pada pundak Orion, membuat yang dipukul gaduh. “Kok dipukul?”

“Pegel, anjing!” Orion pun hanya terkekeh bersamaan dengan Noel yang melepaskan pelukannya pada Orion. Kini Noel kembali terbaring di atas kasurnya, tangannya bersedekap di depan dada dengan matanya yang nyalang mengamati tiap inci dari langit-langit kamarnya.

“Kalau lo gimana sama hari ini?” tanya Orion, ia kini turut membaringkan tubuhnya pada kasur Noel dengan kedua kakinya yang sama menjuntai. Tangan kiri Orion ia lesakkan dengan paksa pada belakang leher Noel, menjadikannya bantalan.

Noel menghembuskan napasnya dengan berat, ia memposisikan tubuhnya dengan miring membuat wajah keduanya berhadapan dalam jarak yang teramat dekat. “Capek, hari ini super nguras tenaga.”

Orion berdeham dengan intonasi tanyanya, mempersilahkan Noel untuk bercerita mengenai hariny yang terasa cukup berat dan melelahkan. “Gue kan hari ini ada ulangan, ya. Udah belajar sih, tapi ini gurunya tuh rese banget, Iyon! Jadi harus belajar ulang karena kata kelas sebelah ujiannya sampai BAB yang bahkan belum pernah dipelajarin.”

Tangan kanan Orion tergerak untuk mengusap kepala Noel, jemarinya menata surai Noel dengan perlahan menyisirnya. “Tapi bisa, kan?” Noel hanya mengangguk sebagai jawab. “Itu pinter.” ucap Orion dan membubuhkan senyumnya yang mengembang, membuat Noel merasa satu bebannya hari ini lenyap begitu saja.

“Nah, terus nih, tiba-tiba tadi Mauren ngajakin gue cabut. Ya gue mau aja, Yon. Cuma karena emang lagi ada ujian masa gue cabut gitu aja? Sekolah gue keteteran dong kalau gue nya begitu.”

Orion diam menyimak, tangannya masih terus menyisir surai Noel. “Yaudah gue tolak aja. Keren kan gue, bisa nolak?” Orion memberikan anggukan sebagai jawaban, tangan kanannya juga memberikan tepukan pelan pada kepala Noel sebagai sirat atas setujunya.

“Nah, gue kira tuh dia bakal ngerti, Yon. Tapi ternyata enggak. Ya gimanapun dia hari ini pasti kacau banget, ya? Gue tau banget gimana dia selama ini bertahan mati-matian. Jadi tadi sempet ribut juga sama Moren, dia juga bilang ke gue kalau mau ngobrolin ini besok-besok aja setelah dia ngerasa baikan dan gue lebih bisa nata emosi gue.”

Orion berdeham panjang, mencari kalimat yang tepat sebagai respons atas segala hal yang Noel adukan. “Lo keren, tadi tetep bisa ngerjain ujian walau baru tau materinya mendadak.”

Noel menatap profil wajah Orion lamat-lamat sembari mendengarkan tiap tutur kata yang akan lelaki itu lontarkan. “Lo juga keren, udah berani bilang enggak dan mendahulukan diri lo sendiri. Emang harusnya begitu, Noel. Kayak yang udah gue bilang tadi, lo jangan sampai jahat ke diri lo sendiri demi jadi baik untuk orang lain. Setiap orang itu punya kehidupan masing-masing, El.”

Noel mengangguk kecil, tangan kirinya terulur untuk menyingkirkan poni Orion yang mulai panjang hingga mengenai matanya. “Terus, El, Kakak gue pernah bilang kalau setiap orang itu nggak boleh menggantungkan apapun ke orang lain. Sekalipun itu ke pasangan lo, jangan pernah lo bergantung sama orang. Apalagi lo menggantungkan kebahagiaan lo di dia.”

“Kenapa?”

“El, kebahagiaan itu lo sendiri yang buat dan lo yang ciptain. Bukan apa yang lo gantungkan ke kehidupan orang lain. Mereka gak punya tanggung jawab untuk bikin lo selalu bahagia. Begitu juga Mauren ke lo, Noel. Jadi lo jangan merasa seolah-olah lo gagal jadi temen yang baik buat Mauren karena lo gak bisa nemenin dia hari ini. Lo udah jauh dari kata cukup untuk Mauren, mestinya Mauren tau itu.”

“Tapi Moren tadi lagi kacau banget, Iyon.”

Orion menarik senyum simpulnya. “Bukan berarti dia bisa seenaknya sama kehidupan lo, kan?” Noel mengangguk dan menggembungkan pipinya sebagai jawaban.

“Noel, yang punya diri lo tuh ya lo sendiri bukan orang lain. Jadi jangan mengklaim diri lo sebagai Noel nya Mauren atau Noel nya siapapun, nanti bikin lo terbebani dan merasa seolah-olah lo nggak bisa memenuhi klaim atas diri lo sendiri itu ketika lo nggak bisa ada buat dia.”

Noel tak memberikan jawaban apapun, otaknya sibuk bekerja untuk mencerna tiap frasa yang Orion tuturkan untuk dirinya. Kini Noel melesakkan tubuhnya ke dalam dada Orion, menyembunyikan wajahnya di sana dengan tangan kirinya yang sudah melingkari tubuh Orion untuk mendekapnya erat-erat.

Sedang Orion melakukan hal yang sama, lengan kanannya kini telah membungkus tubuh Noel yang sudah berada penuh dalam rengkuhannya. Dagunya ia tumpangkan pada puncak kepala Noel, pipinya sesekali ia usapkan di sana.

“Iyon, wangi lo juga enak. Gue suka wangi lo.” ucap Noel yang masih menenggelamkan wajahnya pada tubuh Orion, menghasilkan efek getaran kecil bagi Orion yang terasa menggelikan.

“Kita tukeran baju aja apa, El? Gue suka wangi lo, lo suka wangi gue.”

Noel mendongak. “Kenapa harus tukeran baju kalau gue aja bisa meluk lo terus tiap pengen cium wangi lo?”

Orion terkekeh. “Emang gue mau dipeluk lo terus?”

“Ya masa enggak, sih?” tanya Noel dengan penuh kepercaya dirian. Wajahnya ia letakkan pada dada Orion dengan posisi menyamping, telinganya mampu mendengar dan merasakan detakan jantung Orion yang memburu. Membuatnya susah payah menyembunyikan senyuman itu dari dunia, membuat semua benda di dalam kamarnya yang tengah menjadi saksi bisu merasa tak berharga dan tak dianggap eksistensinya.

Noel dalam diamnya merasa menemukan Orion bak harta paling berharga, menyemai bibit bahagia di dunia dengan penuh harap nantinya ia tumbuh menjadi bunga nan cantik jelita.