Matahari bersinar dengan sangat terik, memancarkan gravitasi yang lebih besar dari biasanya dan saling tarik menarik dengan gravitasi Bumi. Membuat permukaan laut lebih tinggi dan ombak lebih besar, menjadikan laut pasang. Namun siapa peduli dengan laut pasang jika terdapat ombak yang lebih besar riuh pada dada Noel yang kini tengah duduk berhadapan dengan Orion yang baru saja melesakkan presensinya di warung Ijo depan sekolahnya.

“Kok lo beneran nyamperin gue, sih?” todong Noel secara tiba-tiba, tidak membiarkan Orion mengambil napasnya terlebih dahulu.

Sedang Orion mengedikkan bahunya, tangannya mengambil alih gelas yang menyisakan setengah es kopi di dalamnya. Menyeruputnya tanpa permisi. “Katanya lo bete? Yaudah, gue ke sini aja.”

Noel menghela napasnya dengan gusar, memberikan tatapan tajamnya kepada Orion yang tengah mengunyah potongan-potongan es batu yang sesekali membuatnya meringis kedinginan ke arah Noel. “Jadi, sekarang lo mau ngajak gue ke mana?” tanya Orion, tangannya mengembalikan gelas ke depan sang empunya.

Noel berdeham cukup panjang, memikirkan tempat mana yang akan menampung keduanya siang itu. “Rumah gue?”

Kedua mata Orion menyalang. “Gila! Nanti kena omel orang tua lo gimana?”

“Enggak. Ayah gue lagi kerja, Bunda gue baik.” ucap Noel dan segera menghabiskan sisa es kopi pada gelasnya. “Yuk?”

“Lo nggak mau nanya dulu?” tanya Orion, tangannya menggenggam pergelangan tangan Noel berniat mencegahnya untuk meninggalkan tempat itu sekarang juga sebab Noel kini telah berdiri dari duduknya.

Kedua alis Noel terangkat, menyaratkan tanda tanya yang tercetak jelas pada wajahnya. “Nanya apa?”

“Ini.” tunjuk Orion pada pelipisnya dan sudut bibirnya secara bergantian. Menampilkan goresan yang Noel yakini dalam hati merupakan bekas dari pertengkarannya beberapa waktu lalu, seperti yang telah dibicarakan oleh Mauren.

“Enggak. Gue akan sangat senang dan menghargai itu kalau lo mau cerita, tapi kalau enggak ya nggak apa-apa juga. Gue bakal diem dan tetep ngehargain lo. Yang penting lo tau, gue di sini.” jawab Noel sebelum akhirnya meninggalkan Orion yang hanya mengangguk pelan dan mulai membuntuti Noel yang telah berjalan terlebih dahulu.

Noel berdiri tepat di samping motornya, sempat mengancingkan jaketnya sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di atas motornya. Tangannya meraih helm yang sebelumnya sudah bertengger di spionnya, memakaikan ke kepalanya.

“Ini, sampai bunyi klik, Noel. Bandel banget dibilang.” ucap Orion yang sedari tadi mengamati Noel di sampingnya, tangannya terulur untuk mengunci helm Noel dan memastikannya telah terpasang dengan benar dan erat. Tangan kanannya menepuk helm Noel dengan sedikit kencang, membuat yang ditepuk gaduh dan protes dari balik kaca helmnya.

Orion lekas mengikuti Noel yang sudah terlebih dahulu menjalankan laju motornya. Orion dengan senyum yang ia sembunyikan di balik kaca helmnya lekas mengejar Noel yang belum begitu jauh dan masih bisa tertangkap oleh penglihatannya.

“Curang lo, colong start!” teriak Orion dalam balik helmnya ketika posisi keduanya telah sejajar, Noel hanya terkekeh dan menggembor-gemborkan gas pada motornya yang hanya dibalas oleh gelengan Orion penuh keheranan.

Keduanya terus melaju dengan kedudukan Noel yang selalu berada di depan Orion, membuat Orion sedikit was-was akan Noel yang kerap kali mendahului kendaraan-kendaraan di hadapannya dengan sembrono.

Setibanya di rumah Noel, Orion memarkirkan motornya bersebelahan dengan motor Noel. Netranya terus memindai dari tiap sudut ke sudut. Rumah yang tidak sebesar rumah-rumah gedong pada sinetron, namun terbilang lebih dari cukup. Rumah yang terlihat dan terasa lebih hidup daripada rumahnya, dalam pikirnya.

“Kan, gue bilang juga lebih jagoan gue kalau naik motor.” sombong Noel atas dirinya, kakinya melangkah mendekati pintu rumahnya.

Orion tersenyum. “Lo curang, lagian gue juga nggak tau rumah lo di mana.”

“Oke kalau gitu, besok kita balapan ulang biar lo nggak merasa dicurangi dan bisa ikhlas nerima kekalahan lo.” ucap Noel dan diakhiri dengan juluran lidahnya ke arah Orion, membuat Orion menahan gemas dan mengusak kepala Noel membuat rambutnya sedikit berantakan.

Hal pertama yang Orion dapati ketika melesakkan presensinya pada rumah Noel adalah seorang wanita paruh baya dengan balutan gaun rumahan berwarna putih tulang tengah terduduk di ruang tamu. Tangannya tergerak ke sana dan ke mari, memberi tarian di atas kanvas putih di hadapannya.

“Loh? Kok jam segini udah pulang, El?” tanya wanita paruh baya tersebut, mengalihkan fokusnya dari kanvas. Memandang Noel dan Orion yang tengah berdiri di samping kirinya, melemparkan senyuman hangatnya ke arah Orion. “Temennya Noel? Kok Bunda baru lihat ya?”

Orion menjulurkan tangan kanannya dengan sopan, tubuhnya sedikit membungkuk. “Orion, Tante.”

“Halo, Orion! Kamu temen sekelas Noel?” jawab Bunda Noel dengan membalas uluran tangan Orion, menjabatnya dengan pelan.

“Enggak, Bun. Dia mah satu sekolah sama Moren. Udah ya Bun, langsung ke atas.” potong Noel dengan cepat, melepaskan genggaman tangan keduanya dan memberikan kekehan kepada Bundanya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Bundanya sendirian.

“‘Mari, Tante.”

“Bunda lo cantik.” puji Orion dengan langkahnya yang berhati-hati, mengikuti ke mana Noel akan membawanya. Sesekali matanya menangkap takjub pada lukisan-lukisan yang terpasang di tembok. “Ini Bunda lo semua yang ngelukis?” Noel hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Bentar, gue ambilin minuman sama makanan dulu. Lo kalau mau cuci-cuci kaki atau apa, kamar mandi tuh.” ucap Noel, tangannya menunjuk salah satu sudut dalam kamarnya. Orion hanya mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.

Noel melangkah menjauh, meninggalkan Orion di kamarnya. Ia menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa untuk segera mendekati Bundanya yang tengah melanjutkan kegiatan melukisnya.

“Noel bolos ya?” selidik Bundanya ketika Noel telah berdiri di sampingnya, yang ditanya hanya menampilkan cengengesannya. “Kenapa?”

“Iyon, kayaknya lagi ada masalah. Aku nggak tau, cuma mau bantuin aja biar enggak ngerasa sedih. Lagian ya Bun, aku kan nggak pernah bolos. Sekali ini aja, janji.” jelas Noel dengan intonasinya yang mendramatisir.

Bundanya hanya menggeleng pelan. “Janji ya, sekali ini aja?”

Noel mengangguk dengan senyumnya yang merekah. “Nggak janji tapi iya deh, sekali ini aja.”

“Itu diambilin minum sama cemilan dulu. Bunda belum masak buat makan siang, karena Bunda kira kamu pulangnya sore. Mau Bunda masakin dulu atau cari keluar?” tanya Bunda dan meletakkan kuasnya, tubuhnya kini duduk menyamping menghadap Noel. Kepalanya mendongak, menatap anak semata wayangnya. Tangannya terulur untuk memberikan usapan dan menata rambut Noel yang sudah mulai panjang, hampir mengenai matanya.

“Mau keluar aja deh. Kasihan Bunda harus masak dulu, biasa juga Bunda cari keluar. Nanti sekalian Noel beliin makan buat Bunda, tapi bentar dulu ya belum siang-siang amat juga kan.” jawab Noel dengan kakinya yang semakin terbuka lebar, berusaha merendahkan dirinya supaya Bundanya tak terlalu pegal untuk menggapai tingginya dengan susah.

“Yaudah, nanti kalau udah agak siangan langsung cari makan. Gih itu Iyon nya diambilin minum dulu.” ucap Bundanya, memberikan usapan terakhir pada kepala Noel. Noel hanya membalasnya dengan postur tubuh tegap dengan tangan kanannya yang membentuk hormat.

Noel kembali melesakkan tubuhnya ke dalam kamarnya dengan nampan berisikan beberapa cemilan dan dua botol minuman. Orion memasang pandangannya kepada Noel yang dengan penuh kehati-hatian berusaha meletakkan nampan tersebut di lantai, di hadapan Orion. Orion yang melihatnya hanya tersenyum, lucu, batinnya.

“Nanti cari makan siang di luar ya? Bunda belum masak, soalnya.” ucap Noel diakhiri dengan kekehan.

Orion memasang wajah yang sukar diartikan. “Gue nggak enak banget ke Bunda lo. Udah numpang bolos, mana ngerepotin ginian segala.”

Noel hanya menggeleng. “Enggak perlu, Bunda seneng-seneng aja kok! Soalnya ini nggak ada yang ngabisin, tau.” tunjuk Noel ke stoples-stoples yang menjadi teman keduanya.

Orion sempat menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Bunda lo, nggak apa-apa kalau lo bolos?”

Noel mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Orion dan memasang senyum yang menampilkan deretan giginya. “Aman!”

“El.”

“Apa, Iyon?” tanya Noel yang kini tengah melepaskan kancing seragamnya.

Orion terlihat tengah menimbang-nimbang, sesekali giginya memberikan gigitan pada bibir bagian dalam. “Enggak deh, nggak jadi.” Noel hanya mengangguk, paham jika mungkin Orion belum bisa sepenuhnya untuk percaya dan bercerita kepadanya.

“Lo lagi pengen makan apa?” tanya Noel yang telah menanggalkan atasan seragamnya, menyisakan kaus hitam polos yang membalutnya. “Ayam geprek? Lo suka nggak? Eh, atau mau nasi padang? Soto, mau? Lo mau apa, Iyon?” tanya Noel rundung.

Orion hanya terkekeh dan mengusak kepala Noel yang terduduk di hadapannya. “Bunda lo mau makan apa?”

“Bunda mah apa-apa doyan.”

“Gue juga apa-apa doyan. Lo mau makan apa, El?”

Noel menghela napasnya dengan kasar. “Ah! Lo mah nggak kooperatif! Sama aja kayak Bunda kalau ditanya mau makan apa malah nanya balik.” tangan Noel membuka stoples yang berisi kue kering buatan Bunda dan mulai mengambilnya untuk ia makan, mendahului supaya Orion juga mengikutinya. “Coba deh, Yon. Buatan Bunda gue.” ucap Noel di sela-sela kunyahnya.

Tangan Orion tergerak untuk mencomot satu keping kue kering di dalam stoples, mengikuti Noel. Kepalanya mengangguk-angguk pelan dan berdeham panjang setelah satu gigitan berhasil ia telan. “Bisa nih Bunda lo ikut Master Chef.”

“Lebay!”

“Serius, enak banget.”

“Nanti bawa pulang aja, okay!

“Apa yang dibawa pulang? Lo?”

Noel mendengus kesal, kakinya menendang kaki Orion dengan pelan. “Kue nya, lah!”

***

Hujan menepati janjinya dengan datang di siang hari, membasahi tanah kering yang berasap saat tersentuh air dan membawa angin yang memberi rasa dingin. Menimbulkan dentingan di atap-atap rumah yang didatanginya.

Baru berapa meter Orion dan Noel meninggalkan rumah Noel, kini Orion melambatkan laju motornya. Berniat menepi untuk mengeluarkan jas hujan atau bertanya Noel jika ingin kembali ke rumah.

“Kenapa kok berhenti?” tanya Noel dengan matanya yang sesekali memejam, menghindari air hujan yang akan mengenai matanya.

“Hujan. Lo mau pulang aja atau tetep cari makan? Ada jas hujan kok gue.” Orion menimpali, kini badannya memiring berusaha melihat Noel yang terduduk di jok motornya untuk kali pertama.

“Tapi gue laper!” seru Noel dengan bibirnya yang sedikit mengerucut, membuat Orion terkekeh dan mati-matian menahan untuk tidak mengusap bibir itu menggunakan ibu jarinya.

“Tapi jas hujan gue jas hujan egois, cuma bisa buat seorang. Lo aja ya pake.” ujar Orion sebelum akhirnya turun dari motor untuk membuka jok dan mengambil jas hujannya. Namun Noel tetap terduduk tak bergeming, membuat Orion tidak bisa membuka jok motornya. “Buruan turun, Noel. Gue mau ambilin jas hujan buat lo.”

“Nggak, kalau lo nggak pakai gue juga enggak. Kita hujan-hujanan aja, Iyon! Gue suka hujan-hujanan.” ucap Noel, kepalanya menengadah mempersilahkan langit untuk menghujami wajahnya dengan air hujan yang kian deras.

“Nanti lo sakit.”

“Enggak, gue mah kuat!” ucap Noel, kini ia sedikit memajukan duduknya untuk mengambil alih kemudi. “Buruan naik, gue yang boncengin.” Orion hanya menurut dan lekas mendudukkan dirinya di belakang Noel.

“Udah siap belum?” tanya Noel dengan lantang, menembus suara hujan yang menenggelamkan suaranya.

“Udah.”

“Pegangan, kita meluncur!” ucap Noel dan melajukan laju motor, membuat Orion menyembunyikan senyum di balik buliran air hujan sebesar biji jagung yang terus berjatuhan dengan lantangnya.

“Iyon!” panggil Noel dengan berteriak, membuat Orion memiringkan tubuhnya untuk mensejajarkan telinganya dengan kepala Noel supaya mendengar percakapan apa yang akan Noel bawa kali ini.

“Apa?” jawab Orion tak kalah lantangnya.

“Jangan malu, jangan takut.”

“Kenapa?”

“Nangis, gak akan kelihatan karena ketutupan hujan. Ayo nangis aja kalau emang lo lagi butuh banget, gue juga suka begitu.”

Tidak ada jawaban apapun dari bibir Orion. “Kalau lo malu sama gue, gue nggak akan denger dan nggak akan bisa lihat lo nangis, kan gue di depan lo. Tangisan lo bakal kalah sama suara hujan.” lanjut Noel.

Orion kembali membetulkan duduknya, menjauhkan kepala dan punggungnya yang sebelumnya sedikit menunduk untuk mensejajari Noel. Tanpa dugaan dan tanpa paksaan, air mata itu berhasil mendobrak dinding pertahanan pada pelupuk matanya. Lelaki yang menarik atensinya sejak beberapa hari terakhir itu tahu bahwa yang paling ia butuhkan saat ini adalah menyuarakan dan meluapkannya, Orion butuh untuk menangis.

Baik Orion juga Noel, keduanya disibukkan dengan ribuan angan-angan dalam benaknya. Menerobos hujan yang tak ada lagi harga dirinya.