Payung Hitam

Jamariel Orion.

Ada banyak hal di dunia yang sepertinya memang harus dibiarkan menguap hingga akhirnya mereka punya rumah sendiri untuk bersemayam, bak mengucap selesai dan tak perlu lagi menaruh banyak bingung yang mengudara.

Pertanyaan atas berubahnya tingkah laku Junio yang signifikan, salah satunya.

Angka-angka yang tercetak pada papan tulis enggan untuk menetap, kalah kuatnya oleh rekam kejadian malam tadi di bawah payung hitam yang tudungnya tidak selebar itu untuk menyembunyikan tubuh gue dan Junio dari derai tangis cakrawala.

“Jadi, kemungkinan lo enggak akan balik lagi ke rumah?” tanya Junio, punggungnya berhimpitan dengan dada kiri gue. Sesekali tangan kiri gue tergerak untuk mengarahkan laju tubuhnya, supaya tak menginjak genangan air yang menjadi aksesori jalanan.

“Iya.”

“Lo segitu sayangnya ke Noel ya?”

Gue tertawa menimpali pertanyaannya. “Kelihatannya?”

“Buktinya lo sampai rela keluar dari rumah, berarti iya.” ucap Junio, tubuhnya bergerak semakin masuk di depan dada gue.

“Rumah gue kan sekarang emang cuma Noel.” timpal gue sebelum akhirnya sedikit menjauhkan wajah dari kepala Junio, berniat menghisap nikotin dari cerutu yang terhimpit pada jari.

“Jangan jadiin orang sebagai rumah, Yon.” ucap Junio, gue hanya mengangguk. “Nanti lo jadi ketergantungan.”

“Gue kira lo masih marah ke gue.” ujar gue, berusaha mengalihkan topik pembicaraan akan rumah secara harfiah.

“Gue enggak pernah marah ke lo.”

“Terus kenapa waktu itu mukulin gue?”

Junio mengedikkan bahunya.

“Lo nyuruh gue pakai jaket, tapi lo sendiri kausan gini.” cibir Junio dengan langkahnya yang semakin menjauh, menyisakan gue yang masih terpaku menggenggam erat gagang payung dengan tudungnya yang telah sepenuhnya meneduhi tubuh.

Gue mengamati langkahnya yang telah terlebih dahulu berjalan di depan mata, membuat gue menjatuhkan puntung rokok yang tak lagi panjang dan mematikannya dengan injakan.

“Orang payung lo, nih.” seru gue setelah berhasil menyambangi langkah Junio, menyodorkan gagang payung tersebut ke arahnya.

“Ogah, gue mah pakai jaket.” ujar Junio, tangannya bersedekap merengkuh badannya.

Gue berdecak dan menutup mekar payung, menemani Junio yang menantang guyuran hujan tengah malam. Membiarkan deraian air hujan menerobos sela-sela kaus, menembus serat-serat kain yang melekat hingga membuat tubuh kuyup.

“Awas lo sampai besok masuk angin.” timpal gue dan mendorong tubuh Junio pelan, membuatnya menggerutu tatkala menginjak kubangan air yang menghasilkan ciprat.

Kakinya menendang air yang tergenang ke arah gue. “Lo kali yang bakal masuk angin! Awas aja tiba-tiba tengah malem minta tolong gue jalan ke kos cuma buat kerokin.”

Gue terkekeh. “Gue mah ada Noel.”

“Noel mulu.” timpal Junio dan membuat langkah gue terhenti, tak sadar jika langkah kaki gue telah mampu menyambangi pagar rumah Junio.

“Sini.” ucap Junio dan meraih payung hitam yang masih gue genggam.

Lihat, satu pertanyaan mengenai Junio dan segala sikapnya yang selalu menunjukkan perubahan signifikan masih terus mengudara dan belum menemukan tempatnya.