Lazuardi Gautama.

Kalau memang benar setiap manusia mengalami dua kali masa pubernya, gue pikir saat ini adalah masa puber kedua yang gue alami. Ternyata apa yang selama ini gue pikirkan salah besar, bagaimana gue yang beberapa tahun ke belakang diselimuti asumsi atas diri sendiri yang menganggap sudah mampu. Mampu melupakan Jogja juga orang beserta kisah istimewa di dalamnya. Semua itu hilang dan luruh ketika gue melihat Ganesh kemarin sore, berdiri di dalam kliniknya dengan senyum yang begitu ramah ia lemparkan ke siapa pun yang ada di sana.

Beberapa bukti penguat akan deklarasi gue yang sedang mengalami pubertas kedua akan gue sebutkan dengan penjelasan ini. Penjelasan akan tingkah-tingkah aneh gue, yang bahkan gue sendiri pun merasa asing atas perasaan gue saat ini. Bak orang jatuh cinta, tapi gue rasa memang benar adanya.

Bagaimana semalam gue berjingkrak kegirangan setelah membaca balasan dari surel yang Ganesh kirimkan. Bagaimana mata gue yang enggan menutup namun mendobrak untuk terus nyalang karena tak sabar menunggu hari esok. Bagaimana gue yang sudah bersiap sejak jam sembilan pagi ketika Ganesh sendiri menitah untuk dijemput jam dua siang, juga bagaimana gue mondar-mandir di depan kaca dan menyemprotkan parfum tanpa satu senti pun terlewatkan.

Jika kata orang-orang setiap sudut kota Jogja terasa istimewa, gue akan memberikan beratus-ratus setuju. Sebab gue sendiri merupakan salah satu korban dari istimewanya akan cerita-cerita yang tertulis di tiap sudutnya. Padahal kalau dipikir-pikir, kenangan gue akan Jogja enggak melulu soal suka dan cita. Banyak juga duka serta sendu yang tercipta.

Jogja.

Mendengarnya saja mampu membuat gue tersenyum secara cuma-cuma, tanpa ada yang menitah juga tanpa ada resah.

Enggak cukup sekali atau dua kali gue mendengar dan membaca pertanyaan akan kebenaran yang diselipkan. Bagaimana bisa gue dan khalayak ramai menganggap Jogja adalah tempat untuk berpulang, sedangkan gue sendiri pun enggak punya ikatan dengan Jogja selain amanah untuk menimba ilmu di salah satu perguruan tingginya.

Gue juga sering bertanya-tanya, mengapa Jogja bisa terasa hangat dan bersahabat? Ketika gue pribadi bukan orang yang punya banyak kerabat. Dan hari ini gue mendapatkan jawaban terbaik versi gue, atas pertanyaan klasik yang selalu dilemparkan oleh kebanyakan orang yang memiliki pendapat yang sama.

Karena bagi gue, Jogja adalah Ganesh.

Kembali lagi ke Ganesh.

Ganesh bersama dengan surelnya membuat gue kehilangan akal juga kewarasan. Gak henti-hentinya gue menyusun skenario-skenario yang akan terjadi nanti saat menghadiri tawaran spesial yang Ganes ajukan. Bahkan hanya dengan memikirkannya semalaman pun membuat gue bahagia tak tertahankan. Lagi-lagi Ganesh, dengan segala impresinya.

***

Ganesh dengan segala impresinya mengalahkan hamparan laut selatan yang memantulkan cahaya Matahari senja dari atas bukit Paralayang. Kalau diperbolehkan, gue iri dengan hembusan angin yang terasa lebih kencang sebab ia dengan lantangnya menerpa wajah Ganesh, sedang gue tak mampu.

Tangan gue sedari tadi hanya bersedekap, sesekali memainkan gelas yang berisi kopi dan sebungkus rokok. Ingin rasanya tangan gue terulur untuk menyentuh wajah Ganesh seperti apa yang terpaan angin itu lakukan, tapi gue terlampau cupu.

“Jadi kalau weekend cuma buka setengah hari, Nesh?”

Ganesh mengangguk, tangan kirinya tergerak untuk menghantarkan sebatang rokok dengan nyala api di ujungnya. Dapat gue tangkap profil Ganesh dari samping kanannya, mencarak rokoknya dengan dalam sebelum akhirnya ia hembuskan perlahan. “Gini-gini aku butuh liburan juga, Gam.”

“Biasanya ngapain?”

“Tidur.” timpal Ganesh dilanjutkan dengan tawanya. “Kenapa kamu mintanya ke sini?”

“Enggak apa-apa, pengen aja.” jawab gue sekenanya. “Dulu setiap Jumat sore kita ke sini ya, Nesh.”

“Oh, jadi ceritanya kangen sama kita yang dulu?” tanya Ganesh setelah membuang kepulan asap ke sisi kirinya. “Kamu udah punya pacar lagi belum setelah sama aku?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Enggak mau aja.” Ganesh mengangguk dan mematikan nyala rokoknya di atas asbak yang tersedia, tangannya merogoh tas jinjing yang ia bawa. Ganesh dengan kebiasaan lamanya, menyapu permukaan tangannya menggunakan tisu basah setiap selesai merokok. “Udah boleh pegangan?”

Ganesh tertawa, membuat mata indahnya tertelan begitu saja dan memunculkan kerutan lucu pada batang hidungnya. “Masih inget aja! Boleh, mau pegangan?” tanya Ganesh dan menyodorkan kedua tangannya.

Tidak perlu memikirkannya berulang kali, gue dengan sigap mengaitkan jemari gue dengan milik Ganesh. Selalu seperti itu, kebiasaan lama kita yang sederhana namun terasa sangat menggembirakan.

“Kalau kamu gimana, Nesh?”

“Apa?”

“Pacar.”

Ganesh menyipitkan kedua matanya, berdeham panjang bak sedang berpikir. “Menurut kamu?”

“Udah pernah?”

“Pernah sekali tapi cuma berapa bulan. Dulu sebelum aku buka klinik sendiri kan sempet kerja di Happy Land, terus ketemu di sana deh.”

“Dokter juga?”

“Dokter.”

“Cowok?”

“Cewek.” gue dan Ganesh pun tertawa, entah di mana bagian lucunya.

Gue setuju dengan Adhitia Sofyan yang berseru dengan lantunannya akan sesuatu di dalam Jogja. Gue sebagai orang yang pernah singgah di Jogja, menemukan sesuatu yang sukar untuk dijelaskan menggunakan susunan aksara karena hanya mampu diucapkan dengan satu diksi yang hangat dan memiliki pikat. Ganesh.