Reagan Janendra.

Sekali? Dua kali? Bahkan sukar untuk gue hitung seberapa banyak kali yang gue coba, berusaha menelusuri tiap laman yang muncul untuk dapat jawaban atas kebingungan yang bersarang di benak gue, cukup membuat pikiran.

Gue bingung makna apa yang terbesit atas suara-suara yang timbul dari dalam hati gue acap kali presensi laki-laki yang ada di samping gue saat ini mulai memenuhi hari-hari gue. Ardani Prianata, laki-laki aneh yang gue kenal baik tiga bulan ke belakang.

Saat orang-orang anggap soto seberang kantor rasanya hambar, Ard adalah satu-satunya orang yang akan membela Pak Pendek si pemilik warung karena menurutnya soto Pak Pendek lolos kualifikasi. Saat orang-orang anggap kedai es krim sebelah gedung kantor rasanya terlalu manis, Ard adalah satu-satunya orang yang akan memberikan pembelaan dan opininya kalau memang sepantasnya es krim rasanya akan begitu.

Kembali lagi ke suara-suara yang gue maksud, ini kali pertama dalam hidup gue mendapatkan sorakan-sorakan kebahagiaan layaknya orang tengah berpesta pora ketika berhadapan dengan seseorang.

Dari semua hal yang bisa gue dapat dari Google, katanya gue sedang berada dalam fase jatuh cinta. Gue rasa memang begitu adanya, dan Ard, orang pertama yang mampu membuat gue jatuh sejatuh-jatuhnya. Tanpa takut terluka, tanpa ragu dalam sukma.

“Jak, pakai playlist lo, dong? Gue bosen dengerin playlist sendiri.” keluh Ard yang terlihat tengah mengadu sembari tangannya terus menyentuh layar ponselnya. Gue hanya berdecak pelan dan merogoh saku celana, berusaha mengambil ponsel untuk menyerahkannya ke Ard.

Ard tersenyum dalam sorakan kecilnya saat menerima uluran ponsel yang barusan gue sodorkan. Jujur, enggak terhitung berapa banyak senyuman yang udah gue lihat selama dua puluh tiga tahun gue hidup. Tapi senyuman milik Ard adalah satu-satunya senyuman termanis dan seduktif yang pernah gue lihat.

“Gue nggak tau lagu-lagu di playlist lo, tapi selera musik lo bagus banget, sumpah!”

Kata orang, pujian dari yang terkasih adalah pujian paling menyenangkan dan gue setuju itu. “Tapi berbanding terbalik sama isi playlist lo, Ard.”

“Iya, sih, Jak. Tapi enak banget deh kalau lagi pulang kerja dengerin yang slow begini.”

Demi Tuhan, gue bahkan bingung aksara apa yang pantas untuk memuji Ard. Setiap pahatan wajahnya atau seberapa lentik bulu matanya, bahkan hembusan napasnya barusan terdengar cukup indah.

Banyak dalam diri gue meminta untuk memberikan usapan pada puncak kepala Ard yang kelihatan kelewat lelah, tapi gue cupu untuk itu. Gue cuma mampu sesekali melirik, memastikan Ard dalam posisi ternyamannya untuk mengistirahatkan diri.

Rasanya gue rela setiap hari bangun pagi buta demi bawa mobil kalau imbalannya adalah di sepanjang macetnya jalanan kota Jakarta waktu petang, dengan rasa capek atas kerjaan seharian penuh yang bikin gue suntuk, ada Ard yang mengisi bangku penumpang sembari memejamkan matanya dan bersenandung kecil.

“Lihat ke jalan, Jak. Jangan lihatin gue mulu, nanti nabrak.”

Gue mengerjap dan menelan ludah dengan susah payah, otak gue malfungsi untuk mencari elakan atas serang Ard yang tanpa aba-aba.

“Lo kalau mau tidur, tidur aja Ard. Masih jauh, mana macet banget ini.”

Ard terkekeh. “Enggak sopan, Jak. Udah ditebengin masa iya gue tinggal tidur juga.”

Gue mengangguk tanpa memalingkan wajah dari jalanan, berlagak sok cool padahal rasanya gue mati kutu karena ditatap Ard sedekat dan selama ini.

“Jak, besok jadi jalan?”

“Jadi!” gue merutuki diri sendiri atas seruan yang terlewat antusias.

Gue berani bersumpah, pasti Ard dengan tawanya saat ini tengah menganggap gue terlampau ngebet untuk sekadar jalan dan menghabiskan waktu akhir pekan bareng dia dibandingkan rebahan di rumah.

“Lo laper nggak, Ard?” tanya gue yang dengan penuh usaha menyamarkan rasa gugup, mengalihkan topik pembicaraan seputar janji jalan esok hari.

“Lumayan. Lo keberatan nggak kalau kita mampir ke Gultik dulu?”

Ard memamerkan deretan giginya selepas bertanya akan pendapat gue. Gue terkekeh sambil memalingkan wajah, gila, sudah berapa kali coba gue merasa debaran sekencang ini kala sedang bersama Ard?

“Boleh, apa sih yang enggak buat yang mulia Ard?”

Ard tertawa.

Terlihat dia tengah berusaha untuk tampak normal dan tidak terpengaruh atas gombalan secara tidak langsung yang gue lontarkan. Saat tertawa renyah, hal favorit yang gue tangkap dari Ard adalah kedua mata kecilnya yang akan selalu menutup. Memang betul gue enggak mampu melihat kedua mata yang menjadi kesukaan gue kala ini, tapi gue tahu bahwa kedua manik mata Ard akan tetap bersinar sekalipun Ard menutup matanya kala tertawa.