Origami Merah.
Kedua kaki mungil itu menggantung, tak hinggap pada lantai guna berpijak. Empunya mengerucutkan bibir, sesekali menyerocos karena kebingungan akan langkah lipatan-lipatan pada kertas origami di tangannya.
“Kak Ael, ini gimana? Ale bingung.” adu gadis kecil itu kepada seseorang yang lebih tua di sebelah kanannya. Kedua tangan mungilnya menyodorkan kertas origami yang sudah memiliki bekas tekukan pada setiap incinya, membuat sedikit lecak.
“Coba Ale sambil lihat Kak Arel.” ucap Farrel dan kembali membuka lipatan kertas origami di tangannya, memulainya dari awal. Aleena hanya mengangguk kecil dengan tangannya yang terus berusaha mengikuti instruksi Farrel.
Lebih dari setengah jam yang lalu day care sudah steril, menyisakan Farrel, Aleena, serta Pak Kadir selaku satpam yang tengah berjaga. Seharusnya setelah Farrel menaruh alat gambar titipan Mami di ruang kreasi, ia dapat bergegas pulang dan membaringkan tubuhnya di kasur. Namun kala itu semesta memintanya untuk tetap tinggal, menemani Aleena yang selalu mendapatkan jemputan terakhirnya.
Aleena memekik girang dan menggerakkan kedua kakinya dengan cepat, membuat Farrel menghentikan lipatan-lipatan kertas origaminya dan melemparkan tatapan ke arah mata Aleena memandang. “Om Baya!”
Lelaki itu tersenyum sama lebarnya dengan Aleena. Lelaki yang juga Farrel jumpai kemarin sore, lelaki dengan postur tubuhnya yang tegap berbalutkan jaket kulit berwarna hitam dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Lelaki itu melambaikan tangan ke arah Aleena, membuat Aleena semakin berseru semangat dan mengayunkan kedua tangannya sebagai tanda untuk lelaki itu mendekat ke arahnya.
Semerbak wangi aroma maskulin yang sedikit manis menyeruak masuk ke indra penciuman Farrel tatkala lelaki itu bersimpuh di hadapan Aleena dengan satu kakinya yang bertumpu di lantai.
“Om Baya, lihat! Ale bisa bikin buung.” ujar Aleena dan memamerkan kertas origaminya yang telah terlipat berantakan, membentuk seekor burung kecil. “Tapi bagusan punya Kak Ael.” imbuhnya dan menunjuk tangan Farrel yang memegang origaminya.
“Punya Ale juga udah bagus.”
Aleena menggeleng, memberikan bantahan. Gadis kecil itu menarik secarik origami dari dalam plastik bening pada pangkuan Farrel dan menyodorkannya ke arah lelaki di hadapannya, Bara.
“Om Baya buat juga!” seru Aleena.
“Om enggak bisa, Le. Sama kakaknya aja.” ujar Bara menimpali, tangannya enggan menerima sodoran kertas berwarna merah tersebut dan dagunya yang ia arahkan ke Farrel.
“Kata Kak Ael enggak boleh bilang gak bisa. Hayus cobain dulu!” ujar Aleena, tangannya masih bersikukuh menyodorkan selembar origami tersebut kepada Bara. Bara hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menerima uluran kertas tersebut.
“Coba sini Kak Ael contohin, Ale juga coba lagi dong sambil diajarin Om nya.” ujar Farrel yang sedari tadi diam menyaksikan interaksi menggemaskan antara om dan keponakan di hadapannya.
Tangan Farrel menarik dua lembar kertas origami dari wadahnya, satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna biru.
“Ale mau yang warna apa?” tanya Farrel, tangannya menggoyang-goyangkan dua lembar kertas tersebut di hadapan Aleena.
“Biu!”
Bara terkekeh dan menggoyangkan kepala Aleena pelan karena gemas hingga dua buah kucirnya menimbulkan gerakan kecil yang terlihat lucu.
“Jadi gimana, Kak Ael?” tanya Bara dengan kedua tangannya yang telah bersiap mengikuti langkah demi langkah yang akan Farrel ajarkan. Farrel mengulum senyumnya, kedua tangannya mulai bergerak untuk memimpin dan diikuti oleh Bara juga Aleena.
“Gue Bara, Om nya Aleena.” ujar Bara di sela-sela kegiatannya melipat origami, matanya yang sedari tadi tak terlepas dari tangan dan kertas Farrel pun kini berani untuk berjalan ke atas dan menatap mata Farrel dan menyusuri lentik bulunya.
“Gue Farrel, dipanggilnya Arel. Sebenernya terserah sih mau manggil apa.” timpal Farrel.
“Lo kerja di sini?”
Farrel menggeleng pelan. “Nyokap gue yang punya. Cuma gue sering disuruh ke sini kalau ada anak yang belum dijemput, suruh nungguin. Atau sesekali ikut ngajar kalau kebetulan lowong.” terang Farrel panjang lebar, ia memang tipikal orang yang tak akan menjawab setengah-setengah.
“Kita satu almamater.” ucap Bara.
Farrel mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Lo jurusan apa? Kok lo tau kita satu almamater?”
Bara tersenyum, merasa diberi atensi oleh lawan bicaranya sebab terus menimpali ucapannya dengan antusias. “Gue jurusan ilmu politik.”
Farrel menghentikan jemarinya, pandangannya yang sedari tadi menunduk ke arah origaminya pun ia angkat untuk menatap ke arah Bara. “Gue ilmu komunikasi. Kok enggak pernah ketemu, sih? Padahal satu fakultas.”
Bara terkekeh dan mengedikkan bahunya.
“Berarti lo kenal sama Marco, dong?” tanya Farrel.
Kini giliran Bara yang mengangkat kedua alisnya. “Kok lo bisa tau Marco?”
“Everyone’s crush alias temen deket gue dua-duanya naksir Marco.” jawaban Farrel membuat Bara terkekeh.
“Ale udah selesai!” ucap Ale dan mengangkat kedua tangannya riang, memegang dua buah burung origami yang telah berhasil dibuatnya. “Kak Ael, mau Ale kasih nama.” lanjut Aleena, telunjuk kanannya menunjuk sebuah pulpen yang menggantung di saku kemeja Farrel sebagai kode untuk meminjam.
Farrel yang paham akan itu bergegas menyodorkan pulpennya kepada Aleena, mengamati lamat-lamat bagaimana gadis itu menuliskan namanya di atas sana. “Pinternya.”
“Sini, gantian punya Om dikasih nama.” ujar Bara ketika melihat pulpen di tangan Aleena sudah tak digunakan, ia menarik pulpen itu dengan pelan dan sedikit memundurkan tubuhnya dan menutupi origaminya.