Mencintai dan Menerima.
Sophie.
Mencintai dan menerima, merupakan dua kata yang seharusnya memang berjalan beriringan. Seperti kata Arel, anakku, beberapa waktu lalu. Aku terlampau lupa bahwa dua kata sakral tersebut memang seharusnya menjadi sepasang tanpa dipisah juga tanpa tapi di tengahnya.
Seperti halnya apa yang dikatakan Arel, suamiku dengan seluruh hidupnya ia gunakan untuk mencintai juga menerima. Mencintaiku juga menerima segala hal tentang aku di dalamnya.
Sepulang dari day care aku sengaja membawa langkahku untuk ke makam mendiang suamiku, membawa setangkai bunga tulip kuning kesukaanku. Kata suamiku dulu, kalau dia mati, dia hanya ingin segalanya tentang aku yang menyelimutinya. Sebegitu besar rasa cinta juga terimanya atas diriku yang masih banyak kurangnya.
Aku curahkan segalanya tentang aku juga Arel beberapa waktu terakhir.
Arel ku yang beberapa hari lalu berlari kepadaku, bersimpuh dengan penuh peluh, memohon maaf dan terus berjanji akan patuh. Aku saat itu diselimuti rasa kemenangan atas segala egoku. Namun aku menutup telinga serta mataku, bahwa anakku perlahan hancur dan mati karena ku.
Derap langkah kaki menginterupsi tangisku yang mulai tak terbendung, sepasang kaki dibaluti dengan sepatu yang ia gunakan sekenanya— dipijak bagian belakang tanpa ia gunakan dengan semestinya, menyambangi simpuhku. Setangkai bunga tulip kuning yang ia bawa, disandingkan dengan kepunyaanku yang telah ku lingkupkan terlebih dahulu.
“Udah lama, Mi?”
Aku menggeleng, tanganku terulur untuk memberikan elusan guna menyalurkan rasa cintaku. “Belum, Arel. Baru aja. Gimana di kampus?”
“Biasa aja, enggak ada yang menarik.”
Aku hanya mengangguk sayu, tanganku kini berpindah untuk mengusap nisan suamiku. Membungkam diri dan membiarkan Arel memiliki waktunya.
“Papi.” lirik anakku, Arel. Suaranya kali ini bergetar, sama bergetarnya dengan kali pertama ia memanggilku Mami di acara makan malam bersama Bara tempo lalu.
“Maaf, karena Arel belum bisa jadi manusia yang layak seutuhnya.”
Bak disambar petir di siang bolong, hatiku yang sebelumnya merasa sangat kosong kini digerogoti nestapa dengan rakusnya.
“Arel pikir, Arel bisa mencintai siapa aja yang pengen Arel cintai. Ternyata Arel salah ya, Pi?” aku hanya mampu menggeleng pelan mendengarnya, lidahku teramat kelu untuk memotong semua untaian kalimat yang lolos begitu saja dari bibir anakku.
“Maafin Arel ya, Pi. Karena udah bikin malu.”
Hati seorang ibu mana yang tak akan hancur ketika mendengar anaknya melontarkan kalimat yang sebegitu dahsyatnya? Ku rengkuh tubuh Arel, memberikannya tepukan di punggung. Aku merasakan punggungnya mulai bergetar, disusul dengan isakan yang lirih namun masih bisa aku dengar.
“Maafin Mami, Arel.” Arel menggeleng pelan, masih dengan punggungnya yang terus bergetar.
“Arel maafin Mami karena Mami lupa mengajarkan ke Arel kalau mencintai itu juga perkara menerima.”
Hening panjang, aku meraup oksigen dengan rakus dan terus memberikan tepukan pada punggung Arel yang kini mulai tenang. “Mami menerima Arel sepenuhnya, sekarang Arel boleh lari dan buat dunia sendiri bareng Bara. Tanpa ada orang-orang yang menghakimi dan memaksakan standarnya.”
Arel masih tetap menggeleng dengan kepalanya yang berada di dalam pangkuanku. “Maafin Arel, Mami.”
“Arel, kalau memang dunia ini bukan buat Arel dan Bara, jangan ikuti aturan di dalamnya.”
Arel mendongak, memandang wajahku lamat-lamat. “Arel takut.”
“Ada Mami, kalau semua orang di depan nanti akan jahat dan jadi penghalang untuk kalian berdua atau enggak ada tempat untuk kalian di dunia, seenggaknya rumah Mami akan menjadi semesta paling nyaman yang bisa kalian singgahi. Tanpa takut untuk diusik dan tanpa takut untuk dihakimi.”
Aku terus merengkuh tubuh Arel yang kini semakin bergetar hebat lantaran isakannya yang sempat terhenti mulai memecah lagi. Semestaku sempat hancur sebelumnya, namun hartaku satu-satunya di dalam semesta ini lebih hancur rupanya.
Biar aku yang kini mempersilahkan dia membangun kembali semestanya yang sempat ku hentikan orbitnya, juga ku tegapkan bahunya yang sempat merunduk menyatu dengan Bumi hingga dasarnya.