Maherrumi Arsena.
Lenyapnya suara mesin mobil membuat Iyel yang sedari tadi tak bergeming dari pejaman matanya pun mulai menggeliat dan mengeluarkan erangan kecil, meregangkan ototnya yang mungkin terasa kaku dalam lingkup ruang gerak yang mengharuskan ia mematung dalam tiap-tiap meter laju.
Gue berushaa melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi melilit pada tubuhnya, membuat Iyel dalam ketidaksadarannya mulai semakin terusik. Setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya, gue lekas menarik diri dari tubuhnya.
Belum sempat gue mendudukkan diri dengan tepat, Iyel sudah terlebih dulu menegakkan tubuhnya, membuat gue mau tak mau dihadang oleh wajahnya. Iyel memalingkan wajahnya menghadap gue dengan memamerkan deretan gigi rapinya, membuat aroma alkohol menyeruak ke dalam indra penciuman gue yang hanya terpaut jarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
“Rumi, ada air minum enggak?” napas gue tercekat sebab jarak wajah gue dengan Iyel yang terlalu dekat.
“Ada.” jawab gue singkat sebelum akhirnya mengambil kantong plastik berisikan air mineral pada jok belakang, membuat posisi wajah Iyel kini tenggelam dalam perut gue.
Iyel terkekeh dengan matanya yang terpejam. “Kenapa tahan napas?”
Gue memilih untuk diam tak menjawab pertanyaannya dan lekas menyodorkan sebotol air mineral yang sebelumnya sudah gue bukakan.
“Lo suka ya sama gue?”
Satu pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Iyel tanpa pernah gue sangka sebelumnya membuat gue berdeham sebab tenggorokan gue seketika diselimuti serak.
“Kenapa mikir gitu?”
Iyel menatap nanar ke arah botol air mineral yang kini tengah ia mainkan, mengalirkan airnya dari ujung ke ujung membuat terombang-ambing isinya. Tak jauh beda dengan seluruh perasaan di dalam relung gue, yang entah apa jawabnya kini ikut merasa diombang-ambingkan isinya. “Kelihatan. Biar jomblo gini, gue juga ngerti kali mana orang yang naksir dan enggak ke gue.”
“Terus?”
“Apanya?”
“Terus kalau gue naksir sama lo, gimana?”
Iyel tersenyum.
Entah sekon ke berapa, ranum merah muda yang sedari tadi gue curi pandangnya kini telah menempel tak menyisakan jarak sedikitpun dari bibir gue. Napas gue tercekat dengan kedua tangan gue yang mengepal erat, hingga akhirnya Iyel mulai menjauhkan wajahnya dari gue dan memutus aliran rasa hangat.
“Thank you udah nemenin gue hari ini.”
“Iya.”
“Gue masuk sekarang, ya? Kepala gue pening banget.” ujar Iyel dan gue hanya mampu mengangguk sebagai persetujuan atas pamitnya.
Ternyata, kecupan serta pamitnya menjadi konfirmasi bagi gue atas segala ranjau perasaan yang siap meledak saat mendapatkan usik.