Milyar-milyar, juta-juta, ratus-ratus sekian kemungkinan pasang mata di dunia, sepasang manik mata milik Orion lah satu-satunya yang mampu menjadi pusat dunia Noel sejak kali pertama pertemuan keduanya. Noel berani bersumpah bahwa saat itu gravitasi Bumi pasti akan merasa malu dan tak ternilai besarannya sebab netra Orion, netra lelaki di hadapannya itu, memiliki daya tarik lebih kuat dari apapun yang ada di Bumi.

“Hai.” sapa Noel ketika langkahnya mencapai titik henti tepat di sebelah motor Orion.

Noel ingat betul sekencang apa degupan jantungnya tempo hari saat selesai berlari sebanyak seratus kali menemani Orion yang harus menyelesaikan hukumannya. Namun Noel yakin, degupan itu tak sebanding dengan degupan yang bersarang pagi ini. Ini kali pertama bagi keduanya bertemu, bertukar pandang dan mengikis jarak yang tadinya membentang ratusan kilo meter jauhnya.

Orion yang masih terduduk di atas motornya, dengan menggunakan tangan kirinya ia merangkul panggul Noel yang berdiri tak bergeming di sebelah motornya. Dengan memberikan dorongan yang tak terasa menuntut namun menuntun, Orion berhasil membuat lelakinya memijakkan kaki semakin dekat ke arahnya. Tangan kanan Orion tergerak mendekat ke puncak kepala Noel, menyusuri helai demi helai menggunakan jemarinya dengan penuh hati-hati.

“Lupa belum nyisir, lo sih tau-tau bilang udah sampai depan!” ketus Noel dengan kekehannya yang mengikuti, punggungnya sedikit menunduk untuk memudahkan Orion terus menyisir surainya. Orion tersenyum mendengar penuturan Noel, menampilkan matanya yang menyipit dan hidungnya yang mengkerut lucu.

“Noel, jadi pacar gue ya.” ucap Orion tanpa intonasi tanya. Noel mengerutkan dahinya begitu menangkap lima kata yang dirangkai menjadi satu kalimat, dilontarkan tanpa permisi sebelumnya.

“Kan udah?” timpal Noel dan menegakkan tubuhnya, membuat Orion dihentikan secara paksa atas kegiatannya dalam menyusuri tiap helai surai Noel.

“Lagi. Setiap hari kalau perlu, biar jadiannya setiap hari.” ujar Orion dengan enteng, tangannya meraih helm yang sedari tadi terus berada dalam pelukan Noel. Memasangkannya seperti hal yang biasa ia lakukan, memastikan sudah terkunci dengan benar. Jari telunjuk Orion tergerak dan menyibak rambut Noel yang tersisa supaya tak lagi menghalangi netra lelakinya.

Noel hanya mendengus dan melayangkan pukulan kecil pada lengan Orion. Kakinya melangkah untuk lekas mendudukkan diri di atas motor tatkala Orion mulai menyalakan mesin motornya. Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu diminta, Noel memberikan genggaman erat pada pinggang Orion sebelum akhirnya Orion mulai melajukan motornya.

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, udara pun masih belum terkontaminasi zat-zat beracun sepenuhnya. Dan Noel, masih dengan senyumnya yang tak kunjung luntur semakin mengeratkan genggamannya.

“Iyon, kenapa kemarin nggak bilang kalau udah pulang? Gue malah tau dari Kak Isa.” pertanyaan yang Noel simpan rapat-rapat sejak semalaman pun berhasil ia keluarkan.

Orion semakin memperlambat laju motornya, kepalanya sedikit ia mundurkan untuk menyambangi kepala Noel yang telah sedikit maju sebelumnya. Melawan suara-suara laju kendaraan lain, juga udara yang terdengar gaduh saat diterpa.

“Tadinya mau kasih surprise tapi kemarin lo bilang lagi main sama temen-temen lo, yaudah gue pakai istirahat dulu di rumah biar lo bisa main juga sama mereka.” Noel mengangguk paham, alisnya sedikit terangkat bersarat kejut tatkala punggung tangan kirinya tersengat dingin yang disalurkan dari genggaman tangan kiri Orion.

“El, nanti pulang sekolah tungguin gue bentar ya? Gue jemput biar sekalian jalan mumpung lo nggak ada kumpul jurnalistik.” ujar Orion dengan tangannya yang terus menggenggam tangan kiri Noel, menaruhnya di atas pahanya dan sesekali memainkan jemari Noel.

“Gue lupa!” pekik Noel, kedua matanya sekilas memejam erat dan memberikan gigitan pada bibir bawahnya.

“Lupa apa?”

“Gue udah bilang sama Mo, kemarin dia nagih traktiran gitu terus gue bilang besok pulang sekolah deh mumpung nggak ada kumpul jurnalistik.” jawab Noel dengan intonasinya yang dipenuhi rasa sesal.

“Besok aja kalau gitu, gue izin basket nggak apa.” timpal Orion dan memberikan tepukan pada punggung tangan Noel sebagai sirat ’Nggak apa-apa.’ sebelum akhirnya genggaman itu ia lepaskan.

“Kenapa dilepasin?” protes Noel dan mengerucutkan bibirnya, Orion terkekeh tatkala netranya menangkap pantulan wajah Noel dengan kerucutan bibirnya pada kaca spion dan meraih tangan Noel kembali dalam genggamannya. “Nanti gue bilang Moren dulu ya. Pokoknya hari ini gue sama lo, biar besok nggak perlu izin basket. Nanti lari seratus kali lagi, jangan deh! Bisa-bisa gue balik jomblo karena lo tinggal mati kecapekan.” tawa Orion yang tak bisa Noel lihat pun dengan waktu singkat mampu menghangatkan benaknya.

“Beneran nih nggak apa-apa Mauren nya?” tanya Orion memastikan. Jika boleh jujur, sebagian besar dalam dirinya berteriak memintanya bersikap egois, mengharap untuk menjadi peringkat satu bagi Noel kali ini.

“Nggak apa-apa, Moren mah luang terus jadi besok juga nggak apa-apa.”

“Bukan masalah luang atau enggaknya, Noel. Masalahnya kan lo udah janji dulu ke Mauren.” timpal Orion memastikan sekali lagi.

“Nggak apa-apa, Iyon. Kan waktu itu juga gue janjinya sama lo dulu, malah lo nya ngalah ke Moren. Gimanapun juga lo udah jadi pacar gue, masa gue nggak ada usaha untuk jadiin lo prioritas gue sekalipun? Lagian dari kemarin nggak ketemu kan kita. Gue kalau mau ketemu Moren mah tinggal buka jendela juga bisa nengok kamarnya.” cerocos Noel yang sesekali tak terdengar nyaring pada telinga Orion sebab kendaraan-kendaraan yang terus berlalu-lalang pun mendahului dan melontarkan klakson.

“Apa?”

“Dih rese banget anjing nih yang klakson-klakson, nggak tau apa orang lagi pacaran.” pekik Noel dan mendengus.

“Lagi apa, El?”

“Pacaran anjing lo jangan ikutan rese!”

Orion hanya tertawa, tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Noel pun menyimpan tangan Noel pada saku hoodie nya. Meningkatkan laju motornya dan mengikis waktu serta jarak untuk segera sampai tujuan. Detik berikutnya hanya presensi satu sama lain lah yang menjadi teman di atas motor. Tanpa obrolan namun penuh dengan sorak-sorai yang terasa penuh kehangatan, bersarang dan merengkuh satu titik pada sukma masing-masing.