Ketakutan Terbesar
TW // homophobic
Telusur jemari penuh kehati-hatian atas gambaran rasa khawatir yang membuncah itu terus berpusat pada sudut bibir penuh luka. Dipandanginya pipi memar penuh semburat ungu tua, bahkan lebam pada pelupuk mata.
Noel terus menyelami samudera pikirnya, menyusun tiap buih cerita yang telah ia lewati beberapa bulan ke belakang. Bagaimana jantungnya akan terpompa dengan cepat tatkala nama Orion muncul dalam benaknya, pula bagaimana jantungnya akan mencelos sewaktu nama Orion bersanding dengan kericuhan yang tak direncanakan.
“Kalau cuma diusap-usap sembuhnya lama, El.” ucap Orion, tangan kirinya menahan pergelangan tangan Noel. “Harus dicium.” sambungnya dengan wajah yang menengadah, mencari temu akan manik mata Noel.
“Yang sakit mana aja?” tanya Noel dengan matanya yang menelisik sembari memberi pertanyaan usil.
“Semuanya, gue sakit.”
Noel sedikit membungkukkan tegap badannya, wajahnya perlahan mendekat dan memangkas jarak di antara keduanya. Jemarinya yang sedari tadi tak tinggal diam untuk terus memberikan usapan kini telah terhenti, memilih untuk sedikit mendongakkan wajah Orion untuk mempermudah.
Ia tanggalkan kecupan tak terlalu singkat namun juga tak terlalu lama pada bibir Orion, menimbulkan tarikan pada kedua sudut bibirnya.
“Masih sakit?”
“Masih, mau lagi.”
Alih-alih memberikan ciuman, Noel memilih untuk menyentil bibir Orion. Tidak sekeras itu hingga mampu menimbulkan gaduh, namun Orion tetap mengaduh dengan bibirnya yang mencebik membuat perut Noel merasa tergelitik.
“Jadi cerita?” tanya Noel, memposisikan dirinya untuk turut berbaring di sebelah Orion. Kepalanya kini mengusak di atas ketiak Orion, mencari posisi ternyamannya dengan lengan Orion sebagai bantalan.
Orion melingkarkan tangan kanannya pada perut Noel, melayangkan kecupan-kecupan singkat pada puncak kepala Noel. “Jadi.”
“Waktu dan tempat dipersilahkan.”
“Tadi aku istirahatnya duluan, karena bisa jawab pertanyaan guru aku.”
“Pacar aku pinter.”
Orion tersenyum. “Tapi bukan itu yang mau aku ceritain. Tadi niatnya aku mau makan bekel dari kamu di kantin karena aku sekalian beli minum, kan. Terus tiba-tiba Jordan dateng, biasa.” Noel mengangguk, belum memberi respons apapun sebab menunggu Orion untuk melanjutkan ceritanya.
“Dia bawa-bawa kamu.” Noel mengernyit, kepalanya menengadah. Belum sempat ia mengajukan tanya, Orion sudah terlebih dulu melanjutkan ceritanya. “Katanya, orang kayak kamu dan aku enggak seharusnya ada di sini.”
“Orang kayak aku dan kamu gimana? Ho-“
“Iya. Gara-gara berantem jadi kesenggol bekelnya, tumpah deh.”
“Terus nangis karena apa? Kata Moren kamu nangis?”
“Anjrit! Lo bayar berapa sih ke Mauren? Apa-apa dilaporin begitu, malu-maluin. Kayaknya gue harus kasih sogokan lebih gede.”
Noel enggan menahan tawanya. “Padahal gue pernah lihat lo nangis. Jadi nangis karena apa, Iyon?”
“Nasi gorengnya tumpah.”
Noel terbelalak atas alasan yang dilontarkan Orion, lagi-lagi ia belum sempat mengajukan tanya namun tubuhnya sudah dibungkus rapat-rapat oleh badan Orion yang membawanya semakin erat ke dalam pelukan.
“Jangan diledekin, beneran sedih.” lanjut Orion.
“Barusan udah dimasakin lagi, masih sedih?” tanya Noel dengan suaranya yang teredam di dalam dada Orion.
“Masih.”
“Masih mau cerita?”
“Masih.” jawab Orion dan melonggarkan rengkuhannya pada tubuh Noel. “Ayah tau kita pacaran.”
“Ini yang bikin kamu berantem sama Ayah sampai kabur kemarin dan harus ngekos?”
Orion berdeham sebagai jawab. “Jordan yang ngasih tau.”
“Kalau enggak dikasih tau Jordan, emangnya kamu enggak ada rencana untuk ngasih tau?”
“Bukan maksudnya aku mau nutupin kamu, El. Kamu tau sendiri aku enggak akan ngobrol apapun sama Ayah, kan?”
Noel menggeleng, tubuhnya ia angkat. Noel terduduk dengan manik matanya yang enggan berpaling barang sedetik, terus mengawasi gerak-gerik lawan bicaranya. “Bukan, aku enggak ada pikiran begitu, Iyon.”
“Iya aku mau jelasin aja, takut kamu salah tangkap. Aku sama sekali enggak nutupin dari Ayah, kalau misal kemarin-kemarin Ayah tanya ya aku jawab. Emang aku yang males aja untuk ngobrol sama Ayah.”
“Kata Ayah apa?”
“Jelas responsnya negatif, El. Buktinya sekarang aku ngekos.” ujar Orion. Tangannya tak tinggal diam, terus memainkan jemari Noel pada genggamannya.
“Kamu enggak apa-apa?”
Orion terkekeh. “Kenapa harus kenapa-kenapa, sayang?”
“Berarti enggak apa-apa?”
“Enggak apa-apa.”
“Terus kenapa kemarin kabur kalau kamu enggak apa-apa?” tanya Noel, alisnya menukik berniat menyelidik. “Kamu mah gitu, sukanya bohongin aku.”
Orion hanya mampu menjawabnya dengan tawa.
“Iyon, kalau kita putu-“
“Enggak.”
“Apa? Aku belum selesai ngomong.” dengus Noel, melayangkan sebuah pukulan lirih pada pinggang Orion.
“Putus kan?” Noel mengangguk, mengamini pertanyaan Orion. “Enggak, aku enggak mau.”
“Kenapa? Cuma karena aku kamu kehilangan rumah kamu, kehilangan Ayah kamu.”
Orion berdecak, tubuhnya kini turut ia dudukkan menyambangi Noel. Dalam waktu keheningan panjang, Orion memilih untuk memberikan usapan pada punggung tangan Noel.
“Perlu berapa kali aku bilang kalau kamu itu bukan cuma?” tanya Orion dengan suaranya yang semakin berat dari sebelumnya, membuat relung Noel kini dibaluti penuh rasa kalut.
Orion meraup oksigen dengan serakah, mencari kekuatan dari apapun yang mampu ia semat dalam sanubari. “Noel, aku udah kehilangan tempat tinggal yang aku sebut rumah dan sosok yang aku sebut Ayah sejak lama. Jauh sebelum aku kenal kamu.”
Noel meneguk ludahnya dengan susah payah, kerongkongannya yang teramat kering pun tak mampu dialiri. Lidahnya kelewat kelu untuk menimpali.
“Aku sama sekali enggak takut kehilangan mereka untuk kedua kalinya, Noel.” ucap Orion menggantung, buku-buku jarinya menyeka tetes air mata yang tak terbendung dari pelupuk mata Noel.
“Aku cuma punya kamu, Noel. Ketakutan terbesarku cuma kehilangan kamu.”
“Aku enggak akan ninggalin kamu.”
“Aku kelihatan menyedihkan ya, El?”
Noel menggeleng dengan cepat, tangannya ia rentangkan sebagai tanda untuk Orion masuk ke dalamnya. “Aku enggak mengasihani kamu karena kamu yang begini dan kamu yang begitu. Aku beneran sayang kamu sebagai Orion, tanpa embel-embel cerita apapun di baliknya.”
“Jangan gampang kasih saran putus kayak tadi, El. Aku beneran takut banget.” ucap Orion pada rengkuhan Noel, membuat Noel merapalkan kata maaf dan memberikan tepukan pada punggung Orion.
Dalam rengkuhannya, Noel ingin meluluhlantakkan segala beban yang tengah tumbuh pada punggung Orion. Punggung yang ditimpali beban paling berat, menggantikannya dengan harsa yang tak akan musnah jua.