Oza Rahandika.
Semerbak wangi maskulin dengan sedikit manis yang gue hapal betul siapa empu aroma tersebut membuat gue sukses mendelik. Mata gue berulang kali mengerjap, sesekali memindahi setiap sudut ruangan dengan cat berwarna putih tulang. Susunan dan barang yang ada di sana bukan milik gue, namun gue lagi-lagi hapal betul siapa empunya.
Terbangun di pagi hari dalam dekapan Dean sama sekali tak pernah sekalipun melintas dalam benak gue. Dengan cepat gue memindahkan tangannya yang melingkar pada tubuh gue. Sinar mentari yang menerobos fentilasi udara kamar Dean pun cukup menusuk mata gue, membuat gue segera meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat gue tertidur.
Netra gue lagi-lagi harus dipaksa untuk bekerja dengan ekstra sebab kini adalah dua kalinya gue harus terbelalak, menatap layar ponsel Dean yang tengah menampilkan jadwal harian gue dengan kalimat yang cukup membuat gue bingung serta terus-menerus menanamkan kalimat tersebut saban hari.
Gue rasa, sekalipun gue baru saja terbangun namun gue cukup sadar untuk memahami untaian aksara yang ada.
Satu hari penuh ini akan gue deklarasikan menjadi hari Deanka Pramoedya.
Deankan Pramoedya, satu-satunya orang yang berani serta mampu menyeruakkan presensinya ke dalam hubungan gue dengan Kak Jayden. Berkat Dean, kini gue terlepas dari hubungan tidak sehat yang sempat gue dapatkan dari pasangan gue.
Segalanya tentang Dean cukup mengejutkan. Bukan karena dia yang begini dan begitu dan tak selaras dengan apa yang ada dalam benak gue, namun Dean adalah deskripsi akan semua yang asing juga tak gue dapatkan dari Kak Jayden.
Dean yang lembut tuturnya. Tak pernah sekalipun gue mendapatkan bentakan, ucapan dengan nada tinggi serta penuh penekanan dari Dean.
Dean yang meneduhkan. Tak pernah sekalipun gue mendapatkan tatapan tak enak serta meremehkan yang ia lemparkan.
Dean yang memberi rasa aman. Ia selalu memposisikan dirinya di samping kanan gue ketika berjalan menyusuri jalanan, ia yang selalu tanggap ketika gue dengan segala bentuk kecerobohan yang ada.
Dean membuat gue direngkuhi rasa perhatian. Dean selalu mengantar gue hingga kantin fakultas, memperhatikan bagaimana langkah gue menjauh sebelum akhirnya ia bergegas pergi ke fakultasnya atau Dean yang selalu terduduk di salah satu bangku kantin dan mengobrol bersama petugas kantin sembari menunggu gue datang setelah tuntas dengan segala kegiatan hari itu.
Dean dan segala eksistensinya membuat gue lupa akan segala jejeran takut yang ada.
Ini bukan kali pertama gue mempertanyakan kepada diri gue sendiri mengenai arti dari eksistensi Deanka Pramoedya. Gue selalu berpikir, apa mungkin gue menjatuhkan diri sejatuh-jatuhkan dan membiarkan Dean menangkapnya?
Semua penjabaran akan Dean membuat gue sadar mengenai satu hal pasti: jika hidup gue bagaikan sebuah film layar lebar, pasti Dean akan menjadi lakon utamanya sebab ia adalah salah satu bagian terbaik dalam cuplikan hidup yang telah gue terima serta gue jalani hingga di mana gue mampu berpijak saat ini.