Roda-roda troli bergerak terseok-seok mengikuti orang yang mendorongnya, menyusuri lorong demi lorong dan rak demi rak barang. Entah berapa banyak barang telah dibebankan kepadanya, membuat rodanya tak lagi mulus dan sesekali jalannya serat.

Setelah selesai mencari-cari barang pesanan Bunda dan juga bermain petak umpet bersama Orion dan saling bersembunyi juga mencari presensi lawan mainnya yang saling tertelan oleh rak-rak tinggi kini mereka berjalan, dengan Noel yang memimpin jalannya penelusuran. Dengan tangan kirinya yang menggenggam ponselnya, Noel mengabsen barang-barang yang telah ia masukkan ke dalam troli agar tak ada yang terlewat dari catatan yang Bunda nya berikan.

“Apa yang belum?” tanya Orion dengan tangan kirinya yang memegang troli dan tangan kanannya mengangkat beberapa barang di dalamnya, memudahkan Noel mengecek satu per satu.

“Jajan gue belum.” jawab Noel dengan cengengesnya, membuat Orion menggeleng pelan dan mendorong kembali trolinya mengikuti kemanapun Noel melangkah.

Kaki mereka terhenti secara otomatis ketika menyentuh depan deretan berbagai macam makanan ringan. Netra Noel memindai dari kanan ke kiri, atas hingga bawah. Sesekali berlari kecil untuk mengambil makanan yang tergeletak di ujung dan meletakkannya ke dalam troli.

“Buat Mauren jangan lupa.” ucap Orion dan hanya dibalas tangan Noel yang menunjuk beberapa makanan di dalam troli. “Kata Luke mereka nggak ada rencana jalan tuh, El.”

Noel yang telah selesai bergegas berjalan menjauh untuk menuju ke kasir dengan Orion yang mendorong troli di belakangnya. “Masa sih? Orang beneran kok Moren sendiri yang bilang.” jawab Noel yang berjalan mundur supaya mampu berhadapan dengan Orion.

“Awas, kardus.”

“Masa iya dia bilang begitu supaya aku bisa sama kamu? Jelek banget deh dia ngibulnya, Luke kan temen kamu ya.”

“Sayang, jalannya lihat ke depan. Banyak barang di bawah itu loh, nanti kamu kesandung.”

“Kok nggak pakai permisi, sih!” ucap Noel dengan ketus, kini ia sudah sepenuhnya membalikkan tubuhnya dan berjalan maju tanpa menoleh sedikitpun menghindari tatapan Orion yang tengah tertawa di belakangnya.

“Yaudah, permisi.”

“Telat!” ucap Noel dan menurunkan satu per satu barang dalam troli ketika sampai di depan kasir dibantu Orion yang diam-diam tersenyum menahan gemas.

Sekalipun tak pernah terbesit dalam benak Orion bahwa melakukan belanja bulanan akan menjadi semenyenangkan ini. Namun jauh dalam benaknya juga paham, satu-satunya alasan yang menjadikan kegiatan melelahkan ini menjadi menyenangkan adalah Noel.

Noel tak pernah berpikir bahwa mendudukkan dirinya di dalam mobil milik Bunda tepat pada kursi penumpang dengan Orion di balik kemudi akan menjadi hal paling nyaman sekaligus mendebarkan. Bagaimana tangan kiri Orion yang akan selalu menggenggam tangan kanannya erat-erat, sesekali menautkan empat jari keduanya dan menyisakan ibu jari untuk bermain di kala menunggu lampu merah menyentuh angka nol nya.

“Iyon, sorry ya karena Bunda minta tolong jadi batal kan jalan-jalannya.”

“Kan, mulai lagi.” timpal Orion dengan sedikit geram, tangannya menarik kepala Noel untuk dapat ia apit pada ketiak dan pinggangnya. Mengusak kepala Noel dan membuat surainya berantakan. “Mau drive thru McD nggak? Nanti kalau udah deket-deket McD gantian lo yang nyetir.”

Noel yang sebelumnya mendengus sebal karena surainya acak pun tersenyum menampilkan deretan giginya. “Beneran? Tapi gue masih takut banget nyetir di jalan gede.”

“Yaudah, waktu masuk drive thru nya deh lo nyetir.” Noel yang kelewat senang pun menepuk-nepuk pahanya dengan irama cepat yang konstan.

“Makasih banyak Oriooooon.”

“Iyon bukan Orion.” protes Orion yang mendapatkan tepukan pelan pada puncak kepalanya.

“Iya deh Iyon.”

***

Kasur Noel tidak sesempit itu sehingga mengharuskan Orion dan Noel untuk saling berdesakkan, bahkan masih terbilang cukup luas untuk keduanya mengambil jarak dengan meletakkan guling di tengahnya. Namun sudah jelas bahwa alasan Noel yang kini terbaring dalam dekapan Orion dengan kepalanya yang ia letakkan pada dada bidang kekasihnya sebab gravitasi keduanya yang bertarikan teramat kuat.

Salah satu kegiatan favorit Orion akhir-akhir ini adalah mengusap kepala dan pipi Noel secara bergantian. Bagaimana jemarinya dengan hati-hati menyisir surai halus Noel, hingga akhirnya sampai pada pelipis dan turun ke dagu. Sang empu juga hanya terdiam dan menikmati sentuhan-sentuhan kecil yang Orion berikan tanpa protes sedikitpun.

“Bunda udah tau belum kalau kita pacaran?” tanya Orion, dadanya merasakan gelengan dari kepala Noel.

“Gue belum bilang, tapi kayaknya mah tau.” Orion hanya berdeham dan turut menatap layar ponsel Noel yang menampilkan potongan-potongan gambar ikan adu siam dengan warna-warna yang menarik. “Gue tiba-tiba pengen ikan cupang. Yang ini nih, bagus ya warnanya?” tunjuk Noel dan memperbesar gambar pada layar ponselnya.

“Besok mau beli? Tapi tunggu gue selesai latihan.”

“Jam segitu masih ada yang buka emangnya?”

Orion memberikan kecupan singkat pada puncak kepala Noel. “Ada, sayang.”

Noel menarik tubuhnya untuk duduk, tangannya melayangkan pukulan yang cukup kencang pada lengan Orion. Membuat Orion sedikit meringis dan gaduh. “Ih kan udah gue bilang, sesuai perjanjian kita kan kalau mau manggil sayang harus permisi dulu.”

“Yaudah, permisi ya Noel.” ucap Orion di sela-sela gelak tawanya. Kedua tangan Orion menarik pergelangan tangan Noel untuk kembali berbaring. Noel yang sama sekali tidak memiliki persiapan pun seketika tergeletak, kedua tangannya tersilang di atas kepalanya dengan tangan kanan Noel yang mengunci dan Orion berada di atasnya.

“Mau ngapain?” Orion tersenyum jahil dan segera melesakkan dirinya pada tubuh Noel, menenggelamkan kepalanya pada ketiak Noel. “Iyon, ampun. Geli.”

Orion tak mengindahkan ucapan Noel, kepalanya terus mengusak ketiak Noel membuat Noel bergerak tak beraturan dan meronta. Kedua kakinya terus menendang apapun itu untuk melepaskan diri dari Orion, hingga akhirnya menendang paha Orion dengan cukup keras dan membuatnya lolos.

“Gue bilang geli, anjing! Sebel ah kalau mainan ketek.” Orion tertawa penuh kemenangan karena berhasil mencoret salah satu rencananya pada daftar yang telah ia buat. “Ih ketawa lo jelek banget, sumpah!” ucap Noel dengan kesal dan memberikan tendangan kepada Orion yang berbaring di depannya.

“Yaudah sini gantian.” ucap Orion dan merentangkan tangannya, tangan kirinya menepuk sisi kanannya bermaksud meminta Noel untuk berbaring di sana. Noel kembali membaringkan tubuhnya, berada tepat di sisi yang Orion tepuk.

“Jangan ndusel ke ketek lagi, geli banget gue gak bisa.” protes Noel dan mengerucutkan bibirnya.

“Iya enggak lagi ah.” ucap Orion dan menguncupkan tangan kirinya bak mematok, meletakkannya pada bibir Noel yang sebelumnya mengerucut. “Gimana sama hari ini, El?”

“Di sekolah tadi nggak ada hal seru apa-apa. Kecuali gue tadi metik mangga, orang-orang pada olahraga gue metik mangga bareng Pak Hadi.”

“Pak Hadi siapa?” tanya Orion dan membalas tatapan Noel yang tengah mendongak berada dalam dekapannya. “Oh inget, guru Biologi yang lo bilang asik itu ya?”

“Iya!” jawab Noel dengan sumringah, merasa selama ini ia benar-benar didengarkan oleh Orion. “Kalau lo gimana sama hari ini?”

Orion berdeham bak mengawang, matanya menatap langit-langit kamar Noel. “Tadi ada yang bikin kesel.”

“Kenapa, sayang?”

“Kok lo nggak pakai permisi?”

“Lo tadi kan juga nggak pakai, dua kali malah. Biar impas!” ucap Noel dan menjulurkan lidahnya sekilas membuat Orion berdecih dan menarik pelan hidung Noel.

“Jordan. Nggak ada habis-habisnya deh, asli. Masa tadi bilang gue, Kak Isa, sama Ayah seharusnya nyusul Ibu ke rumah sakit jiwa. Terus ya, El, tadi— Eh, El, gue nggak apa-apa kan cerita?”

Noel yang sebelumnya memandang lamat-lamat wajah Orion dan memperhatikan ceritanya pun kini memberikan sentilan kecil pada bibir kekasihnya. “Kenapa harus nanya sih? Gue nggak apa-apa banget, malah ngerasa dipercaya. Bukannya salah satu alasan gue jadi pacar lo untuk dengerin setiap cerita lo dan jadi tempat lo ngeluh, ya? Masa gue doang yang boleh ngeluh, giliran lo ngeluh dikit aja gue nggak mau dengerin.”

Orion menampilan deretan giginya dan memberikan elusan pada kepala Noel. “Iya, terus kan dia bilang pasti gue masih hidup dan punya apa-apa karena Kak Isa jadi lonte. Bangsat, harusnya tadi gue tonjok mulutnya tapi keburu pada lerai.”

“Yang namanya Jordan mana sih? Besok tunjukkin ke gue, biar gue tempeleng. Tuh orang yang sakit jiwa anjing.” ucap Noel menimpali, ia melepaskan diri dari pelukan Orion dan berbalik memberikan Orion rengkuhan. Menenggelamkan Orion ke ceruk lehernya sembari tangannya terus memberikan elusan dan tepukan pada punggung Orion yang sebelumnya menegang dan menyimpan penuh amarah. “Sayang, menurut aku ya, dia sebenernya ngerasa seneng dan menang ketika lihat kamu marah jadi dia terus-terusan begitu.”

“Terus aku harus diem aja, El? Aku nggak apa-apa beneran kalau dia mau ngatain Ayah atau aku. Tapi ini dia bawa Ibu sama Kakak aku.” adu Orion dengan deru napas yang memburu.

Noel mengusap kedua alis Orion ketika melihat dahi kekasihnya disarati penuh tegang, memberikan kecupan sekilas setelahnya. “Kalau kamu nggak bisa bikin dia diem, biar kamu bikin diri kamu nggak denger. Dengerin apa yang mau kamu denger, tutup telinga kamu kalau ada yang ngomong hal nggak bener dan nyakitin kamu. Aku cuma nggak mau kamu kena skors lagi atau malah berantem dan kamu kenapa-kenapa, bukannya dengan gitu malah bikin Kak Isa sedih ya?”

Orion menghela napasnya dengan kasar dan berat, membuang semua perasaan kesal yang sebelumnya bersarang pada ulu hatinya. Orion kembali menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Noel, menyembunyikan dirinya dari banyaknya kejam dunia yang tiada henti memburunya. Bagi Orion, Noel dan dekapannya merupakan satu-satunya tempat ternyaman dan teraman di seluruh dunia.