Konvoi, Hujan dan Teduh

Immanoel Maldione

Hujan menepati janjinya dengan datang di malam hari, membasahi tanah kering yang berasap saat tersentuh air dan membawa angin yang memberi rasa dingin.

Runtutan pernyataan akan hujan di atas sama sekali tak mengikis semangat serta rasa suka cita atas kemenangan tim basket sekolah Iyon, membuat gue turut serta merasakan euforia yang sama di dalamnya.

Satu per satu toko yang mulai tutup menjadi saksi bisu atas sorak sorai yang bergurat jelas pada raut wajah Iyon dan teman-teman sekolahnya, menyusuri jalanan yang lengang dengan motor yang berbaris rapi di malam yang kian larut.

“Lo mau pakai jas hujan?” seru Iyon yang samar tertangkap indra pendengaran gue, manik matanya sesekali melirik ke pantulan kaca spion yang terpasang pada motor.

Gue menggeleng. “Enggak mau, enggak ada yang pakai jas hujan.” jawab gue tak kalah kencang, membuat Iyon terkekeh dengan kedua matanya yang membentuk garis lurus bak enggan mempersilahkan air hujan yang menerpa wajahnya untuk menyambangi netranya.

“Nanti lo sakit!” seru Iyon dengan memperlambat laju motor, tangan kirinya meraih pergelangan tangan kiri gue untuk ia lingkarkan pada perutnya. Diam-diam gue mengulum senyum sembari memberikan rematan pada jaketnya sebagai penyaluran akan rasa gugup.

“Enggak, kan ketutupan lo!” celetuk gue sekenanya, membuat Iyon tertawa dan memberikan usapan singkat pada lutut kiri gue sebelum akhirnya mulai sedikit mempercepat laju motor.

“El, gue udah kepikiran mau minta apa.” ujar Iyon, tangan kirinya ia letakkan pada samping kaki kiri gue yang bertengger pada pijakan kaki.

“Apa?”

“Jalan-jalan.”

“Ke mana?”

“Surabaya, ketemu sama Ibu sama Kak Isa.”

Kedua alis gue seketika berkerut, mencoba memproses permintaan Iyon yang tak pernah gue duga sebelumnya. “Jauh banget!”

Iyon terkekeh. “Itu kalau lo mau.”

“Kalau enggak mau?”

“Belum ada rencana lain karena pasti mau.”

“Tapi waktu libur, ya?” tanya gue dan semakin mengeratkan kedua tangan gue yang melingkar di perut Iyon, mencoba mencari rasa hangat. Iyon dalam diamnya hanya mengangguk.

“Hari ini lo keren banget.” ucap gue dengan menaruh dagu pada pundak kanannya, sedikit memiringkan kepala.

Iyon tersenyum, ekor matanya melirik ke arah gue. “Cuma hari ini aja?”

“Setiap hari keren! Pacar gue keren satu dunia!” timpal gue atas pertanyaan Iyon, meninggikan volume suara gue dan membuat beberapa teman Iyon menolehkan pandang ke arah gue. “Tadi ada yang nanyain gak?”

“Nanya apa?”

“Kapten basket udah punya pacar belum?”

“Satu dunia juga tau kalau Iyon pacarnya Noel.”

Gue mengulum senyum yang kian lama mengembang seiringan dengan senyum milik Iyon yang dapat gue tangkap dari pantulan kaca spion.

“Siap-siap, sayang. Pegangan yang kenceng!” ujar Iyon dan gue mulai merasakan laju motor semakin cepat dengan tangan gue yang semakin mencari rapat, menyalip beberapa motor yang terlebih dahulu berjejer di depan gue dan Iyon sebelumnya.

Kata Iyon, dia bukan orang yang mampu.

Bukan orang yang mampu untuk membuat gue merasa cukup dengan banyak rumpang dalam dirinya. Namun ketika jemari kita bertautan, tak lagi ada rasa takut serta keresahan. Ketika gue melesak dalam rengkuhan, tak lagi ada rasa kekosongan.

Bukan menjadi suatu penghalang bagi gue dan Iyon atas mega malam yang tak lagi kuat membendung airnya dan kini semakin bertumpah ruah mengguyur Bumi, sebab bagi gue hujan bersama Iyon adalah hujan paling teduh.

Kini segala perasaan yang tertanam dalam diri gue dengan Iyon sebagai empunya terasa amat sederhana, tanpa perlu frasa yang rumit untuk dicerna, namun tetap menyiratkan penuh harsa.