Mie Ayam vs Bakso
Sinar matahari yang tak begitu terang menerobos kaca jendela dan menimpa seluruh isi ruangan, termasuk seorang lelaki yang tengah menelungkup pada atas meja di sebuah perpustakaan kota. Kepalanya ia tenggelamkan ke dalam tangannya yang ia tekuk sebagai bantalan, matanya memicing tatkala sinar tersebut mulai menyambangi dan mengusik damainya.
“Kamu semalem tidur jam berapa, Ra?” tanya seorang lelaki yang berada di seberangnya, tangan kirinya ia sejajarkan dengan wajah yang masih mengernyit serta buku-buku jari yang mengucek matanya.
Yang ditanya hanya mendongak dan menampilkan deretan giginya, surainya sedikit acak. “Lupa, semalem nonton dulu.”
“Udah kelas dua belas, kan, kurang-kurangin begadangnya Ra.” tegur lelaki yang tengah mengulurkan tangan kanannya untuk menyisir surai acak lawan bicaranya.
“Kak Bi.” lelaki itu berdeham sebagai jawab tatkala namanya disebut lirih. “Aku laper masa.”
Biru, lelaki yang dikeluhi itu lantas mendengus pelan bersamaan dengan suara gaduh dari salah satu lorong rak buku yang tersusun rapi. Baik Biru dan juga lelaki yang duduk di hadapannya, Azra, menaruh atensi mereka sepenuhnya kepada sumber suara.
“Maaf, maaf.” rapal dua orang lelaki yang tengah berulang kali membungkukkan tubuhnya ke segala arah.
“Lo sih! Segala ngajakin cepet-cepetan sampai bangku.” ujar salah satunya dengan volume suara yang memelan, langkahnya terlebih dulu berjalan menyambangi meja tempat Biru dan Azra terduduk.
“Lah? Kak bakso?!” pekik seorang lelaki yang masih berdiri di samping kursi kayu yang telah ia tarik guna ditempati.
“Noel! Diem, anjrit.” ucap seorang lelaki yang sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya, tangannya ia angkat ke atas menyambangi mulut yang sekenanya memekik dan kembali mendapati banyak pasang mata yang melirik.
Masih dengan mulutnya yang didekap, lelaki itu mendudukkan dirinya di samping lelaki yang membungkamnya.
“Jangan berisik, kalau mau rame bukan di sini tempatnya.” celetuk Biru, netranya menelisik dua orang lelaki dengan balutan seragam putih abu-abunya yang baru saja menjadi pusat perhatian.
“Lo kan si mie ayam itu?” tanya Azra setelah mengamati lamat-lamat seseorang yang kini terduduk di sampingnya.
“Lama banget lo nyadarnya!” cibir lelaki yang tengah merogoh ranselnya.
“Siapa, Ra?” tanya Biru lirih, netranya turut tak lepas dari dua orang lelaki yang lebih muda dari dirinya.
“Noel siapa, nama lo Noel kan? Gak tau Kak Bi, orang aneh.” timpal Azra dan mengedikkan bahunya.
Seorang lelaki yang terduduk di samping kiri Noel pun terkekeh kecil. “Emang aneh sih, Kak.”
“Iyon monyet!” ucap Noel dan mendorong tubuh Orion, seorang lelaki yang turut mengiyakan ucapan Azra. “Enak aja gue aneh. Lo kali, aneh!” lanjut Noel, memandang remeh ke arah Azra yang tengah mengangkat kedua alisnya.
“Ngaca lo!”
“Lo!”
“Lo!”
“Kenapa sih, Ra?” tanya Biru, punggungnya yang sedari tadi ia sandarkan pada penyandar kursi pun sudah ia tegapkan.
“Tuh, kemarin dia ngatain mie ayam gue!” ucap Noel, mulutnya kini kembali dibungkam erat dengan telapak tangan Orion.
“Gak usah rame, bisa?” tanya Biru dan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Orion dan Noel yang tengah gaduh.
“Siap, bisa, Kak!” ujar Orion dan melepaskan telapak tangannya dari mulut Noel.
Azra tidak terima dengan ucapan Noel, Ia langsung melipat kedua tangannya sambil menatapnya sengit.
“Lah apaan? Kan lo duluan yang ngatain bakso gue.” jawab Azra tak mau kalah.
“Tapi bakso lo emang aneh sih, kak. Gak ada rasanya.” ucap Noel membalas perkataan Azra.
“Sok tau. Enakan bakso, mie ayam kebanyakan variasinya.”
“Nah kan, kok lo ngatain lagi sih?”
“Yang mulai duluan siapa gue tanya?”
Biru sudah tidak tahan melihat pertengkaran mereka pun meletekkan jemarinya di bahu Azra. “Ra, udah. Mending sekarang kamu selesaiin belajarnya, habis ini kita cari makan” ucapnya dengan lembut.
Yang diajak bicara akhirnya mengalah. Ia kembali menaruh atensinya pada buku ekonomi yang ada di hadapannya.
“Lo juga udah, El. Ayo belajar aja.” ucap Orion sambil menenangkan Noel yang kelihatannya masih belum mau kalah.
Kini Biru kembali fokus mengajarkan Azra mengenai materi-materi yang belum Ia pahami, sementara Orion dan Noel mulai mengerjakan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. “Iyon, gara-gara ngomongin makanan aku jadi laper deh” ucap Noel sambil memegang perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
Orion tertawa kecil saat mendengar suara perut Noel, Ia mengusap perut orang di sampingnya itu dengan lembut. “Emangnya kamu mau makan apa?” tanya Orion yang sudah duduk menghadap Noel.
“Mie ayam.” jawab Noel diakhiri dengan kekehannya.
Azra yang sedari tadi sedang sibuk menghapal rumus pun menoleh, netranya menatap Noel. “Kak Bi, aku abis ini mau makan bakso.” ucap Azra tak luput menekankan kata bakso pada akhir kalimatnya.
“Iya, Ra. Ini satu nomor lagi” jawab Biru.
“Yon, aku mau makan mie ayam.” ujar Noel tidak mau kalah, ia tekankan kata mie ayam dengan ekor matanya yang melirik ke arah Azra.
“Kak, ayo makan bakso!”
“Iyon, kamu mau makan mie ayam kan?”
“Kak, kamu mau mak-”
“Azra. Iya, Biru mau makan bakso. Tapi sekarang tolong fokus dulu, ya?” Azra langsung terbungkam mendengar perkataan Biru, matanya sekilas ia lempar ke arah Noel sebelum kembali belajar.
Orion yang melihat perkelahian mereka hanya bisa menggelengkan kepala, tak berniat untuk ikut campur permasalahan bakso-mie ayam. Menurutnya, mau bakso ataupun mie ayam, semuanya sama saja. Sama-sama enak.
“Kak, tapi Azra laper.” celetuk Azra di sela-sela aktivitas belajarnya..
“Iyon, Noel laper.” ucap Noel setelah mendengar perkataan orang yang ada di samping kanannya.
Azra bersungut dan kembali melipat tangannya. “Heh, Noel! Lo kenapa ngikutin mulu sih?”
“Maksud lo gimana, Kak? Gue emang laper beneran” timpal Noel dengan memicingkan matanya, dagunya sedikit bergerak sebab giginya yang bergertakkan.
“Ya lo kira gue laper bohongan?”
“Lah yaudah.”
“Udah, tolong semua diem.” ucap Biru yang tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Nama lo Noel kan? Geser, lebih deketan sama pacar gue.” tuding Biru ke arah Noel menggunakan pensil pada tangannya.
“Hah? Kenapa Kak?” tanya Noel dengan sarat wajah kebingungan.
“Kalian gak boleh pergi dari sini sebelum baikan.” ucap Biru dengan tegas, sedang Orion hanya mengulum bibirnya untuk menahan tawa.
“Tuh, dengerin Kakak nya, ayo baikan dulu.” timpal Orion menambahkan, tangannya mendorong bahu Noel supaya bergeser lebih dekat dengan Azra, membuat Noel bergegas berdiri dan menuju kursi kosong di sebelah Azra.
Noel yang memang sudah sangat lapar, langsung membuka suara. “Kak, maafin gue deh ya. Gak lagi-lagi gue ngatain bakso lo.”
Awalnya Azra ingin menjahili Noel, tetapi saat Ia melihat ekspresi orang yang ada di seberangnya hingga akhirnya Ia urungkan niatnya. Azra meraup napasnya dengan rakus sebelum akhirnya menghembuskan napasnya dan menjawab. “Iya, maafin gue juga deh.”
“Nah, gini kan enak. Lagian apa bedanya sih mie ayam sama bakso? Sama-sama makanan dan sama-sama enak, kan?” ucap Orion yang tengah memperhatikan mereka berdua. Biru yang mendengarkan perkataan Orion pun mengangguk setuju.
“Eh tapi gue belom tau nama lo sama nama pacar lo, Kak. Bener kan, pacar?” ujar Noel menghadap Azra sambil mengerjapkan matanya, jemarinya sibuk memainkan pensil. Gemas, pikir Azra.
“Oh iya, lupa kenalan. Nama gue Azra, kalau pacar gue namanya Biru. Kalau kalian siapa?” tanya Azra sambil bergantian melihat Noel dan Orion.
“Nama gue Noel, Kak. Kalau yang ini namanya Orion, pacar gue.” jawab Noel sembari mengarahkan dagunya ke arah Orion saat menyebutkan namanya.
Azra mengangguk dengan bibirnya yang membentuk bulat, ber-oh-ria.
Netranya kini menatap Biru yang masih bersedekap dada. “Udah baikan, Kak Bi, ayo makan!”
“Yaudah kalau gitu, gue sama Azra pamit duluan ya.” ujar Biru yang hendak beranjak dari kursinya.
“Sebentar, Kakak.” ucap Azra menghentikan langkah Biru.
“Kenapa, Ra?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Biru, Azra malah duduk menyamping untuk menghadap ke arah Noel. “Tukeran sosmed, dong. Sekalian sama sosmed pacar lo juga kalau boleh.” ucapnya dengan tangan yang sudah menyodorkan ponselnya.
“Oh iya, boleh Kak.” jawab Noel sembari menerima sodoran dari Azra dan dengan bergegas menuliskan username sosmednya sebelum akhirnya ia kembalikan si empunya.
“Oke, sip. Gue balik duluan ya!” ucap Azra yang tengah membereskan buku-bukunya.
“Iya Kak, hati-hati. Kapan-kapan cobain mie ayam ya!”
“Nanti gue pikirin deh, makasih ya gemes.” jawab Azra seraya mengusak surai Noel.
“MAKSUD LO?” pekik Noel yang terkejut akibat perlakuan penuh ketiba-tibaan Azra yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya.
“Noel, diem anjir! Masih aja lo teriak-teriak, hobi banget nyari ribut sama orang.” mulutnya kembali dibungkam oleh Orion yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Azra terkekeh.
“Maaf, Noel, udah ah dadah!” Azra membalikkan badan dan langsung menggandeng Biru yang tengah tersenyum karena melihat pasangan yang sedari tadi ribut.
“Noel.” ucap Orion yang sudah melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Noel.
“Apa?”
“Kak Azra gak salah sih.”
“Maksudnya?”
“Kamu emang gemes, El.” timpal Orion sembari mengusak surai Noel dengan lembut.
Noel menyikut pinggang Orion dengan kencang, matanya menyipit serta hembusan napasnya kasar. “Lo, ya, enggak ada permisi-permisinya dulu!” Orion terkekeh dan semakin sengaja untuk mengusak surai Noel dan merapalkan kata gemas tepat di depan wajahnya.