Noel memicingkan kedua matanya dilanjutkan dengan meloncati dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat geraknya menuju suatu sudut yang sudah terdapat segerombolan anak seusianya, matanya tertuju kepada seorang lelaki dengan kepulan asap rokok di wajahnya.

Noel menghirup udara dengan kuat-kuat, memasukkan oksigen yang cukup untuk mengisi seluruh rongga pernapasannya dan menghembuskannya dengan gusar. “Lo masih aja ya, beraninya sama cewek.” serang Noel ketika menjejakkan kakinya tepat di depan lelaki tersebut.

Habrizi, seorang lelaki yang secara tiba-tiba didatangi oleh Noel pun kini bangkit dari duduknya. Keduanya saling diam dan bertukar tatap, masing-masing menyiapkan diri dengan mengambil napas panjang-panjang.

“Tuh anak ngadu ke lo lagi ya, El?”

Seperti yang sudah Noel gambarkan di dalam kepalanya, dengan penuh amarah dan tanpa aba-aba kini tangan kanannya mengepal dengan erat untuk melayangkan pukulan ke wajah lelaki tersebut.

Habrizi tersungkur, disusul dengan Noel yang segera berjalan mendekat dan meremas kerah baju Habrizi dengan kuat-kuat karena ia sudah siap melayangkan pukulan berikutnya. Habrizi berdecih dan menyeka tulang hidungnya, seluruh pasang matapun tertuju ke keduanya dan tak ada satu orangpun yang berani menginterupsi.

Pukulan-pukulan berikutnya Noel layangkan, Habrizi yang tak terima dengan cepat menendang perut Noel dan berusaha meloloskan dirinya. Noel yang sudah terlebih dahulu mengeluarkan energinya pun terjatuh, belum sempat ia berdiri kini tubuhnya sudah ditimpa oleh Habrizi yang tengah mencengkram rahangnya. “Apa? Temen lo itu emang nggak tau diri, El. Lo jangan sok jadi jagoan.” ucap Habrizi, tangan kanannya ia gunakan untuk menyundutkan puntung rokoknya yang masih membara ke bahu Noel yang terekspose akibat perkelahiannya barusan.

Noel yang meringis menahan perih lekas mencengkram kerah belakang Habrizi, menariknya dengan kencang sehingga membuat Habrizi tercekik akan kerahnya dan melepaskan cengkraman serta sundutan rokoknya pada bahu Noel yang terekspose. Noel yang sebelumnya tergeletak pun kini telah berdiri, kakinya sengaja ia pijakkan pada telapak tangan Habrizi yang masih terduduk dan merintih kesakitan. “Yang salah bokap Mauren, bukan Mauren nya. Lo kalau mau marah dan ngusik, usik bokapnya jangan Mauren nya. Lo kalau goblok, jangan disimpen sendi-“

“Noel.” Noel hapal betul suara siapa yang dengan lantang menyerukan namanya. Dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara, terdapat Orion yang menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi. Satu titik yang Orion tangkap setelahnya adalah bekas sundutan pada bahu Noel yang mengeluarkan darah dan menimbulkan bekas luka bakar.

Noel diam tak bergeming, ia sangat ingin menyembunyikan dirinya pada inti Bumi. Tangannya ditarik secara paksa oleh Orion, membawa Noel keluar dari lingkaran kerumunan menuju tempat di mana ia dan tim basketnya berkumpul.

“Jun, tolong panggilin tim medis dong.” ucap Orion setelah mendudukkan Noel pada salah satu bangku. Tangannya menahan baju yang Noel kenakan supaya tak menyentuh lukanya sehingga tak menimbulkan gesekan, sesekali tangannya mengibas pelan.

“Iyon, boleh minta tolong cek Mauren nggak di toilet sana?” tanya Noel dengan lirih, matanya masih tak berani membalas tatapan Orion. “Itu, di toilet deket tangga tadi.”

“Luke, tolong dong?” ucap Orion yang malah melemparkan pinta Noel kepada Luke yang tengah melakukan peregangan. Luke mengangkat kedua alisnya, telunjuknya pun turut menunjuk dirinya sendiri dengan sarat bingung.

“Eh, nggak usah deh. Udah hampir giliran masuk kan, gue aja abis ini selesai.” ucap Noel dan melirik pundaknya yang tengah diberikan penanganan. “Iyon, sorry ya.”

“Iya, habis ini langsung cek Mauren terus masuk aja. Jangan macem-macem lagi, El.” ucap Orion, sempat memberikan tepukan pada puncak kepala Noel sebelum akhirnya bergegas masuk bersama tim nya dan meninggalkannya di luar dengan seorang tenaga medis.