Pintu pagar yang berkarat pun mengeluarkan bunyi derit tatkala dibuka, kedua kaki jenjang Noel membawanya menyeruak masuk dan membuat sebagian nyawa di sana terinterupsi akan presensinya. Tak peduli dengan tatapan penuh sarat kebingungan dan interogasi yang dilemparkan ke arahnya, Noel lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya, mencari-cari seorang lelaki yang menjadi tujuannya menginjakkan kaki di tempat ini untuk pertama kalinya.

Seperti ada yang menarik, kedua sudut bibir Noel tergerak ke atas ketika matanya menangkap seorang lelaki yang tengah berlari ke arahnya setelah memberikan lambaian tangan singkatnya ke arah seorang lelaki yang lebih tua bermaksud sebagai izin untuk mendekat ke arah Noel.

“Kok di sini?” tanya Orion, ketika kakinya telah mencapai garis tepi lapangan tepat di hadapan Noel.

Alih-alih menjawab, Noel justru mengedarkan pandangannya. Memindai tiap inci lapangan basket yang jauh lebih terawat dibandingkan milik sekolahnya. “Ini kalau lari sprint biasanya dari sini ke ujung sana ya?” tanya Noel, jari telunjuknya menunjuk garis putih sebagai tepi lapangan di seberang sana. “Gih sana lanjut latihan.”

“Lah lo ngapain di sini, Noel?”

“Mau lari.” jawab Noel sekenanya, ia meletakkan tas ransel yang sedari tadi tergantung malas pada pundak kanannya. “Tadi lo udah ngerjain artikel gue, sekarang biar gue ngerasain lari kayak lo.”

“Heh janga-“

Belum selesai Orion mengucapkan kalimatnya, Noel sudah terlebih dahulu lari meninggalkannya dengan kecepatan yang penuh. Turut bergabung bersama beberapa orang timnya yang sedang melakukan pemanasan. Semua mata yang tertuju kepada Orion melemparkan tanda tanya, Orion hanya mampu mengedikkan bahunya dan menggeleng terheran sebelum akhirnya turut bergabung untuk melanjutkan larinya yang sempat terhenti.

Setelah pemanasan selesai kini semuanya tengah berlatih, meninggalkan Orion yang masih harus menyelesaikan hukumannya juga ada Noel yang berlari beriringan dengannya. “Gak usah diselesaiin sampai seratus, Noel. Lo duduk aja.” teriak Orion dengan lantang ketika merasa laju lari Noel mulai melambat sedang keduanya masih belum mendekati angka seratus.

“Gak, gue bisa.” timpal Noel yang lagi-lagi menimbulkan gelengan heran Orion.

Sore itu Orion lagi-lagi dihadapkan oleh sosok Noel dengan segala caranya yang tidak pernah terpikirkan oleh Orion, Noel dengan segala keberaniannya yang tidak pernah terbayangkan oleh Orion.

Ini kali pertama bagi Noel merasakan lari sprint sebanyak seratus kali, dan lagi-lagi kali berikutnya bagi Noel melakukan hal yang sebelumnya tidak ia butuhkan namun sekarang ia merasa harus. Hanya karena Orion. Setelah menyelesaikan seratus kali larinya, Noel kini tengah terduduk di luar tepi garis lapangan basket. Terus-terusan mengatur napasnya dan detak jantungnya yang terasa memburu. Mengawasi Orion yang kini tengah bergabung untuk berlatih bersama teman-teman satu timnya. Bagi Noel, Orion dan segala kekuatannya sore itu telah menyitas seluruh benaknya.

Noel mengetuk ponselnya yang berada pada genggaman tangan kirinya dengan irama yang konstan, sepasang matanya tidak terlepas barang sedetik pun dari bola basket yang terus menerus dioper kesana dan kemari. Diperebutkan dan diinginkan, dua kata yang tepat untuk mendeskripsikan bola basket tersebut. Noel tenggelam dalam pandangan lamat-lamatnya yang ia lemparkan ke bola basket yang kini menyita seluruh atensinya. Orion tahu bahwa Noel tidak memiliki pengetahuan apa-apa mengenai basket. Satu-satunya yang Noel ketahui hanya jika bola tersebut berhasil lolos menyeruak keranjang milik tim lawan membuatnya mendapatkan poin. Namun sepanjang permainan berlangsung, Noel menjadi satu-satunya orang paling antusias dengan memberikan respons terbaik yang mampu ia ekspresikan.

Lagi-lagi, sore itu, Noel dengan segala hal sederhana namun penuh sarat makna yang melekat pada dirinya, membuat Orion semakin menjatuhkan diri sejatuh-jatuhnya kepada Noel.

***

Orion yang terlampau hangat, Orion yang terlampau peduli, dan Orion yang terlampau mengerti. Tiga deskripsi singkat yang mampu Noel tujukan kepada Orion yang terduduk di depannya, di atas motor kesayangan milik Orion yang acap kali ia elu-elukan.

Entah Orion yang akan memasangkan helm pada kepalanya, menyelipkan rambut Noel yang sudah mulai panjang hampir menutupi matanya, dan Orion yang selalu membetulkan rambut Noel saat tiba di tempat tujuan mereka dan menggunakan jemarinya yang akan menyisir pelan helai demi helai rambut hitam kecoklatan milik Noel.

Entah Orion yang selalu menaruh tangan kirinya pada sisi kiri kaki Noel yang bertengger pada pijakan motor ketika menunggu lampu merah. Sedikit memiringkan kepalanya sehingga mampu mendengar lebih jelas apa yang sedang Noel ceritakan atau sekedar pertanyaan yang tidak sepenting itu untuk segera dijawab.

“Capek enggak habis lari?” tanya Orion yang mulai melambatkan laju motornya saat jalanan sudah tak terlalu sarat, kepalanya sedikit miring supaya mampu menjangkau suara Noel di belakangnya.

Noel turut sedikit menundukkan kepala dan punggungnya, mensejajarkan kepalanya dengan milik Orion. “Kalau gue bilang enggak, bohong banget, nggak sih?” jawab Noel menimbulkan gelak tawa dari balik kaca helm Orion.

“Ini mampir beli es batu dulu ya, buat kompres kaki lo biar enggak begitu pegel-pegel atau sakit.” ucap Orion, tangan kirinya meraih tangan kiri Noel yang sebelumnya memberikan pegangan kecil pada jaket Orion. Memainkan jemari Noel di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Noel menggunakan tangan kirinya dan semakin memperlambat laju motornya, berniat mengulur waktu yang semakin terkikis seiring dengan roda-roda motornya berputar.

Segalanya mengenai Orion dengan berbagai macam tingkahnya yang membuat Noel merasa penuh dan butuh.