Rinjani dan Rengkuhannya.

TW // Major Character Death

Di bawah langit abu-abu yang bercampur guratan mega putih, hembusan angin kencang yang menandakan hujan lebat akan datang pun menggesek-gesek rerimbunan daun. Dirga menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar yang mampu menelan habis tubuhnya, matanya terasa berat untuk terbuka karena sibuk menikmati nyanyian udara yang bergerak dengan kedua matanya yang memejam.

“Yuk, udah.” ucap Luna, satu-satunya perempuan dalam catatan pendakian Rinjani yang dilaksanakan Dirga. Mendengar ucapan Luna membuat Dirga dengan berat hati membuka netranya dan meregangkan otot punggungnya sekilas, sebelum akhirnya mulai melanjutkan perjalanan di depan yang masih berat dan panjang.

“Jas hujannya beneran pada enggak lupa, kan?” tanya Bima yang berada di paling belakang, sekali lagi memastikan. Kepalanya sekilas menengadah melihat langit yang mulai gelap kendati angka pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya masih menunjuk angka delapan.

“Aman!” seru Daffa yang memimpin jalan sembari mengacungkan ibu jarinya di udara.

“Lo enggak lupa kan, Dir?” tanya Bima yang kini langkahnya mulai berusaha menyambangi Dirga.

“Enggak, Bima.” ucap Dirga dan berdecak sebal. “Jalannya satu-satu, Bim. Sempit ini.”

Bima hanya terkekeh dan menghentikan langkahnya, mempersilahkan Dirga untuk berjalan terlebih dahulu di depannya.

Senandung-senandung kecil keluar dari mulut Daffa, membuat lainnya sesekali menimpali sehingga perjalanan tak terasa sunyi dan melelahkan. Sesekali Dirga dan Daffa saling melempar lelucon, membuat semuanya tertawa dan menciptakan warna di tengah gulita.

“Awas, di bagian ini batunya bentar lagi remuk.” ucap Daffa yang sudah berhasil turun terlebih dahulu, ujung sepatunya ia arahkan ke pijakan yang dimaksud.

“Lo pada tau gak kenapa gunung ini namanya gunung Rinjani?” tanya Daffa memecah keheningan setelah semuanya berhasil turun dari loncatan besar sebelumnya.

“Kenapa, Daf?” tanya Ravi menimpali.

Daffa tertawa. “Mana tau, kan gue nanya.” ucapnya, membuat semua orang tertawa kecuali Luna yang mencibir dan menyoraki kakaknya.

“Katanya, diambil dari nama putri kerajaan.” celetuk Dirga tepat setelah Luna dan Daffa berhenti bergaduh.

“Dirgapedia.” ujar Bima yang membuat Dirga terkekeh.

“Terus apa hubungannya, Kak?” tanya Luna yang berada di barisan kedua.

“Putri Rinjani sering ikut semedi bareng Raja di gunung ini, terus ketemu laki-laki miskin dan jatuh cinta. Tapi karena perbedaan status sosial keduanya, jadi perasaan dia harus dijustifikasi.” terang Dirga, membuat Luna mengangguk dengan mulutnya yang membentuk huruf O.

“Akhirnya putri Rinjani putus asa, yaudah dia akhirnya terus-terusan bersemedi di gunung dan akhirnya gunung ini dinamain gunung Rinjani.” celetuk Bima yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

“Emangnya iya, Kak Dir?” tanya Luna bak membutuhkan penjelasan dari Dirga.

Dirga terkekeh. “Iya, Luna.”

“Kasihan ya. Kak Dirga pernah enggak jatuh cinta ke orang tapi ada yang jadi penghalang kayak putri Rinjani?”

Dirga menggumam panjang. “Coba Luna yang tebak.”

“Pernah?”

“Pernah.”

“Nanti kita bikin gunung ini jadi gunung Dirgantara.” ucap Luna membuat Dirga menggeleng keheranan.

Trek sudah mulai lebar dan mudah, membuat Bima sedikit mempercepat langkahnya untuk lagi-lagi berusaha menyambangi Dirga.

“Ke siapa, Dir?”

“Apa?”

“Jatuh cinta tadi, yang ditanya Luna.” jelasnya lirih, takut terdengar hingga barisan depan. Dirga hanya mengedikkan bahunya, membuat Bima berdecak dan melayangkan pukulan pelan pada lengan Dirga.

Seiring dengan langkah yang mulai mendapat lelah, kini awan pun turut lelah untuk membendung airnya lebih lama. Membuat langit Rinjani kala itu mulai terguyur hujan lebat, menerobos celah-celah dedaunan rimbun hingga mampu menyapa mereka berlima secara tiba-tiba.

“Berhenti dulu, Daf. Dipakai jas hujannya.” seru Bima hingga membuat langkah Daffa terhenti.

Dengan sigap kelimanya mulai merangkapi tubuh masing-masing dengan jas hujan yang telah disiapkan.

“Gimana, Bim, mau lanjut apa berhenti dulu?” tanya Daffa meminta pendapat, sedang Bima tengah mengambil langkah ke depan dan dengan matanya ia menelisik jalanan di depan yang terlihat amat licin untuk dipijak.

“Jangan deh, Daf. Licin banget itu, lumpur soalnya. Mana trekingnya berat, noh, kayak orang manjat kalau mau lewatin itu.” ujar Bima dengan jarinya yang menunjuk trek di depan, terdapat sebuah gundukan besar yang mengharuskan untuk dipanjat.

Daffa mengangguk dan mengedarkan pandangannya, mencari tempat untuk duduk dan beristirahat.

“Duduk situ deh, situ.” ujar Daffa dan menunjuk sebuah batang pohon besar yang tergeletak di bawah pohon besar.

Terhitung setengah jam lebih mereka habiskan untuk terduduk di atas dedahanan yang berserakan di atas tanah, dengan kedua telapak tangannya yang sesekali mereka gosok untuk memunculkan rasa hangat yang menjalar.

Kini tak ada lagi rintik hujan yang menembus rerimbunan daun, tinggal menyisakan hembusan angin pasca hujan yang dinginnya menusuk hingga ke tulang belulang.

Dirga sedari tadi diam. Lututnya ia rapatkan ke dada, kedua tangannya melingkar dan merengkuh kakinya dengan erat. Tubuhnya menggigil dengan bibirnya yang mulai pucat membiru.

Bima yang sedari tadi tak melepas pandang ke arah Dirga pun bergegas merengkuh tubuh Dirga ke dalam dekapannya.

“Dingin banget, Bim.” ucap Dirga lirih dan bergetar. Bima sadar akan suhu tubuhnya yang dingin, namun tatkala ia menyentuh punggung tangan Dirga ia bergegas membopong Dirga untuk sedikit bergeser, berpindah mencari tempat yang lebih kering. Setelahnya ia melucuti jas hujannya dan membongkar tas carrier yang tergeletak di sampingnya.

“Daf! Rav!” seru Bima, membuat Daffa dan Ravi yang namanya diserukan pun menoleh ke arah Bima yang penuh ketergesa-gesaan melepas jas hujan dan sepatu serta kaus kaki yang masih melekat pada tubuh Dirga.

Baik Daffa, Ravi, juga Luna, bergegas mendekat dan membantu Bima dengan mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tas carrier nya masing-masing.

Dirga hanya dapat diam tak bergeming dengan tubuhnya yang semakin menggigil, bibirnya semakin membiru dari sebelumnya.

Luna menuntun botol minum berbahan aluminium berisikan teh panas ke mulut Dirga, membantunya menegak sedikit demi sedikit.

Setelahnya Dirga mempersilahkan teman-temannya untuk membungkus badannya dengan banyak pakaian, tubuhnya berasa direngkuh erat oleh Bima disusul oleh Ravi dan Luna. Sedangkan Daffa berusaha mencari ranting-ranting yang tidak begitu basah, sekiranya mampu untuk membuat nyala api.

Dirga terus menerus menggumam, sukar untuk Bima pun yang lainnya menangkap maksud dari gumamannya.

“Daf! Sini, Daf!” seru Ravi, menitah Daffa untuk turut memberikan pelukan kepada Dirga. Daffa yang kepalang frustasi karena tak menemukan satupun ranting yang setidaknya tak basah hanya dingin, pun bergegas mendekat dan turut melingkarkan tangannya untuk menyalurkan hangat.

“Dir, masih dingin?” Dirga hanya mampu menggumam untuk menimpali pertanyaan Daffa.

Luna menitikkan air matanya saat merasakan genggaman tangan Dirga pada jemarinya mulai melemah.

“Digenggam yang erat, Luna.” titah Bima, suaranya sedikit bergetar sebab sukmanya digerogoti rasa takut namun ia berusaha untuk menepis ketakutannya.

“Dirga, dengerin gue. Bisa kan?” tanya Bima, tangannya terus mendekap erat tubuh Dirga, enggan memberi jeda. Dirga hanya menggumam sebagai jawab, entah apapun itu jawabannya yang terpenting bagi Bima adalah Dirga masih mampu untuk mendengarkan suaranya.

“Dirga, kita belum pakai toga bareng-bareng, nih.” ucap Ravi di sela-sela tangisnya. “Lo udah janji ya mau fotoin gue sama Ibun pas wisuda nanti.” lanjutnya.

“Dir, besok gue masakin mie deh. Gantian kita, gue janji bakal masakin lo mie terus-terusan dan enggak akan nyuruh lo lagi.” ucap Daffa yang kini tengah menggosok kedua telapak tangannya dan menempelkan pada wajah Dirga.

“Kak Dirga, Luna enggak bakal banyak tanya deh habis ini. Enggak bakal gangguin Kak Dirga tengah malem buat nanya hal-hal random, jadi enggak akan ganggu jam tidur Kak Dirga. Janji!” lirih Luna dan semakin merapatkan tubuhnya ke Dirga, memberikan genggaman tererat yang ia bisa pada tangan Dirga yang semakin memutih pucat dengan dingin suhunya yang menusuk telapak tangan Luna.

Dirga berusaha dengan sepenuhnya untuk menoreh senyum simpul. Netranya tergerak, menangkap manik mata Bima yang tak lepas barang sedetikpun dari dirinya.

Kedua netra Bima mengerjap, merasa Dirga tengah menunggu lontaran dari mulutnya. “Dir.” Dirga lagi-lagi hanya mampu menggumam seiring dengan denyut nadinya yang mulai melemah.

“Dirga.”

Hening panjang, Bima merasa lidahnya terlalu kelu.

“Dirga, gue sayang sama lo. Sayang beneran bukan cuma sebagai temen.”

Dirga mempertahankan senyumnya dengan bibirnya yang bergetar.

“Tapi lo rese! Cuma nganggep gue temen doang, tiap dibilang gue sayang beneran, lo bilangnya gue bercanda. Padahal gue beneran, Dirga.” lanjutnya.

“Lo sayang sama gue gak, Dir?” Dirga mengangguk kecil, terlewat lirih. “Sebagai seorang temen, ya.” lanjut Bima yang ditujukan kepada dirinya sendiri sebagai pengingat.

Dengan memanfaatkan sisa-sisa kekuatan serta kesadarannya, Dirga menggeleng sebagai jawab.

Isakan Luna yang tadinya telah terhenti kini memecah tatkala tangan Dirga tak lagi berusaha membalas genggamannya. Bima yang melihat dan menyadari itu bergegas menyentuh nadi yang terdapat pada leher Dirga, hanya detakan samar dan jarang yang ia dapat.

“Dir jangan tidur di sini dong, Dir. Nanti malem katanya mau foto-foto di danau sambil kita main tebak-tebakan? Katanya juga ada cerita lucu yang mau lo ceritain?” ucap Ravi dan menepuk pelan pipi Dirga.

Bima malfungsi saat Dirga memejamkan matanya dan lemas tak berdaya, punggung yang sedari tadi berusaha ia kokohkan pun kini sudah jatuh dengan sembarang. Sontak Daffa berusaha untuk melepaskan dan menjauhkan teman-temannya dari tubuh Dirga, membutuhkan ruang untuk memberikan pertolongan darurat seperti apa yang sudah ia pelajari.

Tubuh Dirga tergeletak dengan denyut nadinya yang sudah mulai nihil untuk ditemukan, Daffa memposisikan kedua telapak tangannya secara bertumpukan di atas dada Dirga. Memberinya tekanan berulang kali dan terus merapalkan nama Dirga dengan keras.

Luna hanya mampu menangis sesenggukan, sedangkan Ravi sigap berdiri dan berteriak untuk meminta pertolongan. Harap ada yang mendengar dan menghampiri untuk mengulurkan tangan. Bima terduduk kaku di atas tanah, tidak menangis juga tidak menampilkan ekspresi apapun selain menatap nanar dengan rahangnya yang mengeras.

“Bim, gantian!” seru Daffa dengan napasnya yang tersenggal, menitah Bima untuk menggantikannya. “Bim!” kini satu tamparan keras mendarat di pipi Bima, membuat Bima menggeleng dengan irama tak beraturan.

“Bisa, Bim, bisa.” ujar Daffa lirih, dalam hatinya ia ragu akan ucapannya sendiri.

Bima dengan langkah yang bergetar mulai mendekat ke tubuh Dirga yang sama sekali tak berdaya, tidak memberikan reaksi apapun atas segala tindakan di sekitarnya.

Bima memposisikan dirinya di samping tubuh Dirga, dengan tangannya yang bergetar kini ia memberikan pertolongan dengan rapalan doa dari dalam relungnya. Daffa memberikan pijatan-pijatan pada jemari kaki Dirga, berusaha membantu melancarkan oksigen dalam tubuhnya.

Sudah lebih dari lima menit Bima terus mencoba, bukan mendapati Dirga yang kembali sadar kini suhu tubuh Dirga semakin dingin dan sekujur tubuhnya pun terlihat pucat pasi.

“Dirga!” teriak Bima dalam sesak yang memenuhi dadanya.

“Ayo kita tidur di sini, yang bangun paling akhir dapet hadiah digendong sampai danau.” ucap Bima lirih, tangannya kini menggenggam dengan erat bahkan kuku-kukunya pun menancap pada telapak tangannya. Bima berikan pukulan-pukulan pelan pada dada Dirga.

Daffa, Ravi, dan juga Luna pun kini hanya mampu terduduk lemas dan terisak dalam tangisnya masing-masing.

Sedang Bima hanya mampu terduduk sembari memeluk erat kakinya yang ia tekuk ke dada, ia gigit kuku-kuku jemarinya dan memberikan tatapan kosong ke arah Dirga yang kini telah berkalang tanah. Rengkuhan Rinjani lebih erat dari apapun, Rinjani terlampau menaruh hati kepada Dirgantara nya.