Noel menyelipkan rambut panjang Mauren ke belakang telinga si pemilik leher jenjang dengan balutan warna kulit yang cerah dan dingin seperti pualam. Sesekali tangannya menepuk puncak kepala Mauren yang masih terisak dengan posisi tubuhnya yang menekuk kedua lututnya dan membawa ke dalam rengkuhannya.
Kedua tangan Noel meraih kedua tangan Mauren, menggenggamnya dengan erat dengan ibu jarinya yang mengusap punggung tangan Mauren secara terstruktur. “Kenapa kok malah lo yang nangis?”
Mauren menggeleng dengan tangisnya yang kini kembali pecah setelah Noel melontarkan pertanyaan kepadanya. Noel yang terlihat panik bergegas menarik kedua tangan Mauren dan dengan cepat merengkuh tubuh Mauren, mendekapnya dengan erat. Sesekali Noel memberikan usapan dan tepukan kecil pada punggung Mauren, membisikkan beberapa kalimat yang semoga saja dapat menenangkan Mauren dalam isakannya yang tak bersuara.
“Gue mau minta maaf karena dulu sering bantuin temen gue yang minta dicomblangin ke lo.” ucap Mauren yang kini sudah lebih tenang dari sebelumnya. “Gue nggak tau kalau lo-“
Noel melepaskan rengkuhannya pada tubuh Mauren, ibu jarinya menyeka sudut mata Mauren yang masih meninggalkan basah. “Ya enggak apa-apa kali, Mo. Gue nggak pernah marah sama lo, walau kadang temen lo ada yang bikin risih.” potong Noel dengan kekehannya di akhir kalimat.
“El, sejak kapan lo tau kalau lo suka sama cowok?” tanya Mauren menyelidik, tangannya kini menyapu rambut-rambutnya yang sedikit basah dan menutupi penglihatannya.
Noel hanya mengedikkan bahunya, kedua tangannya ia taruh di belakang sebagai tumpuan tubuhnya. “Nggak tau, Mo. Tapi gue ngerasa ada yang beda, gue ngerasa tertarik dan penasaran waktu lihat dia.”
Mauren bergidik ngeri, mengundang kekehan Noel di hadapannya. “Lo kalau jatuh cinta cringe banget, anjing!”
Noel hanya menjulurkan lidahnya, mengejek. “Dia kalau di sekolah gimana Mo?”
Mauren menyandarkan punggungnya pada sisi kasurnya, pandangannya menerawang jauh ke langit-langit kamarnya dan sempat berdeham panjang. “Orion ya? Nggak tau sih, gue nggak begitu perhatiin dia. Tapi yang gue tau orangnya emang famous dan everyone’s crush gitu, deh! Ya secara kan, udah anak band mana anak basket juga. Double combo banget.” terang Mauren menjabarkan sosok Orion menurut sepengetahuannya.
“Lo nggak naksir?”
Mauren yang ditanya hanya terkekeh, sebagian kecil dalam dirinya ingin meneriaki wajah Noel. ”Ya gue sukanya sama lo, monyet!” namun sebagian besar dalam dirinya masih memiliki sisa kewarasan.
“Gue kira lo bakal ngejauh dari gue setelah gue ceritain ini.”
Mauren dengan tawanya yang meledak memukul lengan Noel dengan kencang. “Lo ngeremehin pertemanan kita banget ya, bangsat.”
Noel hanya meringis dan mengelus lengan kirinya. “Perut lo udah enggak sakit?” Mauren hanya mengangguk dan menunjuk bungkus obat yang berada tak jauh dari keduanya.
“Lo mau balik lagi ke bengkel?” tanya Mauren saat memperhatikan Noel yang bergerak dengan gelisah, sesekali matanya melirik layar ponsel pada genggamannya. “Balik gih, biar bisa ngobrol banyak dan makin deket sama Orion.”
Bukannya lekas bergegas dan mengikuti saran dari Maurel, Noel kini membaringkan tubuhnya di lantai. Membiarkan dingin dari lantai kamar Mauren menyapa tubuhnya yang hanya terhalang kaus hitam tipis. “Nanti ah, bentar lagi. Takut kelihatan ngebet pengen ketemu.”
Maura terkekeh dan membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Noel. “El, lo seneng, nggak?” tanya Mauren yang menghadap ke samping, ke arah Noel yang tengah memejamkan kedua matanya.
“Seneng kenapa?” tanpa membuka kedua matanya, Noel menanggapi pertanyaan Mauren.
Mauren mengedikkan bahunya. “Nggak tau. Ya, seneng karena akhirnya lo ketemu Orion? Seneng karena akhirnya lo tau apa yang lo suka dan yang lo mau? Seneng karena lo udah paham sama diri lo sendiri? Seneng karena lo udah cerita ke gue? Atau seneng karena lo-“
Noel terkekeh dan membuka kedua matanya. Tangan kananya menangkup sekilas bibir Mauren yang tengah mengerucut. “Iya, gue seneng, Mo.”
“Gue juga seneng kalau lo seneng, El.” Mauren menghembuskan napasnya, benaknya dipenuhi oleh frasa demi frasa untuk ia rangkai. Dari sekian banyaknya dialog-dialog yang menggantung dalam kepalanya, Mauren hanya mampu melontarkan satu kalimat yang terdiri dari tujuh kata.
Dalam keheningan ponsel Noel berdenting, layarnya menampilkan nama Orion di atasnya. Tanpa rencana dan tanpa dipaksa, senyum itu terus mengembang.
***
Noel menambah kecepatan pada laju motor yang ia kendarai tatkala rintik hujan yang kian lebat dan menantang menghujami tubuhnya. Tanggung, pikirnya. Karena hanya tinggal beberapa ratus meter dan dua gang lagi ia sampai pada tujuannya. Kaca pada helm yang ia kenakan pun sesekali ia usap, membersihkannya dari air hujan yang bertengger di sana dan mengganggu penglihatannya.
Ia menghentikan laju motor tersebut sesampainya di tempat tujuannya, memarkirkan sepeda motor itu pada deret-deret motor lainnya yang terjejer rapi. Dengan kaki jenjangnya, Noel lekas menjauh dari motor dan menjejakkan kakinya pada gerombolan laki-laki sebayanya yang sebelumnya terdengar sangat ricuh kini tiba-tiba terdiam. Tak ada satupun yang bergeming dari duduknya, kecuali Orion.
Orion dengan sigap melepaskan jaketnya dan menangkupkannya pada tubuh Noel, yang dengan segera dilepaskan oleh Noel. “Nggak usah, gue mau langsungan balik aja, Yon.”
Tidak ada satupun dari teman-teman Orion yang menginterupsi, memberi ruang bebas kepada keduanya. “Loh? Ini masih hujan, El.”
Noel mengangguk. “Makanya, mumpung masih hujan jadi sekalian aja hujan-hujan. Lagian gue udah basah kuyup gini?” tunjuk Noel kepada seluruh tubuhnya yang memang benar, tidak menyisakan sedikit sisipun yang kering.
“Lagian kenapa lo nggak neduh dulu, sih? Itu di jok motor gue juga ada jas hujannya.” ucap Orion dan segera berlalu ke dalam warung untuk memesan susu hangat, setelah melihat Noel yang sedikit menggigil dalam pijakan kakinya.
“Eh duduk-duduk dulu, El.” ucap Luke yang akhirnya menginterupsi, membukakan jalan dan tempat untuk Noel duduki. Sedang Noel menjawabnya dengan gelengan, tak enak sebab dirinya basah kuyup takut membasahi yang lainnya.
“Nggak apa-apa, kali? Duduk aja nih sambil diminum, gue coba ke sekolah bentar ya.” ucap Orion yang berjalan dari dalam warung, tangannya mengulurkan segelas susu cokelat hangat ke arah Noel. Tangannya mendorong tubuh Noel pelan, menuntunnya untuk duduk di tempat yang tersisa.
Noel dengan wajahnya yang penuh sarat kebingungan hanya mengikuti instruksi dari Orion, wajahnya mendongak untuk menatap wajah Orion yang berdiri di hadapannya. “Gue cariin baju olahraga dulu, ya, kayaknya di ruang basket ada. Sebentar aja, jangan kemana-mana.” Orion bergegas meninggalkan yang lainnya, sebelumnya ia juga telah kembali menangkupkan jaketnya pada tubuh Noel.
Bukan hanya Noel yang tak bergeming, seluruh teman-teman Orion pun hanya diam di tempatnya masing-masing dan menatap Orion dengan langkahnya yang semakin menjauh. Menerabas hujan dengan payung lusuh yang terdapat beberapa lubang di atasnya, hasil pinjaman Bu Romlah pemilik warung.
Noel dengan kikuk meneguk segelas susu yang diberikan Orion, matanya memindai ke sana dan ke mari. Satu-satunya orang yang ia kenal di sekelilingnya hanya Marvel, pun itu tidak terlalu kenal hanya sebatas tahu namanya.
“Santai aja, El. Jangan tegang gitu lo jadi kelihatan kayak tawanan.” celetuk Marvel yang mengetahui gelagat Noel yang dibalas anggukan dan cengiran.
“Mauren masih sakit, El?” kini Luke yang berusaha mencari topik pembicaraan yang dirasa mampu mencairkan suasana di tengah-tengah mereka.
“Loh? Kok tau kalau Mauren sakit?”
“Iya, dari Tweet-nya.” timpal Luke diakhiri dengan kekehan kecil supaya terlihat lebih bersahabat.
Sedang Noel hanya ber-oh-ria dan mengangguk. “Iya udah sih tadi, emang gitu anaknya kalau lagi dapet. Lo perhatiin banget, deh? Naksir Mauren ya, lo?” Noel mulai merasa dapat melesakkan dirinya dengan tenang di antara teman-teman Orion.
“Wah, bukan lagi, El.” timpal Svarga setelah akhirnya menurunkan ponsel dari hadapannya, mengakhiri permainan pada ponselnya.
Sembari menunggu Orion kembali, Noel sudah mampu sepenuhnya menyamankan dirinya di sana. Bahkan Noel yang sebelumnya kikuk dan terus merasa terintimidasi kini tak ada lagi. Bermula dari topik obrolan seputar Luke yang cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Mauren, kini mengalir hingga antah-berantah.
Kedatangan Orion dalam ligkaran itu kembali membawa suasana menjadi diam, semuanya membiarkan Orion untuk memiliki waktunya sendiri bersama Noel. Bahkan hujan yang sedari tadi berteriak seolah ingin diperhatikan pun sudah sedikit reda, seolah-olah seluruh alam semesta beserta isinya mengizinkan Orion untuk akhirnya bertemu dengan Noel pada ujung labirin-labirin dunia.
“Dipakai, masuk aja ke dalem ada kamar mandi.” ujar Orion dan meletakkan kantong plastik berisikan pakaian olahraga yang telah ia ambil dari dalam ruang basket. Noel menurut, seluruh perkataan Orion pada dirinya hari itu terasa sebagai tuntut.
Sebelum akhirnya Noel melesakkan dirinya ke dalam warung untuk menuju kamar mandi, Orion menahan pergelangan tangannya. Membuat Noel berhenti dan berbalik menghadap Orion. “Ada minyak kayu putih juga di situ, dipakai ya.” Noel hanya mengangguk dan lekas meninggalkan Orion yang kini tengah menjadi sasaran dari cibiran teman-temannya.