Menjelang mentari di batas cakrawala, dengan punggungnya yang memikul beban penuh jauh-jauh dari Jakarta, Nahel menyibakkan poninya yang diterpa angin Ubud. Setelah seharian penuh kedua kakinya yang dibalut sepatu membawanya ke sana dan ke mari tak bertujuan, kini langkahnya dengan sengaja berhenti di depan sebuah studio tato dengan berbagai macam gambar unik yang terpampang pada displainya.
Nahel memindai dari ujung atas ke ujung bawah, ke ujung kiri hingga kanan, menyapu tiap inci bagunan di hadapannya. Pipinya sedikit menggembung, menandakan ia tengah berpikir keras kala itu. Hingga napasnya terhembus dengan sedikit tekanan, bertepatan dengan kakinya yang melangkah masuk melewati pintu kaca yang telah didorongnya.
“Sore, Bli! Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang lelaki dengan beberapa tato yang tercetak pada lengannya, senyumnya yang mengembang dalam pijakan kakinya di balik etalase menimbulkan kesan ramah.
“Ini tutup jam delapan ya? Kalau mau pasang tato sekarang, keburu nggak ya, Bli?” tanya Nahel, tangannya ia letakkan di atas etalase kaca yang menampilkan banyak contoh gambar. Netranya menelisik ke dalam etalase, mencari-cari jikalau ada yang tepat sesuai dengan inginnya.
Lelaki di seberangnya berdeham panjang, netranya mengikuti ke arah mana Nahel menelisik. “Bisa sih, asal enggak begitu ribet aja.” Nahel hanya mengangguk dan terus menyusur gambar-gambar yang terpampang di dalam etalase. “Atau mungkin Bli punya contoh dan desain sendiri?”
Nahel menggeleng pelan. “Enggak ada, sih. Karena emang impulsif aja tau-tau pengen pasang tato.” timpalnya diakhiri dengan kekehan.
Lelaki yang menjadi lawan bicara Nahel hanya ber-oh-ria sembari menukik alisnya. “Enggak akan nyesel tuh kalau tiba-tiba pasang tato?”
Harel memainkan lidahnya pada sudut bibirnya, memberikan gigitan kecil pada bagian dalam dan sapuan singkat pada tepi bibirnya. “Enggak?” ucap Nahel sebagai jawaban namun ia sendiri juga sedikit bertanya dan memastikan kepada dirinya sendiri. “Mau bikin kecil aja sih, Bli. Di bawah selangka kiri.” lanjut Nahel dengan tangan kanannya yang menepuk pelan daerah yang dimaksud.
“Sebentar ya, Bli.” ujar lelaki itu dan meninggalkan Nahel yang hanya mengacungkan jempolnya. Kakinya melangkah mendekati tiap-tiap gambar yang sengaja dipasang pada tembok.
“Je, tuh.” Nahel menoleh ketika kembali mendengar suara lelaki yang sebelumnya berdiri di balik etalase kaca, matanya nyalang dan lidahnya terasa kelu tatlaka menjumpai lelaki yang menjadi salah satu alasan dalam pikulan bebannya ketika menjejakkan diri di tanah Ubud.
“Na?”
“Je?”
Seorang lelaki yang sebelumnya berjaga itupun bergegas menyingkirkan dirinya dan memberikan ruang bagi keduanya ketika seseorang yang bernama ‘Je’ tersebut sedikit mendelik ke arahnya dengan bibirnya yang tergerak mengucap ‘mantan’ tanpa suara.
“Lucu banget, sumpah. Dari banyaknya studio tato dan dari luasnya Ubud, kenapa gue ketemunya sama lo?” ucap Nahel dengan intonasi remeh, ia menundukkan kepalanya dan membubuhi dengan gelengan.
Tanpa dipinta dan tanpa direncana, langkah kakinya yang dipenuhi dengan rasa impulsif membuatnya harus bersarang di sebuah studio tato kecil dengan Jericho di dalamnya; Jericho, lelaki yang sempat menempati ruang dalam hatinya sebelum akhirnya ia harus menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan kedua orang tuanya serta karirnya. Bahkan kalau Nahel diperbolehkan untuk jujur kepada dunia dan seluruh isinya, ia ingin berteriak dengan lantang dan mengumumkan bahwa lelaki penyandang nama Jericho tersebut masih dan akan selalu memiliki ruang tersendiri di dalam benaknya.
Jericho hanya tertawa dan menyandarkan dirinya pada etalase, meletakkan kedua tangannya di atas etalase dan menjadikannya sebagai tumpuan kepalanya. “Jodoh mungkin, Na. Emang udah jalannya kali lo sama gue.” goda Jericho yang berhasil membuat Nahel berdecih. “Mau pasang tato? Kenapa? Dulu katanya nggak akan mau.”
Nahel mengedikkan bahunya. “Ya suka-suka gue, kan badan gue.”
“Nggak dimarahin sama calon istri lo?” tanya Jericho dengan penekanan pada kata ‘istri’ membuat Nahel memutar bola matanya malas. “Lo ke sini sama siapa? Sendiri atau sama Gista?”
“Sendiri.”
“Tumben bokap lo ngebolehin?”
Nahel turut meletakkan tangannya di atas etalase, membuatnya berhadapan dengan Jericho. “Nggak izin, langsung cabut.”
“Kenapa dulu nggak cabut juga? Waktu pacaran sama gue, kenapa lo nggak berani untuk kabur bareng gue ke sini?” Nahel hanya terdiam dan menggembungkan pipinya, matanya menelisik tiap inci tubuh lelaki di hadapannya yang sudah lama tidak ia jumpai. Rasanya, sebagian besar dalam dirinya ingin menembus etalase yang menjadi penghalang dan merengkuh Jericho ke dalam pelukannya. Mengusap tato yang masih bertengger di atas selangkanya dengan bertuliskan ‘Nahel’ dan mengecupnya sebelum akhirnya mempertemukan bibirnya dengan bibir milik Jericho yang terlampau ia rindukan.
“Gue waktu itu belum seberani sekarang, Je.”
“Sekarang udah berani kalau gue minta lo tinggal aja di sini sama gue?”
Nahel terkekeh mendengar pertanyaan tidak masuk akal yang dilontarkan oleh Jericho. “Nggak juga.”
Tangan kanan Jericho terulur untuk menyusuri profil wajah Nahel menggunakan jarinya. “Lo tuh emang dasarnya nggak mau ya perjuangin kita?” Nahel berdecih dan menepis tangan Jericho.
Tidak mengindahkan tepisan yang sebelumnya Nahel berikan, Jericho bergegas menarik pergelangan tangan Nahel dan menggenggamnya dengar erat hingga membuat Nahel sedikit meringis menahan panas pada pergelangan tangannya. “Gue sayang banget sama lo, Nahel.”
“Kalau lo sayang gue, lo nggak akan nyakitin gue gini, Je.” ucap Nahel sebagai jawab dengan mengangkat pergelangan tangannya yang masih digenggam terlampau erat oleh Jericho. Kini perlahan genggaman itu mulai melemah, berubah menjadi usapan-usapan dengan maksud salur akan perasaan.
Setelahnya tidak ada obrolan lain selain Jericho yang menanyakan beberapa hal sebelum akhirnya memulai proses pembuatan tato pada salah satu titik di tubuh Nahel, berusaha untuk tetap bersikap profesional atas pekerjaannya.
Setelah usai dengan tugasnya untuk menyemayamkan guratan tato di atas tubuh Nahel, Jericho dengan seluruh keberaniannya yang ia dapatkan dari alat-alat pada genggamannya memberanikan diri untuk menarik Nahel ke dalam pelukan terakhir keduanya. Tidak lama setelahnya, Jericho membisikan kalimat sebagai pengungkap rasa sayangnya untuk terakhir kalinya, yang sialnya membuat Nahel tercekat dan berakhir tidak membalas apa-apa kecuali sebuah anggukan kecil.