Partha Dirgantara
Radhika Abimanyu.
Kepada Dirgantara yang ini dan Dirgantara yang itu, di tempat.
Bersama tulisan ini dikirim setumpuk rasa ingin bertemu dan sekarung rindu yang sudah dipastikan tiba dengan selamat di teras rumah barumu.
Mungkin Rinjani kepalang naksir dengan kamu, sampai-sampai dengan serakahnya dia meminta aku untuk menyerahkanmu saat itu juga. Aku jadi bingung mau ke siapa aku menaruh rasa cemburu? Sedang hanya Rinjani yang mampu mendapatkanmu.
Aku rasa ucapan Luna waktu itu adalah suatu betul, ketika ia ingin menjadikan Rinjani sebagai Dirgantara. Kini aku setuju.
Awalnya aku pikir Rinjani enggan berbagi denganku perkara kamu, namun aku rasa dugaanku salah waktu itu.
Ia menyisakanmu, sebab kini Dirgantara ku berbentuk langit dengan hamparan mega putih bercorak abstraknya yang melengkapi hari-hariku.
Dirgantara, aku selalu mendongak dan mendapati indah yang sama dengan eksistensimu. Memberiku rengkuh pada sukma dalam peluk paling nyaman sejagat raya, bak memberi bisik serta tepukan aku akan baik-baik saja.
Rinjani dan rengkuhannya adalah dua hal yang tidak mampu aku tandingi kekuatannya, pula tidak mampu aku salahkan atas egonya.