Sebuah mobil pikap hitam dengan dempul di sana-sini yang sebenarnya sudah layak untuk dipensiunkan serta dimasukkan ke dalam museum sejarah pun dengan rodanya yang berderak, menyusuri jalan bergelombang yang runtut akan tanjakkan serta turunan.

Banyak potongan-potongan gambar akan kenangan masa lampau yang melintas pada kepala lelaki di belakang kemudi pikap tersebut tatkala melewati jalanan yang tengah ia susuri, seiring dengan perputaran roda pikap dengan laju yang konstan. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian, mengamati tiap-tiap bangunan dengan plang di depannya. Menjelang mentari di batas cakrawala, membuat Gama masih belum menjumpai keputusasaannya.

Impulsif, mungkin satu kata tersebut sukses disebut sebagai label atas diri Lazuardi Gautama atau yang kerap disapa Gama oleh orang-orang terdekatnya. Dengan penuh sadar, setelah mendapatkan pesan masuk dari Renjana atas secuil informasi akan Ganesh, laki-laki yang menjadi alasan keimpulsifannya hari itu, Gama bergegas meminjam pikap milik kontraktor yang bekerjasama dengannya dalam pembangunan proyeknya kali ini.

Berbagai macam rasa lelah dan keputusasaan yang sebelumnya menyergap menyelimuti benak Gama kini mulai meluruh tatkala Gama menjumpai klinik dengan plang bertuliskan nama lengkap Ganesh pada displainya, perlahan Gama melirihkan laju pikapnya dan membuat henti di sisi jalan. Dari balik kemudinya, Gama menelisik ke dalam klinik dengan beberapa orang yang tengah terduduk pada ruangan yang Gama yakini mereka adalah pasien yang tengah menunggu gilirannya.

Dua jam? Bahkan lebih. Setelah lebih dari dua jam mendudukkan diri, diam tak bergeming di balik kemudi, kini jantung milik Gama bak sebuah bom yang siap meledak ketika netranya akhirnya mampu menangkap sosok yang ia tuju. Sosok yang ingin membuatnya mendobrak gerbang klinik dan menjejakkan diri agar mampu untuk segera menemui dan memberi sapa dengan hangat.

Gama segera turun dari pikap dan berakhir untuk berdiri dengan tegap di depan gerbang berjeruji. Sebanyak apapun aksara yang telah ia siapkan beberapa jam ke belakang pun menguap tak tersisa. Lidahnya kelu, tenggorokannya kepalang kering untuk segera ia aliri dengan air liurnya yang susah untuk ia tegak. Milyar-milyar, juta-juta, ratus-ratus sekian kemungkinan pasang mata di dunia, sepasang manik mata milik Ganesh lah satu-satunya yang menangkap temunya dan menjadi pusat dunia Gama malam itu.

Kaki Gama bak dipaku untuk menyatu dengan Bumi, sukar baginya tuk menggerakkan kedua kakinya tatkala Ganesh di beberapa langkah yang memisahkan kini tengah mengerjap dan menelisik hadirnya terus menerus. Gama hanya mampu melempar senyum dan terus merutuki dirinya dalam diam, menyaksikan Ganesh yang mendekatkan dirinya dengan perlahan.

“Gama?” ucap Ganesh berusaha memastikan, masih dengan banyak kejut yang menyergapi relung hatinya.

“Dokter Ganesh?” balas Gama dengan konfeti yang terus diletup-letupkan dalam dadanya. Gama memindai Ganesh dari ujung hingga ujung, tak ada yang berubah dengan lelaki yang sudah teramat lama tidak ia miliki presensinya.

Ganesh mengulum senyumnya, merasa tersipu akan panggilan yang dilontarkan Gama. “Kok bisa sampai sini, Gam? Sini masuk dulu!”

“Kamu selesai jam berapa, Nesh?” tanya Gama yang masih terpaku di atas pijakan kakinya, mengabaikan Ganesh yang membuka pagar dengan lebar-lebar.

“Ini udah selesai, Gama. Lagi beres-beres aja terus mau pulang. Kamu sendirian?” tanya Ganesh dan menelisik ke arah jalanan serta belakang punggung Gama, mencari-cari andai ada orang lain yang akan ia kenali muncul di sana.

“Enggak sendiri.”

“Sama siapa?”

“Sama kamu. Nanti pulangnya aku anter, boleh?” tanya Gama meminta persetujuan kepada Ganesh yang tengah berdeham dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gimana, Nesh?”

“Sebenernya aku bawa motor, tapi enggak apa-apa deh nanti aku tinggal aja di sini.” timpal Ganesh, matanya masih terus menelisik kebingungan karena tak ada kendaraan yang terparkir di depan kliniknya. “Naik apa?”

Tangan kanan Gama terangkat dan menunjuk mobil pikap yang terparkir di seberang jalan. “Naik itu, pikap kontraktor aku. Serius deh bukan sembarang ambil di pinggir jalan! Enggak apa-apa kan, Nesh?”

Ganesh mengernyit sebelum akhirnya tertawa. Gama masih tetaplah Gama, di hadapannya masih tetap Gama yang ia kenal. Gama yang dengan bermacam hal tak terduga dalam dirinya. “Enggak apa-apa, Gama. Ini aku beres-beres dulu ya, sini nunggu di dalem.”

“Aku bantuin beres-beres, Nesh!”

Jika tempat bisa bercerita, jika benda bisa bersuara. Mungkin tempat parkir McD Sudirman beserta seluruh atmosfernya tak kenal henti untuk mendongeng akan kisah cinta Gama dan Ganesh. Kisah cinta sederhana dua anak adam yang tak banyak ditunggangi huru-hara, namun bertemu ujung dengan sendu juga nestapa.

“Jadi kamu di sini sampai kapan, Gama?” tanya Ganesh di sela-sela kunyahan kentang gorengnya. Manik matanya sedari klinik tadi enggan untuk berpaling barang sedetik pun dari Gama, berusaha merekam profil Gama dengan segala kemampuannya.

Gama menggumam dan menimang-nimang akan jawabannya. “Gak tau, Nesh. Sepengen aku aja karena setelah proyek ini selesai, mau ambil napas dulu. Hitung-hitung liburan sambil kangen-kangenan sama Jogja.”

“Sama Jogja aja?”

“Sama temen-temen kuliah juga.” Ganesh hanya ber-oh-ria dan memilih untuk melanjutkan acara mengunyah kentang-kentang lainnya, enggan memberikan reaksi apapun atau mungkin terlewat kecewa sebab namanya tak disebutkan sebagai alasan Gama untuk menetap.

“Sama kamu juga, Ganesh. Buat aku, semuanya tentang Jogja kan kamu.” lanjut Gama, Ganesh hanya mengangguk kecil dan berusaha dengan sisa kewarasannya untuk menyembunyikan senyum penuh sorak-sorainya. “Kalau kamu, kangen aku gak, Nesh?”

“Kelihatannya gimana?”

“Enggak, habis aku enggak dipeluk.” keluh Gama, tangannya turut mencomot kentang goreng milik Ganesh sebab miliknya sudah habis terlebih dulu, membuat Ganesh memberikan dengusan kasarnya.

“Ngapain pelukan sama mantan?”

“Emang kalau udah jadi mantan enggak boleh pelukan?” tanya Gama, ia serius akan pertanyaannya sebab jika diperbolehkan untuk teriak dan memberi pengumuman kepada alam semesta, ia sangat ingin merengkuh tubuh Ganesh sejak detik pertama Gama menangkap kehadiran Ganesh dengan netranya.

“Aku enggak bilang enggak boleh loh, Gam.”

Sepersekon detik kemudian Ganesh mampu menyelami kembali aroma tubuh Gama yang beberapa tahun terakhir ini tak menyapa indra penciumannya. Bisa berada kembali di dalam pelukan Gama sama sekali tak pernah terlintas pada benaknya.

Ganesh diam tak bergeming sebab tangannya masih dibebani oleh sewadah kentang goreng yang menyisakan beberapa potong di dalamnya. Pun kalau ia tidak memegang wadah tersebut, pasti ia tetap memilih untuk diam dan mempersilahkan Gama dengan segala rasa emosionalnya kala itu untuk terus merengkuh sembari mengusap kepalanya lembut.

Setelah hening panjang dengan tubuh yang saling berusaha mengikat rindu, Gama melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh Ganesh. Membuatnya seketika merasak sepi juga kekosongan yang teramat.

“Parkirannya sekarang jadi lebar banget deh, beda sama dulu.” ucap Gama dan mengetuk-ngetukkan jemarinya secara konstan pada setir yang ia genggam, jakunnya bergerak lambat sebab susah untuk menegak air liurnya sendiri.

“Ya ampun, Gam! Kita di sini udah lebih dari setengah jam yang lalu dan kamu baru ngomongin ini sekarang? Gugupmu masih jelek banget!” ledek Ganesh berusaha menyingkirkan jauh-jauh atas atmosfer canggung yang Gama bangun.

“Lama enggak meluk.” jawab Gama diakhiri dengan kekehannya. “Terakhir kita pelukan kapan, Nesh?”

“Waktu kita putus, kan, lima tahun lalu? Di sini juga, bedanya dulu naik mobil Renjana.”

“Kok masih inget?”

“Masih, lah! Orang sakit hatinya aja betah.”

“Kirain waktu itu aku doang yang sakit hati.”

“Aku juga, Gama.”

Baik Gama dan Ganesh, keduanya kini saling melempar tawa. Menampilkan kembali semua potongan-potongan memori akan cerita keduanya yang telah usai dan menjadikannya bahan candaan seperti sekarang ini bukan ide yang buruk.

“Besok aku anter ke klinik ya, Nesh.”